Warisan

Warisan
Susi kejang


__ADS_3

"Non Eka, kita lanjut ke rumah Susi?"


"Iya pak."


Sepanjang perjalanan ke rumah Susi, Eka merasakan ada hembusan angin yang menerpa samping kiri wajahnya.


Ada apa lagi ini? Eka merasa ada sesosok makhluk di samping kirinya yang membuat Eka kesulitan untuk bernapas dan merasa terhimpit. Eka ridak bisa melihat makhluk di sampingnya.


Aneh, kenapa aku tidak bisa melihat makhluk ini. Felix, pak Felix. Jin kah?


"Pak, bisa tidak kaca mobilnya dibuka saja. AC mobil matikan. Saya merasa susah bernapas."


"Baik non. Bapak juga tiba-tiba merasa sesak. Mungkin AC nya kotor padahal baru 2 minggu yang lalu mobil ini di servis."


Pak supir membuka seluruh kaca mobilnya. Baik pak supir maupun Eka merasa lega akhirnya bisa mendapatkan udara segar.


"Non, sudah sampai."


"Iya pak."


Setelah mengucapkan salam, bibi keluar.


"Bi, saya Eka temannya sekolahnya Susi. Saya mau menengok Susi karena hari ini ia tidak masuk sekolah."


"Iya, neng Susi baru saja dibawa ke rumah sakit sama ibunya pakai mobil ambulans. Neng Susi tadi kejang-kejang dan muntah darah."


Eka melihat wajah bibi yang bingung dan takut.


"Di bawa ke rumah sakit mana bi?"


"Rumah sakit medika neng."


"Baik kalau gitu bi. Terima kasih, saya langsung ke sana saja."


Eka berpamitan


"Pak, kita ke rumah sakit medika sekarang. Susi dibawa kesana."


"Iya neng."


Eka sudah sampai rumah sakit medika dan bergegas menuju ke ruang IGD.


Eka melihat ibunya Susi. Wajahnya terlihat panik.


"Tante, saya Eka."


"Iya Eka, Susi tadi kejang-kejang dan sempat muntah darah. Tante takut melihat kondisi Susi seperti ini."


"Iya tante. Yang sabar ya tante."


Eka berjalan ke samping Susi yang seperti tertidur


"Susi, Susi. Kamu dengar aku? Ini aku, Eka."


"Eka, Susi sepertinya tidak bisa membuka matanya. Seperti orang pingsan."


"Iya tante."


Suster menghampiri ibunya Susi.

__ADS_1


"Bu, anak ibu akan kami pindah ke ruang perawatan. Mohon ibu selesaikan untuk administrasinya."


"Baik suster. Eka, tante titip Susi dulu ya. Tante mau urus administrasinya."


"Iya tante, aku jagain Susi."


"Terima kasih Eka."


Eka kembali mendekati Susi yang masih tertidur.


"Susi, ini Eka. Kamu dengar aku tidak?"


"Non Eka, Hati-hati. Badan Susi terlihat beda."


Eka menengok ke arah pak supir dengan alis berkerut.


"Maksudnya pak?"


Tiba-tiba tangan Susi mencekik leher Eka.


"Susi, Susi, lepasin tangan kamu."


Susi semakin kencang mencekik leher Eka. Pak supir membantu Eka. Pak Supir memegang tangan Susi yang mencekik Eka dan berusaha untuk membebaskan Eka.


Tangan Susi sudah terlepas dari leher Eka tetapi pak supir mendapatkan cakaran yang cukup dalam di lengannya.


Tirai yang tertutup di ruangan IGD, membuat para suster yang sedang sibuk berlalu lalang tidak menyadari yang terjadi dengan Eka dan pak Supir.


Mata Susi terbuka dan melihat darah yang mengalir dari lengan pak supir langsung bangun duduk dan memegang tangan pak supir lalu menghisap darahnya.


Eka yang melihat kejadian itu segera menyiramkan air kelapa ijo ke muka Susi membuat Susi kejang-kejang kembali dan masih ada darah dj mulut Susi dan langsung tertidur kembali. Eka segera membersihkan sisa darah yang ada di mulut Susi.


"Tapi non. Saya takut nanti non kenapa-napa. Lagi pula lengannua tinggal saya pakai alkohol dan betadine tidak papa."


"Sudah pak, tidak usah kuatir mengenai biaya. Eka ada. Cepat pak, karena itu bukan luka biasa"


Saat pak supir menyibak tirai, ibu Susi datang.


"Loh kenapa pak tangannya?"


"Tidak papa bu. Memang tadi ada luka karena gatal saya garuk malah berdarah lagi. Ini saya mau ke kamar mandi mau membersihkan lukanya. Permisi bu."


"Iya pak."


"Bagaimana tante? Susi di rawat di kamar berapa?"


"Susi akan dibawa ke kamar 505. Kamarnya sedang disiapkan dahulu. Saat tante tinggal apakah Susi bangun?"


"Sempat bangun sebentar tante. Nanya tante kemana setelah itu tertidur lagi."


"Alhamdulillah, sebenarnya tante mau tanya sama Eka. Kemarin itu pulang sampai larut malam kemana? Setelah Eka dan ayahnya Eka pulang, Susi mandi setelah itu teriak dan kejang-kejang. Kita semua panik."


Eka menceritakan hal yang sama kepada ibunya Susi. Dan Eka memberitahu bahwa ia akan membersihkan Susi saat di kamar rawat nanti karena tidak mau mengganggu pasien di ruangan IGD.


2 orang suster datang menghampiri Susi.


"Bu, anaknya kami pindah ke kamar ya bu."


"Baik suster. Terima kasih."

__ADS_1


Suster mendorong tempat tidur Susi untuk dipindah ke kamar perawatan ternyata tempat tidurnya tidak bergerak. Akhirnya salah satu suster mengambil tempat tidur yang lain.


"Dipindah ke tempat tidur ini saja, mungkin rodanya ada yang pecah jadi tidak bisa didorong."


2 orang suster tadi mencoba memindahkan Susi ke tempat tidur yang lain. Ternyata mereka tidak bisa mengangkat tubuh Susi.


"Ternyata berat ya bu anaknya. Kami lihat badannya kurus."


Salah seorang suster memanggil suster laki untuk membantu mereka memindahkan Susi. Tetap saja badan Susi tidak bisa mereka angkat.


Entah kenapa Eka merasa bahwa di bawah tempat tidur Susi ada yang menahan badan Susi sehingga suster yang berjumlah 3 orang tidak dapat mengangkat tubuh Susi.


Eka jongkok dan melihat ke bawah tempat tidur.


"Astaghfirullah, astaghfirullah."


Eka melihat ada sosok di bawah tempat tidur Susi yang tangannya memegang kepala, badan dan kaki Susi.


Bersamaan saat Eka berdiri, pak supir datang dan lengannua yang tadi dicakar oleh Susi sudah diperban.


"Non, kenapa."


"Air kelapa ijonya yang 1 lagi mana pak?"


Eka meminta air kelapa ijo kepada pak supir sambil berbisik. Ia tidak mau ibunya Susi mendengarnya.


Pak supir memberikan air kelapa ijo kepada Eka.


"Suster dan tante. Boleh tidak Eka minta waktunya sebentar saja."


"Maksudnya Eka?"


"Gini tante, yang tadi sempat Eka ceritakan sama tante. Eka minta tante dan suster keluar dari sini. Biar Eka bersihkan dulu. Nanti setelah Eka selesai Susi bisa diangkat.


"Oh ok. Ayo suster."


Suster terlihat bingung. Dan mengikuti ibunya Susi keluar.


"Pak, saya akan siram. Saat saya siram, bapak berdoa ya, biar Susi bisa dipindahkan ke ruang perawatan."


"Iya non."


Eka berjongkok dan mulai menyiramkan air kelapa setelah selesai Eka berdiri lalu mengambil bawang putih yang dibawa dari rumah Thomas dan di letakkan di bawah kepala, badan serta kaki Susi.


"Bismillah."


Eka mencoba mendorong tempat tidur Susi dan ternyata bisa jalan tidak berat seperti tadi.


"Pak, tolong panggilkan suster dan ibunya. Bilang bahwa Susi bisa segera di bawa ke ruang perawatan."


"Baik non."


Pak supir datang bersama ibunya Susi dan suster yang tadi.


"Eka, bagaimana?"


"Sudah bisa tante. Susi tidak perlu dipindahkan ke tempat tidur yang lain. Tempat tidurnya sudah bisa didorong, suster."


Suster melihat Eka dengan muka menyelidik.

__ADS_1


Ia lalu mendorong tempat tidur Susi, dan ternyata bisa. Sekali lagi susternya melihat ke arah Eka.


__ADS_2