
Eka berjalan memasuki kampusnya. Sesekali ia melihat ke belakang. Eka merasa seperti ada yang mengikuti dirinya.
Saya tidak pernah ganggu kamu. Kenapa kamu ada di belakang saya dan mengganggu saya! Kamu hanya bisa berwujud energi negatif tetapi tidak berani menampakkan sosok kamu sebenarnya. Saya tidak takut sama kamu, karena derajatmu lebih rendah dari saya!
Eka berbicara sambil berjalan membuat beberapa mahasiswa yang melihat dirinya berbicara sendiri berpikir bahwa Eka tidak waras.
"Chand, itu Eka komat kamit sendiri. Kenapa dia?"
"Ya sudah ikuti saja, biar kita tahu apa dan siapa yang di omongin."
Chandra dan Martin berjalan di belakang Eka.
"Chandra, Martin, kenapa kalian berjalan di belakang aku! Aku ngga butuh bodyguard! Kalian mau kesurupan! Diantara kalian dan aku ada energi negatif, jadi kalian berdua minggir!"
Chandra dan Martin kaget karena Eka tahu mereka berada di belakangnya.
Martin menepuk punggung Eka, membuat Eka hampir jatuh.
"Kenapa kamu nepuk punggung aku!"
"Belakang elo bolong kayak sundel bolong, makanya ada yang mau masuk ke badan elo!"
"Jangan ngaco! Ini masih siang, ngomong sembarangan saja!"
Martin memegang bahu Eka dan membalikkan badan Eka. Eka merasakan hawa dingin menerpa badannya.
"Lihat, pejamkan mata elo sejenak. Siapa yang dari tadi ngikutin elo di belakang yang elo bilang energi negatif!" Martin berbisik di sebelah Eka.
"Astaghfirullah!" Eka membuka matanya.
"Sudah lihatkan. Mereka ngga butuh malam atau siang. Mereka ada kapan pun mereka mau!"
"Iya, makasih Tin, Chan."
"Elo hari ini ada kelas?"
"Iya, sebentar lagi masuk."
"Ya sudah, ayo jalan. Gue antar sampai ruangan kelas elo."
Mereka bertiga menuju fakultas Eka.
"Sana masuk. Kita berdua tunggu di sekitar sini."
"Ya."
Eka melihat banyak makhluk aneh di depan kelasnya saat dosen sedang menerangkan. Dan tiba-tiba tercium bau anyir dan busuk. Eka melihat ke kanan dan kiri, tetapi teman-temannya tidak ada yang terlihat aneh ataupun mencium bau busuk.
Gangguan apa lagi ini! Kenapa tidak selesai-selesai!
Eka menggebrak meja membuat satu ruangan kaget.
"Eka, kenapa kamu menggebrak meja! Kalau kamu tidak mau mengikuti pelajaran saya, kamu bisa keluar sekarang!"
"Pak, awas ada yang mau menarik bapak. Pegangan yang kuat!"
Baru saja Eka berteriak memberitahu, Pak Yono, jatuh ke belakang dan kepalanya membentur tembok. Eka segera berlari menghampiri pak Wahyu.
__ADS_1
"Teman-teman, bantu pak Wahyu, bawa segera ke ruang kesehatan. Cepat!"
Chandra dan Martin yang mendengar kegaduhan di kelas Eka segera masuk.
"Chandra, Martin, tolong bantu aku. Bawa pak Wahyu ke ruang kesehatan, cepat!"
Beberapa teman laki-laki mengangkat pak Wahyu.
"Eka, awas kena sabet!" Martin
Eka segera menghindar. Beberapa orang yang masih di kelas bingung melihat kelakuan Eka, Martin dan Chandra.
"Eka, lari-lari, biar aku tahan setan ini. Cepat! Yang lainnya cepat keluar kelas kalau kalian mau selamat!"
Martin dan Chandra segera duduk bersimpuh.
"Mulai!" Mereka berdua teriak serempak dan mereka keluar dari badan mereka.
"Martin, Chandra, kalian balik lagi ke tubuh kalian. Biar mbah kakung yang menghadapi setan ini." Ternyata sudah ada mbah kakung.
"Tapi mbah."
"Sudah, cepat, bantu Eka untuk menolong dosennya."
Eka berlari menuju ruang kesehatan. Tidak lama kemudian Martin dan Chandra datang.
"Martin, Chandra, tolong belikan kelapa ijo. Biar aku yang jaga pak Wahyu."
"Biar gue aja. Elo temanin Eka ya Tin."
Chandra bergegas keluar dan mencari penjual es kelapa. Chandra berharap ada kelapa ijo.
Teman Eka yang tadi membawa pak Wahyu bingung melihat kelakuan Eka dan mereka berbisik-bisik mengenai Eka.
"Aduh, kepala saya sakit!"
"Alhamdulillah, pak Wahyu sudah sadar."
Bersamaan dengan itu Chandra masuk membawa air kelapa ijo dan memberikan ke Eka.
"Pak, ini diminum dulu. Biar bapak enakan."
Pak Wahyu segera meminum air kelapa ijo yang diberikan Eka.
"Sudah bersih, Eka?" Chandra berbisik kepada Eka.
"Alhamdulillah, sudah."
"Saya kenapa?"
"Tadi bapak jatuh dan kepalanya membentur tembok." Salah satu teman Eka memberitahu kepada pak Wahyu."
"Terima kasih, kalian sudah membawa saya ke ruang kesehatan. Seingat saya tadi saya sedang mengajar."
Teman Eka ingin segera menjawab tetapi di tarik keluar oleh Martin.
"Iya, tadi bapak mengajar. Tiba-tiba bapak seperti orang yang sedang pusing, lalu bapak jatuh. Alhamdulillah, bapak sudah sadar."
__ADS_1
"Iya, memang dari semalam saya tidak enak badan. Tadinya mau tidak masuk mengajar, tapi ada hal penting yang harus saya selesaikan di kampus sama beberapa petinggi Rektorat."
"Sekarang bagaimana pak?"
"Masih agak pusing. Saya mau istirahat dulu ya."
"Iya pak. Istirahat dulu, biar lebih enakan lagi."
Eka, Chandra dan yang lainnya meninggalkan pak Wahyu di ruang kesehatan.
"Eka, sebenarnya ada apa sih? Kok kamu tahu kalau pak Wahyu akan jatuh. Dan tadi kamu bilang ada yang mau menarik pak Wahyu?"
"Kan tadi pak Wahyu sudah jelaskan. Kalau pak Wahyu sedang tidak enak badan! Kenapa nanya lagi. Inalillahi!"
Eka berlari masuk kembali ke ruang kesehatan, membuat Chandra dan Martin mengikuti Eka dan menutup pintu.
"Pak Wahyu, pak Wahyu, istighfar pak. istighfar! Martin, Chandra pagarin pak Wahyu, biar aku urus setan kecil ini."
Eka berdzikir, ruangan terasa dingin menusuk.
"Chan, panggil Alvian, biar dia bantu pegangan pak Wahyu. Gue bantu Eka."
"Chandra, Martin, Eka, buka pintunya. Ini gue."
"Al, cepat masuk aja!"
Alvian segera masuk. Teman-teman Eka juga ingin masuk, tetapi Alvian segera menutup pintu dan menguncinya.
"Jangan banyak tanya, elo bantu gue pegangin pak Wahyu. Biar Eka sama Martin yang libas itu setan."
"Eka, Martin sudah cukup. Ini urusan mbah. Kalian berempat harus waspada. Kelapa suku tidak terima kejadian kemarin di belakang sana! Dzikir terus jangan berhenti, Insya Allah, dosen kamu tidak papa, Eka!"
"Iya mbah."
Udara semakin dingin di ruangan kesehatan. Sedangkan Eka, Alvian, Chandra dan Martin berkeringat. Setelah menunggu hampir satu jam, berangsur-angsur ruangan kesehatan tidak dingin, sudah seperti biasa saja.
Pak Wahyu terbangun.
"Loh, kalian masih disini?"
"Iya pak. Nungguin bapak. Gimana pak setelah beristirahat, apakah sudah membaik?"
"InsyaAllah baik. Sudah enakan. Kepala saya sudah tidak sakit lagi. Hanya saya tadi sempat mimpi aneh. Tapi mimpinya apa, saya lupa hehehe."
Mereka berempat bernapas lega, setidaknya tadi mereka tidak terlambat menolong pak Wahyu.
"Jam berapa ini?"
"Hampir jam 3, pak."
"Kalau gitu, saya mau ke Mushola, mau sholat. Kalian ikut?"
"Iya pak, sekalian. Kami juga mau sholat."
Pak Wahyu, Eka, Martin, Chandra dan Alvian keluar dari ruang kesehatan. Beberapa teman Eka yang berpapasan melihat ke arah Eka dengan pandangan yang tidak bisa diungkapkan.
"Hahah, kamu dilihatin teman-teman kamu tuh. Mereka sepertinya ingin tahu."
__ADS_1
"Biar saja, terserah mereka mau berpikir apa. Tidak perlu aku jelasin ke mereka juga kan? Bukan tanggung jawabku."