
"Tante, besok aku mau ke puncak sama teman-teman. Aku boleh ikut tidak sama temanku ke puncak."
"Berangkat kapan?"
"Besok jumat. Nanti ada temanku yang jemput. Kita ada 10 orang. 6 perempuan dan 4 laki-laki. Bolehkan tante?"
"Iya boleh. Tapi minta ijin dulu sama nenek, kakek dan ayahmu. Tante ijinkan tapi kalau mereka tidak ijinkan ya, tante tidak bisa bilang apa-apa."
"Ok tante, terima kasih." Eka mencium pipi tantenya dan masuk ke kamar.
Kasihan kamu Eka. Kelihatan matamu kosong. Sejak bunda dan kakak kembarmu meninggal, kamu seperti tidak punya teman curhat. Aku akan bilang sama bapak dan ibu untuk mengijinkan Eka pergi dan juga mas Abi.
Saat makan malam Eka minta ijin kepada kakek, nenek dan juga ayahnya untuk ke puncak dengan teman-temannya.
"Eka, ayah tidak mengijinkan kamu. Ayah tidak mau kamu jauh dari ayah. Tinggal kamu yang ayah punya saat ini. Terlepas ada kakek, nenek, tante dan juga om. Ayah tidak mau jantungan Eka."
"Tapi ayah. Masa kegiatan Eka hanya rumah, sekolah dan urusan dimana harus lihat makhluk tak kasat mata terus. Eka pengen punya teman ayah."
"Punya teman boleh. Ayah tidak melarang tapi tidak harus pergi ke puncak. Kalian bisa jalan nonton, makan di restoran atau buat acara di rumah salah satu teman kamu. Ayah capek memikirkan keselamatan kamu."
"Ayah, sebentar lagi Eka 17 tahun. Eka hanya ingin punya teman, punya sahabat. Bukan, bukan pacaran kalau ayah berpikir Eka mau pacaran."
"Eka, ayahmu sebenarnya mau mengijinkan kamu pergi. Hanya saja, kamu anak yang berbeda. Kamu tidak seperti teman-teman kamu yang normal."
"Eka normal nenek. Eka normal, Eka bukan anak cacat. Hufht ya sudah kalau tidak diijinkan. Besok Eka akan bilang sama teman-teman Eka, kalau Eka tidak jadi pergi sama mereka ke puncak."
Eka menghabiskan makanannya dengan diam. Tidak ada kata-kata seperti biasa.
Selesai makan. Eka membantu tante membereskan meja makan dan masuk ke dalam kamarnya.
Eka mendengar pintu kamarnya diketuk.
"Masuk, ngga di kunci."
Tante dan nenek masuk ke dalam kamar Eka. Mereka melihat Eka yang duduk di tepi tempat tidurnya.
"Eka, tadi nenek sudah bicara sama ayah untuk mengijinkan kamu ke puncak."
"Tapi? Pasti ada tapinya iya kan nek."
__ADS_1
Nenek menganggukkan kepalanya.
"Kita semua pergi ke puncak dan ajak teman-teman kamu. Kita menginap di satu villa. Karena yang ingin liburan dan bersenang-senang bukan hanya kamu dan temanmu tapi nenek, kakek, ayah, dan juga tante. Bagaimana? Kamu setujukan?"
Eka menghela napas panjang.
"Iya nek. Eka setuju. Makasih ya nek sudah mengijinkan Eka. Nenek, kakek, ayah dan tante juga ikutan."
"Ya sudah tidur. Jangan lupa sholat. Besok kamu sekolah."
"Iya nenek, tante. Selamat tidur."
Nenek dan tante keluar dari kamar Eka.
Eka capek, Eka mau seperti anak yang lain yang tidak di ganggu siapapun tapi ini jalan hidup Eka yang harus Eka lalui.
Eka keluar kamar. Ruang depan sudah sepi. Eka mendengar ada suara orang yang sedang mengobrol di teras depan.
Seperti suara ayah dan kakek sedang mengobrol di teras depan.
Eka segera ke dapur dan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Eka kembali ke kamar. Tiba-tiba Eka melihat kakek yang baru keluar dari kamar.
Eka kaget ternyata kakek keluar dari kamar.
Jadi, siapa yang tadi mengobrol di teras rumah?
"Belum kek, Eka baru selesai ke kamar mandi dan ambil wudhu. Kakek baru masuk ke dalam?"
"Maksud Eka? Kakek dari tadi di kamar. Dan ini keluar karena mau ke kamar mandi."
"Ngga papa kek. Eka tadi pas keluar kamar dengar suara kakek dan ayah sedang mengobrol di teras depan. Tapi Eka ngga keluar rumah. Eka ke kamar mandi karena mau ambil air wudhu. Jadi yang di depan siapa?"
"Ngga tahu. Setahu kakek tidak ada siapa-siapa. Kenapa? Eka mau lihat ke depan?"
"Iya. Tapi Eka sudah wudhu. Eka sholat dulu saja. Nanti setelah sholat Eka keluar."
"Ya, kakek tunggu di ruang tamu."
__ADS_1
Eka segera masuk kamar dan sholat. Selesai sholat, Eka segera keluar kamar. Lampu sudah padam dan hanya lampu di teras depan yang menyala. Eka berjalan ke ruang tamu. Eka merasakan bulu-bulu di seluruh badannya merinding dan kepalanya seperti membesar. Eka menyibak kain gordyn yang menutup jendela dan bertepatan dengan jam yang berdentang sebanyak 12 kali. Eka langsung lemas saat melihat keluar di teras depan.
Ada 3 pocong di teras depan rumah.
"Astaghfirullah al adzim. Ayah, kakek, nenek, tante. Eka takut!"
Eka berteriak dan jatuh terduduk di lantai. Seluruh badannya lemas. Eka hanya bisa mengucapkan astagfirullah berkali-kali.
Kakek yang ada di kamar dan mendengar teriakan Eka segera keluar dari kamar dan berjalan ke ruang tamu lalu menyalakan lampu.
Ayah yang belum tidur juga mendengar teriakan Eka segera keluar dari kamar.
"Eka, Eka kamu kenapa? Kakek mengangkat Eka yang masih terduduk lemas di lantai."
Ayah membantu kakek yang mengangkat Eka dan memapah Eka untuk duduk di sofa.
Tante dan nenek juga keluar. Tante segera mengambil air minum untuk Eka.
Eka sudah terlihat agak tenang.
"Eka, kamu kenapa? Tadi kakek nunggu kamu keluar kamar dan hampir 1 jam kamu tidak keluar. Kakek pikir kamu sudah tidur, makanya kakek masuk ke kamar setelah mematikan semua lamou."
"Kamu tadi lihat apa Eka?"
"Sudah jangan paksa Eka untuk bicara. Eka masih terlihat syok dan ketakutan. Sudah semuanya kembali tidur. Biar nenek yang menemani Eka tidur di kamarnya. Ayo Eka, kita masuk ke kamar, sudah hampir jam 1 malam. Besok kamu sekolah takutnya nanti kesiangan bangun."
Nenek menarik tangan Eka dengan lembut untuk berdiri dan masuk ke kamarnya ditemani oleh nenek.
"Biar aku saja yang temani Eka tidur di kamarnya. Nenek sama kakek, juga mas Abi kembali tidur."
Tante yang akhirnya menemani Eka masuk ke kamarnya.
"Bu, saya mau duduk di ruang tamu. Ibu masuk saja ke kamar. Abi, kamu mau tidur lagi atau gimana?"
"Saya temani bapak saja. Saya tidak tahu apa yang Eka lihat tadi sampai dia syok dan ketakutan seperti itu."
"Iya Abi, benar. Karena tadi saya sempat keluar dari kamar dan melihat Eka yang baru ambil wudhu. Katanya tadi dia mau keluar selesai sholat tapi saya menunggu Eka tidak kekuar dari kamarnya jadi saya masuk ke kamar.
"Saya sendiri belum tidur. Karena ada beberapa pekerjaan kantor yang harus saya selesaikan Tiba-tiba kaget mendengar Eka berteriak.
__ADS_1
" Ya sudah. Temani kakek duduk di sofananti
.