
Seperti biasa Eka diantar oleh supir kakek dan ayahnya.
"Pak, nanti jemput Eka jam 3an ya. Eka ada ekstra pelajaran tambahan statistik."
"Ok."
"Ayah, Eka turun ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Eka keluar dari mobil. Susi juga baru sampai sekolah.
"Eka, Eka, tunggu! Susi berlari menghampiri Eka.
"Eka, gimana? Kamu dapat ijin ke puncak besok?"
"Ya dapat. Tapi kakek, nenek, ayah, tante juga ikutan. Nanti mereka yang sewa villa."
"Wah, enak dong. Jadi kita ngga perlu mikirin masak heheheh."
"Iya, tapi aku pengen sekali-sekali pergi sama kalian tanpa keluargaku ikut."
"Ya tidak papa Eka. Yang penting kita tetap bisa bersenang-senang di sana nanti."
"Iya sih."
Eka dan Susi berjalan masuk ke kelas.
Hari ini Eka merasa jenuh dengan pelajaran. Ia ingin sekali pergi ke suatu tempat yang tenang.
Pelajaran statistik membuat Eka merasa mengantuk. Tanpa sadar Eka tertidur.
Pak Felix melihat Eka yang tertidur. Ia segera mendekati meja Eka.
"Kalau mau tidur jangan disini tapi pulang saja. Tidak usah ikut pelajaran saya!"
Eka langsung terbangun karena mendengar suara pak Felix di telinganya.
"Ma, maaf pak. Semalam saya tidak bisa tidur."
"Memangnya cuma kamu saja yang tidak bisa tidur. Saya juga tidak tidur. Ibu saya sakit dan saya harus jaga di rumah sakit!"
"Maaf pak. Saya ijin ke toilet untuk cuci muka."
"Tidak usah, ijin cuci muka tidak tahunya tidur di toilet! Kalau kamu tidak mau ikut pelajaran saya, keluar dan pulang saja kamu!"
"Saya mau ikut pelajaran bapak."
Pak Felix kembali berjalan ke depan kelas dan menerangkan pelajaran statistik.
15 menit sebelum bel pelajaran selesai, Eka mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Ya Eka ada apa?"
"Eh, maaf pak. Tidak ada apa-apa."
Eka mengurungkan niatnya untuk memberi tahu kepada pak Felix bahwa ada ibu tua yang berdiri di depan pintu kelas.
Bel berbunyi. Eka langsung menghampiri pak Felix
"Pak, maaf kalau Eka lancang. Kalau boleh bapak siapkan perlengkapan jenazah karena tadi saya lihat ibunya bapak berdiri di depan pintu dan sekarang masih berdiri. Itu."
Eka menunjuk ke arah pintu dan membungkukkan badannya.
"Kamu lancang. Ibu saya di rumah sakit dan kondisinya sudah membaik. Tidak seperti kemarin. Kamu mendahului Tuhan. Walaupun saya tahu kamu bisa tapi jangan seenaknya! Kalau ngomong itu dipikirkan baik-baik. Hari ini kamu buat masalah sama saya!"
"Maaf pak Felix, saya tidak bermaksud mendahului Tuhan. Saya hanya membantu jangan sampai pak Felix bingung karena kondisi keuangan pak Felix juga bermasalah. Ibunya pak Felix habis operasi kan? Kalau gitu saya pamit pulang pak. Selamat siang."
Eka segera berlari keluar kelas. Susi dan beberapa teman yang lainnya menunggu Eka di luar.
"Loe kenapa sama pak Felix? Mukanya dia marah gitu?"
"Aku cuma minta maaf, karena tadi aku tidur di kelas. Tiara, aku tadi pagi kasih tahu ke Susi kalau aku diijinkan ke puncak sama kalian tapi keluargaku ikut semua. Bagaimana?"
"Ya tadi Susi sudah kasih tahu gue Ya tidak papa. Jadi setidaknya kita ada yang jaga. Karena katanya villa itu angker. Dan itu villa kepunyaan om gue yang sudah meninggal lama. Jarang ada yang sewa itu villa karena banyak kejadian aneh. Tapi gue ngga percaya karena dua bulan yang lalu gue pergi menginao sama keluarga gue tidak ada apa-apa."
"Oh ya sudah kalau keluargaku boleh ikut. Setidaknya kita tidak ketakutan nanti."
"Apaan sih loe, buat orang takut aja." Handi langsung berteriak sama Tiara.
"Sudah-sudah tidak usah berantem. Urusan mau senang-senang kenapa jadi berantem sih!"
"Siapa juga yang berantem Susi!"
"Eka, kamu di jemput? Pulang bareng aku saja ya. Aku antar kamu pulang sampai rumah."
"Cie-cie ada yang dekatin Eka nih. Loe ngga akan bisa dekatin Eka. Eka udah punya pacar."
"Gue ngga dekatin Eka. Secara sekarang gue lagi dekat sama Eka karena gue jalan sebelah dia."
"Aku di jemput kok Bruce. Makasih banyak. Next time ya."
Mereka melewati ruang guru. Eka sempat melihat ke ruang guru. Tiba-tiba bu Elisabeth menghampiri mereka.
"Pak Felix masih dikelas kalian?"
"Tidak tahu bu. Karena tadi kami keluar kelas, pak Felix masih di kelas. Memangnya ada apa bu? Biar saya balik ke kelas lagi." Thomas menawarkan diri.
"Iya tolong kamu ke kelas ya. Dilihat apakah masih ada pak Felix tidak di kelas kalian. Bilang sama pak Felix ada telpon dari rumah sakit."
"Ok bu."
Thomas segera berlari ke kelas dan kembali ke ruang guru bersama pak Felix yang berlari diikuti oleh Thomas
__ADS_1
Eka dan teman-temannya masih menunggu di depan ruang guru. Mereka tidak pergi malah terkesan seperti menunggu berita.
Pak Felix mengambil telpon dan berteriak
"Astaghfirullah al adzim, Innalillahi wa inna ilaihii raji'un. Baik-baik, saya segera ke rumah sakit."
Pak Felix meletakkan telpon. Guru-guru yang mendengar bertanya kepada pak Felix.
Ternyata ibunya pak Felix meninggal.
Eka dan teman-temannya juga mendengar. Eka hanya terdiam.
"Tiara, besok minta teman-teman untuk memberikan sedikit bantuan buat pak Felix. Ibunya meninggal."
"Sekarang saja yang ada dulu. Kalian punya uang berapa. Nah besok aku muter ke teman-teman untuk memberikan sumbangan buat pak Felix."
Eka dan lainnya memberikan uang kepada Tiara.
"Ok, besok uang ini akan kita berikan ke pak Felix sebagai sumbangan untuk berbela sungkawa atas meninggalnya Ibu dari pak Felix.
Pak Felix berjalan keluar dari ruang guru.
Mereka semua serempak mengucapkan berbela sungkawa atas meninggalnya Ibu dari pak Felix.
Pak Felix sempat melihat Eka dan terlihat kemarahan di wajah pak Felix.
Teman-teman melihat Pak Felix yang menatap Eka dengan pandangan marah lantas melihat ke Eka.
Eka hanya mengangkat kedua bahunya.
"Eka, pak Felix kenapa melihat kamu seperti itu?
"Tidak tahu Mungkin dia masih marah sama aku karena aku ketahuan tidur."
"Oh gitu."
Mereka melanjutkan berjalan menyusuri koridor sekolahnya
"Eka, aku numpang pulang ya. Boleh tidak?"
"Ya boleh saja. Kalau begitu ayo kita ke mobil kakekku supaya bisa antar kalian pulang."
Eka, Susi, Thomas berjalan ke arah mobil kakeknya Eka.
"Pak, teman Eka ikut ya. Sekalian minta tolong antar mereka ke rumahnya."
"Iya. Berarti nanti sekalian jemput ayahnya neng Eka ya."
"Iya pak. Kasihan mereka kalau naik bis. Biar mereka bisa segera sampai rumah dan istirahat."
"Makasih ua Eka. Maaf ya pak, kami berdua jadi merepotkan."
__ADS_1
"Tidak papa neng. Karena sebentar lagi jam-jam macet. Jadi biar kalian berdua sampai rumah. Dan bisa istirahay."