
Hari pertama masuk sekolah menengah atas membuat Eka begitu antusias, Eka merasa ia akan mendapatkan banyak teman disini dan ternyata terbukti, baru pertama masuk sekolah, Eka sudah melihat ada yang sedang berdiri di belakang wali kelasnya saat perkenalan murid di kelasnya.
Gedung sekolah Eka merupakan sekolah bangunan lama yang, walaupun bangunan lama tetap terawat dengan baik.
Eka hendak ke kamar mandi, saat Eka berjalan menuju kamar mandi tiba-tiba Eka melihat seorang gadis seumuran dengannya yang berdiri di sebelah pintu masuk kamar mandi, saat Eka masuk dan melewati ada hawa dingin yang membuat Eka bergidik, tetapi ia tidak terlalu pusing. Dan di kamar mandi ada beberapa anak yang juga sedang menunggu giliran.
Saat Eka keluar, gadis itu sudah ada di ruang kakak kelas 3 dan duduk di paling depan. Oh ternyata kakak kelas 3. Eka berjalan menuju kelasnya dan ia merasa ada yang mengikutinya. Eka menoleh ke belakang dan tidak ada siapapun kecuali 2 orang anak yang baru saja keluar dari kamar mandi. Eka menggelengkan kepalanya lalu lanjut ke kelasnya.
Kelas Eka dekat bersebelahan dengan ruang guru. Seperti biasa, Eka kembali duduk sendiri, tidak ada teman di sebelah Eka. Dan Eka tidak terlalu memikirkan hal itu.
Jam istirahat, Eka seperti biasa mencari tempat untuk ia bisa makan bekal yang dibawa dari rumah. Dari kejauhan, ada kakak kelas yang memperhatikan Eka dari pagi tadi.
"Anak ini sepertinya bisa dikerjai". Anak itu tersenyum penuh arti melihat ke Eka.
Kakak kelas yang memperhatikan Eka bernama Gina. Olin yang sedang lewat melihat Gina yang sedang tersenyum.
"Mangsa baru Gin?" tanya Olin
"He-eh. Kamu lihat anak yang di sebelah sana dan duduk sendiri dan sedang makan. Gimana menurut kamu, Lin?
" Kita pantau saja dulu anak itu selama sebulan ini terus nanti kita ambil seperti biasa untuk main jalangkung lagi, apakah akan lari ketakutan seperti yang sudah-sudah".
Gina dan Olin tersenyum karena mereka mendapatkan anak baru yang bisa mereka kerjai.
__ADS_1
Eka yang sedang makan didekati oleh gadis yang tadi di depan pintu kamar mandi. Gadis itu langsung duduk di sebelah Eka dan membuat Eka terkejut karena hawa dingin dari gadis yang disebelahnya.
"Kamu harus hati-hati dengan Gina dan Olin, karena kamu akan dibuat ketakutan seperti aku dulu".
" Maaf, kenalkan nama aku Eka. Nama Kakak siapa?"
"Kamu akan tahu siapa nama aku nanti. Kamu lihat ke depan ada 2 gadis yang sedang memandang kamu. Kamu harus hati-hati dengan Gina dan Olin". Jangan sampai kamu yang menjadi korban berikutnya dari mereka".
" Maksudnya apa Kak? Korban apa Kak?
Gadis itu beranjak pergi meninggalkan Eka yang bingung dengan ucapan kakak kelasnya. Eka merasa bahwa gadis itu bukan manusia seperti dirinya. Ada kemarahan pada gadis itu saat menunjuk ke arah Olin dan Gina.
-----
Gina dan Olin mengatur siasat dimana Alberta satu ekskul dengan Gina.
Gina memberitahu Alberta bahwa hari ini ada tambahan hari untuk ekskul menari. Hari yang disepakati oleh Gina dan Olin adalah hari Jumat, sedangkan jadwal ekskul menari hari Rabu dan Sabtu.
Alberta datang ke aula kecil yang biasa untuk ekskul menari. Alberta melihat Gina dan Olin yang sudah ada disana.
"Gina, baru kamu yang datang? Teman-teman yang lainnya mana?"
"Hanya aku dan kamu, dan Olin hanya menemani saja". Gina tersenyum licik ke arah Alberta.
__ADS_1
"Kata kamu kemarin ada hari tambahan untuk ekskul menari, tetapi kenapa hanya ada kamu dan aku saja?
" Karena aku ketua ekskul menari, dan kamu anak baru juga anak yang masuk ke ekskul yang sama dengan aku, makanya aku mau kamu mengikuti tes, sebentar lagi ada lomba menari antar sekolah".
Ternyata Gina dan Olin memaksa Alberta untuk bermain jalangkung. Alberta tidak mau dan berusaha untuk pergi. Gina mengancam akan melaporkan ke guru pembimbing ekskul tari jika Alberta tidak mau mengikuti apa yang diminta Gina. Alberta merasa takut apabila nilai ekskul akan mempengaruhi nilai rapornya nanti. Alberta dengan sangat terpaksa mengikuti keinginan Gina.
Gina dan Olin membuat satu lingkaran seukuran karton putih dan Alberta diharuskan diri diatas karton yang sudah ada tulisan abjadnya. Entah bagaimana, saat Gina mulai bermain jalangkung, Alberta merasa tangannya menunjukkan ke arah satu abjad setiap Gina berhenti bernyanyi. Alberta berusaha menahan tangannya yang seperti ditarik seseorang untuk menunjukkan sampai akhirnya ada nama seseorang. Gina dan Olin senang karena permainan mereka berhasil mendapatkan nama yang memakai Alberta sebagai medianya. Namanya adalah SUCI.
Olin dan Gina segera membereskan karton tersebut dan meninggalkan Alberta yang masih terduduk lemas, karena ia merasa seluruh energinya habis. Alberta tidak tahu bahwa permainan Gina dan Olin berbahaya.
Dengan kekuatan yang masih ada Alberta berjalan keluar dari Aula kecil. Alberta tidak tahu bahwa SUCI menempel di tubuhnya.
Tiap malam Alberta ketakutan karena SUCI memperlihatkan sosoknya kepada Alberta. Alberta menjadi depresi hingga akhirnya Alberta meninggal. Orang tua Alberta tidak tahu apa yang terjadi dengan Alberta karena tidak ada kekerasan ataupun kecelakaan.
Ibunya membangunkan Alberta untuk sekolah dan berulang kali mengetuk pintu kamarnya Alberta sampai akhirnya Ibunya masuk dan memegang badan Alberta yang sudah dingin dan kaku.
Alberta yang introvert dan meninggal dunia, tidak ada yang tahu ada kejadian apa. Ayahnya melakukan visum tetapi tidak ada hal yang mencurigakan dan tidak ada penyakit yang di derita oleh Alberta semasa hidup.
Ya Alberta diambil oleh SUCI karena SUCI butuh teman untuk menemani ia pulang ke alamnya. Gina dan Olin lupa untuk menuntun pulang SUCI.
Kematian Alberta tidak ada yang tahu karena apa. Hanya Olin dan Gina yang tahu dan mereka berdua tertawa senang saat mengetahui bahwa Alberta sudah meninggal.
"Akhirnya satu saingan hilang lagi". Olin dan Gina tertawa bahagia dimana akhirnya semua balik seperti sedia kala. Gina dan Olin yang selalu diperhatikan oleh teman-teman sekolah mereka yang laki-laki.
__ADS_1