Warisan

Warisan
Permintaan


__ADS_3

"Eka, nenek dan kakek mau ke Magelang. Cucunya sahabat kakek meninggal. Pagi ini kakek dan nenek berangkat naik pesawat."


"Iya Eka tahu kek. Namanya Adi Satya Putra kan? Meninggalnya tiba-tiba jam 8 kemarin. Jam 8 malam tepatnya. Meninggal di rumah, Ibunya masuk ke kamarnya untuk bangunin Adi karena sudah jam 8 malam belum keluar dari kamar. Maksudnya mau bangunin Adi untuk makan malam. Tapi saat ibunya pegang badan Adi sudah dingin semuanya."


"Kamu kok tahu?"


"Si Adi ada di sini kek. Dia datang semalam jam 8 malam lewat pas saat Eka baru pulang sama tante dari mini market. Si Adi sudah duduk di teras deoan. Kelihatan bingung. Jadi Eka tanya namanya siapa, rumahnya dimana, kenapa datang ke sini. Cucunya eyang Ibnu. Kuncoro nama bapaknya dan Sriyatun nama ibunya, Dinda itu kakaknya, Putri dan Bela adik kembarnya."


"Kamu bisa dapat namanya segala. Benaran kamu tidak bohong sama kakek. Karena kamu ngomong gitu kakek sampai merinding."


"Buat apa Eka bohong sama kakek? Ibunya lihat ada buku yang dibuka dan ada tulisan Adi, tapi belum selesai si Adi nulisnya. Tulisannya si Adi itu " Badanku tidak enak, setiap malam selalu ada yang ngajak pergi tapi hanya aku yang bisa lihat. Kan ngga mungkin aku cerita sama bapak dan ibu, pasti mereka akan bilang aku bohong, ngimpi, Kalau aku meninggal karena diajak sama makhluk itu, aku pengen di kubur di bawah pohon berin... Dan Adi minta dimakamkan di bawah pohon beringin."


"Hahahah, kamu yang jadi aneh. Mana ada orang yang meninggal dan belum pernah ketemu ataupun kenal sama kamu, bisa datang dan cerita sampai detail gitu. Sekarang kakek yang ngomong, Eka lagi ngigau ya."


"Tuhkan, kakek tidak percaya. Ya sudah, kakek dan nenek hati-hati di jalan. Terus di kuburan itu hanya ada satu pohon beringin dan Adi ingin di kubur di bawah pohon itu. Karena hanya di area itu yang kosong, lainnya sudah penuh. Sudah ada penghuni abadinya."


"Iya nanti kakek tanya dan lihat, benar apa tidak apa yang kamu kasih tahu ke kakek. Lama-lama kamu seperti cenayang saja heheheh."


Eka hanya tersenyum mendengar omongan kakek. Dan kakek lupa kalau Eka memang punya kelebihan yang di wariskan dari keluarga ayahnya.


Kakek dan nenek berangkat ke bandara. Eka masuk ke kamar setelah mengantar kakek dan nenek masuk ke mobil.


"Eka, aku minta kamu telpon bapak atau ibuku."


"Memangnya kamu bisa kasih nomer handphone mereka. Terus kalau sudah nyambung, aku bicara apa? Yang ada nanti aku dianggap gila lagi. Ujug-ujug aku telpon orang tua kamu dan minta kamu dikuburkan di bawah pohon beringin."


"Kakek dan nenekmu pasti bisa bantu. Tolong aku, Eka."


"Iya, aku pasti tolong kamu tapi tunggu sampai kakek dan nenekku tiba di sana."


"Sekarang saja kamu telpon, kamu catat nomer handphone mereka. Sekalian kamu juga telpon eyang aku."


"Ok."


Eka mencatat nomer handphone yang diberikan oleh Adi.


"Sekarang Eka, ya sekarang."


Eka menganggukkan kepalanya. Dan segera menelpon ke nomer yang diberikan oleh Adi.


"Assalamu'alaikum bu Sriyatun. Perkenalkan saya Eka. Saya cucunya dari kakek Burhanudin dan nenek dari Mariyah."


"Wa'alaikumsalam. Oh iya. Tapi kakek dan neneknya belum datang. Ada pesan?"


"Iya bu. Maaf sebelumnya kalau Eka lancang. Kakek dan nenek tidak pernah kasih tahu nomer handphone ibu ataupun bapak, orang tua dari Adi Satya Putra. Juga no handphone eyang Ibnu. Saya dapat dari Adi sendiri."


"Oh, jadi temannya Adi? Mohon dimaafkan semua kesalahan Adi ya, karena Adi sudah meninggal semalam. Di doakan supaya lapang kuburnya."


"Amin bu. Gini bu, mungkin saya tidak bisa menjelaskan panjang lebar tetapi nanti ibu bisa tanyakan langsung ke kakek dan nenek saya. Jadi Adi dikuburkan nanti sore jam 4. Nah si Adi sudah menulis di buku dekat dia saat ibu mau membangunkan untuk makan malam dan tulisannya belum selesai. Jadi Adi minta dimakamkan di bawah pohon beringin yang hanya ada satu di area pemakaman."


"Maaf ya Eka, hanya saja untuk tanahnya sudah di gali dan ibu tidak yakin kalau ada pohon beringin di sana. Karena banyak pohon juga. Eka jangan buat ibu pusing ya. Sekarang bukan waktunya untuk bercanda mengenai Adi yang akan dikuburkan dimana."


"Maaf bu, maaf tapi ini permintaan Adi sendiri dan sebenarnya Adi ada di sebelah saya saat ini. Dan saya juga baru dapat nomer handphone ibu hari ini."


Ibunya Adi menutup telpon dari Eka.


"Siapa bu?"


"Ngga tahu. Ngaku-ngaku namanya Eka dan katanya cucunya kakek Burhan. Anak itu bilang kalau ada permintaan dari Adi. Ngga tahu kalau di sini lagi dalam suasana duka."


"Ya sudah bu. Mungkin temannya Adi."


"Wis, embohlah. Sak-sak'e."


Eyang Adi yang disebelah orang tua Adi mendengarkan.

__ADS_1


"Lah, itu si Burhan sama Mar. Coba nanti aku tanya sama mereka."


Kakek dan neneknya Eka menghampiri Ibnu.


"Maaf baru sampai. Semoga belum telar."


"Belum. Burhan, aku mau tanya apa kamu punya cucu yang namanya Eka?"


"Iya, cucuku namanya Eka. Ada apa?"


"Tadi cucumu telpon ke Sri, ibunya Adi dan bilang kalau Adi pesan untuk dikuburkan di bawah pohon beringin. Maksudnya piye toh? Kamu kasih nomer handphoneku, Kuncoro dan Sriyatun ke Eka, cucumu?"


"Aduh. Maaf Ibnu. Aku tidak pernah kasih no handphonemu ke cucuku. Dan juga aku tidak punya nomer handphone Kuncoro dan Sriyatun. Aku hanya punya nomer handphonemu saja."


"Pa, kasih tahu saja mengenai Eka. Biar tidak ada salah paham."


"Iya ma."


Akhirnya kakek menjelaskan mengenai Eka yang mempunyai kelebihan dan juga kejadian tadi pagi di rumah sebelum mereka pergi ke bandara kepada Ibnu dan kedua orang tua Adi.


"Sri, coba ambilkan buku yang dibilang sama Burhan. Tulisannya apa sama dengan yang di tadi disebutkan oleh Burhan."


"Ya, sebentar."


Bu Sri berdiri dan berjalan ke kamar Adi untuk mengambil bukunya. Setelah itu memberikan buku tersebut kepada eyang.


"Burhan, aku mau tahu apa benar cucumu punya kelebihan. Bisa kamu telpon cucumu sekarang?"


"Ya sebentar. Aku telpon cucuku."


Kakek menelpon Eka,. Dan disaat kakek memencet nomer Eka, ternyata handohone eyang Ibnu berbunyi.


"Assalamu'alaikum eyang Ibnu. Perkenalkan saya Eka yang tadi telpon ke bu Sriyatun. Saya cucu dari kakek Burhanudin dan nenek Mariyah."


"Wa'alaikumsalam. Ya saya tadi sudah di ceritakan sama ibunya Adi. Sebentar ya."


"Gini Eka, eyang mau tanya, apa kamu bisa tahu kalimat yang di tuliskan oleh Adi?"


"Tahu eyang."


Eka menyebutkan kata-kata yang ada di buku Adi. Dan menceritakan semuanya. Pak Kuncoro dan bu Sriyatun melihat tulisan Adi dan ternyata sama.


Setelah selesai bicara sama eyang Ibnu, Eka mematikan handohonenya.


"Burhan, apa cucumu bisa datang ke sini sekarang?"


"Maksudnya kamu minta cucuku Eka datang ke sini?" Kakek menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya, bisa."


"Ya ngga mungkin. Cucuku dj Jakarta sedangkan ini di Magelang memangnya bisa dalam waktu 1 jam sampai. Dan ini sudah jam 2, sebentar lagi Adi akan dikuburkan. Kamu ada-ada saja."


"Iya, ya. Ya sudah. Aku coba telpon yang gali kuburannua. Apakah ada yang kosong di bawah pohon beringin. Tapi aku ngga yakin juga."


Eyang Ibnu menelpon orang yang menggali kuburan untuk Adi. Dan mereka kasih tahu hanya ada satu pohon beringin di kuburan itu.


"Gimana Ibnu? Benar ada, seperti yang Eka bilang?"


"Iya Burhan. Cucumu benar. Kok bisa pas ya? Sedangkan cucumu kan tidak pernah ke sini. Dan sedang diurus untuk ijinnya karena kata orang yang menggali, dibawah pohon itu tidak bisa. Pusing palaku."


"Serahkan sama Allah. Pasti nanti ada kabar."


"Amin, semoga. Kasihan cucuku Adi." Eyang Ibnu berusaha untuk tidak menangis.


Saat akan bersiap untuk di sholatkan, handphone eyang Ibnu berbunyi ternyata dari orang yang menggali tanah kuburan untuk Adi.

__ADS_1


"Eyang, tanah kuburan untuk Adi sudah di gali sesuai dengan permintaan eyang di bawah pohon beringin. Dan orang kantor sudah memberikan ijin. Karena ada mbak-mbak yang datang dan memberikan keterangan kepada petugas administrasi di sini."


"Subhanallah. Alhamdulillah. Makasih ya infonya. Terus mbaknya yang datang namanya siapa?"


"Kalau tidak salah namanya Eka. Ini orangnya masih ada."


"Bisa eyanh bicara sama mbak Eka."


"Bisa eyang sebentar saya kasihkan dulu handphonenya."


"Halo Eka? Kamu ada di kuburan?"


"Iya eyang. Eka tadi sudah bicara dengan petugas administrasi dan sudah dapat ijin."


"Makasih ya Eka. Kalau begitu kamu tunggu di sana ya."


"Iya Euang."


Setelah menutup telponnya, muka eyang Ibnu terlihat tidak percaya.


Bagaimana mungkin Eka, cucunya Burhan sudah sampai sini? Ah, nanti saja dulu setelah selesai sholat untuk jenasah Adi. Aku akan tanya semoga benaran Eka yang datang ke kuburan seperti si bapak tukang gali bilang.


Jenasah Adi di sholatkan dan dibawa ke pemakaman.


"Eyang, sebelah sana." bapak tukang gali kuburan menghampiri mobil eyang yang baru masuk area pemakaman.


"Mobil bisa masuk ke sana?"


"Tidak bisa eyang. Berhenti di sini dan jenasah digotong karena tempatnya pas tengah-tengah area pemakaman ini."


Semua mobil berhenti di parkiran. Dan jenasah Adi di gotong dengan keranda ke tempat sesuai permintaan Adi di bawah pohon beringin.


Selesai dikuburkan. Satu persatu para pelayat pulang. Yang masih tinggal eyang Ibnu, orang tua Adi serta kakak dan adiknya dan juga kakek nenek.


"Ibnu, sudah. Ayo kita pulang. Karena harus tahlilan malam ini buat cucumu Adi."


"Sebentar, anak perempuan di sebelah sana siapa?"


Eyang Ibnu menunjuk ke arah depan yang berjarak kutang lebih 500meter dan ada anak perempuan sedang berjalan menghampiri mereka.


"Astaghfirullah, itu Eka, cucu aku."


"Kakek, nenek. Maaf, Eka terpaksanya datang ke sini agar Adi bisa dikuburkan sesuai dengan permintaannua dia."


"Tapi, bagaimana bisa kamu sudah disini."


"Kakek, nanti saja Eka ceritanya ya. Sekarang Eka pamit pulang duluan. Karena Eka banyak tugas. Yang penting semuanya berjalan sesuai dengan Adi mau. Dan maaf eyang Ibnu, pak Kuncoro dan ibu Sriyatun, Eka tidak bisa ikut tahlilan untuk Adi."


"Assalamu'alaikum." Eka melangkah pergi di tengah-tengah mereka semua masih bingung.


"Wa'alaikumsalam." Mereka serempak membalas salam Eka.


Bapak tukang gali kuburan yang melihat hanya tersenyum memandang wajah-wajah kebingungan eyang Ibnu, orang tua Adi serta kakak dan adiknya juga kakek, nenek.


Maha Besar Allah SWT, tidak ada yang tahu apakah mbak Eka itu malaikat, atau memang orang. Baru saja jalan tiba-tiba sudah tidak kelihatan lagi.


Bapak tukang gali menghampiri mereka semua dan menegur eyang Ibnu.


"Eyang Ibnu, jangan bengong. Sekarang sudah bisa pulang."


"Eh iya, anak yang tadi kemana?" Eyang Ibnu terkejut di tegur oleh bapak tukang gali.


"Sudah pergi baru saja."


"Burhan, itu tadi benaran cucu kamu?"

__ADS_1


Kakek dan nenek menganggukkan kepalanya bersamaan.


"Ya itu Eka. Nanti aku ceritakan. Sekarang ayo kita pulang. Masih ada sisa waktu untuk sampai rumah dan menyiapkan tahlilan." Kakek mengajak mereka semua pulang dan meninggalkan area kuburan."


__ADS_2