Warisan

Warisan
Buku harian


__ADS_3

Hari ini Eka diantar oleh kakek dan ayah. Ayah sudah bisa masuk kerja sedangkan kakek ada urusan.


Eka langsung berlari ke kelasnya karena 5 menit lagi bel akan berbunyi


Ryan melihat kedatangan Eka dan berbisik dengan teman di bangku depan.


"Susi, kamu lihat si dukun Eka baru saja datang. Aku heran sama sekolah ini kenapa dukun seperti Eka boleh sekolah disini."


"Diam kamu. Kamu tahu apa tentang Eka malah gosip yang ada di sekolah ini sekarang Siska anak kelas 2 yang melahirkan di sekolah akibat perbuatan kamu."


"Eh, jangan nuduh ya. Kenal saja tidak bagaimana aku tahu kalau dia melahirkan di toilet kamar mandi dan sekarang sudah meninggal. Baguslah kalau Siska Damayanti meninggal."


Ryan berkata dengan santainya.


Thomas yang duduk sebelah Susi bingung bagaimana Ryan tahu kalau Siska anak kelas 2 meninggal dan nama panjangnya adalah Siska Damayanti. Thomas berbisik ke Susi


"Susi, kok dia tahu kalau anak kelas 2 yang bernama Siska sudah meninggal dan dia juga tahu kalau namanya Siska Damayanti. Diakan anak baru di sekolah ini?"


Susi hendak menanyakan kepada Ryan pertanyaan yang sama dengan Thomas tetapi bel keburu berbunyi.


Baguslah Siska sudah meninggal jadi aku tidak akan ditangkap. Setidaknya Siska tidak akan memberitahu siapapun bahwa aku yang membuat dirinya hamil.


Ryan tidak tahu bahwa Siska menulis di buku hariannya dan buku itu ada di tumpukan buku paling bawah di meja kamar Siska.


Pelajaran sedang berlangsung, Tiba-tiba Ryan merasakan perutnya sakit.


"Kamu kenapa Ryan!"


"Perut saya tiba-tiba sakit pak."


"Thomas, Johan tolong bantu Ryan, bawa ia ke UKS."


"Baik pak."


"Pak, perut saya sakit pasti karena ulah Eka si dukun itu? Ia tidak suka sama saya karena saya telah menolaknya."


"Sudah jangan banyak omong kamu. Eka bukan dukun dan saya lebih tahu Eka. Thomas, Johan segera bawa ke UKS."


Thomas dan Johan memapah Ryan yang kesakitan.


Saat melewati meja Eka. Ryan berhenti.

__ADS_1


"Awas kamu. Rasakan akibatnya nanti!'


Eka yang melihat Ryan berbicara dan melotot ke arahnya hanya diam saja tanpa ekspresi.


Sekembalinya Thomas dan Johan dari UKS, Eka menengok ke arah tempat duduk Ryan. Ada Siska yang sedang duduk di bangku Ryan. Siska tersenyum kepada Eka.


Hmmm, harus ya menolong orang yang pacaran tapi mereka pacaran dan Siska yang harus menerima akibatnya. Tapi..


Guru jam pelajaran lain masuk ke kelas Eka dan pelajaran pun di mulai."


Sesekali Eka melirik ke bangku Ryan. Dan Siska masih duduk di sana.


Bel istirahat berbunyi. Eka segera keluar dari kelas diikuti oleh Siska. Eka duduk di taman sekolah.


"Siska, tadi Ryan perutnya sakit. Apa kamu yang membuatnya?"


"Iya. Eka, aku minta tolong kamu ke rumahku ajak 2 orang guru sekalian saat pulang sekolah nanti. Karena aku mau kasih lihat mereka buku harianku yang tertumpuk di paling bawah buku yang ada di meja belajarku."


"Bagaimana bicara dengan para guru. Pasti mereka pikir aku mengada-ada. Lagipula mereka tahu kalau aku dan kamu beda kelas."


"Aku yakin mereka pasti mau Eka. Karena saat kamu membaca buku harianku kamu akan menemukan photo aku dan Ryan. Aku sedih melihat orang tuaku yang masih stress terutama ibu karena tidak menyangka kalau aku hamil. Dan ada photo hasil USG. Aku dan Ryan sempat pergi ke klinik dan saat itu kami diminta untuk ke poliklinik kandungan."


"Terus bagaimana?"


"Lalu kenapa Ryan bisa pindah ke sekolah ini."


"Aku sendiri tidak tahu. Tapi dia bilang dia pindah ke sekolahan kita karena dia ingin melihat aku saat di sekolah. Sehari sebelumnya Ryan kasih aku obat dan air rebusan nanas karena dalam botol itu ada potongan nanas. Kata Ryan kalau sudah minum itu aku akan dapat haid lagi. Karena Ryan bilang seperti itu, makanya aku minum obat dan air nanas itu. Besok paginya Ryan kasih lagi. Setelah aku minum, perutku sakit rasanya seperti di pelintir. Aku tahan sampai bel sekolah lalu aku ke kamar mandi. Dan itulah kenapa kamu dengar aku nangis."


"Ok Siska, aku ngerti sekarang. Aku akan coba ajak dua orang guru untuk ke rumah kamu."


"Iya, aku mohon ya Eka, kamu bantu aku. Karena aku tidak tahu lagi harus bicara sama siapa. Dan aku tahu kalau kamu bisa bantu aku. Aku hanya ingin Ryan mengakui kesalahannya dan mengenai nanti bagaimana biar saja polisi yang urus. Yang penting aku punya bukti semuanya. Biar aku tenang."


"Ok, ok Siska. Dan ini sudah bel lagi. Aku harus masuk untuk jam pelajaran selanjutnya. Nanti siang aku pasti ke rumahmu dengan bapak atau ibu guru."


"Iya Eka, terima kasih."


Eka segera masuk ke dalam kelasnya.


Jam pelajaran telah usai. Eka masih bingung untuk bicara dengan guru perihal permintaan Siska.


Susi dan Thomas sedang membereskan buku mereka dan dimasukkan ke dalam tas. Susi melihat potongan kertas melayang seperti tertiup angin dan jatuh di atas meja Eka.

__ADS_1


"Thomas, Thomas, kamu lihat tadi ada kertas melayang terus jatuh di meja Eka. dan Eka masjh bengong tuh."


"Tidak. aku tidak lihat. Kenapa memangnya kalau ada kertas melayang. Mungkin tertiup angin."


"Angin dari mana? Belakang tembok dan kaca tinggi bagaimana ada angin sih! Jangan-jangan benar yang diomongin Ryan kalau Eka dukun."


"Otak kamu konslet. Omongan Ryan kamu percaya. Terus nanti kalau tasnya Ryan keangkat gitu kamu bilang Eka dukun? Kalau yang aku lihat di film-film. Dukun itu harus bersila terus ada bunga tujuh rupa, merokok dan ada kemenyan yang dibakar. Nah ini kalau kita berdua lihat Eka lagi bengong mungkin kangen sama bunda dan kakak kembarnya yang sudah meninggal."


"Wooooo, kebanyakan nonton film loe!"


Susi dan Thomas sudah selesai memasukkan buku ke dalam tas mereka dan mendekati Eka.


"Eka, kamu ngga pulang?"


"Eh Susi, Thomas sampai kaget aku. Ini sudah siap mau pulang lagi mikir mau naik apa karena aku tidak dijemput."


"Eka, itu ada potongan kertas jatuh di meja kamu tadi. Aku lihat kertasnya seperti tertiup angin."


"Oh iya. Eka mengambil potongan kertas itu dan melihat ada alamat rumah Siska Damayanti. Susi dan Thomas juga melihat ada tulisan alamat dan nama Siska Damayanti.


"Eka, kamu dapat kertas itu darimana?" Susi menengok kanan kiri mencari seseorang yang memberikan kertas itu kepada Eka.


"Kata kamu ada potongan kertas, makanya aku ambil. Ini alamat rumah Siska anak kelas 2 itu? Namanya Siska Damayanti? Kalian ikut aku yuk. Daripada nanti aku dibilang mengada-ada."


"Kita mau kemana?"


"Ke ruang guru."


Mereka bertiga ke ruang guru dan memberikan potongan kertas itu. Susi menceritakan kepada pak Maryono.


"Pak, maaf sekali bisakah pak Maryono ikut saya dan juga salah seorang guru yang lain. Kita ke rumah Siska. Karena saya mau kasih tahu siapa yang sudah membuat Siska hamil dan akhirnya meninggal."


"Hmmm, gimana ya. Saya sebenarnya ada urusan. Tapi kamu memangnya tahu siapa yang membuat Siska hamil?"


"Saya tidak tahu pak. Tapi semalam saya bermimpi Siska ke rumah saya dan memberitahu bahwa orang yang membuat dia hamil sekolah disini juga?"


"Oh ya, Sjapa?"


"Siska punya bukti semuanya pak. Karena itu saya juga mengajak Susi dan Thomas juga pak Maryono ataupun guru yang lain sekiranya bisa menemani kami bertiga agar orang tuanya tidak stress lagi memikirkan siapa yang telah membuat Siska seperti itu"


Akhirnya Eka, Susi, Thomas ditemani oleh pak Maryono dan Ibu Elisabeth.

__ADS_1


"Kamu pegang alamat rumah Siska kan Eka? Iya bu, ini."


Eka memberikan potongan kertas itu dan mereka pergi menuju ke rumah Siska.


__ADS_2