
Ayah Eka segera di tangani oleh dokter dan suster di UGD.
"Eka, om mau ke ATM dulu. Uang om kan semalam sudah buat bayar rumah sakit yang kemarin."
"Iya om."
Seorang suster mendekati Eka.
"Mbak. ayahnya harus diopname. Silakan di daftarkan ke bagian administrasi."
"Baik suster. Om saya sudah ke bagian administrasi. Ayah saya gimana suster? Saya sudah bisa lihat ayah saya?
"Kami sudah membersihkan luka-lukanya. Dan masih menunggu hasil dari tes darahnya bagaimana. Silakan."
"Baik suster. Terima kasih."
Eka segera menghampiri ayahnya yang sudah di perban beberapa bagian yang terluka.
"Eka, maafin ayah ya. Karena ayah kamu sama om jadi mondar mandir."
"Sudah ayah, jangan dipikirkan yang penting sekarang kita di rumah sakit untuk manusia. Bukan rumah sakit yang seperti semalam. Ayah tidak akan di ganggu lagi. Insya Allah semuanya aman ya ayah."
"Om kamu mana?"
"Om sedang ke bagian administrasi. Ayah harus di opname biar luka-lukanya segera sembuh dan masih menunggu hasil tes darahnya ayah."
"Iya Eka, untungnya ayah masih punya kamu."
"Sudah ayah istirahat jangan mikir macam-macam."
Om masuk ke ruang ATM dan ia mengecek saldo uangnya. Ternyata masih utuh. Tidak ada yang berkurang. Padahal semalam ia sudah melakukan pembayaran. Om segera mengambil uang untuk pendaftaran ayahnya Eka yang kemungkinan akan opname.
Sepanjang jalan dari ruang ATM ke bagian pendaftaran. Om berpikir bagaimana bisa uangnya masih utuh sedangkan semalam ia juga mengambil uang di ATM yang ada di rumah sakit untuk membayar kamar perawatan tapi ternyata uangnya masih ada. Apakah uangnya kembali?"
"Eka. Om sudah daftarkan ayahmu untuk di rawat inap. Dan sudah dibayarkan. Ayahmu dikelas 2 ya."
"Iya om, terima kasih."
"Eka, nanti setelah ayahmu masuk ruang perawatan, om pulang dulu untuk ambil handphone. Kamu dan om sama-sama tidak bawa handphone kan? Pasti orang rumah bingung nunggu kabar kita."
"Iya om. Ayah lagi tidur. Baru saja."
Ayah Eka sedang tertidur dan bermimpi bunda datang menjenguk ayah.
"Ayah, maafin bunda sudah meninggalkan bunda. Fadli, Fani dan bunda sayang kalian berdua. Tetapi bunda tidak tega jika melihat keadaan Fadli. Karena hampir tiap hari Fadli datang dan memohon agar bunda mau menemani Fadli. Ayah, ayah harus lanjutkan hidup. Eka masih membutuhkan ayah. Kasihan Eka kalau ayah ikut dengan kita. Akan ada saatnya nanti kita bertemu. Ayah tidak boleh menyerah, ayah harus kuat demi Eka. Dan bunda minta ayah, agar rumah yang kita tempati dijual saja. Rumah itu banyak penghuninya. Dan bunda tidak mau Eka akan mengalami hal-hal yang mengerikan lagi."
__ADS_1
"Iya bunda. Setelah keluar dari rumah sakit. Ayah akan jual rumah itu. Bunda, ayah akan selalu doa buat bunda, Fadli dan Fani."
Ayah Eka dipindah ke ruang perawatan.
"Eka, om pulang dulu setelah itu nanti om balik ke rumah sakit lagi."
"Iya om. Sekalian titip baju Eka ya om. Sama perlengkapan mandi. Ngga enak sudah dari semalam."
"Iya Eka, nanti akan om bawa baju dan perlengkapan mandi."
Om sudah pergi untuk pulang.
Eka melihat ayahnya yang masih tertidur.
Semoga hari ini tidak ada gangguan lagi. Kasihan ayah butuh istirahat. Sebentar lagi jam besuk. Semoga nanti om datang saat jam besuk sama kakek, nenek, paman, bibi dan juga tante. Eka mau tidur, Eka ngantuk. Tapi Eka harus jaga ayah.
Eka berjalan dan membuka pintu. Eka merasa bahwa rumah sakit ini ramai dengan orang yang sesungguhnya dan menutup pintu kembali.
Eka merasa ngantuk. Dan Eka tertidur di bangku sebelah tempat tidur ayah.
Saat Eka tertidur ada seseorang yang berdiri di pojok kamar. Dan ia mendekati Eka.
Cantiknya perempuan ini. Tapi ada yang menjaga dia.
Tiba-tiba ayah Eka terbangun.
"Pak, saya mau kenal dengan anak bapak."
"Tidak boleh. Jangan kamu ganggu anak saya."
Eka yang mendengar ayahnya berbicara segera bangun. Dan orang itu menghilang.
"Ayah, kenapa ayah? Ayah berbicara dengan siapa?"
"Tidak Eka. Ayah mungkin hanya berhalusinasi. Tadi melihat Fani dan Fadli. Tapi ayah tahu, itu bukan mereka."
Eka melihat sekeliling kamar. Eka merasakan ada kehadiran seseorang tapi orang itu tidak ada. Orang itu sudah pergi. Eka kembali duduk. Eka merasa ada seseorang di jendela kamar. Eka menengok ke arah jendela. Dan orang itu tersenyum.
Siapa orang itu? Kenapa dia diantara jendela? Mau apa dia?
Eka melihat jam. Sudah jam 12. Dan jam besuk sampai jam 2 siang.
"Ayah. Eka ambil wudhu dulu."
Eka masuk ke kamar mandi dan Mengambil wudhu. Eka sholat di sebelah tempat tidur ayah.
__ADS_1
Tidak berapa lama. Om, bibi, paman, tante juga kakek dan nenek datang.
Mereka menangis melihat ayah masih hidup. Sepanjang malam mereka menunggu kabar dari Eka dan adiknya ayah. Om sudah menjelaskan semuanya.
"Eka, kamu baik-baik sajakan?"
"Nenek, harusnya nenek tanya sama ayah. Kalau Eka baik-baik saja nenek."
"Iya nenek tahu. Abi, setelah kamu sembuh mungkin kamu harus jual rumahmu. Kamu bisa tinggal sama kami. Semalam nenek mimpi, istrimu minta rumah dijual. Supaya kalian tidak di ganggu lagi terutama Eka."
"Iya bu, memang rencananya mau Abi jual rumahnya. Abi baru mau bicara sama adiknya Abi mengenai jual rumah."
"Bu, pak, paman dan bibi Abi minta supaya Eka nanti pulang. Besok dia harus sekolah."
"Tidak. Eka tidak mau. Guru Eka sudah tahu."
"Bagaimana bisa tahu. Handphonemu ketinggalan di rumah."
"Boleh Eka minta handphone Eka. Eka mau menelpon guru Eka untuk minta ijin tidak masuk sekolah."
"Nahkan sudah mulai bohong."
"Tante, Eka tidak bohong. Guru Eka sudah tahu bahwa kemarin kan Eka tidak masuk karena sedang berduka cita karena bunda dan kak Fani meninggal."
"Tapi itukan beberapa hari yang lalu."
"Intinya guru Eka sudah tahu."
"Intinya kamu harus minta ijin bahwa besok kamu tidak masuk sekolah."
Eka melihat ke jendela. Orang yang ada di dalam jendela tersenyum dan menganggukkan kepala kepada Eka seperti ikut mendengar omongan tante.
Eka merasa bahwa orang tersebut tidak jahat. Tapi kenapa ada di dalam jendela?
"Iya tante, aku telpon guruku sekarang."
"Nah gitu dong."
"Oh iya Abi. Malam ini bapak sama ibu juga paman dan bibi tidak menginap lagi di rumahmu. Kami merasa tidak nyaman."
"Aku akan bantu jaga Abi, mbak. Biar adiknya Abi bisa istirahat. Kasihan istrinya sedang hamil. Jadi nanti malam biar aku dan Eka yang jaga Abi."
"Tidak usah paman. Biar Eka saja sendiri yang jaga ayah."
"Eka, kamu butuh istirahat. Dari semalam kamu belum tidur. Ommu juga."
__ADS_1
"Ya sudah."