Warisan

Warisan
Siska


__ADS_3

Akhirnya ayah Eka pulang. Dan dibawa ke rumah kakek.


"Ayah, kakek, nenek, tante. Eka berangkat sekolah ya."


"Iya, Hati-hati ya."


"Iya ayah."


Eka naik ke dalam mobil. Eka berangkat dan pulang sekolah diantar dan dijemput oleh supir kakek.


"Abi, kamu tinggal disini saja. Setidaknya kalian tidak berdua saja kalau di rumah sana."


"Iya pak. Kalau sudah lebih sehat. Abi akan segera jual rumahnya. Lusa Abi akan masuk kerja lagi."


"Minggu depan saja, kamu masuk kerjanya. Jangan minggu ini supaya lebih fit lagi badan kamu."


"Ngga bu, karena sudah lama Abi tidak masuk kerja. Abi tidak enak hati sama manajemen bu."


"Ibu rasa mereka pasti mengerti dengan kondisi kamu."


"Ya bu, nanti coba Abi pikirkan lagi. Sekarang Abi mau ke kamar dulu bu, pak."


"Iya silakan."


Eka baru sampai sekolah. Dan ia segera masuk ke kantor.


"Ekaaaa, apa kabar kamu?"


"Baik. Eh, kok ada tas. Ini tas siapa?"


"Oh, itu tasnya Ryan. Ada anak baru. Waktu itu dia disuruh pak Heru duduk di sebelah kamu."


"Oh. ok."


Bel berbunyi. Pelajaran dimulai.


Ryan melihat Eka selama jam pelajaran. Eka tahu bahwa Ryan memperhatikan dirinya.


Bel berbunyi jam istirahat.


"Kenalkan namaku Ryan. Kamu kenapa duduk di sebelahku? Bukannya ada bangku kosong di pojok sana."


Ryan menunjuk bangku kosong yang ada di pojok belakang kelas.


"Sorry, ini bangku aku. Dari awal aku sudah duduk di sini. Dan memang tidak ada yang duduk di sebelahku. Dan sekarang aku sudah masuk sekolah, jadi aku duduk di bangkuku."


"Huh, aku tidak mau duduk di sebelah kamu. Kata teman-teman, kamu itu dukun. Makanya mereka menyarankan kamu duduk di pojok kelas. Dan kamu juga tidak punya teman. Jadi buat apa aku temanan sama orang yang sok jadi dukun."


"Aku bukan dukun. Namaku Eka. Kalau kamu mau, kamu saja yang duduk di pojok bangku itu."


"Aku akan minta bapak dan ibu guru untuk memindahkan tempat duduk kamu di pojokan."


"Silakan saja. Kamu bebas kok bicara sama bapak dan ibu guru. Tidak ada yang melarang."


Jam pelajaran mulai kembali. Dan ternyata yang duduk di pojok belakang kelas adalah Ryan.


Pulang sekolah Eka ke toilet sekolahi. Ada 2 toilet. Yang satu tertutup dan terdengar suara air mengalir.


Eka mendengar sayup-sayup suara menangis dari toilet sebelah. Dan Eka melihat lantai sebelah ada bercak-bercak darah.


Siapa yang menangis, apa yang di sebelah sedang datang bulan dan lupa bawa pembalut

__ADS_1


"Siapa di sebelah? Kamu kenapa? Kamu sedang datang bulan ya?"


Tidak ada jawaban dari toilet sebelah. Dan suara air mati. Ada beberapa anak masuk ke kamar mandi bersamaan saat Eka keluar.


"Di sebelah ada orangnya." Eka memberitahu teman-temannya yang baru masuk.


Salah seorang anak membuka pintu kamar mandi.


"Ngga ada siapa-siapa kok. Kosong?"


"Oh maaf, mungkin tadi sudah keluar duluan, saat aku masih di dalam."


"Ok."


Eka keluar dari kamar mandi dengan bingung. Jadi tadi siapa yang di sebelah aku.


Eka menunggu supir kakek datang dan ada beberapa anak kelas 2 sedang menunggu jemputan.


"Kasihan ya Siska, ternyata hamil di luar nikah dan kok bisa ya kita tidak ada yang tahu."


"Iya, dia bisa melahirkan di toilet sekolah. Dan banyak darah keluar katanya. Aku ngga berani lihat waktu itu."


"Iya bayinya meninggal. Dan sekarang Siska di rehabilitasi. Gosipnya pacarnya yang anak baru kelas 3. Namanya Ryan."


"He-eh, gosip yang beredar gitu. Ya entahlah. Sudah, ngga usah ngomongin Siska. Siska sudah meninggal 2 hari yang lalu. Memangnya kamu tidak tahu. Kita doakan saja supaya arwahnya tenang dan bisa bertemu dengan bayinya."


"Amin"


Eka terkejut mendengar obrolan anak kelas 2. Jadi ada kejadian di sekolah ini? Kok aku tidak tahu ya? Tidak dengar berita apapun.


Eka hendak bertanya kepada anak kelas 2 tersebut tetapi tidak jadi karena supir kakek sudah datang.


Eka segera masuk ke dalam mobil.


"Kita pulang dulu non. Minta ijin sama kakek. Karena kakek nunggu non pulang dan setelah itu mau pergi."


"Oh, ya sudah."


Eka menengok ke luar. Eka menoleh ke sebelah kanan kursi dalam mobil.


"Astaghfirullah."


"Kenapa non?"


"Eh ngga papa pak. Maaf Eka buat kaget."


"Iya non. Bapak kaget, untung lagi lampu merah."


"Iya pak. Mohon maaf banget ya pak."


"Non, bapak mau tanya. Apa boleh kacanya bapak buka. Kita ngga usah pakai AC dulu. Bapak nyium bau bangkai dalam mobil ini."


"Iya pak, tidak papa."


Eka melihat anak perempuan seumuran dirinya.


"Aku Siska, adik kelas kamu. Maaf ya, tadi aku buat kamu bingung. Dan aku tahu kamu bisa melihat aku."


Eka mengangguk. Eka tidak mau bersuara karena takut supir kakek bingung.


"Aku mau minta tolong sama kamu. Ryan, anak baru di kelas kamu. Itu adalah pacarku. Ia yang membuat aku jadi seperti ini. Aku mau kamu membuat Ryan mengakui perbuatannya."

__ADS_1


"Non, non Eka. Non Eka!"


"Eh iya pak. Ada apa?"


"Sudah sampai rumah. Non kenapa? Kok kayak melihat sesuatu? Memang ada apa non."


"Ngga papa pak. Saya ingat waktu bunda suka jemput saya sekolah sama kakak."


Eka terlihat sedih. Dan segera turun dari mobil.


Siska mengikuti Eka.


"Kamu tidak bisa masuk ke rumah. Aku akan bantu kamu. Sekarang aku harus masuk ke rumah. Kamu tunggu disini. Aku pasti keluar lagi."


Siska menganggukkan kepalanya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam Eka. Kamu sudah pulang?"


"Iya nenek."


"Eka, kamu ganti baju dulu, terus makan. Kamu mau diajak kakek pergi."


"Mau diajak kakek kemana nek?"


"Tidak tahu. Kakek tidak mau kasih tahu nenek. Jadi cepat sana ganti baju dan makan. Nenek, kakek dan ayah nunggu kamu di meja makan ya."


"Iya nenek. Sebentar ya. Eka ganti baju dulu."


Eka segera masuk ke kamar dan ganti baju. Dan keluar menuju meja makan.


"Ayo Eka, kita makan siang dulu."


"Ini bukannya makan siang yang telat. Kenapa kakek, nenek dan ayah nungguin Eka pulang? Kan bisa duluan makan siang."


"Sudah, makan dulu. Setelah itu kita pergi."


"Memangnya kita mau pergi kemana kakek?"


"Nanti kamu tahu."


"Tapi, Eka bisa minta waktu sebentar saja setelah makan. Eka mau ke belakang rumah."


"Ya. Tapi hati-hati jangan sampai kejadian seperti kemarin ya. Atau nanti kakek temanin."


"Ngga usah kakek. Eka cuma disamping rumah tidak sampai ke belakang rumah."


"Ok, ok. Ya sudah, ayo makan."


Selesai makan. Eka segera berlari keluar rumah.


Siska masih menunggu Eka.


"Siska, aku akan bantu kamu. Tapi mungkin kita bisa bicara di sekolah. Karena aku mau pergi sama kakek."


"Iya, makasih ya. Besok aku akan temui kamu di sekolah. Aku pergi dulu ya."


"Iya Siska. Sampai besok."


Eka melihat Siska menghilang. Dan masuk kembali ke rumah.

__ADS_1


"Kakek, sudah. Ayo kita jalan sekarang."


Eka dan kakek pergi.


__ADS_2