Warisan

Warisan
4 pasien meninggal


__ADS_3

"Eka, kamu kenapa? Dari tadi ngeliatin jam terus. Ada apa?"


"Om pegang tombol untuk manggil suster. Kalau Eka bilang pencet Tolong dipencet ya om."


"Memangnya ada apa sih? Ayahmu baru saja tidur."


"Om, ada yang sedang diri di depan pintu. Om kan ngga bisa lihat tapi bisa merasakan."


"Sebentar."


Om merasakan kehadiran seseorang. Tapi ia tidak bisa melihat wujudnya.


"Om baca surat An-Nas ya om. Tolong om. Karena ini ada lagi yang datang."


"Iya Eka, om merasakan bulu kuduk om berdiri semua."


Tiba-tiba ayah Eka bangun dan langsung duduk, matanya melotot dan berwarna hitam semua matanya membuat Om dan Eka terkejut


"Om, pencet tombolnya om! Terus pencet ya om."


Ayahnya muntah darah tetapi bukan berwarna merah melainkan hitam pekat.


"Alice apa yang kamu mau!" Eka memanggil nama Alice dalam hati. Ia tidak mau pasien lain terganggu.


"Aku mau ayahmu. Kakak kembarmu adalah anak kembarku. Dan ayah bundamu tidak bisa menjaga anak-anakku."


Alice tiba-tiba ada di depan Eka. Sementara om masih memencet tombol untuk memanggil suster. Ayah Rena masih terus muntah.


"Tidak ada yang boleh membawa ayahku kecuali Allah."


"Hahahah, kamu tunggu saja. Tidak ada yang bisa menghalangi aku." Alice pergi dari hadapan Eka.


2 orang suster masuk ke dalam kamar dan melihat ayah Eka yang masih muntah.


"Suster Irma, tolong panggilkan suster Winny. Saya perlu obat sekalian ambilkan. "


"Suster ayah saya kenapa?"


"Sebentar ya mbak. Biar suster kepala yang bantu saya."


Tidak berapa lama suster Winny dan suster Irma datang. Suster Winny langsung memberikan suntikan ke ayah Eka.


Setelah diberikan suntikan, berangsur-angsur ayah Eka berhenti muntah dan merebahkan badannya. Kemudian tertidur.


"Suster. Ayah saya kenapa?"


"Ini efek dari kecelakaan yang di alami ayahnya mbak. Sudah saya berikan obat agar lebih tenang."


Baru saja suster akan keluar. Ayah Eka bangun dan langsung duduk. Lalu mencengkram tangan suster Winny.


"Astaghfirullah al adzim." Suster Winny kaget karena tangannya di cengkram ayah Eka.


Semuanya melihat ayah Eka yang melotot dan matanya hitam semua.


"Suster Irma. Tolong diberikan suntikan yang tadi. Dan ambil tali, supaya pasien tidak bangun langsung duduk seperti ini."

__ADS_1


Suster Winny membaca An-Nas. Dan suster Irma menyuntikkan lagi obat ke ayah Eka.


Setelah menyuntikkan. Suster Irma dan Suster Rita mengikat tangan ayah dengan tali dan diikat ke samping tempat tidur.


Ayah Eka kembali tertidur.


"Suster, maaf. Sebenarnya ayah saya kenapa? Tangan suster merah. Maaf atas perbuatan ayah saya."


"Tidak papa mbak. Sudah biasa dengan kondisi pasien yang kecelakaan. Mereka begitu karena rasa sakit. "


"Suster-suster. Suami saya, suami saya badannya dingin sekali. Saya takut dia meninggal. Tolong suster cek suami saya."


"Ya bu Mbak, saya lihat pasien yang lain dulu."


Ibu di sebelah ayahnya Eka mendatangi suster untuk mengecek suaminya


Beberapa suster datang. Ternyata suami dari ibu yang di sebelah ayahnya Eka meninggal.


Om melihat Eka dengan pandangan bertanya.


Eka melihat Alice berdiri di sebelah pasien yang meninggal dan tertawa menyeringai.


Para suster dibuat terkejut, karena pasien yang ada di kamar itu ada yang meninggal lagi.


Eka mendengar salah seorang suster berbicara.


"Belum pagi, di kamar ini sudah 3 orang meninggal. Kamar ini terkenal kamar kutukan. Setiap ada pasien baru yang datang pasti ada saja yang meninggal."


"Hush tidak boleh bicara seperti itu. Nanti ada yang mendengar."


"Kenyataannya. Dan biasanya sebelum azan subuh pasti ada 1 lagi yang meninggal. Sekarang jam berapa?"


Suster tadi bilang ini kamar kutukan. Pantes saja dari awal masuk,, suasana lantai ini berbeda.


Suster sudah keluar. Dan tiba-tiba anak laki-laki mengejar suster.


Beberapa suster balik kembali ke ruangan. Dan ternyata pasien di kamar itu ada yang meninggal.


Para suster dibuat sibuk,. Semuanya meninggal.


Sayup-sayup terdengar azan subuh. Beberapa suster yang masih ada di dalam kamar menarik menghembuskan napas panjang.


"Alhamdulillah akhirnya azan subuh berkumandang. Selesai sudah. 4 pasien di kamar ini meninggal. Semoga pasien yang baru datang tadi selamat."


Eka mendatangi salah satu suster.


"Suster, 4 pasien meninggal dari kamar ini?"


"Iya mbak. Maaf kami permisi karena harus membuat surat pernyataan bahwa pasien meninggal."


Eka kembali mendekati ayahnya yang masih tertidur.


"Om, nanti kita pindahin ayah ke kamar kelas 2 atau kelas 1 atau VIP sekalian."


"Kenapa memangnya?"

__ADS_1


"Om ngerasa tidak saat masuk ke kamar ini? Ditambah dari awal kita masuk sampai saat ini 4 pasien meninggal secara bergantian."


"Iya Eka. Kamu mau sholat duluan atau om duluan?"


"Om duluan saja. Om sholat disini. Temani Eka dan ayah. Jujur Eka takut kalau nanti om tinggal sholat di mushola. Ayah kenapa-napa."


"Iya om sholat disini saja. Ya sudah om mau ambil wudhu dan sholat."


Om sholat kemudian gantian Eka.


"Eka sudah jam 5, kamu tidur saja dulu. Biar om yang jaga ayahmu."


Om menelpon orang rumah dan memberitahu bahwa ayah Eka kecelakaan dan ada di rumah sakit.


"Om. Eka keluar dulu ya."


"Iya, kamu mau keluar mau ngapain?"


"Mau mindahin kamar ayah, terus sekalian beli makan buat kita sarapan om?"


"Ya. Ini uangnya."


"Tidak usah om. Buat beli makan. Eka ada uang , om."


Eka keluar kamar dan pergi ke bagian administrasi. Ternyata kamar kelas 1 dan 2 sudah penuh kecuali kamar VIP. Eka meminta agar ayahnya dipindahkan ke kamar VIP dan sudah disetujui.


Saat Eka keluar dari ruang administrasi. Suster Winny ada di belakang Eka.


"Mbak. mbak. Tunggu."


"Iya suster, ada apa?"


"Mbak, kalau bisa ayahnya mbak dipindah kamarnya. Jangan dikamar itu lagi."


"Oh iya suster. Terima kasih. Kebetulan tadi saya sudah minta agar ayah saya di pindah. Dan dapat di kamar VIP."


"Oh ok. Bagus kalau begitu. Daripada mengalami kejadian yang menyeramkan seperti semalam."


"Maaf suster kalau saya boleh tahu memangnya kenapa dengan kamar itu?"


"Oh tidak ada masalah dengan kamar itu, mbak. Hanya saja, dengan kejadian 4 pasien meninggal di kamar itu, takutnya nanti yang jaga merasa tidak nyaman ataupun ketakutan."


"Iya suster. Terima kasih."


"Mbak, tolong ayahnya dijaga benar-benar jangan sampai orang yang menjaga ikutan tertidur. Kita memang tidak tahu kapan kita akan meninggal atau sembuh. Semua orang yang sakit maunya juga sembuh. Termasuk kita para perawat."


"Baik suster. Ada lagi yang mau suster sampaikan? Karena saya merasa suster ingin mengatakan sesuatu."


"Tidak ada mbak. Hanya saja perbanyak doa dan baca Al Quran. Jangan sampai lengah. Itu saja mbak. Mari saya permisi pulang."


"Baik suster. Terima kasih."


Suster Winny berjalan keluar dari rumah sakit. Eka mengikuti dari belakang karena Eka mau beli makanan. Eka berhenti di tukang bubur ayam. Sedangkan suster Winny menunggu mobil yang lalu lalang. Eka melihat sesuatu di belakang suster Winny yang hendak menyebrang.


"Bang, bubur 2, sebentar bang."

__ADS_1


Eka berusaha menghampiri suster Winny untuk tidak menyebrang jalan. Tetapi telat. Tiba-tiba ada mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak suster Winny yang sedang menyebrang jalan. Eka melihat suster Winny terlempar karena tertabrak mobil.


"Innalillahi wa innalilahi roji'un" Eka terdiam dan masih shock. Ia telat untuk melarang suster Winny menyebrang jalan.


__ADS_2