
"Eka hari ini tidak sekolah dulu ya bunda. Badan Eka capek sekali baru besok Eka masuk sekolah."
"Iya, ini ada bubur di makan ya. Kamu istirahat saja dulu."
Eka memakan habis bubur yang diberikan bunda dan ia melihat siluet bayangan di pojok kamar dekat lemari pakaiannya.
Dan Eka tertidur.
"Eka, kok kamu bisa ada di sini?"
"Wisnu, kamu Wisnu teman aku sekolah SD dulu kan?"
"Iya, aku Wisnu. Tapi kenapa kamu disini? Kamu masih hidupkan? Kalau kamu masih hidup. Kamu tidak boleh ada disini?"
"Aku ngga tahu kok aku ada di sini?" Eka kebingungan melihat banyak sosok yang serupa dengan Wisnu.
"Eka, lebih baik kamu pergi, jangan ada di sini! "
Tiba-tiba Wisnu dan beberapa orang yang sedang memperhatikan Eka berlari.
"Eka, cepat menyingkir jangan diam di situ, ayo lari. Ada yang baru meninggal dan sedang dibawa kesini!" Wisnu berteriak ke Eka sambil berlari.
Eka melihat suasana yang tadinya temaram menjadi gelap gulita. Dan Eka merasakan sakit di pergelangan kaki kanannya.
"Aku harus bangun, aku ngga boleh tidur, aku harus bangun. Aduuuhhh pergelangan kakiku sakit ada yang memegang tapi siapa? Aku ngga bisa lihat siapapun. Wisnu, Wisnu kamu dimana? Tolong aku. Tolong aku. Allahu Akbar, aku harus bangun. Allahu Akbar, aku harus bangun. Aku tidak mau disini. Ini bukan duniaku."
Eka terbangun dari tidurnya. Ia segera melihat pergelangan kaki kanannya. Ada warna merah seperti bekas jari-jati tangan di pergelangan kaki Eka dan rasanya panas.
Eka segera keluar dari kamar tidurnya, ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Eka sembahyang jam 9 pagi.
Selesai sembahyang Eka melihat warna merah bekas jari-jari tangan di pergelangan kakinya mulai pudar tidak semerah tadi. Tapi rasa panasnya masih ada.
Pakde masuk ke kamar Eka setelah mengetuk pintu kamar Eka dan Eka minta untuk masuk.
"Kenapa kaki kananmu? Panas?"
"Iya pakde, tadi Eka sempat tertidur dan Eka bermimpi bertemu teman SD Eka yang sudah meninggal lama. Tetapi bukankah harusnya mereka sudah di surga sama Allah!"
__ADS_1
"Itu bukan Wisnu temanmu. Itu jin yang mengajak kamu untuk mau ikut dengan mereka. Sini pakde lihat kakimu dan pakde bersihkan."
"Ngga usah pakde. Ini sudah ngga terlalu panas seperti tadi."
"Wis ojo ngeyel nek di kandani wong tua."
Pakde duduk di sebelah Eka dan mengambil kaki kanan Eka yang sebenarnya masih panas.
Eka melihat pakde berkomat-kamit tetapi Eka tidak bisa mendengar secara jelas apa yang dikatakan pakde.
Eka mulai merasakan pergelangan kaki kanannya tidak sepanas tadi dan sudah mulai seperti biasanya.
Pakde selesai memegang kaki Eka.
"Eka, kamu kalau tidak sekolah atau sedang libur sekolah jangan pernah tidur pagi. Pamali kalau kata orang."
"Iya pakde. Tadi Eka merasa capek banget. Habis makan bubur, ngga berapa lama Eka ketiduran. Padahal ayah dan bunda selalu bilang jangan tidur lagi kalau masih pagi. Ngga baik buat kesehatan. Pagi itu awal kita beraktivitas bukan malah tidur-tiduran atau tidur."
"Nah, ayah dan bundamu sudah kasih tahu. Lain kali didengarin kalau orang tua kasih nasehat jangan main asal iya, iya saja."
"Iya pakde. Terima kasih."
Pakde merasakan kekuatan besar tetapi jelek.
"Eka, kamu keluar. tolong buatkan kopi hitam sama minta air putih sebaskom. Cepat ya nduk. Iki ono demit neng kamarmu. Arep tak pindah ojo neng kene!"
Eka tahu ada yang tidak beres dengan siluet yang tadi pagi di lihatnya. Eka segera ke dapur dan membuatkan kopi hitam untuk pakdenya.
"Eka, kamu buat kopi hitam?" Bunda yang sedang memasak melihat Eka membuat kopi.
"Buat pakde, bunda?"
"Oh, temenin pakde ya, bunda lagi masak dulu."
"Iya bunda."
Eka membawa kopi dan air sebaskom yang diminta pakde ke kamar.
__ADS_1
Saat Eka masuk ke kamar. pintu kamar tertutup dan mengunci sendiri.
Eka melihat pakde berubah wujud menjadi kakek buyutnya.
"Loh, pakde berubah jadi kakek buyut? Ini sebenarnya pakde atau bukan dan kamar Eka yang semula terang karena mendapat sinar dari jendela kamar menjadi gelap gulita. Eka merasakan hawa yang menyeramkan membuat bulu-bulu halusnya berdiri. Eka berdzikir.
Bunda masih di dapur. Bunda tidak tahu bahwa di kamar Eka sedang ada kekuatan gaib yang jahat.
Saat pakde sedang melawan sosok di pojokan kamar. Eka yang sedang berdzikir kembali seperti ditarik ke dasar bumi.
Pakde segera menarik tangan Eka. karena yang Eka rasakan ditarik ke dasar bumi sebenarnya Eka akan dibawa pergi lagi.
Eka langsung membuka matanya. Entah dapat kekuatan darimana. Sosok yang menyeramkan ada di depan Eka. Yang semula berbentuk siluet ternyata seorang laki-laki bermuka merah dan giginya bertaring semua. Bau busuk tercium di hidung Eka.
Eka beroegangan tangan dengan pakde yang tadi menariknya. Makhluk itu mendekati Eka dan pakde sedang melawan makhluk yang sama. Makhluk itu ternyata tidak hanya 1 tapi ada 5. Dan yang mempunyai kekuatan paling besar sedang dilawan oleh pakde.
"Pakde, kedua kaki aku ditarik! Eka yang masih beroegbagan dengan pakde ditarik kakinya ke kanan dan ke kiri membuat Eka jatuh terdudun seperti orang split. Tetapi anehnya pakde masih berdiri dan tetap memegang tangan Eka.
Eka merasakan telapak kedua kakinya tertekuk ke dalam lantai. makhluk yang satunya menarik tangan Eka yang satunya. Dan satunya menyemburkan cairan panas dan berbau anyir. Eka tidak tahu apakah cairan itu darah atau bukan karena kamarnya masih gelap gulita. Yang Eka rasakan hanya panas dan berbau anyir.
Eka berteriak Allahu Akbar berkali-kali. Kaki Eka sudah masuk ke dalam lantai kamar yang tadinya hanya telapak sekarang sudah sampai pahanya. Eka semakin merasakan kakinya ditarik ke dalam lantai kamar.
"Pakde, Eka ngga kuat. Ini Eka ditarik ke bawah. Kaki Eka sakit! Allahu Akbar."
Eka berusaha untuk konsentrasi dan berdoa. I merasakan badannya sudah basah oleh cairan panas dan anyir. Eka berserah sama Allah. Eka terus berdoa dan berdoa. Dan Eka merasakan kakinya seperti ada yang mendorong keatas. Eka tidak tahu siapa atau apa yang mendorong kaki Eka. Eka hanya bisa berseru Allahu Akbar berkali-kali tanpa henti. Dan tiba-tiba Eka sudah berdiri kembali. Pelan-pelan Eka membuka matanya yang dari tadi tertutup. Eka melihat bahwa kamarnya sudah terang kembali Dan pakde sedang duduk di sajadah Eka m, sedang berdzikir. Tangan Eka masih memegang gelas kopi dan air di baskom. Bunda mengetuk kamar Eka dan membuka pintu kamar Eka.
"Eka, kok diam saja? Pakde lagi sholat bukannya ikutan sholat. Dan kenapa kopinya ngga ditaruh di meja. Selesai sholat kan pakde bisa minum kopi."
Bunda mengambil kopi yang di tangan Eka dan meletakkan ke meja kecil.
"Sini baskomnya biar bunda bawa ke belakang."
Pakde yang sudah selesai dzikir dan membuka matanya.
"Ojo, taruh saja dulu baskomnya nanti biar aku yang taruh di belakang."
"Nggih oakde."
__ADS_1
Eka masih bingung dengan kejadian yang baru saja menimpanya