Warisan

Warisan
bunda dan Fani meninggal


__ADS_3

Sejak kematian Fadli, bunda menjadi lebih banyak diam. Fani dan Eka sering mengajak bicara bunda tetapi hanya ditanggapi bunda dengan senyuman saja. Ayah sendiri bingung mengahadapi bunda. Seperti yang tidak punya semangat hidup.


"Bunda, besok 1 tahun kematian Fadli. Kenapa bunda semakin diam. Kita masih punya 2 anak Fani dan Eka. Dan mereka butuh perhatian."


"Iya ayah. Bunda tahu. Tapi rasanya hati ini masih sakit karena Fadli meninggal dengan cara yang tidak wajar. Mau sampai kapan keluarga kita dihantui oleh klenik-klenik dari keturunan ayah? Apakah kita tidak bisa hidup secara normal seperti keluarga yang lain. Ayah tidak tahu gimana perasaan bunda saat Eka harus melihat hal-hal di luar nalar."


"Iya bunda, ayah ngerti. Ayah pun sebenarnya sama tapi kasihan Fani dan Eka. Karena sejak Fadli tidak ada sikap bunda berubah. Dan mereka kehilangan sosok bunda."


Bunda diam dan berbaring di tempat tidur dan memejamkan matanya.


"Bunda, ayah pergi jemput anak-anak dulu. Nanti biar ayah bawa makanan. Bunda istirahat tidak perlu masak. Besok kita pesan nasi dus saja untuk 1 tahun meninggalnya Fadli."


"Assalamu'alaikum bunda."


Tidak ada jawaban. Bunda sudah tertidur. Ayah menutup dan mengunci pintu karena Bunda tertidur.


"Bunda, bangun bunda. Ini Fadli."


Bunda terbangun dari tidurnya


"Fadli, ini Fadli. Kamu pulang nak? Bunda kangen kamu nak?"


"Bunda, iya bunda, ini Fadli. Bunda, Fadli mau ajak bunda ke rumah Fadli. Bunda mau ikut? Fadli kesepian, sendirian disana. Fani dan Eka bisa ditemani ayah, tapi Fadli tidak ada yang menemani. Bunda mau ya bunda. Besok 1 tahun Fadli. Bunda ikut Fadli sekarang ya bunda?"


"Iya Fadli sayang. Bunda ikut kamu. Menemani kamu di sana. Tapi ayah sedang pergi. Bunda harus pamit ayah."


"Nanti bunda bisa oamit ayah, Fani dan Eka. Bunda sekarang ikut sama Fadli ya. Fadli mohon. Biar Fadli ada teman bicara. Fadli kangen bunda."


"Bunda juga kangen Fadli. Iya bunda siap-siap dulu bawa baju."


"Ngga usah bunda. Fadli sudah belikan bunda baju. Bunda tidak usah kuatir mengenai baju ganti."


Ayah sudah menjemput Eka dan Fani dan mereka dalam perjalanan pulang.


"Ayah, tolong cepatan sampai rumah ayah. Bunda ayah, bunda diajak jin yang menyerupai Fadli. Ayo ayah cepatan."


"Ya ngga bisa cepat-cepat Eka. Ini macet."


"Aduh, waktunya sebentar lagi ini. harus ada yang narik bunda supaya jangan ikut. Eka turun sini saja, Eka naik ojek."


"Sabar Eka, 15 menit lagi sampai. Lagipula bunda tadi sedang tidur."


"Aduh ayah ngga ngerti banget sih. Ini kejar-kejaran waktu sama itu jin ayah. Berhenti sekarang ayah!"


Ayah memberhentikan mobil dan memberikan kunci rumah kepada Eka. Eka langsung naik ojek dan pulang ke rumah.


Tidak sampai 5 menit Eka sudah sampai rumah dan membuka pintu lalu berlari ke kamar bunda. Eka melihat bunda yang sudah terbujur kaku.


"Bundaaaaa! Astaghfirullah al adzim. Bunda kenapa jadi gini?"

__ADS_1


Eka terduduk dilantai sambil memegang tangan bunda yang sudah dingin.


Ayah dan Fani baru saja sampai rumah dan melihat pintu depan terbuka. Ayah hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan Eka.


Ayah dan Fani masuk ke kamar dan melihat Eka yang menangis sambil memegang tangan bunda dan badan bunda sudah ditutup oleh kain putih oleh Eka


"Eka kenapa menangis, bunda kenapa. Kok kamu menutupi tubuh bunda dengan kain putih."


Fani membuka kain putih yang menutupi bunda dan ayah sedang bicara dengan Eka.


"Bun, bunda, ini Fani. Bangun bunda." Fani melihat wajah bunda yang sudah pucat dan mengelus pipi bunda. Fani merasakan pipi bunda sudah dingin.


"Ayah, saat Eka masuk, bunda sudah dibawa oleh jin Fadli."


"Stop, lama-lama omongan mu tidak masuk akal. Bunda tidur. Bunda sedang tidur!"


Eka menggelengkan kepalanya.


"Fani, bunda sedang tidur jangan diganggu."


"Ayah, tolong panggil dokter. Badan bunda sudah dingin. Dan mukanya sudah pucat."


Ayah tidak percaya dengan ucapan Fani.


"Minggir kamu, Fani. Ayah mau lihat bunda."


Fani bergeser dan ayah membangunkan bunda.


Ayah memegang seluruh badan bunda yang sudah kaku dan dingin.


"Astaghfirullah, bunda kenapa bunda tinggalkan ayah, Fani dan Eka seperti ini tanpa pesan."


Ayah segera menelpon dokter. Fani menelpon nenek, kakek, tante dan adik-adiknya ayah. Memberitahu bahwa bunda meninggal.


Eka melihat bunda yang duduk di bangku rias. mukanya sedih dan menangis.


Eka mendekati bunda.


"Bunda, kenapa bunda pergi seperti ini?"


"Eka, maafin bunda. Karena bunda pergi tidak pamit dengan ayah, Fani dan kamu. Bunda hanya menemani Fadli yang kesepian. Tadi Fadli datang saat ayah pergi menjemput kalian."


"Bunda yang datang itu tadi bukan Fadli tapi jin yang menyerupai Fadli. Bunda, Eka mohon kembali bunda. Eka, Fani, ayah, sayang sama kak Fadli dan juga bunda. Kenapa cara bunda meninggal seperti kak Fadli, kenapa bunda?"


"Maafin bunda. Tolong jaga ayah baik-baik ya. Kita akan bertemu lagi nanti saat Allah mengijinkan."


"Bunda jangan pergi dulu. Biar ayah bisa bicara sama bunda lewat aku. Karena ayah tidak bisa melihat bunda saat ini. Eka mohon bunda, jangan pergi dulu."


"Nanti bunda akan datang ke ayah lewat mimpi. Bunda mohon kamu sebagai anak perempuan jaga ayah ya."

__ADS_1


"Eka dan kak Fani akan selalu jaga ayah dan bunda. Tetapi bunda pergi tanpa pesan sedikit pun. Eka kehilangan bunda sejak kak Fadli meninggal. Kenapa bunda? Kenapa bunda pergi meninggalkan ayah, Eka dan kak Fani."


"Bunda menemani kak Fadli yang sendirian. Eka dan Fani ditemani ayah. Kasihan kak Fadli."


"Bunda, dunia kak Fadli beda dengan dunia kita. Dengan bunda menemani kak Fadli, Bunda sudah beda dunia dengan ayah, Eka dan Fani. Bunda tidak bisa kembali lagi."


"Bunda sayang Eka dan Fani. Bunda juga sayang sama ayah. Bunda pergi ya Eka."


Eka hanya bisa menangis melihat bunda yang sudah menghilang.


Ayah masuk ke kamar dengan dokter yang akan memeriksa bunda. Ya, bunda sudah meninggal.


Kakek, nenek, tante datang dan satu persatu adik ayah datang. Mereka tidak ada yang bertanya kepada ayah, Eka ataupun Fani. Mereka menyiapkan semua perlengkapan untuk menguburkan bunda.


"Eka, kamu ikut memandikan jenasah bunda ya."


"Iya tante, Eka ikut memandikan jenasah bunda."


"Fani kemana? Kok tante tidak lihat Fani dari tadi."


"Mungkin di kamarnya tante."


Tante naik ke kamar Fani dan mengetuk kamar Fani, tetapi tidak ada jawaban.


"Fani, Fani, buka pintu. Tante mau masuk."


Tidak ada jawaban dari Fani. Tante akhirnya masuk dan melihat Fani yang sudah terbujur kaku.


"Faniiiiiiii!!! "


Beberapa orang yang mendengar teriakan tante termasuk Eka segera berlari ke atas. Ayah hanya duduk diam dan memandang wajah istrinya yang sebentar lagi akan dimandikan.


"Astaghfirullah al adzim, kenapa meninggal juga."


Eka melihat selembar kertas yang dipegang Fani dan mengambil surat tersebut.


*Ayah, Eka. Mohon maaf. Fani ikut bunda dan Fadli. Tadi Fadli datang bersama bunda dan mengajak Fani ikut untuk menemani Fadli saudara kembar Fani.


Sejak Fadli pergi setahun yang lalu. Fani merasa sepi. Yang biasanya selalu berdua sama Fadli sekarang sendiri.


Jadi Fani minta maaf karena harus seperti ini. Tadi di mobil Eka minta ayah buru-buru pulang padahal Fadli juga ada di dalam mobil. Fadli membujuk Fani untuk ikut. Dan akhirnya Fani ikut Fadli dan Fani.


Bunda sudah menitip pesan kepada Eka untuk menjaga ayah. Fani mohon maaf atas semua kesalahan yang telah Fani buat selama ini*.


Eka terdiam setelah membaca surat dari Fani. Dan turun ke bawah. Orang-orang masih diatas termasuk tante.


Eka menghampiri ayah dan memberikan surat Fani kepada ayah.


Ayah membaca dan terdiam. Sama seperti 1 tahun yang lalu dimana ayah harus kehilangan Fadli dan pakde.

__ADS_1


Dan sekarang ia harus kehilangan istri dan anaknya yang satu lagi, Fani.


Ayah dan Eka hanya bisa duduk terdiam. Adiknya ayah yang menyiapkan semuanya. Mereka juga shock karena secara bersamaan kakak ipar dan ponakan mereka meninggal.


__ADS_2