Warisan

Warisan
Sosok


__ADS_3

"Ayah, sekarang antar Susi dan Thomas dulu pulang.. Kasihan mereka karena ikut Eka pulangnya jadi malam sekali. Kakek dan pak supir juga mbak Asih dan ibunya tinggal di rumah kakek sementara waktu."


"Iya Eka, kamu tidak usah kuatir."


"Eka, tidak papa. Tadi aku sudah bilang sama orang tuaku kalau aku, kamu dan Thomas sedang melayat guru yang meninggal."


"Iya, tapi kan tidak sampai malam gini juga."


"Eka, kamu tidak usah kuatir. Besok ayah akan datang ke sekolah kamu untuk minta ijin kalau kamu, Susi dan Thomas tidak masuk sekolah."


"Tapi sepertinya Eka harus masuk ayah. Lagipula dari tadi tidak ada seorang pun guru yang datang. Kalau kami bertiga tidak datang pasti akan jadi pertanyaan guru."


"Iya om. Kami bertiga besok tetap sekolah. Hanya saja nanti bantu Thomas untuk bicara sama orang tua Thomas ya om."


"Pasti, om nanti akan kasih tahu orang tuamu kenapa baru pulang ke rumah sampai malam."


"Ayah, Eka lapar. Susi dan Thomas pasti juga lapar. Kita cari makan dulu saja baru antar mereka pulang."


"Ya, ok. Susi dan Thomas tidak papa kan kalau kita makan dulu. Ini sudah malam. Kalian dari pulang sekolah pasti belum makan."


"Iya om. Kami memang lapar."


"Ok, kalau gitu kita cari makan."


Tidak berapa lama ayah memberhentikan mobilnya di warung pecel ayam pinggir jalan. Mereka berempat makan. Setelah itu Eka dan ayahnya mengantar Susi dan Thomas pulang.


"Eka bangun. Ini sudah sampai rumah."


"Iya ayah. Maaf Eka ketiduran. Eka capek banget ayah."


"Ayah tahu. Ya sudah ayo masuk ke dalam. Ganti baju dan kamu lanjut tidur lagi."


"Iya ayah."


Setelah mengucapkan salam, ayah dan Eka masuk ke dalam. Ternyata kakek, nenek, tante, mbak Asih dan ibunya masih mengobrol di ruang tamu.


"Eka, kamu tidur di kamar tante ya. Kamar kamu untuk tidur tante Neni dan mbak Asih."


"Iya nenek. Eka permisi dulu mau mandi."


"Jangan mandi malam-malam, Bisa rematik kamu."


"Lengket badan Eka, ngga papa nenek."


Eka masuk ke dalam kamarnya untuk mandi.


"Abi, duduk sini."


"Iya Pak."


"Bapak mau kasih tahu, mulai hari ini Neni dan Asih akan tinggal di sini. Tadi Neni sudah bicara banyak sama ibu mengenai mertua dan suaminya yang sudah meninggal dan seperti yang tadi kita lihat tidak ada jenasahnya. Si Eka makin kesini makin tidak terbendung kekuatannya. Bapak takut kalau Eka sampai kenapa-napa."


"Iya Pak Abi. Kalau bukan karena Eka mungkin kami berdua akan ikut juga. Alhamdulillah Eka sudah menolong kami berdua."

__ADS_1


"Iya sama-sama bu Neni. Eka memang punya kelebihan yang kadang kala kami pun ketakutan. Kelebihan Eka di luar nalar kita."


Eka keluar kamar setelah selesai mandi.


"Kakek, nenek, ayah, tante juga mbak Asih dan ibunya, Eka sudah ngantuk. Besok Eka sekolah. Jadi Eka tidak ikut ngobrol ya."


"Kami semua juga mau tidur. Kamu tidur sama tante ya."


"Iya tante."


"Ya sudah kalau gitu. Kita semua istirahat. Neni dan Asih jangan sungkan di rumah ini ya."


"Terima kasih banyak untuk bantuannya."


"Sama-sama. Ayo sudah tidur. Kasihan cucu kakek sudah ngantuk itu.'


Mereka semuanya bangkit berdiri dan masuk ke kamarnya masing-masing.


Neni dan Asih sudah masuk ke kamar Eka.


"Bu, kita jadi merepotkan kakek dan neneknya Eka. Asih merasa tidak enak hati. Sedangkan kita sudah tidak punya apapun lagi."


"Sudahlah Asih. Besok saja kita pikirkan bagaimana selanjutnya. Kamu besok masuk kerja atau libur dulu."


"Lusa saja bu, Asih masuk kerja. Mereka tahu kok kalau Asih sedang berduka."


"Ya sudah. Tidur. Setidaknya saat ini kita bisa tidur tenang tidak ada lagi gangguan-gangguan seperti di rumah lama."


"Iya bu."


"Astaghfirullah, astaghfirullah. Ya Allah, itu siapa di luar!"


Perlahan Eka bangun dari tempat tidur supaya tante tidak terbangun. Dan membuka pintu kamar tante.


Saat Eka menutup pintu kamar tante dan hendak berjalan ke ruang tamu.


"Eka, ngapain kamu? Kamu mau kemana?"


"Kakek. Kakek tidak tidur?"


"Kakek dan ayahmu masih di ruang tamu sama nenek."


"Loh kok malah belum tidur?"


"Ya sudah ayo kita ke ruang tamu."


Kakek menggandeng tangan Eka.


"Eka, kamu tidak tidur? Tadi katanya ngantuk?"


"Iya ayah. Eka ngga bisa tidur. Kakek, nenek dan ayah kenapa juga belum tidur?"


"Kakek masih ngobrol sama nenek dan ayahmu. Kamu tadi mau kemana? Kok nutup pintunya pelan-pelan seperti orang mau keluar rumah."

__ADS_1


Eka menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum. Eka tidak mau kasih tahu ke kakek, nenek dan ayahnya kalau sebenarnya Eka tadi melihat ada seseorang yang berdiri di luar tepatnya di samping rumah.


"Eeenngg, iya kakek. Eka tadi melihat ada orang yang berdiri di samping rumah. Entah kenapa gordyn di kamar tante tersibak padahal jendela sudah di tutup."


"Maksud kamu?"


"Eeehh, mungkin Eka salah lihat. Eka balik ke kamar ya."


"Nah itu kebetulan ada yang sedang ronda. Dan pak supir juga sedang diluar sama yang ronda. Tadi kakek minta mereka ronda di depan rumah kita. Ayo kalau kamu mau keluar rumah. Kakek tahu kamu penasaran kan?"


"Hehehe, iya kakek."


Akhirnya Eka, kakek, nenek dan ayah keluar rumah. Di teras ada pak supir dan 5 orang yang tadi diminta sama kakek untuk jaga rumah mereka. Pak supir yang melihat mereka berempat keluar segera berdiri dan menghampiri mereka.


"Loh pak, belum tidur? Ini sudah jam 02.30."


"Eka minta keluar sebentar, makanya kami temani. Eka tadi melihat ada orang yang berdiri di samping rumah."


"Tadi saya sama Juned ke samping rumah kanan kiri tidak ada siapa-siapa pak."


"Kamu tahu Eka kan? Dia pasti penasaran. Makanya kita mau lihat ke samping rumah."


"Ayo kalau gitu, Sebentar pak."


Pak supir menghampiri teman-temannya. Juned dan pak supir berjalan menghampiri kakek, sedangkan yang 4 orang lagi menunggu di halaman depan.


"Ayo non. bapak temanin ke samping sama Juned."


"Iya pak. Terima kasih."


Akhirnya mereka semua ikut berjalan ke samping. Eka melihat sosok laki-laki seperti pak Felix dengan mata yang besar dan merah.


"Astaghfirullah, astaghfirullah."


Ayah, kakek dan nenek juga pak supir tahu bahwa Eka melihat sesuatu sedangkan Juned kebingungan.


Eka segera membaca An-Nas, Al Falaq dan Al Fatihah. Diikuti oleh kakek, nenek, ayah dan pak supir. Juned yang kebingungan akhirnya mengikuti setelah dibisiki oleh pak supir.


"Pergi kamu, tempatmu bukan disini. Biarkan istri dan anakmu hidup dengan tenang."


"Tidak, aku mau ambil anakku. Karena ada darah aku di tubuh anakku. Dan kamu tadi telah menghancurkan istana tuanku. Maka kamu harus ikut juga. Haahahaha."


Eka langsung duduk bersila dan membaca ayat-ayat Al Quran.


Dan sayup-sayup terdengar azan subuh berkumandang.


Akhirnya sosok yang menyerupai pak Felix pergi menyerupai asap. Juned melihat kepulan asap dengan wajah yang masih kebingungan.


"Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah."


"Eka, kamu baik-baik saja? Ayo bangun, kita sholat sama-sama."


"Iya nenek."

__ADS_1


Mereka semua pergi dari samping rumah. Pak supir dan Juned menghampiri 4 temannya. Sedangkan Eka, ayah, kakek dan nenek sudah masuk ke dalam rumah.


__ADS_2