
Jam 7 pagi, ayah dan bunda Eka menjemput Eka di sekolah. Eka tidak melanjutkan acara persami. Dan Ivan mendampingi Eka, karena kuatir dengan Eka.
Pak Hadi berlari ke arah ayah, bunda, Eka dan Ivan yang akan segera pulang. Pak Hadi mengatur napasnya.
"Eka, maaf kalau semalam Pak Hadi marah. Yang kamu katakan benar, Wisnu meninggal kecelakaan dan tepat jam 10 malam meninggal. Semua guru mendapat kabar dari keluarga Wisnu, dan akan dikubur hari ini. Saat ini jenasah Wisnu masih di rumah sakit dan akan dibawa ke rumah".
Semua yang mendengar kabar bahwa Wisnu meninggal kaget, terutama bunda karena sebelumnya Eka sudah kasih tahun saat mereka bertemu di warung bakso.
"Ayah, bunda, kita pulang ke rumah dulu, ganti baju, terus ke rumah Wisnu ya?"
"Iya sayang".
"Pak Hadi, terima kasih untuk informasinya. Kami akan melayat ke rumah Wisnu".
"Sama-sama Pak. Hati-hati di jalan".
" Mari Pak Hadi, Mas Ivan".
""Pak Hadi dan Kak Ivan, Eka pamit pulang"
Pak Hadi dan Ivan kembali masuk ke dalam.
"Ivan, saya dan guru-guru akan melayat ke rumah Wisnu. Saya titip anak-anak sampai nanti kami kembali lagi ke sekolah".
"Baik Pak, sampaikan ucapan berbela sungkawa untuk keluarga Wisnu dari kami, Pak".
Pak Hadi menggangguk.
"Eka, kamu ngga papa sayang? tanya bunda yang masih kuatir.
Ayah dan bunda kuatir kepada Eka setelah mendapatkan penjelasan dari Pak Hadi mengenai kejadian semalam yang menimpa Eka dan Pak Hadi meminta Eka untuk dijemput pulang agar bisa istirahat.
"Eka ok kok bunda, cuma semalam Eka lemes karena Eka berusaha ngelepasin kaki Eka dari cengkraman perempuan di tangga sekolah. Dan kak Ivan bantu Eka, sama satu lagi Mbah Kakung datang terus nyeret perempuan itu". Eka lapar bunda".
__ADS_1
"Rajin sholat Eka, jangan lupa sholat".
"Eka sholat ngga pernah bolong sholatnya kecuali kalau Eka lagi dapat?".
"Iya, ayah tahu".
"Buka kantong plastik di sebelahmu, itu ada nasi goreng dan teh manis. Tadi bunda bawain buat kamu".
"Makasih bunda sayang". Eka memeluk bunda nya dari belakang.
"Ayah, kita langsung saja ke rumah Wisnu gimana?
"Pulang dulu, kamu mandi dan ganti baju. Baru setelah itu kita melayar".
"Ok Ayah".
Setiba di rumah, Eka segera berlari ke dalam rumah. Ia merebahkan badannya sejenak. Fani yang melihat adiknya hanya geleng-geleng kepala.
"Tanyalah sama ayah dan bunda, aku ngga tahu".
"Eka, ganti baju dulu, masuk kamar mandi sana. Masuk rumah bukannya kasih salam malah langsung rebahan di pintu".
"Iya kakak Fadli, Eka capek banget semalam kaki Eka di cengkram setan perempuan di tangga sekolah".
" Kamu aneh harusnya doa bukannya ketakutan buat ayah sama bunda panik tadi pagi".
"Eka ngga takut ya, cuma sakit kaki Eka krena di cengkram".
" Kakak Fad, sudah biar Eka istirahat dulu". ucap bunda
"Punya adek yang satu ini aneh". Fadli segera pergi ke kamar.
Eka dan orang tuanya sudah berangkat untuk melayat Wisnu. Dan bertemu dengan guru-guru. Kedatangan Eka dan orang tuanya membuat para guru memandang Eka. Semua guru sudah tahu bahwa Eka mempunyai kelebihan dari Pak Hadi.
__ADS_1
Eka masuk ke dalam rumah, mama Wisnu masih menangisi jenasah Wisnu. Eka melihat Wisnu yang sedang duduk dan merangkul mamanya, tetapi ada satu orang yang merangkul Wisnu.
Eka melihat photo keluarga Wisnu dan Eka kaget saat melihat photo ayahnya Wisnu, mukanya sama seperti yang sedang merangkul Wisnu dan Eka langsung memeluk bundanya sambil berteriak.
"Bundaaaa, ayahnya Wisnu ada di sebelah Wisnu, dan ikut Wisnu. Ituuu, ituuu ayahnya Wisnu merangkul Wisnu. Ayahnya Wisnu ikutan meninggal 20menit yang lalu bundaaaa. Bunda, Eka takut....".
Bunda segera menarik Eka keluar dan Eka masih menangis dan berteriak. Orang-orang yang mendengar dan melihat Eka berteriak, menggelengkan kepalanya. Dan beberapa orang menggumam "anak kecil sok tahu teriak-teriak tidak jelas, Pak Itang masih dirumah sakit dan sedang kesusahan karena anaknya meninggal, ini teriak-teriak bilang Pak Itang meninggal". Ayah Eka yang mendengarkan beberapa omongan yang tidak enak memohon maaf karena ulah Eka.
Dari dalam rumah terdengar teriakan mama Wisnu karena baru saja mendapat telpon dari rumah sakit dan dari keluarga yang menunggu suaminya di rumah sakit bahwa Pak Itang meninggal. Semua orang melihat ke arah Eka dengan tatapan tidak percaya dan Pak RT segera menunjuk beberapa orang untuk ke rumah sakit dan sebagian warga yang tinggal menyiapkan keperluan jenasah Pak Itang. Ayahnya Eka ikut ke rumah sakit dengan beberapa warga. Bunda dan beberapa guru termasuk Pak Hadi menenangkan Eka yang masih menangis. Pak Hadi masih tidak percaya dengan Eka yang punya kemampuan untuk melihat kejadian dari semalam dan juga cerita Ivan mengenai Eka. Mama Wisnu pingsan karena tahu bahwa suaminya juga meninggal menyusul Wisnu.
Sore setelah selesai penguburan Wisnu dan Pak Itang, Pak RT mendekati ayah Eka.
"Pak Albi, terima kasih sudah membantu para warga saat tadi ke rumah sakit. Kondisinya tadi saat anak Bapak teriak dan bilang bahwa Pak Itang meninggal jujur saya kesal dan hendak mengusir keluarga Pak Albi dan ternyata, apa yang di bilang sama anak bapak... kejadian dan nyata".
"Sama-sama Pak Sadi, saya yang harusnya minta maaf karena kegaduhan yang dibuat oleh anak saya".
"Maaf Pak Albi, saya ingin tahu apakah anak Pak Albi bisa?"
"Maksud Pan Sadj? "
"Anak Pak Albi bisa melihat kejadian yang akan menimpa seseorang?"
"Ngga Pak, mungkin tadi kebetulan saja Pak Sadi, karena almarhum Wisnu adalah teman sekolah anak saya dan karena sedih ditinggal temannya jadi mikirnya macam-macam".
"Bajk Pak Albi, mohon maaf atas pertanyaan saya mengenai anak Bapak".
Ayah Eka berusaha menutupi kemampuan Eka. Tetapi guru-guru di sekolah Eka sudah tahu semua. Dan salah satu saudara Wisnu tahu bahwa Eka mempunyai kemampuan. Eka dan bunda sudah di dalam mobil, dan menunggu ayahnya masuk ke mobil setelah berbincang dengan Pak Sadi.
Didalam mobil, ayah dan bunda diam melihat Eka sedang mengobrol di belakang dan sudah tidak terlihat sedih. Saat di kuburan tadi, Eka melihat seorang gadis yang seumuran dengan dirinya. Gadis itu cantik dan memakai baju terusan warna krem dan di lehernya ada kalung,. Gadis itu tersenyum saat melihat Eka. Gadis itu baru meninggal seminggu yang lalu. Setelah Wisnu dan ayahnya selesai di kuburkan, Gadis itu mendekati Eka.
"Aku Nadia, aku boleh jadi temanmu".
Eka menganggukkan kepalanya. Bunda sudah meminta sama Eka agar tidak membuat kegaduhan seperti tadi dan Eka menurutinya. Ayah dan bunda melihat semua orang menatap Eka dengan pandangan yang tidak bisa diungkapkan oleh ayah dan bunda saat di rumah Wisnu dan sampai penguburan Wisnu dan ayahnya.
__ADS_1