
Pagi ini Eka sudah siap berangkat sekolah setelah 2 hari ia tidak bisa masuk sekolah karena di ganggu oleh Nenek aneh. Kakek dan Nenek serta tante dari Bunda datang kemarin pagi dan membawa seorang Kyai. Bunda menelpon dan menceritakan kejadian yang menimpa Eka kepada Ibunya.
Kemarin di rumah Eka ada pengajian dan rugyah buat Eka. Saat Eka di ruqyah, Eka tidak merasakan apapun, tetapi Eka tetap mengikuti ruqyah dan di saat ruqyah itu ada salah seorang ibu pengajian yang kesurupan, ternyata Nenek aneh masuk ke ibu tersebut. Pak Kyai segera menolong ibu yang kesurupan dan melepaskan ibu tersebut dari Nenek aneh.
Setelah acara pengajian dan ruqyah, rumah Eka kembali tenang. Pak Kyai menginap di rumah Eka dan tidur di kamar Eka. Sedangkan Kakek dan Nenek tidur di kamar Fani dan Fadli. Eka tidur bersama Bunda dan tante. Ayah, Fani dan Fadli tidur di kamar tamu.
Malam itu Eka tidur dengan tenang dan bangun untuk sholat subuh bersama-sama.
"Eka, kamu harus rajin sembahyang dan dzikir ya, supaya kamu tidak di ganggu". Pak Kyai memberikan pesan kepada Eka sebelum Eka berangkat sekolah.
Eka berangkat sekolah diantar ayah, sedangkan Fadli dan Fani berangkat sendiri. Kakek pergi mengantarkan Pak Kyai. Sedangkan Nenek dan tante masih di rumah. Mereka berniat untuk menginap di rumah Eka selama seminggu.
"Aduh, itu siapa sih yang sebelah Pak Woko". Eka baru saja mau keluar dari mobil tetapi melihat Pak Woko yang sedang berdiri di depan pagar sekolah dan di ada seseorang yang berdiri di depan Pak Woko, tetapi orang tersebut mukanya pucat.
"Ada apa Eka? Kamu melihat apa? Ingat dzikir ya Nak, supaya kamu selamat dan tidak di ganggu". Ayah melihat Eka yang ragu untuk keluar dari mobil.
" Bismillah, Eka sekolah dulu yah Ayah". Eka mengucapkan salam dan membuka pintu mobil lalu keluar dan menuju ke gerbang sekolah.
Ayah melihat Eka masuk ke sekolah lalu segera pergi ke kantor.
"Pagi Pak Woko, maaf Pak, di sebelah Pak Woko ada ponakan Pak Woko namanya Andri, tapi mukanya pucat dan sebentar lagi ada telpon buat Pak Woko. Pagi Bu Tias, Pagi Pak Agus". Eka mengucapkan salam kepada Guru yang lain.
" Pak Woko, si Eka kenapa? Sebelah Pak Woko kan Bu Tias kok Eka bilang ada ponakan Pak Woko?" Pak Agus yang mendengar omongan Eka bertanya sama Pak Woko.
"Aku sendiri juga bingung Pak Agus. Maksud Eka apa ya? Baru selesai Pak Woko bicara, handphone Pak Woko berdering
__ADS_1
" Halo, ada apa Bu, kok pagi-pagi telpon? Ternyata Pak Woko terima telpon dari istrinya dan mengatakan bahwa Andri ponakan Pak Woko meninggal dunia kecelakaan saat berangkat kerja.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Sebentar lagi aku pulang dan ke rumah sakit Bu". ucap Pak Woko.
Pak Woko segera menutup telpon dari istrinya.
" Siapa yang meninggal Pak Woko? Bu Tias bertanya sama Pak Woko.
"Andri, ponakan saya meninggal, saya ijin pulang untuk mengurus pemakaman ponakan saya" Pak Woko bergegas masuk ke ruang guru.
Pak Agus dan Bu Tias saling berpandangan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar dan masuk ke dalam sekolah menuju ke ruang guru.
Tidak lama bel berbunyi dan pelajaran dimulai. Di kelas Eka yang harusnya pelajaran pertama dari Pak Woko dikarenakan Pak Woko ijin pulang, diganti dengan mencatat pelajaran.
"Aduuhh, jangan buat kaget dong. Iya sama-sama". Eka melanjutkan mencatat pelajaran Pak Woko.
Beberapa anak yang mendengar teriakan Eka melihat Eka dengan bingung dan mereka melanjutkan mencatat.
Bel ganti pelajaran berbunyi dan Andri masih berdiri di sebelah Eka.
"Kamu kenapa masih disini? Alam kamu dan saya berbeda. Sudah sana kamu pergi". Eka berusaha menyuruh Andri pergi.
"Eka, aku mau minta tolong sama kamu, tolong di catat dan nanti berikan nomer ini ke orang tuaku atau Pak Woko. Ini no pin atmku, ada uang di sana untuk orang tuaku, bilang saja bank yang B*A. Uang itu sudah aku siapkan untuk hidup orang tuaku seandainya umurku tidak panjang. Aku minta tolong Eka, hanya kamu yang bisa aku ajak bicara saat inj".
"Ya, nanti saat jam istirahat aku akan telpon Pak Woko".
__ADS_1
Andri senang mendengar jawaban Eka dan segera pergi dari hadapan Eka.
Bel istirahat berbunyi, Eka segera pergi ke ruang guru dan menghampiri Pak Agus.
"Pak Agus, maaf, apakah Eka bisa pinjam handphone Pak Agus untuk menelpon Pak Woko ada yang mau Eka sampaikan dan penting Pak, ada pesan dari Andri, ponakan Pak Woko.
" Boleh, sebentar Eka. Pak Agus segera mengambil handphonenya dan menghubungi Pak Woko.
"Pak Woko, ini Eka mau bicara dengan Pak Woko katanya ada yang mau di sampaikan sama Pak Woko. Eka ini, silahkan bicara sama Pak Woko.
Eka segera menerima handphone Pak Agus dan mencari tempat yang sepi agar tidak terdengar oleh siapapun.
Pak Woko segera menulis pin ATM Andri walaupun Pak Woko tidak percaya, tapi Pak Woko akan coba. Setelah selesai, Eka mengembalikan handphone ke Pak Agus.
Pak Woko yang masih di rumah sakit dengan orang tuanya Andri untuk mengurus jenasah Andri segera memberitahukan info yang diberikan kepada Eka. Domoet Andri yang sedianya sudah diberikan oleh Polisi kepada orang tua Andri. Ayah Andri memberikan domoet tersebut kepada Pak Woko dan ia melihat ATM yang dimaksud oleh Eka. Pak Woko dan ayahnya Andri segera mencari ATM di rumah sakit tersebut sambil menunggu jenasah selesai administrasinya.
"Woko, kamu saja yang pencet pinnya, aku ngga percaya bagaimana mungkin muridmu bisa tahu no pin ATM anakku?"
Pak Woko segera memasukkan kartu ATM dan memencet pin yang diberikan oleh Eka yang katanya melalui Andri langsung.
Pak Woko dan ayahnya Andri terkejut melihat saldo yang tertera di ATM Andri. Ternyata Andri sudah menyiapkan uang tersebut dan no pinnya benar. Pak Woko dan ayahnya Andri hanya bisa men,angis dan tidak bisa berkata-kata.
Andri, ponakan Pak Woko adalah anak tunggal dari kakaknya. Mereka berdua segera keluar dari ruang ATM dan kembali ke kamar jenasah. Setelah semua pengurusan selesai, jenasahnya dibawa pulang untuk di semayamkan di rumah dan akan dikuburkan hari itu juga.
Sepulang sekolah Eka segera ke ruang guru untuk mengikuti ulangan susulan. Dan ada beberapa anak yang ternyata juga ulangan susulan seperti dirinya
__ADS_1