
"Fadli, tadi bunda sudah cerita kejadian tadi. Kamu ada masalah apa? Cerita sama ayah. Ayah lihat belakangan ini, emosi kamu tinggi."
"Fadli kenalan dengan cewek dari sekolah lain, beberapa kali Fadli ingin jemput ke sekolahnya, dia tidak ada. Fadli tanya sama teman-temannya katanya mereka tidak ada yang namanya Alice."
"Kamu ketemunya dengan Alice kapan?"
"2 bulan yang lalu. Fadli lewat depan sekolah Alice saat hampir maghrib. Dia sedang duduk di depan sekolahnya seperti kebingungan. Fadli kasihan, Fadli dekati. Terus Fadli antar pulang. Rumahnya dekat kuburan jeruk purut."
"Terus kamu tahu rumahnya?"
"Waktu itu Alice minta diantar sampai depan kuburan jeruk purut, ayah. Fadli tanya, Alice yakin rumahnya disini? Dan dia mengangguk. Fadli langsung pergi untuk jemput Fani."
"Ya coba kamu tanya lagi sama Alice. Kelas berapa dan alamat rumahnya."
"Tapi setiap Fadli mau jemput sekolah dia tidak ada. Sampai akhirnya Fadli tanya ke teman-temannya. Mereka sama sekali tidak kenal dan mereka bilang di sekolah ini tidak ada yang namanya Alice."
"Terus gimana? Apa Fadli tetap akan mencari Alice?"
Fani tiba-tiba muncul.
"Ayah, sebenar Fani sudah cari tahu mengenai Alice. Dia memang dulu sekolah disana. Dan dja sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena kebakaran di rumahnya, satu keluarga meninggal. Ada satu satpam sekolah yang kasih tahu Fani. Dan sudah kasih tahu juga sama Fadli. Tapi Fadli tidak percaya. Fadli bilang, Fani kayak Eka. Yang sok-sok an bilang kalau Alice meninggal."
"Alice masih hidup! Seminggu yang lalu janjian ketemu di depan jeruk purut dan kakinya napak ke tanah. Kan kalau Alice hantu, kakinya tidak akan napak tanah. Dan waktu jemput Alice juga sama temannya namanya Eveline. Mereka napak semuanya."
"Itu ayah, Fadli tidak percaya. Fadli begitu karena sebal sama Fani. Fani sudah punya pacar sedangkan Fadli belum. Gimana mau punya pacar kalau marah-marah terus."
"Diam kamu. Kenapa jadi ikutan nimbrung di sini. Sana masuk!"
"Fadli, sabar, jangan marah-marah sama saudaramu!"
"Fadli tidak suka Fani bicara seperti itu. Kalau dibandingkan dengan pacarnya Fani, memang Alice lebih cantik, mukanya bule-bule gitu ayah. Terakhir ketemu Alice cerita bahwa ayahnya Austria dan ibunya dari Menado. Fadli sudah dikasih no handphone Alice tetapi setiap Fadli telpon handphonenya tidak pernah aktif."
"Fadli, coba kamu cari tahu mengenai Alice, jangan sampai kamu jadi sakit hati. Dan kalau bisa kamu photo sama Alice, jadi Fani juga tahu bahwa Alice itu masih hidup. Ayah sama Fadli tidak tahu pasti apakah Alice masih hidup atau sudah meninggal. Kamu sembahyang, tahajud minta di kasih petunjuk sama Allah."
"Iya ayah. Fadli masuk dulu. Besok pulang sekolah Fadli coba ke sekolah Alice."
__ADS_1
"Kamu ngga ikut sama tante. Eka dan Fani ikut tante ke villa di puncak."
"Ngga ayah. Fadli mau ketemu dulu sama Alice."
Fadli masuk ke rumah dan naik ke atas ke kamarnya. Fadli mencoba menelpon Alice. Dan ternyata tersambung.
"Hallo Alice, Alice."
"Iya Fadli."
"Akhirnya handphone kamu aktif. Aku coba hubungi kamu beberapa kali tapi handphone namun tidak aktif."
"Iya Fadli. Aku baru pulang, kemarin ikut mami pergi keluar kota. Fadli, aku kangen sama kamu. Aku mau ketemu sama kamu. Kamu bisa malam ini bertemu sama aku?"
"Bisa-bisa Alice. Aku juga kangen sama kamu."
"Ya sudah, tapi kamu masuk ke dalam kuburan jeruk purut ya. Aku tunggu kamu disana. Kamu beranikan masuk ke kuburan malam-malam."
"Iya aku berani. Aku laki-laki, aku harus berani Alice."
"Ok, aku tunggu nanti jam 11 malam ya. Jangan sekarang, aku nunggu mami dan papi tidur dulu."
"Iya, aku juga sama, nunggu ayah dan bunda tidur dulu. Kalau aku jalan malam-malam pasti ayah dan bunda tidak ijinkan."
"Ok, sampai nanti Fadli."
"Iya Alice. Akhirnya aku bisa ketemu kamu lagi."
Alice sudah menutup telponnya. Fadli tersenyum senang, akhirnya ia bisa bertemu dengan Alice.
Eka naik ke atas dan menuju kamar Fadli. Rka mengetuk kamar Fadli.
"Masuk."
"Kak Fadli. Kakak nanti jam 10 mau pergikan ketemu dengan cewek hantu."
__ADS_1
Fadli kaget bagaimana Eka tahu bahwa ia akan pergi bertemu Alice.
"Kak, kok ngga jawab sih, malah kaget."
"Ngga, kakak ngga mau pergi. Tugas sekolah banyak lagipula kakak sedang capek Jadi habis belajar mau langsung tidur."
"Jangan bohong kak. Eka tahu kak Fadli mau ketemuan sama cewek hantu di kuburan jeruk purut"
"Eka, kenapa sih kamu ikut campur urusan kakak? Kamu bilang gitu karena kamu bisa lihat hal-hal gaib? Kamu saja sama Fani. Tidak suka kalau kakak punya pacar. Sudah sana keluar dari kamar Kakak."
"Kakak, Eka cuma mau bilang, kalau kakak nekat pergi. Kakak nanti tidak bisa pulang. Kakak akan diajak ke dunianya cewek hantu itu. Kakak ngga kasihan sama bunda dan ayah? Kakak kan sudah lebih dewasa daripada Eka, harusnya kakak bisa berpikir."
"Ekaa! Keluar kamu sekarang!"
Eka keluar dari kamar Fadli dan menutup pintu. Lalu Eka masuk ke kamar Fani yang pintunya tidak tertutup.
"Kak Fani, nanti jam 10 malam, kak Fadli mau pergi bertemu dengan cewek hantu. Kak Fani mau ngga ikut Eka. Kita ikuti kak Fadli. Eka tidak mau kalau kak Fadli diajak ke dunia cewek hantu itu."
"Kamu kata siapa Fadli mau pergi nanti malam. Tugas sekolah masih banyak dan besok dikumpulkan. Jadi ngga mungkin Fadli ke mana-mana."
"Ya sudah kalau kak Fani ngga mau temenin aku. Nanti aku naik ojek saja buat ngikutin kak Fadli."
"Iya, iya, aku temenin kamu. Sudah jangan marah. Sudah selesai belajarnya?"
"Sudah." Eka keluar dari kamar Fani dan Eka melihat pintu kamar Fadli yang agak sedikit terbuka. Eka melihat ada sesosok perempuan rambut sebahu dan sedang berdiri di belakang Fadli. Gadis itu melihat Eka dan tersenyum. Tetapi senyuman itu seperti senyuman kematian.
Eka mengetuk kamar Fadli yang pintunya sudah terbuka. Fadli bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu.
"Jangan ganggu kakak." Fadli menutup pintunya.
Eka terdiam dan berdiri mematung di depan kamar Fadli.
"Seandainya aku bisa melihat apa yang dilakukan kak Fadli saat ini. Dan cewek hantu itu ada di belakang kak Fadli."
Eka bergumam sendiri.
__ADS_1
Eka turun ke bawah dan Eka mengetuk kamar ayah dan bunda. Eka melihat jam, sudah jam 9 malam. Eka masuk ke kamarnya. Tante juga sudah tidur. Eka bingung harus bagaimana. Eka tahu nanti kak Fadli akan celaka. Eka seperti melihat potongan film.