
Eka tertidur di mobil setelah menjemput kakek dan nenek di bandara.
"Ini kenapa mobilnya? Kamu kenapa? Kok tumben nyetirnya ngga seperti biasa? Kamu sakit?"
"Ngga pak. Saya sehat. Hanya saja mobilnya terasa berat sekali. Padahal kemarin baru saja saya servis. Sepertinya penuh penumpang di dalam mobil ini."
"Iya saya pun merasakan sesak di dalam mobil ini. Padahal AC nyala. Apa karena AC nya kurang dingin?"
Kakek menoleh ke belakang dan melihat nenek dan Eka yang tertidur. Kakek melihat Eka berkeringat. Sedangkan mbak Asih hanya diam saja melihat keluar.
"Eka sakit?"
"Ngga pak. Non Eka sehat kok pa. Hanya saja tadi pas pulang sekolah, non Eka sama temannya makan di warung bakso seberang sekolahnya. Non Eka katanya melihat jin yang ikut makan bakso dalam mangkok yang sama dengan pembeli."
"Oh gitu. Coba kamu buka jendela semuanya biar ada udara segar yang masuk. Kasihan lihat Eka sampai berkeringat gitu."
"Iya pak."
Pak supir membuka kaca jendela mobil dan udara segar masuk. Kakek berharap Eka tidak berkeringat tetapi ternyata badan Eka tetap berkeringat sampai seluruh seragam Eka basah.
"Kakek, maaf. Asih mau tanya apa kakek dan pak supir mencium bau anyir dan amis?"
Asih yang dari tadi diam akhirnya bersuara. Ia tidak tahan dengan bau anyir dan amis yang tiba-tiba tercium dari dalam mobil.
"Iya, Asih. Kakek mencium juga dan ini menyengat sekali baunya? Apa Eka sedang datang bulan?"
"Setahu Asih tidak. Karena beberapa hari yang lalu Asih dan Eka selesai bareng."
"Asih, tolong bangunkan nenek dan Eka. Kita berhenti sebentar di tempat cuci mobil depan sana. Mobil ini harus di cuci sepertinya."
"Iya pak."
Pak supir masuk ke tempat cucian mobil. Asih membangunkan Eka dan nenek.
__ADS_1
"Kita sudah sampai?"
"Belum Eka, kita berhenti di tempat cucian mobil dulu. Nenek, Eka, Asih, ayo kita keluar dari mobil. Biar mobil ini bersih."
Kakek, nenek dan Asih sudah keluar dari mobil, tapi saat Eka akan keluar, kaki Eka tidak bisa bergerak seperti terkena lem yang sangat kuat. Eka berusaha untuk menarik kedua kakinya tapi tidak bisa. Pak supir yang melihat Eka kesulitan untuk turun membantu menarik kedua kaki Eka yang menempel di karpet mobil. Kakek segera mendatangi Eka.
"Eka, ayo turun, mobilnya mau dibersihkan!"
"Eka juga maunya turun tapi kedua kaki Eka menempel di sandal dan tidak bisa lepas, sandalnya juga menempel di karpet mobil, kek."
Kakek membantu pak supir untuk melepaskan kaki Eka dan tetap tidak bergerak sama sekali.
Eka terdiam dan mulai berdoa. Selesai berdoa, Eka mencoba melepaskan kakinya dari sandal dan itupun dengan susah payah sampai akhirnya kulit telapak kaki Eka terlepas dan mengeluarkan darah.
Kakek dan pak supir panik melihat kedua telapak kaki Eka berdarah.
"Astaghfirullah, ayo pak, kita masuk lagi. Bawa Eka ke rumah sakit."
Kakek segera berlari ke nenek dan Asih yang sudah duduk di ruang tunggu. Mereka bertiga segera berlari ke mobil dan masuk kembali.
Selesai di rumah sakit, mereka kembali ke mobil. Tetapi Eka harus menggunakan kursi roda karena Eka tidak dapat berjalan dengan kedua kaki yang dibalut oleh perban.
Sampai rumah, ayah Eka menghampiri mobil yang baru datang. Ayah menggendong Eka masuk ke dalam.
"Eka, kenapa bisa begini? Ayah sama tante juga bu Neni cemas saat dapat telpon dari kakek karena kaki kamu berdarah."
"Jangan tanya Eka, ayah. Eka sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Dan katanya pak supir sandal yang Eka pakai tadi tidak ada bekas kulit telapak kaki Eka yang menempel."
"Mas Abi, biarkan Eka istirahat dulu. Bapak dan ibu juga istirahat. Setelah itu kita makan malam sama-sama."
"Tante, Eka mau ke kamar, Eka mau rebahan dulu. Badan Eka lemas banget."
Ayah yang hendak menggendong Eka ditolak. Eka berusaha pindah ke kursi roda sendiri, setelah dirasa sudah benar, Eka menjalankan kursi rodanya dan masuk ke kamar.
__ADS_1
Bu Budi kenapa nyerang aku ya? Maaf, bukan bu Budi tapi makhluk yang tinggal sama bu Budi. Apa bu Budi memelihara makhluk-makhluk itu? Buat apa? Astaghfirullah, aku harusnya tidak boleh su'udzon sama bu Budi. Tapi tadi saat dia di sekolah dan kesurupan, aku tahu bahwa badan bu Budi sudah dipakai oleh makhluk-makhluk itu?
Eka menarik napas panjang. Sama-sama Eka mendengar namanya di panggil dari arah jendela kamarnya. Suara seorang perempuan dan suaranya berat juga dalam.
Eka bangun dan mengambil kursi rodanya. Ia pelan-pelan menjalankan kursi rodanya ke arah jendela kamarnya. Dan di saat yang bersamaan pintu kamarnya terbuka. Ayah membuka pintu kamar Eka yang membuat Eka kaget dan loncat dari kursi rodanya sampai jatuh ke lantai.
"Astaghfirullah, Eka! Maaf-maaf kalau ayah membuat kamu kaget."
Suara ayah yang terdengar keras dari kamar Eka membuat nenek dan kakek masuk ke kamar Eka dan melihat Eka sedang di gendong oleh ayahnya untuk ke kursi roda.
"Ada apa Abi? Kenapa kamu teriak?"
"Maaf pak, bu. Saya masuk ke kamar Eka mau manggil dia untuk makan malam. Ternyata membuat Eka sampai jatuh dari kursi rodanya."
"Aduh Abi, lain kali hati-hati. Anakmu tinggal Eka, jadi tolong di jaga benar-benar! Sudah tahu kaki anaknya sakit. Kalau masuk kamar Eka, ketuk dulu pintunya, biar dia jangan sampai kaget gitu."
"Iya pak. Tadi Abi sudah mengetuk pintu dan memanggil nama Eka, tapi tidak ada jawaban dari Eka. Makanya Abi masuk ke dalam kamar Eka."
"Ya sudah, ayo kita makan. Biar nenek saja yang mendorong kursi rodanya Eka. Sudah kamu sama bapak keluar duluan."
"Ayo Eka, kita makan malam dulu ya."
"Iya nek."
Saat akan keluar kamar. Samar-samar Eka mendengar ketukan di jendela kamarnya dan Eka menoleh ke belakang."
"Ada apa Eka? Ada yang mau kamu ambil di kamar?"
"Ngga ada nek. Hehehhe, Eka lupa." Eka tahu bahwa nenek tidak akan mendengar ketukan di jendela kamarnya. Lagi-lagi Eka menarik napas panjang.
Sepertinya nanti malam akan jadi malam yang panjang buat aku. Kasihan semua penghuni rumah ini, apalagi kakek dan nenek yang baru pulang dari Magelang. Mereka butuh istirahat.
Eka makan malam bersama keluarga. Tiba-tiba mbah Kung di samping Eka.
__ADS_1
"Malam ini tidur tenang ya. Tidak usah memikirkan gangguan. Mbah akan jaga kamu."
Eka menganggukkan kepalanya.