Warisan

Warisan
Pak Ko


__ADS_3

"Kakek, sebenarnya kita mau kemana?"


"Ada teman kakek, dia orang pintar. Suka menyembuhkan orang-orang yang kesurupan dan bisa melihat makhluk halus. Kakek ajak kamu supaya kamu dibersihkan biar kamu seperti anak-anak normal."


"Hah! Eka normal kakek dan Eka tidak kesurupan."


"Iya kakek tahu. Normal yang kakek maksud adalah kamu tidak melihat lagi makhluk-makhluk halus."


"Eka kan tidak nyari dan tidak pernah minta untuk dapat melihat. Almarhum mbah kung bilang ini turunan."


"Eka, kakek melihat kamu bisa dan sering diganggu merasa kuatir. Takutnya kamu kenapa-napa."


"Ya sudah kek. Eka ikut saja."


Tidak berapa lama mereka sampai. Dan disambut di luar rumah.


Ini sih dukun bukan orang pintar. Eka membatin dalam hatinya.


"Apa kabar?"


"Baik Ko. Aku bawa cucuku."


"Ya, aku sudah tahu. Banyak sekali yang di dekat cucumu. Dan mereka jahat semua."


"Ya, tolong dibuang supaya mereka tidak mendekati cucuku dan tidak mengganggu keluarga kami."


"Ini mahal loh. Karena aku harus buang satu persatu dan tidak bisa sembarangan."


Eka kesal dengan kakeknya. Ternyata kakeknya ke dukun dan Eka tahu dukun itu hanya membual.


Eka diam, Eka melihat ke dukun itu.


Tiba-tiba di dalam rumah dukun tersebut terdengar suara gaduh.


"Suara apa itu Ko? Kok seperti ada yang pecah dan bau anyir gini?"


"Sebentar, aku masuk ke dalam dulu."


Teman kakek yang dipanggil Ko itu masuk ke dalam rumah. Tidak berapa lama keluar rumah sambil berlari.


"Hei, siapa kamu! Apa yang kamu lakukan dalam rumah ku?" Teman kakek menunjuk ke Eka dengan marah.


"Kakekku sudah dibodohi oleh kamu! Kamu bukan orang pintar tetapi kamu dukun. Kamu memanfaatkan orang-orang supaya kamu mendapatkan uang!"


"Kamu anak kecil tahu apa! Diam kamu!"


"Kamu dukun santet, sudah banyak orang yang meninggal akibat perbuatan kamu! Jangan salahkan aku kalau sekarang mereka menuntut balas sama kamu."


"Eka! Kamu jangan sembarangan ngomong. Pak Ko tidak seperti dugaanmu!"

__ADS_1


Kakek memarahi Eka.


"Kakek, kakek mau lihat bukti kalau dia sudah jahat sama orang! Dia akan muntah dan dari muntahannya itu akan keluar semua barang yang selama ini ia pakai untuk menyantet orang. Lihat kakek. Lihat!"


"Kamu anak kecil. Kurang ajar kamu!"


Tiba-tiba pak Ko batuk dan muntah. Dari muntahannya keluar darah hitam, silet, paku, beling, kelabang, lintah.


Kakek kaget dan terkejut. Apa yang dikatakan Eka ternyata benar.


"Kalau kamu mau masih hidup, kamu harus meminta maaf kepada seluruh korban. Kamu sudah membunuh mereka."


"Bukan saya yang mau mereka mati tetapi orang-orang yang datang sama saya dan minta pertolongan kepada saya!"


Istri pak Ko keluar dari rumah.


"Pak, astaghfirullah. Istighfar pak. Mbaknya benar. Bapak selama ini sudah jahat sama orang-orang itu. Bapak mengerjakan pekerjaan yang tidak di ridhoi oleh Allah."


"Diam kamu! Kamu selama ini bisa makan enak, bisa jalan-jalan, bisa beli ini itu uang dari mana? Dari orang-orang yang datang ke sini untuk minta bantuanku. Mereka melakukan itu kebanyakan karena sakit hati!"


"Bu, bisa tolong untuk belikan air kelapa ijo, di depan jalan sana saya lihat ada yang jual. Agar suami ibu tidak terus menerus memuntahkan semua hal yang telah ia lakukan."


"Iya mbak, sebentar."


Istri pak Ko masuk ke dalam dan seorang anak seumuran Eka krluar dari rumah dan berlari untuk membeli kepala ijo.


"Ibu, minta tolong bawang putih lanang?"


"Oh iya mbak."


Tidak berapa lama anak pak Ko datang dan memberikan air kelapa ijo kepada Eka.


Istri pak Ko keluar mengambil bawang lanang yang dimaksud Eka.


"Yang ini mbak?"


"Iya bu, benar."


"Pak, kalau bapak mau berjanji kepada diri sendiri dan khususnya kepada Tuhan untuk tidak melakukan hal jahat lagi, Bapak bisa sembuh dan semua korban bapak harus bapak datangi kuburannya dan meminta maaf.'


"Iya saya janji tapi bagaimana mungkin saya datangi kuburan mereka."


"Dengan kuasa dan petunjuk dari Allah SWT bapak akan tahu. Ini dimakan bawang lanangnya dan diminum air kelapa ijonya.


Pak Ko langsung memakan bawang lanang dan meminum air kelapa ijo yang diberikan Eka.


Berangsur-angsur pak Ko tidak muntah lagi dan ia duduk menyender di kursi.


"Kakek, pak Ko sudah enakan. Kita pulang sekarang ya. Eka ada tugas sekolah yang belum dikerjakan."

__ADS_1


"Iya Eka. Ko, saya pamit pulang ya. Lain kali jangan seperti ini."


"Iya, hati-hati di jalan. Dan terima kasih sudah menyelamatkan saya."


"Allah yang menyelamatkan kamu Ko melalui cucu saya. Perbanyaklah doa, rajin sholat dan tahajud. Puasa Ko."


"Iya."


"Mbak. Terima kasih karena sudah menyadarkan suami saya. Semoga suami saya tidak melakukan lagi."


"Sama-sama bu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Eka dan kakek pergi meninggalkan rumah pak Ko.


"Eka, kakek minta maaf. Kakek terlalu percaya omongan dia. Sampai kakek tidak berpikir ulang."


"Ngga papa kakek. Eka ngerti kakek tidak mau Eka seperti ini. Kakek mau Eka biasa saja dan hidup secara wajar seoerti orang lain. Kalau bisa minta sebenarnya Eka juga tidak mau. Tapi semakin ke sini Eka sadar mungkin ini jalan hidup Eka yang harus Eka lalui bukan untuk membanggakan diri, lebih untuk membantu orang lain."


"Iya Eka. Kakek sadar, kamu seperti ini bukan karena kamu minta tapi kamu dapat hadiah yang harus kamu pakai untuk membantu orang."


"Pak, nanti kalau melewati mesjid atau mushola kita berhenti ya, sebentar lagi maghrib. Kalau sampai rumah takutnya tidak kekejar."


"Iya pak."


Mereka berhenti di sebuah mushola dan sholat magrib.


"Kakek, aku mau ngomong sesuatu."


"Apa?"


"Besok pulang sekolah aku bisa tidak ziarah ke kuburan ibu dan kakak."


"Kita ziarah hari Sabtu saja sekalian sama ayahmu, nenek dan tante. Dan besok sepertjnya kamu pulang sendiri. Karena besok kakek harus keluar kota."


"Iya kek, tidak papa. Lagi pula sebenarnya Eka tidak perlu antar jemput kek. Eka bisa naik angkutan umum."


"Tidak papa antar jemput kecuali besok kamu tidak di jemput tapi diantar sekalian nanti bareng kakek."


Mereka sampai rumah. Saat Eka keluar dari mobil. Eka melihat Siska yang sedang berdiri.


"Kakek duluan saja masuk. Eka masih mau di teras."


Eka duduk di teras. Supir kakek sedang membersihkan mobil.


"Eka, kamu benaran mau bantu aku kan?"


"Iya Siska, aku pasti bantu. Tapi sekarang ibu aku tidak bisa lama-lama karena tugas sekolah aku banyak. Kita bertemu di sekolahan saja besok. Bagaimana?"

__ADS_1


"Iya Eka, terima kasih ya."


"Ya sama-sama."


__ADS_2