
Eka sudah tes penjurusan dan sepulang sekolah. Ada tante di rumah mau mengajak Eka ke puncak.
"Berangkat besok ya Eka. Kita berangkat sore. Kamu liburkan Sabtu?"
"Iya Tante aku libur. Yang ikut aku saja atau semuanya?"
"Kakak ikut kecuali ayah dan bunda, biar mereka pacaran hehehe."
"Ok tante. Besok Eka siap-siap ya. Dijemput jam berapa?"
"Jam 4 sore ya."
Eka masuk kamar setelah berbicara dengan tantenya.
Suara itu muncul lagi. Suara yang memanggil namanya dan lebih berat juga ada suara anak kecil. Eka melihat ke sekeliling kamarnya. Tapi Eka tidak menemukan sosok aneh.
"Eka... Eka... " Eka mendengar suara berat memanggil namanya.
"Eka.. Eka... " Dan disusul suara anak kecil memanggil namanya.
Eka mengucapkan kalimat An-Nas beberapa kali dan suara-suara itu hilang.
"Aku capek saja, jadi berhalusinasi ada yang memanggil namaku Dan ini masih jam 2 siang.
Eka merebahkan dirinya di kasur. Dan Eka tertidur. Tidak berapa lama tempat tidur Eka yang ada di tengah ruangan bergerak ke kanan kiri menghantam tembok.
Bunda dan Tante yang ada diruang tamu mendengar suara seperti orang sedang memukul tembok dan berdecit
"Aduh, Eka ngapain sih siang-siang lagi panas gini buat suara gaduh." Bunda dan tante berjalan ke arah kamar Eka dan membuka pintu kamarnya, terlihat Eka sedang tidur dan posisi tempat tidur Eka masih berada di tengah.
"Mbak, Ekanya tidur tuh. Terus tadi suara darimana?"
'Ngga tahu juga dek. Mbak kadang bingung sama Eka. Kemarin ada pakdenya juga sama."
"Sekarang pakde kemana?"
"Lagi ke rumah temannya, tapi nanti juga pulang."
Bunda menutup pintu kamar Eka, Fani dan Fadli baru saja pulang. Tante mengutarakan niatnya untuk membawa Fani dan Fadli jalan-jalan ke puncak. Ternyata Fadli tidak bisa.
Bunda dan tante masuk ke kamar. Fadli masih duduk di sofa. Sedangkan Fani sudah naik ke atas ke kamarnya.
Fadli yang sedang duduk di sofa dan memainkan handphone mendengarkan suara duk-duk dan berdecit seperti yang tadi bunda dan tante dengar.
__ADS_1
Fadli tidak tahu kalau Eka sedang tidur. Suara duk-duk dan berdecit makin keras.
"Ekaaaaaa!!! Jangan berisik!!!
Bunda dan tante yang mendengar teriakan Fadli langsung keluar kamar.
" Kak Fadli, kenapa sih? Kok teriak-teriak. Eka sedang tidur."
"Bunda, coba dengarin. Itu ada suara duk-duk dan berdecit seperti orang yang lagi menggeser meja. Kalau geser meja kan harusnya diangkat atau minta tolong orang untuk bantu angkat. Itu Eka lagi ngapain dari tadi duk-duk. Memangnya bunda ngga dengar?"
Terdengat lagi bunyi duk-duk dan berdecit. Bunda baru saja akan bilang, suara itu terdengar makin keras.
Fadli bangkit berdiri dan berlari ke kamar Eka. Saat membuka pintu kamar Eka, Fadli hanya terdiam karena Eka masih tidur dengan nyenyak nya. Bunda mengikuti Fadli ke kamar Eka. Tante balik ke kamar bunda.
"Bunda, suara berisik itu darimana? Fadli yakin tadi dari kamar Eka. tapi ini kok Eka tidur, Dan suara berisik tidak ada."
Bunda mengangkat bahu dan berbalik jalan ke arah dapur untuk sholat. Baru berjalan 5 langkah. Fadli berteriak dan pingsan.
Bunda menengok ke belakang dan melihat Fadli yang pingsan di depan kamar Eka.
"Astaghfirullah Al Adzim Fadli, bangun kak. Kakak bangun, kak bangun kak. Aduh, ya Allah, kakak kenapa! Faniii, Faniii, tolongin bunda!"
Fani yang mendengar teriakan bunda segera berlari keluar kamar dan turun ke bawah. Tante juga keluar dari kamar bunda.
"Oh ini anak kecil yang manggil-manggil namaku tadi."
"Hei, jangan ajak kak Fadli main. Kak Fadli ngga bisa main sama kamu. Ayo lepasin tangan kak Fadli."
"Aku ngga mau, aku mau main sama kakak. Aku mau main sama kakak ini." Fadli duduk di kursi dekat meja belajar Eka.
"Adik kecil, kalau mau main jangan sama kakak aku. Tapi main sama teman kamu yang dunianya sama."
Bunda Fani dan Tante terdiam melihat Eka yang sedang berbicara entah dengan siapa. Bulu-bulu halus mereka berdiri ketika Eka berbicara.
"Ngga mau, aku maunya main sama kakak ini."
Fadli yang bisa melihat Eka berusaha bicara tetapi mulutnya seperti tercekat.
"Kak Fadli, baca surat An-Nas sekarang! Allahu Akbar."
Bunda, Tante dan Fani ikut membaca surat An-Nas.
Eka berjalan mendekati meja belajarnya. Fadli berusaha bangkit dari kursi, tetapi anak itu menahan pundak Fadli.
__ADS_1
"Kakak, baca, ucapkan semua doa yang kakak bisa dan hafal. Ayo kak, jangan putus. Terus ucapkan.
Bunda, Fani dan tante melihat Eka yang berjalan ke arah meja belajar dan mereka melihat kursi bergeser. Mereka tidak tahu bahwa Fadli sedang duduk di kursi itu.
Eka sudah memegang tangan Fadli. Mereka bertiga melihat tangan Eka seperti memegang sesuatu.
"Ayo kak, ucapkan bareng ya sama Eka. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! "
Fadli bangun dan batuk-batuk. ,
"Alhamdulillah ya Allah." Bunda, Fani dan Tante mengucapkan secara bersamaan saat melihat Fadli bangun dan batuk-batuk.
"Fani, tolong ambilkan air minum." Fani segera ke dapur mengambil gelas berisi air dan diberikan ke bunda.
Eka segera menghampiri kak Fadli.
"Kak Fadli kalau punya masalah, sholat, minta petunjuk sama Allah supaya diberikan jawaban yang terbaik. Jangan marah-marah. Anak orang dimarahin sampai nangis. Makanya kena kan."
Bunda melihat ke arah Fadli dengan curiga.
"Ayo bangun kak, angan tiduran di depan kamar Eka."
Fani membantu Fadli berdiri. Fadli berjalan ke sofa dan duduk. Eka keluar kamar dan melihat Fadli yang sudah duduk.
"Mbak, ayo kita sholat azhar. Fadli, ayo sholat dulu. Kita sholat bareng. "
Mereka semua berganti mengambil wudhu dan sholat bareng.
"Mbak, temenin anak-anak. Biar aku yang beberes dan menyiapkan makanan."
Bunda mengangguk.
Eka, Fadli dan Fani sudah duduk di sofa.
"Kak Fadli, memang ada masalah apa? Dari tadi pulang sekolah kak Fadli mukanya kesal. Bunda mau tanya cuma Bunda lihat kak Fadli dan kak Fani baru sampai rumah dan masih panas hawanya juga cape. Makanya bunda pikir nanti saja tanyanya. Nah sekarang coba kasih tahu bunda. Kak Fadli kenapa, ada masalah apa?"
Fani memandangi kembarannya. Ia tahu masalah yang di hadapi Fadli. Dan tadi sepanjang jalan pulang dari sekolah Fadli membawa mobil dengan kencang, hampir saja menabrak seseorang. Tapi Fani tidak mau menceritakan hal itu dulu kepada Bunda. Biar Fadli saja yang cerita.
"Nanti dulu bunda. Fadli masih capek. Tadi diajak main sama anak kecil."
Bunda memandang Eka setelah mendapat jawaban dari Fadli dan Eka mengangguk.
"Ya sudah. Mandi, sudah sore sebentar lagi ayah pulang. Terus nanti kita sholat maghrib bareng-bateng lagi."
__ADS_1