Warisan

Warisan
Anomali


__ADS_3

"Gina, hari ada acara di sekolah, kita bisa bawa anak kelas satu yang namanya siapa? Lupa aku". ucap Olin


"Eka, namanya Eka, nanti jam 10 kita bawa dia ke tempat persembunyian kita di lantai 3, kita buat seperti kejadian anak-anak yang tengil. Dan entah kenapa, aku tidak suka lihat Eka".


"Hahaha, aku setuju sama kamu Lin"


Jam 09.00 pagi acara penerimaan murid baru di sekolah Eka. Dan hari itu adalah hari bebas dimana semuanya bisa saling mengenalkan dirinya masing-masing dengan teman yang berbeda kelas dan juga kakak kelas.


"Hei, kamu yang namanya Eka kan? Olin menepuk pundak Eka.


"Iya Kak, perkenalkan saya Eka". Eka menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Olin tapi segera ditepis oleh Olin.


"Ikut aku, kamu sebagai junior harus hormat sama senior!"


Eka mengikuti Olin yang naik ke lantai 3 dan menuju ke ruang paling ujung.


Alberta melihat Eka yang diajak oleh Olin ke lantai 3. Aku akan buat perhitungan dengan Olin dan Gina biar mereka kapok.


Eka menyadari ada sosok Alberta yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka bertiga, tetapi kenapa ada banyak sosok lainnya dan semuanya terlihat marah.


"Maaf Kak, ini sebenarnya ada apa? Kenapa saya dibawa kesini?


"Diam kamu, yang sudah saya bilang tadi, junior harus menghormati seniornya".


"Tapi gimana saya mau menghormati kakak berdua, sedangkan tadi saya memperkenalkan diri, tangan saya malah di tepis".


"Biasanya anak kelas satu atau anak baru yang masuk sekolah kami, kami bawa istilahnya di culik untuk belajar menghormati kakak kelasnya". ucap Gina dengan senyum liciknya.


"Dan kami pilih secara acak, anak kelas 1 yang kami culik". ucap Olin.


"Kamu sebagai anak baru dan masih di kelas satu sudah tidak menghormati seniornya. Sebagai hukuman kami akan tutup mata kamu".


Gina terlihat tidak sabar karena ingin segera membuat Eka keluar dari sekolah ini.


Eka yang masih kebingungan dengan omongan Gina dan Olin tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya. Ternyata Gina sudah di belakang Eka dan memukul kepalanya Eka.

__ADS_1


"Aduh, sakit Kak, kenapa harus mukul kepala saya, Kakak sendiri sebagai senior tidak menghormati saya!" Eka merasa kesal kepada Gina dan Olin


"Diam kamu! Sekarang ikuti perintah saya!" Gina membentak Eka.


"Perintah Kakak agar saya menutup mata saya dan kalian akan bermain dengan cara memanggil arwah! Atau yang kalian sebut bermain jalangkung? Asal Kakak tahu, tanpa Kakak panggil mereka sudah ada disini dan mereka tidak suka. Kakak saja tidak menghormati keberadaan mereka!"


"Banyak omong kamu! Plak!! Gina menampar Eka dan Olin memelintir kedua tangan Eka.


"Kakak mau tahu, itu ada almarhum Alberta yang kakak kerjai sampai akhirnya Alberta meninggal! Dan itu Lisa, senasib dengan Alberta!"


" Buuuk' Gina menonjok perut Eka, sampai Eka terjatuh


Gina segera mengambil kain dan menutup mata Eka


"Jangan salahkan Eka, kalau nanti kakak keluar dari ruangan ini dan semua sosok akan membalas dendam kepada kakak berdua".


"Kelas satu saja belagak mengancam kita berdua" ucap Olin.


"Baik, kita buktikan omonganmu. Kamu akan saya kunci di ruangan ini lagipula tidak ada seorang pun yang akan menolong kamu, karena tidak ada yang akan jalan ke arah sini. Memangnya siapa kamu? Anak dukun? sampai mengancam kita berdua? Kita berdua tunggu ancamanmu kejadian atau tidak. Olin lepasin tangan anak itu dan dorong. Lalu segera kita keluar dan kunci anak itu.


Olin dan Gina segera berlari ke arah pintu setelah mendorong Eka sampai terjatuh. Lalu mengunci Eka dari luar. Eka masih merasakan sakit lalu segera membuka kain penutup matanya.


"Kami semua adalah korban dari Gina dan Olin. Itu ada Mbah kamu, dia bilang Eka aman. Terima kasih Eka". Eka merasakan angin kencang melewati dirinya hingga membuat pintu yang terkunci dari luar bisa terbuka.


Eka melihat Mbah Kakungnya dan tersenyum. "Makasih Mbah"


Mbahnya mengangguk dan mengajak Eka berjalan. Eka melihat langit mulai mendung dan gelap disertai dengan suara petir.dan hujan deras. Siswa yang di lapangan segera berlari ke kelas. Gina dan Olin masih berada di lapangan, mereka tidak bisa bergerak, seperti ada yang menarik kaki mereka dari bawah. Eka hanya memandang mereka dari lantai 3 bersama Alberta. Olin melihat Eka di lantai 3.


"Gina, anak itu bisa keluar dari kelas yang tadi kita kunci dari luar, bagaimana bisa?"


"Mana mungkin ini kuncinya ada di aku. Ngga mungkin anak itu bisa keluar, sekarang bagaimana kita bisa segera berlari, baju kita sudah basah ini" Gina melihat keatas dan ia melihat Eka yang sedang memandang dirinya.


"Hah, kok bisa? Tolong.... tolong kami, kami tidak bisa bergerak!". Gina dan Olin berteriak minta tolong.


Semua mendengar teriakan Olin dan Gina. Mereka menyuruh Gina dan Olin segera berteduh. Guru- guru segera keluar dari ruangan karena mendengar kehebohan di luar. Para Guru melihat Gina dan Olin yang sudah basah karena hujan deras.

__ADS_1


"Hei, kenapa kalian masih di tengah lapangan, berlari kesini baju kalian sudah basah! ". teriak salah seorang Guru


"Kami tidak bisa bergerak Pak, Bu! Ada yang menahan kaki kami berdua! Kami sudah kedinginan Pak, Bu. Tolong kami!" Teriak Olin


Eka sudah ada di kerumunan teman-temannya di lantai dasar.


"Kakak senior yang terhormat, kalian harus mengakui kesalahan kalian di depan Bapak dan Ibu Guru dan juga teman-temannya semua. Di sekolah ini banyak kejadian aneh sampai ada yang meninggal karena ulah kalian berdua. Dan tadi hampir saja ada yang anak kelas satu yang akan menjadi korban, tetapi Allah SWT melindungi anak itu! Hujan ini akan semakin deras! Maka, saya minta kalian berdua untuk berbesar hati dan meminta maaf atas kesalahan yang telah kalian perbuat dan tidak akan mengulanginya lagi!" Eka berteriak sehingga semua mendengar apa yang Eka katakan. Sedangkan anak-anak kelas satu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Salah seorang Guru mendekati Eka, Ia memandangi Eka dengan penuh selidik.


"Gina dan Olin, benar apa yang dibilang oleh adik kelas kalian ini". Yang bisa menyelamatkan kalian berdua hanya diri kalian sendiri. Teman-teman yang kalian ganggu saat ini sedang membuat kalian jera".


"Pak Woko percaya sama omongan anak itu!?! Saya dan Olin tidak percaya Pak! Gina berteriak.


"Maaf Pak Woko, saya tadi hanya bicara saja dan tidak ada maksud apapun. Jika Pak Woko dan beberapa guru bersedia ikut saya, kita keluar dari sekolah ini. Saat ini hujan dan langit gelap ini hanya ada di sekolah kita, Pak" ucap Eka.


"Baik, mari Bapak dan Ibu juga beberapa murid ikut saya dan juga kamu, nama kamu Eka?


"Iya Pak, saya Eka, saya dari kelas 1B".


Pak Woko, dan beberapa guru juga beberapa siswa menyusuri lorong dan saat membuka gerbang sekolah, mereka semua kaget, karena di luar udaranya cerah dan panas, tidak ada hujan deras dan langit gelap. Para Guru menatap Eka kecuali Pak Woko dan beberapa siswa yang ikut serta melihat perbedaan yang jelas. Pak Woko segera masuk ke sekolah.


"Gina dan Olin, tidak ada salahnya kalian meminta maaf kepada teman-teman yang sudah menjadi korban akan kejahilan kalian yang tidak pada tempatnya".


"Pak Guru dan Bu Guru dan semua teman-teman di sekolah ini, saya Olin, secara pribadi minta maaf atas semua kesalahan yang telah saya perbuat, saya mohon maaf dan saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya benar-benar meminta maaf kepada teman-teman semua khususnya kepada teman-teman yang sudah menjadi korban atas perbuatan yang saya lakukan". Olin berteriak dan meminta maaf sampai menangis. Ia merasa bersalah.


Tiba-tiba Olin bisa menggerakkan kakinya dan segera berlari ke lorong kelas. Olin segera dibawa oleh salah seorang guru.


Semua yang melihat kejadian Olin yang meminta maaf bisa terbebas, sedangkan Gina tidak mau meminta maaf, buat Gina meminta maaf di depan semua orang yang ada di kelas ini akan membuat dirinya malu.


"Eka, Bapak akan menolong Gina, kasihan Gina, dia sudah kedinginan dan basah, dan anehnya tidak ada satupun payung di sekolah ini". ucap Pak Woko


"Sebentar lagi Pak, Olin akan datang dan berteriak sama Gina agar Gina sadar dan mau mengakui kesalahannya"


"Gina... Gina... tidak ada salahnya minta maaf, Kamu harus mau minta maaf, badanmu sudah membiru karena kedinginan. Ayolah Gina, ayolah minta maaf. Kamu tidak perlu merasa malu dengan mengucapkan kata maaf". Olin tiba-tiba berteriak di sebelah Pak Woko dan sudah berganti baju.

__ADS_1


"Saya Gina, saya minta maaf atas semua perbuatan yang telah merugikan dan membuat teman-teman tidak bisa lagi menlanjutkan sekolahnya. Semuanya terjadi atas ulah saya. Saya mohon maaf, beribu-ribu maaf"


Akhirnya Gina bisa terlepas tetapi ia kelelahan sehingga belum sampai lorong, Gina pingsan dan diangkat oleh Pak Woko lalu dibawa ke UKS. Seketika hujan berhenti, langit mulai cerah kembali seperti sedia kala. Semuanya heran dengan fenomena yang terjadi di sekolah mereka".


__ADS_2