Warisan

Warisan
Ryan mengaku


__ADS_3

Hari ini Eka diantar oleh supir kakek ke sekolah. Kakek sudah tidak mau lagi Eka pulang dan pergi dengan kendaraan umum sejak kejadian semalam.


Susi dan Thomas sudah datang dan mereka sedang mengobrol dengan teman-teman yang lain. Eka melihat ke bangku Ryan yang masih kosong. Susi menghampiri Eka.


"Eka, kamu semalam sampai rumah jam berapa?"


"Jam 11."


"Eka, tadi Ryan sudah datang terus ia dipanggil oleh pak Maryono."


"Loh katanya saat jam pelajaran kenapa dipanggil pagi ini?"


"Tidak tahu. Tadi juga sama orang tuanya."


"Oh. Ok."


Bel berbunyi. Tidak berapa lama Eka dipanggil ke ruang kepala sekolah.


Eka berjalan ke ruang kepala sekolah sambil bertanya-tanya dalam hati. Ada apa sampai kepala sekolah memanggil dirinya.


Eka masuk ke ruang kepala sekolah. Dan di sana ada pak Maryono, Bu Elisabeth, Pak Winar, Ryan dan juga orang tua Ryan.


"Eka, duduk."


"Iya pak Win."


"Eka, bapak mau tanya apa benar kamu yang membuat Ryan sakit perutnya sampai malamnya harus ke dokter dan katanya keracunan."


"Hah, saya yang buat Ryan sakit perut? Saya saja tidak tahu pak. Apalagi sampai buat Ryan keracunan. Saya tidak pernah kasih Ryan makanan."


"Kamu bohong! Kamu itu dukun. Aku tahu kamu dukun. Kamu sudah bohong sama seluruh sekolah ini! Gara-gara kamu, kemarin aku tidak bisa ikut pelajaran sekolah sama sekali!"


"Ryan, kemarin aku datang ke sekolah 5 menit sebelum bel berbunyi. Bagaimana caranya aku bisa kasih makanan sama aku! Kamu sakit perut karena kamu melakukan hal yang jahat kepada temanku!"


"Tidak aku tidak melakukan hal jahat sama temanmu! Selama aku tahu kamu, kamu tidak pernah main dengan siapapun. Kamu selalu menyendiri dan seperti sedang berbicara dengan seseorang yang tidak kelihatan!"


"Kamu tidak tahu aku! Kamu kan anak baru pindahan dari sekolah lain. Kamu lebih mengenal teman-temanku di kelas dan adik kelas."

__ADS_1


"Aku hanya kenal satu orang adik kelas di sekolah ini dan sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Anak itu namanya Siska Damayanti. Dia meninggal karena hamil dan aku sudah kasih uang buat menggugurkan supaya ia tetap sekolah tapi ia tidak mau makanya salah dia sendiri."


"Ryan, Eka, diam! Kenapa kalian ribut sendiri! Sebenernya kalian berdua ada masalah apa? Dan kenapa Ryan bilang kalau Eka dukun? Setahu saya Eka bukan dukun, dia sama seperti kamu dan anak-anak yang lain."


"Tidak pak Win. Saya pernah lihat Eka denwganll Siska anak kelas 2 yang meninggal itu. Dan kematian Siska akibat ulahnya sendiri. Saya yang membuat Siska hamil!"


Tanpa di sadari Ryan membuat pengakuan bahwa dirinya yang membuat Siska meninggal. Kedua orang tua Ryan terkejut mendengar pengakuan Ryan.


"Ryan, apa benar kamu yang sudah membuat Siska hamil? Pak Maryono bertanya kepada Ryan.


"Iya, eh bukan pak bukan saya. Tapi ada....'


Tiba-tiba Ryan melihat ke arah pak Win karena di sebelah pak Win ada Siska yang sedang berdiri dan memegang perutnya yang membesar dan mata Siska yang merah melihat ke arah Ryan


"Ryan, kamu kenapa?"


"Aaaaahhhh itu ada Siska di sebelah pak Win! Papa, Mama usir Siska dari sini. Aku takut. Aku takut, iya aku yang membuat Siska hamil. Aku yang memaksa Siska melakukan hal itu. Aku aku tidak mau menikah, aku masih sekolah. Aku sudah salah memberikan obat itu kepada Siska."


Eka melihat Siska dari tadi tapi Eka hanya diam saja.


Mama Ryan memeluk Ryan dan menenangkan Ryan yang terlihat panik dan pucat.


Bu Elisabeth segera berlari keluar dan kembali lagi dengan membawa minyak kayuputih. Bu Elisabeth mengoleskan minyak kayuputih ke hidung dan badan Ryan.


Eka mengambil air kemasan dan membacakan doa lalu memberikan air kemasan itu kepada mamanya Ryan.


"Tante, tolong berikan ini ke Ryan supaya diminum."


"Ya."


Pak Maryono segera menelpon polisi. Semuanya sudah jelas ternyata Ryan mengakui bahwa yang membuat Siska hamil adalah dirinya.


Setelah Ryan siuman. Orang tua Ryan pamit tetapi di cegah oleh Pak Win.


"Bapak dan ibu, sebentar lagi polisi tiba. Jadi bapak dan ibu tidak bisa pergi begitu saja karena anak bapak dan ibu sudah membuat salah satu anak didik kami meninggal beberapa hari yang lalu dan sebelumnya sempat melahirkan bayi di toilet sekolah."


"Saya tidak percaya. Anak saya anak rumahan. Pulang sekolah dia selalu langsung pulang. Anak yang sudah meninggal itu ya salah anak itu bukan salah anak saya. Lagipula bagaimana bapak tahu bahwa anak saya yang menghamili tanpa ada bukti. Jangan sembarangan menuduh!"

__ADS_1


Mamanya Ryan tidak terima bahwa anaknya sudah menghamili anak perempuan di sekolah ini.


"Pak Maryono coba berikan buku itu. Biar orang tua Ryan melihat bukti-buktinua."


Pak Maryono menyerahkan buku dan photo kepada pak Win.


"Ini bapak dan ibu silakan di lihat."


Muka kedua orang tua Ryan merah padam saat membaca dan melihat photo-photo yang diberikan.


Lalu papa Ryan menampar Ryan.


"Dasar anak kurang ajar! Papa dan mama bekerja dan apa yang kamu minta selalu kami kasih tapi kamu sudah mencoreng muka papa dan mama!"


Mama Ryan hanya bisa menangis dan Ryan terdiam. Tidak berapa lama polisi datang dan membawa Ryan juga buku dan photo-photo tersebut.


"Pak Win, Pak Maryono, Bu Elisabeth, Eka kembali ke kelas ya."


"Iya, apa yang terjadi tadi jangan sampai teman-teman kamu tahu ya."


"Baik pak Win."


Eka keluar dari ruangan pak Win dan Siska di sebelah Eka.


"Eka, terima kasih akhirnya Ryan ditangkap polisi. Ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dan aku sama anakku sudah bisa tenang. Terima kasih juga sudah membantu kedua orang tuaku."


"Sama-sama Siska. Kamu sudah tenang. Aku doakan kamu mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Aku masuk kelas dulu ya Siska."


Siska berdiri di depan pintu kelas dan memandang Eka yang masuk kelas. Eka duduk dan melihat Siska yang melambaikan tangannya lalu menghilang.


Pelajaran masih berlangsung. Susi dan Thomas melihat muka Eka yang tanpa ekspresi.


"Ada apa ya. Kok Eka dipanggil lama sekali sama pak Win."


"Mana aku tahu nantilah saat bel istirahat kita tanya sama Eka."


Eka menengok ke meja Ryan. Dan Eka melihat ada bayi kecil dan masih merah di atas meja Ryan.

__ADS_1


Kamu dan mamamu sudah tenang ya dek Ayahmu sudah ditangkap. Kamu jaga mamamu ya dek.


Eka berucap dalam hati. Dan bayi itu menghilang


__ADS_2