Warisan

Warisan
Fadli krmbali


__ADS_3

"Ayah, bunda. Kita bawa kak ke rumah. Ngga usah pakai ambulan. Pakai mobil saja."


"Loh gimana sih? Kak harus pakai ambulan."


"Ngga usah ayah. Terus kita balik lagi ke kuburan tadi. Eka mohon. Bukan, bukan Eka tidak terima takdir Tuhan. Tetapi Eka yakin kak belum meninggal."


"Eka, stop. Ini sudah ada surat keterangan dari dokter kakakmu sudah meninggal."


"Ayah tolong, tolong Eka, ayah. Kita balik lagi ke kuburan itu. Eka yakin, kakak akan balik lagi."


"Kalau misalkan tidak balik bagaimana? Kamu jangan menyangkal takdir. Walaupun kematian kakakmu di luar nalar. Ayah tahu kamu tidak terima. Ayah, bunda, kak Fani juga tante juga tidak terima dengan kematian kak Fadli."


"Ya ayah, Eka ngerti. Ok gini saja. Eka akan pergii sama pakde dan kak Fani untuk ambil motor kak di kuburan itu."


"Pakde belum kembali dari rumah temannya. Gimana bisa kamu bilang akan pergi sana pakde Kamu makin lama makin aneh."


"Ngopo Bi, aku sudah ada di sini dari tadi."


"Astaghfirullah pakde. Buat kaget saja."


"Yo wis ojo kaget. Aku, Eka dan Fani meh mangkat jupuk motor Fadli."


"Urus Fadli ojo tuku perlengkapan jenasah sik. Anakmu lagi bingung neng dunia sebelah."


Semua kaget yang tiba-tiba ada pakde di rumah sakit kecuali Eka. Padahal ayah tidak menelpon pakde.


"Ayo Fani, Eka kita berangkat sekarang. Jam piro saiki?"


"Jam 3 kurang pakde. Ayo cepat. Tarik Fadli untuk balik ke badannya lagi."


Pakde, Eka dan Fani keluar dari ruang UGD.


"Ayah gimana jadinya?"


"Bunda jadi bingung ayah."


"Ngga usah bingung Bunda. Kita bawa pulang jenasah Fadli dengan mobil, tidak perlu ambulan."


"Tapi ayah, Fadli sudah meninggal dan kita sudah pegang surat keterangan dari dokter yang menyatakan bahwa Fadli meninggal."


"Mbak dan mas, kalau boleh kita tidak usah berdebat panjang. Kita pulang sekarang bawa Fadli. Kita doa buat Fadli, Eka, Fani dan Pakde supaya mereka nanti bisa pulang dalam keadaan sehat dan tidak kurang suatu apapun."


"Iya. Ayo kita pulang sekarang. Fadli tetap dengan ambulan dan ayah ikut ambulan."


"Kamu yang setir mobil, mbakmu lain tidak stabil kondisinua."


"Iya Mas."


Eka, Pakde dan Fani masih dalam perjalanan.


"Eka bingung Pakde, tadi Eka naik ojek sama bapak tua dan jenggotnya panjang. Terus saat Eka lihat cewek hantu itu. Pak ojek pingsan. Dan saat kak Fadli keluar dari tubuhnya. Pak Ojeg juga hilang."


"Ya Pakde tahu. Tetap doa ya jangan kosong. Fani kamu juga."


"Iya pakde."

__ADS_1


Mereka bertiga sudah sampai di kuburan yang tadi dan keluar dari taxi. Pakde berjalan duluan, sedangkan Eka dan Fani beriringan.


Mereka melihat ada 2 motor.


"Pakde, di sebelah sana kejadiannya."


"Ngga usah. Kakakmu dan Pak Ojek ada disini. dekat motor mereka."


Eka melihat 2 motor dan ada yang duduk. Eka kembali mendekati motor itu.


"Pakde. itu kak Fadli dan pak ojek yang tadi."


"Ya, wis meneng sik. Pakde mau ngomong sama Fadli."


Fani hanya bisa melihat apa yang dilakukan Pakde dan Eka. Ia sendiri tidak bisa melihat seperti Eka dan Pakde.


Sementara, ayah dan bunda juga tante akhirnya membawa jenasah Fadli dengan mobil.


"Ayah mau kemana? Kan arah rumah kita lurus? Kenapa jadi belok?"


"Ngga tahu bunda. ini ayah juga mau lurus. Ini seperti ada yang nuntun tangan ayah."


"Ayah, jangan macam-macam. baca ayat baca bacaan Al-Quran ayah."


"Inikan jalan yang kita mau jemput Eka di kuburan mas, mbak. Kok kita kesini?"


"Ngga ngerti juga, ini mas sambil nyetir sambil doa."


Mobil mereka masuk ke area kuburan yang tadi dan mereka melihat Eka, Fani dan Pakde.


Mobil berhenti di samping Pakde.


"inggih Pakde. Bunda, dek, kita keluar."


Pakde langsung masuk ke dalam mobil dan tangannya seperti menggandeng sesuatu.


"Ayah, pakde kenapa?"


"Ngga papa bunda, biar saja dulu. Eka kamu kenapa? Kok diam saja. Fani, adikmu kenapa?"


"Ngga tahu ayah. Fani sendiri dari tadi bingung lihat pakde dan Eka."


Dari kejauhan samar-samar terdengar azan subuh.


Tidak berapa lama, Pakde sudah keluar dari mobil.


"Eka dan Fani, kalian naik motor ya. Sana duluan berangkat. Abi, kasih kunci rumah ke Eka. Mereka akan sampai duluan."


"Iya pakde."


Eka dan Fani naik motor Fadli dan berangkat.


"Palde, ini motor yang satu bagaimana?"


"Ngga papa nanti diambil sama yang punya. Ayo pulang."

__ADS_1


Mereka semua masuk mobil. Dan mereka terkejut. Karena badan Fadli yang tadinya tidur di kursi tengah sampai membuat tante susah duduk sekarang sudah dalam posisi duduk di tengah.


"Pakde?"


"Wis, jalan ojo. Sampai rumah aku kasih tahu."


"Ya, pakde."


Eka dan Fani sudah sampai rumah duluan.


Eka langsung memasak air.


"Kak Fani. mandi terus habis kak Fani mandi, baru aku mandi dan kita sholat. Cepat ya kak."


Fani segera naik ke atas,dan turun lagi setelah ke kamarnya untuk mengambil baju dan turun ke bawah untuk mandi.


Fani selesai mandi kemudian Eka mandi. Mereka sholat berdua.


Eka membuat kopi hitam untuk Pakde dan membuat air teh untuk bunda, tante, kak Fani dan ada satu gelas lagi untuk Fadli


Semua yang di dalam mobil terdiam. Mereka dengan pikirannya masing-masing dan tidak berani bertanya kepada Pakde.


"Sudah sampai rumah."


"Wis kono mlebu, adus gek sholat. Aku bentar lagi masuk."


"Nggih pakde."


Ayah, bunda dan tante keluar dari mobil. Mereka langsung masuk kamar. Tante keluar untuk mandi. Ayah dan bunda masih di dalam.


"Eka sudah sholat subuh?"


"Sudah tante. Mumpung masih ada waktu tante, segeralah sholat."


Eka keluar rumah. Melihat Pakde yang masih di dalam mobil. Pakde seperti sedang membangunkan Fadli yang tidur di mobil.


Pakde melihat Eka dan mengangguk.


Tidak lama, Pakde keluar dari mobil dan menuntun Fadli yang terlihat seperti orang baru bangun tidur dan bingung. Eka mengikuti Pakde dan Fadli masuk ke dalam rumah. Pakde mendudukkan Fadli di sofa.


Eka mengetuk kamar ayah dan bunda. Ayah dan bunda keluar kamar dan kaget dan tidak percaya melihat Fadli yang sudah duduk di sofa. Tante dan Fani pun masih kaget


"Kita sudah sampai rumah lagi. Ayo Fadli ucapkan Subhanallah atas Maha Kuasa Allah, Fadli bisa pulang ke rumah dan berkumpul sama ayah, bunda, saudara kembarmu Fani, Eka adikmu dan tante."


"Subhanallah, Alhamdulillah ya Allah. Fadli bisa pulang dan ada di rumah lagi. Terima kasih ya Allajh."


Pakde memberikan minum kepada Fadli yang sudah disiapkan oleh Eka


"Subhanallah." Ayah, bunda, tante dan Fani mengucapkan secara bersamaan karena Fadli sudah balik pulang walaupun kondisinya masih terlihat bingung."


Ayah mau bertanya sama Pakde.


*Wis, ora usah takon. Aku mung jaluk karo Gusti Allah sing duwe urip matine uwong."


"Nggih Pakde, matur nuwun."

__ADS_1


"Matur nuwun karo Gusti Allah. Aku mung bantu tok."


Sementara bunda dan tante masih terlihat syok dengan kejadian di depan mata mereka.


__ADS_2