
Rumah Eka ramai, banyak yang datang karena Fadli dan Pakde meninggal secara bersamaan dan mereka akan dikubur besok pagi.
Eka sedang di kamarnya. Bunda ditemani nenek di kamarnya. Bunda hanya bisa menangis karena Fadli meninggal tanpa ada sakit ditambah dengan pakde yang juga meninggal.
Eka mendengar suara berbisik di samping jendela kamarnya seperti suara kak Fadli. Eka membuka gordyn dan melihat kak Fadli sedang bersama Alice yang hamil.
Fadli dan Alice melihat Eka dan mereka melambaikan tangan. Alice menyeringai ke Eka.
Eka segera membuka jendela kamarnya. Karena perempuan itu dia harus kehilangan kak Fadli.
"Hei Alice kamu telah mengambil kakakku! Kamu tidak akan pernah diterima oleh Allah."
"Aku telah berhasil mengambil kakakmu dan kami akan segera menikah. Anak yang ada di rahim aku adalah anak kakakmu. Hihihihi."
"Kak Fadli, kak pulanglah, kasihan bunda kak."
Fadli mw
enatap Eka, pandangannya kosong.
"Eka maaf. Kakak tidak bisa pulang. Alice sedang mengandung anak kakak. Maka kakak harus bertanggung jawab ikut dengan Alice dan menikah dengan Alice."
"Kak Fadli, jangan pergi seperti itu kak. Eka lebih ikhlas kak Fadli pergi dipanggil sama Allah."
Alice membawa Fadli pergi membuat Eka berteriak memanggil nama Fadli.
Jenasah Fadli dan Pakde masih ada di ruang tengah dan menunggu untuk dimandikan.
Ayah terlihat syok atas meninggalnya Fadli dan Pakde.
"Ayah, untuk Pakde dimandikan seperti waktu mandikan mbah Kung."
"Iya Eka, ayah tahu. Kakakmu duluan nanti dimandikan baru pakde."
"Pak Abi, untuk jenasah akan dikuburkan setelah sholat subuh."
"Iya Pak Joko, untuk tanah kubur sudah di gali. Saya masih menunggu peti untuk pakde saya. Karena dia kejawen."
"Oh, ok Pak Abi."
Saat memandikan jenasah beberapa orang termasuk Abi melihat keanehan dj tubuh Fadli. Tubuh Fadli tumbuh akar seperti tunas yang baru tumbuh dan seluruh badannya menghitam.
Seseorang yang ikut memandikan jenasah Fadli sempat berbicara kalau Fadli terkena guna-guna. Ayah hanya mendengarkan tanpa berbicara apapun.
__ADS_1
Fadli sudah selesai dimandikan dan sudah dikafani. Tiba-tiba datang beberapa teman Fadli.
"Pagi, maaf kami teman-teman Fadli. Bisa bertemu dengan ayahnya Fadli."
Ayah segera keluar dan bertemu dengan temannya Fadli.
"Ya saya ayahnya Fadli. Ada apa?"
"Gini om, kami tadi lagi ngumpul di rumah Oni. Dan Fadli datang juga. Karena tidak biasanya Fadli ikutan ngumpul. Fadli mengajak kita makan-makan om. Terus kita ikut."
"Lalu?"
"Terus kita makan di tukang nasi uduk pinggir jalan. Tahu-tahu Fadli jalan ke tengah jalan dan menabrakkan dirinya ke mobil yang melintas. Kita sudah mengejar Fadli tapi kita telat Om. Fadli sudah dibawa ke rumah sakit dan ada di kamar jenasah."
"Maaf ya. Tapi sebenarnya Fadli sudah meninggal dari tadi sore di rumah. Dan baru saja selesai dikafani. Nanti habis sholat subuh baru mau dikuburkan."
"Maksud om? "
"Silakan kalian masuk ke dalam. Dan doakan Fadli supaya dilapangkan jalannya ya."
Teman-teman Fadli masuk ke dalam rumah dengan pandangan kaget dan bingung.
"Astaghfirullah al adzim, Fadli!" Semua temannya kaget.
"Jadi tadi yang kita antar ke rumah sakit siapa? Dan tadi kita masuk ke rumah sakit dimana? Petugas rumah sakit juga tadi terima Fadli tanpa ada bicara apapun. Jadi tadi kita kemana?"
Pakde sudah selesai dimandikan dan sudah dikafani tetapi dimasukkan ke peti khusus seperti mbah Kung.
Setelah sholat subuh. Dan jenasah disholatkan, Jenasah pakde dan Fadli dibawa ke pemakaman untuk dikubur.
Ada dua ambulan. Ayah dan Eka di mobil jenasah yang membawa Fadli dan adik ayah juga anak dari pakde di mobil jenasah satunya.
Teman-teman Fadli mengikuti iringan mobil. Mereka dalam satu mobil.
"Oni, loe kenapa kok bawa mobilnya kayak gini ngga biasanya loe?"
"Gue lagi mikir aja, selama ini kan Fadli susah kalau kita ajak ngumpul. Kenapa tadi dia datang apa dia pamit ke kita ya."
"Itu dia gue juga bingung. Fajar loe kenapa kok diam. Loe jangan buat kita jadi takut deh."
Fajar yang duduk di bangku belakang terdiam dan duduknya nempel ke jendela sedangkan Herry duduk biasa saja di belakang. Mereka berempat Oni, Fajar, Herry dan Tohir.
"Loe semua ninggalin gue di kamar jenasah. Kalian tega banget sih! Aku ajak kalian semua ya, biar kita bisa ngumpul bareng terus. Hahahahahahha." Muka Fadli menjadi menyeramkan.
__ADS_1
Mereka berempat melihat Fadli duduk di tengah di bangku belakang. Fajar terdiam saja, muka pucat.
Oni yang membawa mobil sampai kaget melihat ada Fadli dan duduk di bangku belakang. Oni tidak bisa mengendalikan mobilnya dan mereka menabrak tiang listrik dan terbalik. Rombongan mobil yang ada di belakang mereka segera berhenti. Yang lain melanjutkan ke pemakaman dan 2 mobil juga 2 motor menolong Oni, Fajar, Herry dan Tohir. Membawa mereka ke rumah sakit.
Setelah selesai pemakaman. Salah satu orang yang membantu teman-teman Fadli bicara sama Ayah dan ada Eka di sampingnya."
"Pak Abi, maaf. Sebaiknya Pak Abi ikut saya ke rumah sakit."
"Ada apa?"
"Teman-teman Fadli kecelakaan. Lebih baik Pak Abi ikut saya sekarang."
Ayah dan Eka ikut ke rumah sakit. Sedangkan bunda, tante, nenek dan kakek pulang ke rumah barengan dengan yang lain.
Ayah dan Eka sudah sampai di rumah sakit.
"Pak Abi, teman-teman Fadli meninggal semuanya."
"Hah, bagaimana bisa?"
"Saat iringan tiba-tiba mobil mereka seperti kehilangan kendali dan menabrak tiang listrik setelah itu terbalik mobilnya."
"Astaghfirullah, kenapa jadi begini?"
"Ada satu yang masih hidup tadi. Namanya Fajar. Dia sempat bicara kalau tadi Fadli duduk di mobil dan mengajak mereka semua pergi."
"Terus, dimana sekarang si Fajar."
"Tahu-tahu dia teriak dan bilang, Jangan, jangan bawa gue, guenya ngga pernah iseng sama loe. Fadli, jangan Fad. Kasihan bapak dan ibu gue. Gue anak tunggal. Fadli! Dan tidak berapa lama meninggal."
"Astaghfirullah." Mereka semua akhirnya ke kamar jenasah.
"Ayah, Eka melihat temannya kakak. Mereka nangis semua dan bingung juga ketakutan."
"Iya Eka, kamu bisa bicara sama mereka. Biar ayah yang tanggung jawab. Pak Bowo, apakah orang tua mereka sudah dikabari semua."
"Sudah pak Abi, dan dalam perjalanan ke sini semuanya."
"Terima kasih ya Pak Bowo sudah membantu mereka."
"Pak Abi, kata orang-orang tua kalau ada keluarga yang meninggal hari Sabtu, biasanya mereka cari teman untuk ikut sama mereka. Mohon maaf Pak Abi. Fadli sebenarnya sakit apa?"
"Panjang ceritanya Pak. Nanti saya ceritakan. Saya tunggu orang tua mereka datang."
__ADS_1
Tidak berapa lama, orang tua Oni, Fajar, Herry dan Tohir datang. Ada polisi juga untuk minta keterangan.
Ayah Eka menanggung semua biaya di rumah sakit untuk ke empat teman Fadli yang meninggal.