
Eka masih di kamarnya dan sudah jam 9.30 malam. Eka tidak mendengar suara motor atau suara mobil. Eka keluar kamar dan ke dapur untuk mengambil wudhu, masuk kamar dan sholat. Eka masih menggunakan mukenanya.
"Kok tidak ada pergerakan ya. Apa aku salah lihat? Tapi aku lihat dengan jelas sekali." Eka segera membuka mukenanya dan keluar kamar lalu naik ke atas.
Eka melihat pintu kamar Fadli tertutup. Eka mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak ada jawaban dari Fadli. Eka membuka kamar Fadli dan ternyata Fadli sudah tidak ada.
Eka segera berlari keluar kamar dan turun ke bawah lalu keluar rumah. Mobil ayah ada, mobil kakak juga ada, motor Fani ada tetapi motor Fadli tidak ada. Bagaimana mungkin keluarin motor dan tidak terdengar pintu gerbang dibuka. Eka berjalan ke arah gerbang. Dan Eka melihat ada tetesan darah.
"Kak Fadli!"
Eka segera berlari masuk ke kamar dan berganti baju. Eka tidak tahu kapan kak Fadli berangkat. Seandainya ia tahu kemana kak Fadli pergi, ia akan langsung jalan mengikuti. Tapi Eka tidak tahu kemana harus pergi menyusul kak Fadli.
"Eka, kok belum tidur? Tante, tante temenin Eka ya. Eka mau nyusul kak Fadli, tapi Eka tidak tahu harus menyusul kemana? Kak Fadli dalam bahaya Tante. Dia pacaran dengan cewek hantu."
"Kamu, jangan buat tante takut.'
"Ngga tante, Eka minta tolong bangunin bunda. Tadi Eka ngetuk kamar bunda tapi tidak dibuka. Kak Fadli tadi bicara sama ayah mengenai cewek hantu itu. Tante keluar kamar dan mengetuk kamar ayah dan bunda Eka. tetapi tidak ada jawaban"
"Gini saja Tante. Aku jalan sendiri naik ojek. Tante tolong bantu aku untuk sholat untuk baca apapun."
Eka duduk di sofa sebentar berusaha untuk membayangkan muka kak Fadli. Entah kekuatan darimana Eka bisa menangkap pikiran Fadli. Fadli masih ada di depan indomaret kemang sebelum ke makan jeruk purut.
"Kak Fadli, doa kak, ayo doa kak. Jangan cari masalah kak. Pulang kak."
Fadli yang masih di depan indomaret seperti mendengar suara Eka yang menyuruhnya pulang.
"Tante, Eka sudah tahu kak Fadli pergi kemana. Eka minta tolong untuk sholat dan ketuk pintu kamar ayah dan bunda sama kak Fani. Eka jalan sekarang."
Eka segera berlari keluar rumah dan membuka pintu gerbang. Eka terus berlari mencari ojek. Eka melihat ada satu ojek di pinggir jalan. Bapak ojeknya sudah tua sekali, dan jenggotnya panjang.
"Malam Pak. Bapak ojek bukan? Kalau bapak ojek bisa antar saya ke kuburan jeruk purut."
"Iya neng, ayo naik."
Eka melihat jam tangannya sudah jam 10.50.
"Pak maaf, apakah bisa cepat jalannya. Saya harus segera menyusul kakak saya."
"Iya neng, jalan pelan-pelan saja karena kita kan ke kuburan neng. Daripada kenapa-napa."
Eka terdiam saat bapak ojek bilang seperti itu. Sabar, sabar, sabar...
Bapak ojek berhenti.
__ADS_1
"Neng sudah sampai, sudah jam 11.45."
"Iya Pak, ini uangnya."
"Pegang saja dulu neng. Memangnya neng mau kemana?"
"Mau cari kakak saya Pak. Kakak saya janjian sama temannya di dalam kuburan jeruk purut."
"Neng berani masuk sendiri? Biar bapak temenin."
"Berani Pak. Insya Allah, saya berani Pak."
"Ngga papa neng, bapak temenin masuk. Bapak takut neng dibawa. Ayo naik neng. Bapak antar."
Eka naik ke motor lagi dan masuk ke dalam kuburan jeruk purut. Saat Eka masuk terdengar lolongan anjing yang tidak biasa. Eka merasakan bulu-bulu halusnya berdiri.
Eka membaca surat An-Nas dan bacaan lainnya yang ia hafal. Eka dan Pak ojek masuk dan menyusuri oemakaman jeruk purut. Eka melihat ada motor kakaknya.
"Pak berhenti. ini motor kakak saya."
Eka menyalakan senter dan ia menyenter ke seluruh area pemakaian. Eka melihat ada sesosok orang tapi tidak ada kepalanya. Eka menyenter lagi ke tempat lain. Si bapak ojek di sebelah Eka melantunkan bacaan Al-Quran. Eka berjalan di dampingi si bapak ojek. 100 meter dari motor kakaknya dan motor Pak ojek. Eka melihat ada sesosok gadis berwajah pucat. Gadis itu yang tadi dilihat Eka di belakang kak Fadli saat Eka melihat kamar kak Fadli.
Sementara di rumah Eka, bunda dan ayah terbangun setelah diketuk berkali-kali oleh Fani.
"Fani, kamu tahu tadi Eka mau menyusul ke mana?"
"Eka ngga bilang ayah. Eka bilang akan membuntuti Fadli. Tadi Fani ketiduran. Dan tante yang bangunin Fani."
Ayah kembali mengingat obrolan tadi dengan Fadli. Ayah segera masuk ke tol dalam kota untuk mengejar waktu. Ayah menuju kuburan jeruk purut.
Eka mendekati gadis itu. Si bapak tetap membaca bacaan Al-Quran. Bapak ojek ketakutan melihat gadis pucat tapi ia melihat Eka yang berani mendekat, akhirnya bapak tetap mengikuti Eka.
"Kak,. kakak namanya Alice? Kakak Fadli mana? Katanya kakak Alice janjian ketemu dengan kakak Fadli."
Cewek hantu itu tertawa nyaring membuat bapak ojek akhirnya pingsan.
"Aku memang menunggu kamu. Dan kakakmu sudah jadi milik aku selamanya. Dia akan menemani aku."
"Tidak bisa kak Alice. Dunia kak Alice dan kak Fadli berbeda."
"Fadli mencintai aku. Aku tidak mau melepaskan Fadli. Kamu mau ikut juga?". Tidak kak. Aku mencintai ayah, bunda dan kakak kembarku. Aku minta kak Alice kembalikan kak Fadli."
Tiba-tiba Fadli datang.
__ADS_1
"Eka, aku mau sama Alice. Aku tadi diajak Alice pergi ke rumahnya dan kami akan menikah.'
" Kak Fadli istighfar kak. Istighfar. Ayo kak Fadli sebutkan Allahu Akbar... Ayo kak...."
Belum sempat Eka melanjutkan. Alice menggandeng Fadli dan mereka berjalan masuk ke dalam kuburan Fadli.
Eka berhasil meraih tangan Fadli, tapi terlambat. Jiwa Fadli sudah diajak oleh Alice. Eka memegang tangan Fadli dan tubuh Fadli sudah tergolek diatas makan Alice.
Ayah baru saja masuk ke dalam kuburan jeruk purut dan tidak menemukan Eka sama sekali dan juga Fadli.
Ayah, Bunda, Tante dan Fani bingung, dimana mereka. Mereka keluar dari kuburan jeruk purut. Dan bunda masih mencoba telpon Eka dan Fadli. Eka melihat ada getaran di saku celana Fadli. Eka melihat ada puluhan telpon dari bunda.
"Hallo bunda."
"Eka, kamu dimanaaa! Dimana Eka"
"Eka di pemakaman bunda tetapi bukan di jeruk purut. Eka tidak tahu ini ada dimana?
"Eka kirim lokasinya cepat. Bunda, ayah, kak Fani dan tante segera ke sana."
Eka segera mengirimkan yang diminta bunda.
Ayah melihat lokasi yang dikirimkan Eka.
"Ayah tahu tempatnya. Ini bukan di jeruk sawit, tapi ini dekat dengan pasar minggu."
Eka melantunkan doa dan Al-Fatihah untuk Fadli. Sedangkan Pak ojek yang tadi pingsan juga tidak ada.
Setengah jam kemudian ayah, bunda, tante dan Fani sudah datang dan melihat Eka dari senter yang masih menyala.
Bunda langsung berlari keluar mobil saat mobil sudah berhenti.
"Eka, kamu tidak papa sayang!"
"Tidak bunda. Tapi kakak Fadli."
'Bunda, ayah, tante dan Fani melihat Fadli.
Ayah dan Fani mengangkat tubuh Fadli yang sudah kaku. Bunda hanya bisa terdiam. Eka tetap melantunkan Al-Fatihah untuk Fadli.
"Kita ke rumah sakit. Untuk dicek sama dokter. Apakah Fadli sudah meninggal atau belum."
Mereka semua ke rumah sakit. Fadli masih dicek oleh dokter. Dan dokter sudah menyatakan bahwa Fadli sudah meninggal.
__ADS_1