Warisan

Warisan
Masalah warisan


__ADS_3

"Burhan, terima kasih sudah datang. Sebelum kamu kembali ke Jakarta besok, ada hal yang mau aku tanyakan."


"Mengenai cucuku, Eka?"


"Iya. Aku masih tidak habis pikir. Dan kalaupun memakai nalar tidak sampai. Bagaimana bisa cucumu datang ke kuburan Adi dan membantu mengurusnya kemudian balik lagi dan setelah kita sampai rumah, kamu coba telpon dan ternyata dia sudah di rumah sama menantumu."


"Ya itulah cucuku, tidak bisa di prediksi. Aku hanya bisa berdoa semoga cucuku baik-baik saja."


Eka yang sedang makan kue di teras dengan tantenya dikagetkan dengan suara ayahnya yang memanggil.


"Iya ayah, sebentar. Tante, aku masuk dulu ya."


Eka segera masuk ke dalam rumah dan melihat ayahnya yang sedang duduk di ruang makan.


"Ada apa ayah?'


"Duduk Eka. Ayah mau bicara."


Eka duduk di seberang ayahnya.


"Ada apa ayah? Kok muka ayah sepertinya kesal."


"Tadi kakek telpon ayah dan menceritakan semuanya kejadian di Magelang. Apa yang sudah kamu lakukan?"


Eka menarik napas panjang.

__ADS_1


"Eka tidak melakukan apapun ayah. Eka hanya membantu Adi. Dia minta dikuburkan di bawah pohon beringin. Dan Eka membantunya sampai Adi bisa dimakamkan tepat di bawah pohon beringin. Itu saja."


"Dengan kamu tiba-tiba datang kesana? Ini tidak masuk akal Eka. Dan kamu menyapa mereka di sana seolah-olah kamu hadir."


"Ayah, apakah ayah pernah berpikir. Sejak kecil Eka diberikan warisan ini oleh almarhum mbah Kung. Dan banyak kejadian-kejadian di luar akal sehat sampai Eka harus berurusan dengan semua yang tak kasat mata! Kalau boleh jujur, Eka ingin hidup seperti teman-teman Eka yang lain. Yang tidak punya rasa ketakutan setiap saat. Dimusuhi, Dikatain sebagai orang gila! Apakah ayah mau mengambil tugas ini? Tugas yang diberikan oleh leluhur ayah! Tugas yang seharusnya jadi tanggung jawab ayah dan semua adik-adiknya ayah! Tapi akhirnya harus ke Eka! Eka capek ayah, Eka capek selalu di curigai, selalu diharuskan bisa melawan makhluk-makhluk yang tak kasat mata."


Ayah kaget mendengar keluh kesah Eka, ya sebenarnya ini adalah warisan yang seharusnya menjadi tanggung jawab dirinya bukan Eka.


"Eka, ayah minta maaf jika menurut Eka ayah lari dari tanggung jawab terhadap warisan leluhur keluarga ayah. Tapi tolong Eka harus benar-benar bisa memilih mana yang harus Eka bantu dan yang tidak perlu Eka bantu. Seperti kejadian di Magelang, banyak pertanyaan dari keluarga almarhum Adi mengenai Eka."


"Ayah, Eka tidak bisa menjelaskan. Yang terpenting pada saat Eka pergi ke Magelang, Eka tidak menyusahkan kakek, nenek, ayah dan juga tante. Badan Eka di sini, di rumah ini. Tapi roh Eka pergi sementara waktu untuk membantu Adi mendapatkan keinginannya. Biar Adi tenang. Itu saja ayah."


"Ya, kakek, nenek, ayah dan tante tahu. Tapi pikiran mereka berbeda Eka. Mereka berpikir kamu itu dukun. Mereka berpikir kamu tidak beragama."


"Maksud kamu apa dengan bilang pergi selamanya!"


"Ayah, maaf. Tidak semuanya yang Eka lakukan berkenan sama ayah. Sejak bunda dan kakak meninggal, sejak itu pula ayah menjauh sama Eka. Dan Eka merasa bahwa ayah membangun tembok untuk Eka. Apa salah Eka? Semuanya berubah. Apakah karena warisan dari keluarga besar ayah sampai Eka harus kehilangan bunda dan kakak? Seandainya bisa tukar tempat, biar Eka yang pergi, bunda dan kakak masih menemani ayah sampai saat ini. Jadi warisan ini akan putus di Eka."


Eka bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar meninggalkan ayahnya yang masih duduk di kursi.


Ayah mengusap wajahnya dengan kasar. Sejak kematian istri dan anak kembarnya, ayah merasa separuh hidupnya pergi.


Eka, maafkan ayah. Ayah mengaku salah. Padahal ayah masih punya Eka, tetapi ayah tidak pernah memperhatikan Eka lagi dan memberikan kasih sayang seperti dulu. Seandainya waktu bisa diputar, ayah ingin ada bunda, Fadli dan Fani lagi. Dan kamu terjebak dalam lingkaran keluarga ayah yang tidak bisa di putus. Karena walaupun kamu yang pergi, akan ada lagi penerus yang lain dari keturunan selanjutnya.


Ayah berdiri dan berjalan menghampiri kamar Eka yang tertutup pintunya.

__ADS_1


Samar-samar ayah mendengar suara Eka yang sedang berbicara dengan seseorang di dalam kamar.


Eka bicara dengan siapa di dalam kamar? Ah, biarlah. Eka sudah semakin besar dan tahu mana yang benar dan mana yang salah.


Ayah berlalu dari kamar Eka dan masuk ke kamarnya.


"Eka, kamu kenapa nangis? Ada apa? Cerita sama aku, siapa tahu aku bisa bantu kamu?"


"Bagaimana kamu bisa bantu aku? Sedangkan jiwa kamu tidak satu frekuensi dengan aku? Aku hidup di dunia nyata saat ini. Sedangkan kamu hidup di dunia penantian."


"Jangan begitu Eka, setidaknya aku masih bisa bantu kamu walaupun beda dunia. Karena kamu telah bantu aku mendapatkan tempat peristirahatan sesuai keinginan aku. Dan aku siap mendengarkan semua keluh kesah kamu. Aku berharap kita bisa jadi teman."


"Adi, kita sudah berteman jadi kamu tidak perlu meminta lagi. Aku bantu kamu karena aku mau bantu dan aku tidak menginginkan bantuan apapun dari kamu. Karena yang bisa bantu aku hanya Allah dan diriku sendiri." Wajah Eka terlihat marah dan kesal kepada Adi.


"Maaf Eka, maaf, jika aku menyinggung perasaan kamu. Aku pun pernah di posisi kamu saat masih hidup. Aku tidak punya teman, orang tua ku lebih sayang kepada adik dan kakakku. Walaupun mereka selalu bilang bahwa mereka memperlakukan anak-anaknya sama tidak ada yang dibedakan tetapi aku merasakan perbedaan yang dibuat oleh orang tuaku. Sama seperti hidupmu saat ini."


"Adi, beda kasus. Jangan menyamakan hidupku dengan hidupmu yang dulu! Dan jangan ganggu aku lagi. Dunia kita berbeda, tidak selamanya kamu bisa menemani aku. Yang bisa aku lakukan saat ini adalah mendoakan semoga arwahmu tenang. Dan jangan terus mengunjungi aku. Karena akan ada jiwa lain yang menyerupai kamu mendekati aku dan mengatakan bahwa itu kamu!"


"Tapi Eka, ini benaran aku, Adi. Yang baru saja meninggal dan meminta sama kamu untuk kasih tahu ke orang tua ku bahwa aku ingin dikuburkab di bawah pohon beringin. Aku bukan jin ataupun setan yang menjelma menjadi Adi."


"Ya, walaupun aku mengiyakan bahwa yang saat ini ada di depanku adalah Adi, tapi aku tidak sepenuhnya percaya dan yakin! Jadi lebih baik kamu pergi. Karena kalau kamu seperti ini, sama saja sebenarnya kamu jin atau setan yang berusaha untuk menggoda aku maupun orang lain untuk melakukan hal-hal yang jahat!"


Eka segera berdoa dan mengambil tasbihnya.


Adi meninggalkan Eka.

__ADS_1


__ADS_2