
Agas duduk dengan santai di kursi singel yang ada diruang keluarga nya, sementara ketiga pria yang duduk didepannya menatapnya dengan tajam.
Airin yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, lalu beranjak dari duduknya. Mencoba agar tidak mencampuri urusan para laki laki jantan itu.
"Ekhm, kenapa?" Tanya Agas dengan santainya.
Agion berdecih pelan, lalu menatap kearah om om tukang modus didepannya ini, "Om, gak ngapa ngapain kakak gue kan?"
Agas melipat kedua tangannya didepan dadanya, "Jawabannya, seperti yang ada di pikiran kamu."
Agion terdiam, lalu menghela nafas lega. Jika itu terjadi, bisa habis dirinya dijajah oleh ayah nya.
"Daddy gak bikin adek kan?" Tanya Azrel dengan polosnya.
Tak
Agion menjitak kepala Azrel dengan keras, "Aws, sakit anjir!"
"Lagian, lo jangan ngomong yang aneh aneh deh."
Alga melirik ketiga orang orang dewasa yang berbicara dengan serius itu, pikirannya berkecamuk kala tadi pagi melihat daddy nya dan kakak cantiknya tidur berdua.
"Kata nenek, kalo tidul berdua itu bakalan punya bayi. Belalti di pelut kakak cantik ada bayinya?" Batin Alga bertanya tanya.
Lalu berdiri dari duduknya tanpa menghiraukan orang orang dewasa itu, berlari menuju dapur dimana Airin sedang memasak. Alga duduk di kursi meja makan dengan susah payah.
"Loh Alga, kenapa kesini?" Tanya Airin sambil mencicipi sayur bening buatannya.
Alga yang sudah duduk pun tersenyum, "Pengen liat mommy masak."
Trang
Sendok yang dipegang Airin terjatuh seketika setelah mendengar ucapan Alga, bahkan ketiga lelaki yang sedang beradu mulut itu pun langsung berlari ke dapur kala mendengar suara benda jatuh.
"Eh, kenapa ini? Bidadari gak papa kan?" Tanya Azrel terlebih dahulu, membuat kedua lelaki dibelakangnya menatapnya jengah.
"Eh, apa?"
"Kakak kenapa?" Tanya Agion sambil menghampiri Airin.
Airin tersadar dari lamunannya, "Ah, enggak gak papa. Tadi sendok nya cuman jatuh dong."
Ketiga lelaki dewasa itu menghela nafas lega kala tidak ada kecelakaan apa apa.
"Oh iya, sayur nya udah jadi. Ayok kalian duduk," Ajak Airin sambil menggiring ketiga lelaki itu untuk duduk dimeja makan.
Tak
Sayur bening yang lumayan banyak itu, Dia hidangkan di meja makan dengan berbagai lauk dampingannya. Ke empat lelaki itu melongo melihat banyaknya makanan yang dibuat Airin dalam waktu singkat.
Sret, Airin duduk disamping Alga. Lalu tersenyum manis, "Ayok makan, kenapa bengong?"
"Ini semua buatan bidadari?"
"Bagaimana kamu bisa memasak ini semua?"
"Kakak bener masak ini dalam waktu singkat?"
Tanya ketiga lelaki dewasa itu bersamaan sambil menatap Airin, Airin menaikan alisnya lalu tersenyum singkat.
__ADS_1
"Iyalah, Airin gitu loh semua pasti bisa. Udah ayok makan," Ajak Airin.
Mereka pun mengangguk lalu mulai membawa makanan yang menurut mereka enak, tapi ketiga orang dewasa itu menghentikan kegiatannya kala mendengar suara Alga.
"Mommy, ambilin lauk itu buat Alga," Ucap Alga sambil menunjuk ayam kecap didepan Airin.
"Mommy?" Tanya ketiga lelaki tersebut kaget, Airin hanya terdiam bingung sedangkan Alga tersenyum dengan manisnya seakan tidak ada beban dalam hidupnya.
Sret
Ketiga lelaki dewasa itu menoleh dengan serempak pada Airin yang sedang mengambilkan Ayam kecap untuk Alga, "Eh, Airin gak tau apa apa."
Agion menyimpan kembali sendok yang dipegangnya, lalu menatap Alga serius, "Kenapa Alga manggil kakak bang Gio mommy?"
Alga bukannya menjawab malah tersenyum senyum, lalu menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
"Hah, hah!" Kaget Agion kala tidak menerima jawaban.
"Kenapa senyum senyum? jawab!"
Alga menatap Agion sambil mengacungkan garpu yang berisi potongan ayam kearah Agion, lalu tersenyum manis kembali, "Kenapa? bang Gio mau ayam Alga?"
Agion menatapnya tak percaya, lalu menatap tajam Agas. Agas yang merasa ditatap pun menatap kembali Agion dengan tanda tanya, "Kenapa?"
Airin menghela nafas panjang, lalu menyumpali mulut Agion dengan paha ayam kala melihat Agion yang ingin bertanya kembali, "Udah, sekarang makan. Nanti aja tanya tanya nya."
Agion menyandarkan tubuhnya disenderan kursi, lalu memakan paha ayam dengan kasar.
...~o0o~...
Kini kelima orang itu sudah berada di ruang keluarga dengan Airin yang diapit oleh dua remaja manis disampingnya, dan Alga yang duduk dikursi singel berhadapan dengan daddynya.
"Emang kenapa? Alga cuman mau mommy," Tanya balik Alga.
Keempat orang dewasa itu terdiam, lalu Airin berpindah tempat berjongkok di depan Alga, "Tapikan kakak bukan mommy Alga."
"Tapi kan, Alga maunya kakak cantik yang jadi mommy Alga," Ucap Alga sambil menunduk menatap Airin.
Belum sempat Airin menjawab, Agas terlebih dahulu menyelanya, "Yaudah, adek boleh panggilnya mommy."
Agion melotot tak terima, enak saja om om kang modus ini. Rasa tak sukanya semakin menjadi jadi, batinnya menyumpah serapahi Agas, "Awas aja lo om, gue aduin sama ayah jendral, mampus lo!"
"Yey, makasih daddy!" Pekik Alga lalu tersenyum senang, sedangkan Airin menatapnya tak percaya.
"Wah si om mencari kesempatan dalam kesempitan, awas aja gue bejek bejek lo om," Batin Airin penuh dendam, apalagi melihat Agas yang mengedipkan matanya genit.
"Yaudah daddy mau siap siap kerja dulu," Ucap Agas lalu beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamarnya.
"Alga hari ini sekolah?" Tanya Airin.
"Iya, Alga hari ini sekolah tapi cuman olahraga doang," Timpal Azrel kala mengingat jika hari Sabtu ini adiknya sekolah.
"Lah empat tahun sekolah apa?" Tanya Agion kala menyadari bahwa Alga masih empat tahun.
"TK lah, adek gue pinter gak kayak lo," Ucap Azrel.
"Enak aja. Gua pinter ya, buktinya gue bisa kelas akselerasi ya!" Ucap Agion tak terima.
"Jangan sombong, gue juga akselerasi."
__ADS_1
Agion menatap Azrel heran, "Lah yang sombong pertama siapa, Maemunah!"
Azrel terkekeh lalu merangkul bahu Agion, "Yuk lah, kita olahraga."
"Gak nyambung emang ngomong sama orang bego mah," Ucap Agion kesal, tetapi tetap mengikuti Azrel yang berjalan menuju ruang olahraga di lantai satu.
Airin menatap tak percaya, sejak kapan mereka akur?
"Mommy ayok siap siap," Ajak Alga.
Airin tersadar dari lamunannya lalu menggendong Alga menuju lantai dua, "Ayok, anak mommy kita siap siap."
...~o0o~...
Airin berjalan menuju kamar Agas yang berada dilantai tiga, tadinya dia mau membantu Alga mandi, tapi katanya Alga sudah biasa mandi sendiri. Jadi sementara menunggu Alga mandi, dia harus memberi pelajaran kepada si om kang modus itu.
"Om," Panggil Airin kala memasuki kamar si om dengan tak sopannya.
"Om dimana sih? jangan ngumpet deh, mau saya bogem nih!" Pekik Airin dengan bar barnya.
Beginilah jika jiwa bar bar Airin keluar, dia tak segan segan melakukan sesuatu.
"O-," Ucapan Airin terhenti kala melihat pintu walk in closet yang terbuka sedikit.
Airin meneguk ludahnya dengan susah payah kala melihat Agas yang hanya memakai celana bahannya, punggung tegap yang terekspos, rambut basah dengan air yang sesekali menetes.
Tanpa sadar kakinya melangkah mendekat, Layaknya di sebuah komik, suasana ruangan berubah dengan sinar pink dan bunga bunga disekitarnya.
Sret
Bugh.
Airin mengerjap ngerjapkan matanya kala dia berada di kukungan Agas, kedua tangannya berpegangan pada nakas dibekang nya. Airin melihat pada kedua tangan kekar Agas yang berada disamping lehernya.
"Kenapa?" Tanya Agas dengan suara bas nya.
Entah kenapa, seketika rasa kesal yang tadi meluap luap menciut kala mendengar suara Agas, lidahnya terasa kelu. Tatapan mata Airin menatap kearah wajah Agas yang sangat dekat dengannya, air yang menetes dari rambut lelaki itu membuat Airin meneguk ludahnya susah payah.
Nafasnya terhenti kala melihat jakun Agas yang naik turun, tanpa sadar tangan Airin mendekat menuju jakun Agas.
Sret.
Airin melotot kala tangannya digenggaman oleh Agas, "Kenapa?"
Airin menggeleng, pipinya bersemu malu kala terciduk oleh Agas. Batinnya berperan gugup, "Apa yang harus gue lakuin? huaaa, gue kenapa jadi mati kutu gini!"
"Kenapa nyari nyari?" Tanya Agas dengan suara rendahnya.
"Em, n-nanti aja. Ehh itu A-Airin keluar dulu," Ucap Airin dengan gugup lalu berjalan keluar, belum sempat berjalan tubuhnya kembali dikukung oleh Agas.
Agas menatap Airin lekat, tatapan Agas beralih pada leher Airin yang terekspos karena Airin menggulung rambutnya, Agas semakin mendekatkan wajahnya dengan leher Airin.
Airin terdiam kaku, matanya melotot saat merasakan hembusan nafas hangat yang sangat dekat dengan lehernya. Airin memejamkan matanya saat merasakan hidung Agas bersentuhan dengan lehernya.
Agas tersenyum miring, bibirnya dia tempelkan pada leher Airin, matanya menutup kala mencium wangi tubuh Airin yang memabukkan, bibirnya mencium leher Airin dengan lembut.
"Woy Airin sadar, huaa bunda ada om om nakal!" Pekik Airin dalam batinnya.
Belum sempat Agas menggigit leher Airin, suara seseorang terlebih dahulu menghentikan nya.
__ADS_1
"Mommy daddy, kalian ngapain? Kenapa daddy gigit lehel mommy?