Young Mom

Young Mom
PART 54


__ADS_3

Angin malam menyapu dengan lembut helaian rambutnya, tangannya menggenggam erat cup kopi dengan sesekali meneguknya. Tatapan mata yang terlihat lelah itu sesekali terpejam damai.


"Halo," Sapanya saat teleponnya berdering.


"Besok. Daddy sedang dirumah sakit, datanglah nanti dengan yang lainnya. Hm, Daddy juga ingin menyampaikan sesuatu, Good night."


Tut.


Sambungan telepon terputus, helaan nafas panjang terdengar. Sret... Agas melihat ke belakang mendengar suara deritan kursi, terlihat Azrel yang duduk dengan selimut yang di bawanya.


"Kamu mau dengar cerita?" Tanya Agas sambil melihat Azrel, Azrel hanya terdiam tanpa menjawab.


Agas tersenyum tipis lalu duduk di samping Azrel, di letakan nya cup Kopi yang di bawanya. Lalu mengambil selimut yang di bawa Azrel, tangannya dengan cekatan menyelimuti tubuh Azrel yang sedari tadi terdiam.


"Kamu ingin mendengarkan?" Azrel mengangguk pelan, sedangkan Agas tersenyum tipis tubuhnya dia sandarkan dengan mata yang terpejam. Helaan nafas pelan terdengar, pikirannya mulai tertuju pada kejadian beberapa tahun lalu.


Flashback.


"Sudah Abang bilang Agas, tidak usah membalasnya!" Teriakan seorang lelaki dengan tangan yang menggenggam laporan dari anak buahnya.


"Aku tak terima, bang. Mereka membuat aku kehilangan keponakan ku!" Tegas Agas.


Lelaki itu menghela nafas kasar lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kekuasaannya, "Tapi tidak seperti ini Agas. Apa kamu tak sadar bahwa kamu secara tidak langsung membunuhnya?"


"Aku sadar. Bukankah kakek bilang nyawa di balas nyawa?" Ucap Agas dengan senyum miringnya.


"Kau jangan seperti kakek Agas, Abang tidak suka. Jangan menjadi pembunuh," Agas mendelik tak suka mendengar ucapan Abangnya itu.


"Aku tidak peduli. Gara gara mereka aku kehilangan keponakan ku, anakmu bang. Aku tidak terima! mereka bahagia mendengar kamu kehilangan penerusmu."


"Abang tau, Abang juga merasakan apa yang kamu rasakan. Bahkan lebih, tapi kau harus menjaga emosimu Agas, jangan sampai kau terperangkap dengan emosimu sendiri," Ucapnya lirih.


Agas tidak menjawab, lalu berbalik meninggalkan ruangan Abangnya dengan perasaan tak karuan. Sedangkan seseorang yang di panggil Abang oleh Agas itu memejamkan matanya lelah.


"Bang Saga," Panggil seseorang.


Saga membuka matanya perlahan terlihat Deon yang berdiri di depannya dengan nafas yang memburu, "Itu, Agas gak sengaja nabrak seseorang bang."


"Apa! Bagimana bisa? Dimana dia sekarang?" Teriak Saga sambil berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Di rumah sakit tempat kak Seira di rawat bang," Saga seketika langsung berlari keluar ruangannya.


Mobilnya melaju dengan cepat dengan raut cemas terlihat jelas di wajahnya. Dia khawatir dengan keadaan adiknya itu.


Saga berlari di lorong rumah sakit, kakinya berhenti melangkah kala menemukan ruangan tempat Agas di rawat. Kakinya melangkah dengan pelan memasuki ruang rawat, terlihat Agas yang terbaring lemah dengan perban di kepalanya dan infusan yang tertancap dipunggung tangannya.


"Kenapa bisa begini? kau pasti melanggar ucapan Abang waktu itu," Ucap Saga kala mengingat jika dirinya selalu memperingatkan kepada Agas agar tidak membawa kendaraan saat suasana hatinya tidak senang.


Tangannya mengelus kepala Agas dengan pelan, Hatinya tak tenang melihat keaadan adik kesayangannya berada dalam keadaan seperti ini. Apalagi di tambah dengan istrinya yang mengalami keguguran.


"Hah... Bang, di panggil sama keluarga korban," Ucap Deon yang baru datang dengan nafas ngos-ngosan.


Saga melihat kearah Deon lalu mengangguk pelan, "Bunda sama Ayah mana?"


"Mereka jaga kak Seira," Jawab Deon lalu duduk di sofa ruang rawat Agas. Saga mengangguk lalu berdiri dari duduknya.


"Abang titip Agas, jaga dengan benar," Deon mengangguk lalu berjalan mendekati Agas, bokongnya dia dudukan di kursi samping hospital bed Agas.


"Sebenarnya gue iri sama lo, tapi gue gak bisa benci sama lo. Cepat sembuh," Gumam Deon, Tangannya mengelus kepala Agas lembut. Meskipun ada rasa iri melihat Saga yang memanjakan Agas tapi Deon tidak bisa membenci adiknya ini.


Saga masuk ke ruang rawat yang terlihat besar dengan hospital bed yang berjajar saling berhadapan. Saga melangkah mendekati seorang wanita yang terbaring lemah dan di sampingnya terlihat seorang lelaki paruh baya yang menatapnya sendu.


"Permisi," Ucap Saga.


Wajah pucat wanita itu tersenyum tipis, "Ti-dak apa apa. Saya memaafkannya, saya juga salah di sini."


Saga tersenyum tipis, "Terima kasih atas kemurahan hati anda. Apa yang harus saya lakukan untuk membalasnya?"


Wanita itu tersenyum tipis, matanya melirik lelaki paruh baya di sampingnya, "Apa saya boleh meminta sesuatu padamu?"


"Iya, silahkan."


"Saya ingin kamu menjaga anak saya," Saga mengerutkan dahinya bingung.


"Itu," Ucap Wanita tersebut sambil menunjuk dua orang anak kecil di hospital bed yang berhadapan dengannya.


"Saya mohon, jaga mereka seperti anda menjaga anak anda sendiri. Saya tidak yakin saya bisa menjaga mereka lagi," Ucapnya dengan suara pelan.


"Apa maksud anda? Anda masih mempunyai banyak waktu," Sanggah Saga.

__ADS_1


"Saya rasa tidak. Saya tidak bisa, ayah saya sudah tidak mampu menjaga mereka berdua dan saya rasa. Saya juga begitu," Ucapnya dengan tangan yang menggenggam tangan lelaki paruh baya di sampingnya.


"Tapi-"


"Saya mohon anak muda. Jaga kedua cucu saya," Ucap lelaki paruh baya tersebut.


Saga mengalum bibirnya dengan pikiran yang penuh pertimbangan, kakinya melangkah mendekati kedua anak kembar yang dalam kondisi kurang baik.


"Apa anda yakin, bahwa saya orang yang tepat?"


Wanita itu tersenyum, "Saya yakin, ini pilihan yang paling tepat."


Saga menghela nafas pelan, "Baiklah, saya akan berusaha menjaga amanah ini."


Terlihat raut wajah wanita serta lelaki paruh baya itu lega, "Terima kasih nak."


"Tidak apa apa, saya yang harusnya berterima kasih. Kalian memberikan saya malaikat yang selalu saya impikan," Saga mengelus pipi kedua anak itu dengan lembut.


Lelaki paruh baya itu menghampiri Saga, lalu menyerahkan sesuatu kepada Saga, "Saya titip ini kepadamu, saya mohon. Jaga baik baik mereka."


Saga melihat kalung emas putih, "Azrelio Ardana, Azralia Ardenia?"


"Itu nama mereka," Saga mengangguk, "Bolehkan aku mengganti nama belakang mereka dengan Margaku?"


Lelaki paruh baya itu tersenyum lalu mengangguk, seketika raut wajah Saga terlihat cerah lalu menatap kedua anak yang kurang lebih berumur satu tahun, "welcome to your new family, Azralia Xaverius dan kamu Azrelio Xaverius," Bisiknya dengan nada lembut.


Tanpa di sadari nya, Agas melihat kejadian itu di depan pintu dengan duduk di kursi roda, "Pulang kak," Ucapnya pelan.


Deon mengangguk lalu mendorong kursi roda Agas ke ruang rawatnya kembali.


Flashback off.


Azrel menunduk dalam, sedangkan Agas terus bercerita, "Sudah sampai sana dulu. Ini sudah larut, kamu harus tidur."


"Dengan Daddy," Cicit Azrel, agas mengangguk lalu menarik tangan Azrel menuju kedalam ruang rawat Airin kembali, terlihat Agion yang tertidur di sofa dengan tv menyala, Alga yang tertidur sambil memeluk Airin.


Agas terlebih dahulu menghampiri Airin lalu mengecup kening gadisnya lembut, "Cepat sadar sayang. Aku merindukanmu," Bisiknya.


Agas menarik Azrel ke ranjang yang cukup untuk dua orang di ruang VVIP ini, "Tidur," Titah Agas sambil mengelus rambut Azrel yang kini berbaring di sampingnya.

__ADS_1


Azrel memeluk Agas erat, rasa kantuk seketika menyerang saat merasakan dekapan hangat yang selalu dia rindukan dari Ayahnya, "Maafin Azrel," Cicit Azrel.


Agas tersenyum manis lalu menepuk nepuk bahu Azrel, tak lama terdengar dengkuran halus. Agas menundukan wajahnya melihat wajah damai Azrel, "Daddy sayang Azrel, jangan pernah marah seperti itu lagi pada Daddy Azrel."


__ADS_2