
Ruangan rawat inap Airin kini ramai dengan sahabatnya, Agion dan Azrel dkk serta tiga bocah imut. Karena hari ini Agas akan ke kantor cabangnya, jadi dia tadi terburu buru pulang kerumahnya.
"Airin Lo gak sempat sekarat kan?" Tanya Azila dengan wajah tak berdosanya.
"Iya kalo ada lo," Jawab Airin dengan santainya.
Azila mencibik kesal, sedangkan Airin tertawa pelan, "Kalian jenguk orang sakit kok gak bawa buah tangan."
"Kita datang aja lo harusnya bersyukur Rin," Ucap Azila.
"Yaelah bilang aja lo boke," Ucap Airin dengan memutar bola matanya malas.
"Nah itu Lo tau, ngapai juga gue bawa buah tangan buat lo toh disini udah lengkap banget, tuh liat" Ucap Azila lalu menunjuk beberapa buah, jus, kue dan juga ada satu buket bunga besar.
Airin meringis melihatnya, bagaimana bisa dikamar inapanya banyak makanan seperti ini?
"Eh ngomong-ngomong Rin, siapa yang ngasih itu buket, tau aja kalo lo suka bunga itu. Pasti orangnya spesial," Ucap Ayla yang sedari tadi diam menyimaknya.
"Dari si om," Ucap Airin cuek.
Seketika muka Azila berubah menjadi muka yang menjengkelkan, tangannya memukul mukul lengan Airin dengan kencang, "Cie akh bentar lagi ada yang gak jomblo lagi nih."
"Apasih lo! sakit tangan gue!" Sentak Airin.
"Woy Azila! si Airin lagi lemes lo malah mukul mukul, remuk entar dia," Tegur Ayla berlebihan.
Airin mendelik kesal sedangkan Azila hanya tertawa setan. Dengan tenaga ala kadarnya Airin mendorong dorong kedua sahabatnya menjauh.
"Udah deh, sana lo pada pulang! disini juga lo pada malah ngerusuh."
"Ah elah, jahat banget lo Rin, gue masih mau disini," Rengek Azila.
"Nggak! udah sana pulang, badan lo pada bau azab," Ucap Airin.
Azila menatap Airin geram, tangannya mengepal keudara, "Astaghfirullah lambemu pengen tak hih!"
"Udah ayok Zil kita pulang, cepat sembuh ya Rin," Ucap Ayla lalu menyeret Azila keluar ruangan.
...~o0o~...
Hari sudah sangat larut, Agas masih berada di salah satu kantor cabangnya, sedari siang tadi dirinya mengikuti meeting tanpa henti, berdiskusi dengan para petinggi di kantor cabangnya.
"Selesai, ada yang ingin ditanyakan?" Tanya Agas.
Salah seorang pria paruh baya mengangkat tangannya, "Maaf pak, dalam bagian marketing, strateginya apa bisa menggunakan strategi marketing yang baru?"
"Iya, kalian boleh menggunakan nya, ini juga waktu yang pas untuk meningkatkan tingkat konsumen kita, dan jangan lupa buat iklan yang menarik agar mereka merasa tertarik dengan produk kita."
"Saya tunggu proposal iklannya kamis sore."
"Baik pak."
__ADS_1
Agas melihat semua karyawannya, "Ada lagi?"
"Pak iklannya dibuat dengan konsep modern atau tetap tradisional seperti biasanya?" Tanya seorang Wanita muda.
"Ah, karena kita menggunakan konsep baru, jadi saya ingin kedua konsep itu dipadukan," Ucap Agas, Wanita itu mengangguk sambil menulis apa yang Agas bicarakan.
"Terima kasih pak."
"Cukup? baik, saya anggap meeting terakhir ini selesai. Jangan kecewakan saya dengan hasil kali ini, saya sudah membantu kalian dalam membuat proyek kali ini," Ucap Agas ketika tidak ada pertanyaan kembali.
Semua orang mengangguk mengerti, "Meeting selesai, terimakasih."
Agas berjalan keluar ruang meeting dengan lesu, waktu menunjukkan pukul satu lebih. Perutnya terasa perih kala dia lupa untuk mengisinya.
"Maaf pak, biar saya antar bapak pulang," Ucap seorang pria paruh baya.
"Tidak usah, saya bisa pulang sendiri. Terimakasih," Tolak Agas.
Agas dengan cepat berjalan menuju lantai bawah, setelah sampai diparkiran Agas dengan cepat berjalan menuju mobilnya lalu membukanya.
"Hah melelahkan," Gumamnya dengan tubuh yang disandarkan di sandaran kursi mobil.
Mata tajam Agas terpejam guna mencoba menghilangkan rasa penatnya sebentar.
...~o0o~...
Airin terdiam dalam tidurannya, disampingnya terdapat Alga yang tertidur sambil memeluknya sedangkan disofa terdapat Agion yang baru saja tertidur beberapa menit lalu.
"Kira kira si om gimana ya? gue jamin pasti belum makan, tadi aja buru buru berangkat. Apa gue telepon aja ya?" Tanya Airin dalam hatinya.
"Eh bentar bentar," Gumam Airin kala tangannya hendak mengambil handphone nya.
"Kenapa juga gue harus nelepon si om? gak gak, jangan nelepon sekarang pasti si om lagi tidur."
"Eh tapi, kayaknya belum tidur deh," Pikir Airin.
"Aish, bingung pengen nelepon tapi buat apa? gak jelas banget sih gue," Gumam Airin geram.
Airin menutup matanya, baru saja ingin menyelam ke alam mimpi, wajah Agas terlintas dipikirannya membuat Airin melotot kaget.
"Ah, menyebalkan! gue telepon aja lah, bodi amat kalo si om lagi tidur juga."
Agas bangun dari tidurnya saat merasakan handphone nya bergetar, Agas melihat sekitar, ternyata dirinya tertidur di dalam mobil.
"Halo," Sapa Agas dengan suara seraknya.
Airin terdiam, dirinya gugup seketika saat mendengar suara bangun tidur Agas.
"Siapa?" Tanya Agas dengan mata yang masih terpejam.
Airin menghembuskan nafasnya pelan, "Ini Airin om."
__ADS_1
Agas membuka matanya perlahan lalu melihat nama penelepon, dan benar saja tertulis nama Airin disana, "Iya kenapa?"
"Em, Airin ganggu gak om?"
"Nggak, kenapa?"
Agas merubah posisi duduknya, kepalanya dia sandarkan di kaca mobil.
"Om, udah makan?" Tanya Airin ragu.
Agas terdiam sebentar, "Belum, saya baru selesai meeting."
"Hah! om belum makan dari siang? emang perut om gak perih?" Tanya Airin dengan sedikit keras.
Agas memejamkan matanya, "Perut saya perih, jika kamu ingin tahu."
"Eh, syut syut, bobo lagi ya," Terdengar suara lirih Airin.
Agas mengerutkan dahinya dengan mata yang sudah terbuka memperlihatkan tatapan datarnya, "Kamu tidur dengan siapa?"
"Alga om, katanya sih mau jagain Airin tapi malah tertidur dari jam 7 malam," Ucap Airin dengan berbisik-bisik.
Seketika Agas rindu dengan bungsunya, lalu Agas langsung mengalihkan panggilan telepon dengan video call, hal pertama yang dia Lo lihat adalah rambut Airin.
"Saya ingin lihat Alga, arahkan kameranya," Pinta Agas.
Sedangkan Airin bingung, ragu untuk mengarahkan kameranya pada Alga yang tertidur diatas dadanya.
"Kenapa diam, arahkan kameranya pada Alga," Ucapan Agas membuat Airin tersadar.
"Eh, bentar om saya pindahin Alganya dulu," Ucap Airin.
Agas mengerutkan dahinya, memang Alga tidur dimana? bukankah tadi Airin bilang Alga dmtidur disampingnya? kenapa harus dipindahkan lagi?
"Kenapa harus dipindahkan? buruan saya ingin lihat Alga?"
"Tapi om,"
"Cepat!"
Airin menjauhkan kameranya hingga terlihat dirinya dan Alga yang tertidur didadanya sambil memeluknya erat.
Agas menatapnya dengan tatapan datar, sedangkan Aiirn gugup saat melihat tatapan Agas.
Sedetik kemudian panggilan kembali ke mode telepon, Agas masih terdiam.
"K-kenapa om?" Tanya Airin dengan suara kecil.
"Airin," Panggil Agas.
"Iya om."
__ADS_1
Agas memejamkan matanya tangannya memijat dahinya pelan, "Saya tidak suka berbagi."