
Airin duduk dimeja makan dengan menatap Agas bingung, sedari tadi dia menanyakan sesuatu Agas hanya menjawabnya dengan iya, tidak, Hem atau terserah.
"Airin kita duluan ya ke kebunnya, kalian sarapan dulu aja," Ucap Gina yang menghampiri Airin dengan membawa keranjang kecil.
"Iya bun, nanti kita nyusul kesana."
Gina mengangguk lalu berjalan meninggalkan mereka berdua dimeja makan dengan keaadan hening. Airin menghela nafas pelan lalu mengambil piring Agas dan diisinya dengan nasi.
"Om mau makan sama apa?" Tanya Airin.
"Terserah."
"Ayam tepung mau?"
"Iya."
"Kalo sayurnya, mau?"
"Tidak."
"Sambalnya?"
"Iya."
"Mau tempe?"
"Terserah."
Airin menyunggingkan senyumnya dengan terpaksa, lalu memakan makanannya dengan tenang, biarlah jika Agas mendiaminya nanti juga akan kembali seperti semula.
"Udah beres?" Tanya Airin saat melihat Agas selesai makan, Agas hanya mengangguk saja.
"Yaudah, sana siap siap dulu. Airin mau nyuci piring dulu," Ucap Airin yang lagi lagi hanya dijawab anggukan oleh Agas.
Airin mengambil piring kotornya lalu mencucinya di wastafel, sambil bergumam heran, "Dia kenapa sih? perasaan gue gak bikin salah deh."
Tak mau ambil pusing, Airin dengan cepat mencuci piringnya lalu duduk diruang tamu sambil memainkan handphonenya. Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat, Airin menengok ke belakangnya terdapat Agas yang memakai celana pendek hitam dengan kaos hitam dan sandal hitam juga.
"Udah?" Tanya Airin sambil berdiri dari duduknya.
"Hem."
Agas berjalan terlebih dahulu dengan Airin yang mengekornya dibelakang sambil melihat Agas bingung, tak ingin memikirkannya tapi pikirannya tak sinkron dengan keinginannya.
Airin berjalan disamping Agas, "Om kenapa?"
Agas hanya meliriknya sekilas lalu berjalan kembali meninggalkan Airin yang menatapnya cengo, "CK itu om om kenapa sih? heran gue!"
Tak terasa kini mereka sampai dilahan yang luas dengan berbagai pohon yang tumbuh subur, Airin menatap antusias pada pohon stroberi yang berbuah lebat.
"Mommy!" Pekik Alga yang sedang duduk ditengah tengah pohon stoberi.
Airin dengan antusias berjalan mendekati Alga lalu jongkok didepan Alga, "Alga kenapa duduk disini?"
Alga tertawa cengengesan, "Hehe, Alga lagi petik stlobeli mommy. Tapi kan Alga capek halus jongkok, jadi Alga duduk deh."
Airin tertawa pelan, "Pinter anak mommy."
Alga tertawa pelan, lalu menyerahkan keranjang kecilnya kedepan Airin, "Mommy, ini buat daddy."
"Ini kan punya Alga? kenapa Alga mau dikasih ke daddy?"
"Bukan gitu mommy ih!" Ucap Alga kesal.
"Terus gimana hm?"
__ADS_1
Alga menangkup kedua pipi Airin dengan tangan kecilnya, "Mommy, daddy lagi malah sama mommy kan?"
"Nggak, kata siapa?"
"Mommy bohong, Kalo daddy diem aja belalti daddy lagi malah mommy," Alga melepaskan tangan kecilnya yang menangkup pipi Airin, lalu menyerahkan kembali keranjang yang berisi stroberi.
"Nah kalo mommy mau daddy gak malah lagi, kasih makanan yang telbuat dali stlobeli. Telus mommy tanya sama daddy salah mommy apa, pasti daddy bilang." Lanjutnya.
Airin tersenyum manis melihat tingkah Alga yang perhatian, tangannya mengelus rambut lebat Alga gemas, "Perhatian banget sih anak mommy."
Alga tertawa manis sampai sampai terlihat lesung pipinya, Airin mengecup seluruh muka Alga gemas sehingga Alga tertawa keras merasa geli pada wajahnya.
"Alga ayok, katanya mau ambil apel," Ajak Zio.
"Ah iya Alga lupa, hehe maaf Zio. Mommy Alga kesana dulu ya, jangan lupa salan Alga tadi," Ucap Alga sambil beranjak dari duduknya.
Airin mengangguk, "Makasih sayang."
Sedangkan disisi lain Agas duduk digajebo sambil memainkan handphonenya, dia saat ini sedang malas untuk melakukan apapun. Bahkan tadi dia menolak ajakan ayahnya untuk memetik buah kesukaannya.
"Hey."
Agas melirik sebentar kepada Airin yang baru saja duduk disampingnya, lalu melanjutkan kembali kegiatannya. Airin pun hanya tersenyum tipis lalu meletakkan keranjang yang dibawanya dimeja gajebo.
"Om mau pancake?" Tanya Airin.
"Tidak."
"Pancake stroberi?" Tanya Airin lagi.
Agas terdiam sejenak lalu mengangguk, "mau."
"Nanti malam Airin bikinin ya."
"Iya."
"Airin minta maaf."
"Kenapa?" Tanya Agas.
"Ntah, hanya saja sepertinya Airin punya salah sama om?" Tanya Airin bingung.
"Kamu saja tidak tau kesalahan mu apa, buat apa minta maaf."
Airin menghela nafas kasar, lalu menangkup pipi Agas dengan kedua tangannya sambil menatap Agas dengan mata tajamnya, "Airin punya salah?"
Agas terdiam lalu menggeleng, "Nggak."
"Terus kenapa om diam aja? kek orang bisu tau!" Kesal Airin.
Agas langsung melepaskan kedua tangan Airin yang ada dipipinya, lalu memalingkan muka dengan raut wajah kesal tak lupa tangannya yang dilipat didepan dadanya. Airin menghela nafas kasar, ternyata lebih susah membujuk om om dari pada anak kecil.
"Yaudah deh kalo om marah marah gak jelas kayak gini, Airin pulang aja," Ucap Airin sambil berdiri tapi tangannya lebih dulu ditarik kembali oleh Agas.
"Kenapa?" Tanya Airin saat dirinya duduk kembali disamping Agas.
"Jangan pulang," Rengek Agas dengan tangan yang masih menggenggam tangan Airin.
"Nggak mau, Airin mau pulang kalo om marah terus."
Agas terdiam lalu memeluk Airin dengan kepalanya yang disembunyikan dileher Airin, "Gak peka," Gumam Agas.
"Huft," Airin menghela nafas pelan.
"Om mau apa?" Tanya Airin sambil mengusap kepala Agas.
__ADS_1
Agas mengeratkan pelukannya dengan sesekali menghirup aroma tubuh Airin, "Mau gini."
"Lima menit."
"Nggak satu jam," Tawar Agas sambil menggesek gesekan hidungnya dileher Airin.
"CK, sepuluh menit."
"Nggak."
"Lima belas menit."
"Nggak!"
"Hah, dua puluh menit. Gak ada tawar menawar!" Tegas Airin yang diangguki Agas.
Sepuluh menit sudah mereka dengan keadaan seperti ini, hingga Agas memulai pembicaraan, "Airin."
"Hm."
"Jawaban kamu?" Airin terdiam sebentar lalu melanjutkan kembali mengelus rambut wangi Agas.
"Maunya apa?" Tanya Airin.
"Iya, saya mau kamu jawab iya."
Airin mengangguk lalu melepaskan pelukan Agas, tangannya menangkup wajah Agas, senyum manis terukir di wajah cantiknya. Airin mendekatkan bibirnya dengan telinga Agas, "yes I want, I want to be yours, be your only home, Agas I accept you." Bisik Airin.
"Thank you," Bisik Agas lalu memeluk Airin erat, senyum manis terpasang diwajahnya.
"You are welcome,"
Agas melepaskan pelukannya lalu menatap Airin dengan senyum manisnya, tangannya mengelus pipi Airin yang selalu membuatnya gemas.
"Airin."
"Hm," Agas menatapnya dengan mata berbinar.
"Pengen ini lagi," Rengek Agas sambil mencubit kedua pipi Airin gemas, Airin menggeleng tanda tak setuju.
"Nggak, nanti kayak tadi pagi lagi, Airin gak mau," Seketika raut wajah Agas murung, Agas langsung melepaskan tangan yang ada dipipi Airin lalu berbalik membelakangi Airin.
Airin tertawa pelan, "Ngambek?"
"Nggak."
"Cih, kayak bayi ngambek Mulu, sadar om. Situ udah tua."
Agas menatap Airin tajam, kata siapa dirinya sudah tua? umurnya saja masih dua puluhan. Airin tertawa pelan, lalu menunjuk nunjuk pipinya.
"Boleh?" Tanya Agas lirih.
Airin mengangguk sambil tersenyum manis tak tunggu lama Agas mengecup pipi Airin gemas. Ah, dirinya ingin sekali memakan pipi chubby Airin.
"Jangan digigit."
"Nggwak mwau," Ucap Agas tak jelas, Airin memutar bola matanya malas.
"Aws, ih dibilangin jangan gigit!" Pekik Airin saat merasakan gigitan dipipinya, sedangkan Agas terkesan bodo amat.
"Enak kaya bakpao," Lirih Agas disela sela menggigit pipi Airin.
Merasa bosan dengan pipi kiri Airin, Agas beralih mencium pipi kanan Airin. Airin hanya terdiam sambil mengusap usap rambut Agas, hingga suara seseorang membuat Agas menghentikan kegiatannya.
"Astaghfirullah Agas!"
__ADS_1
"Daddy! huaaa jangan makan mommy lagi!"
"Huft, bocil ganggu aja deh ah!" Pekik Agas dalam hati.