
Tit tit.
Terdengar suara mesin EKG di sunyinya ruang rawat VIP ini. terdapat sepasang kekasih yang tertidur dengan nyenyak nya. Sang pria yang tidur dengan keadaan duduk dan wanita yang tertidur dengan nyamannya di hospital bed nya.
"eung."
Terdengar suara lenguhan dari mulut pria tersebut, matanya mengerjap ngerjap dengan sedikit demi sedikit terbuka. Tangannya yang sedang menggenggam tangan mungil itu, perlahan terlepas.
"Morning sayang," Bisiknya pada telinga wanita yang masih berbaring tanpa ada gangguan itu.
Pria tersebut tersenyum miris, tangannya mengelus pipi yang terlihat putih pucat itu. Jari jarinya mengelus dengan lembut seolah menyalurkan rasa yang ada di dalam hatinya.
Cklek.
"Agas."
Agas melihat kearah bundanya yang masuk dengan membawa sebuah paper bag. Agas tersenyum tipis lalu menyalimi tangan bundanya, "Kenapa bunda kesini? kan sudah Agas bilang, istirahat di rumah aja."
Gina mencibik sebal, tubuhnya dia dudukan di sofa ruang rawat ini, "Bunda kangen sama calon mantu. Lagian bunda udah gak papa kok, cuman pingsan aja gak usah bersikap kayak bunda punya penyakit serem aja."
Agas menghela nafas pelan, wajarkan jika seorang anaknya khawatir melihat orang tuanya pingsan di hadapannya begitu saja.Tapi bundanya itu, bukannya senang diperhatikan malah sinis dengannya. Kan aneh!
"Kamu mandi dulu sana, ini bunda bawakan baju gantinya sama makan nya juga."
Agas mengambil Tote bag yang berisi baju ganti serta peralatan mandi lainnya, "Makasih Bun, Kalo gitu Agas titip Airin."
Gina mengangguk lalu berjalan mendekati hospital bed Airin, sedangkan Agas segera masuk kekamar mandi. Gina mengelus rambut Airin lembut, wajah cantik Airin masih terlihat mencolok meskipun dengan bibir pucat serta kulit yang pucat.
"Kamu cantik banget sih nak? pantas saja Azrel memanggil kamu bidadari," Gumam Gina.
Cklek.
"Assalamualaikum," Ucap Dira yang baru saja datang.
Gina menjawab salam lalu tersenyum manis, "Habis dari mana Dir?"
"Aku ngurus suami dulu, kamu dari tadi disini?" Tanya Dira a.k.a bunda Airin. Itu berjalan mendekati Airin yang terbaring lemah.
"Nggak, aku baru aja datang. Sini duduk Dir," Ucap Gina sambil membawa Dira untuk duduk di kursi samping hospital bed.
"Makasih. Ngomong ngomong dimana Agas?"
"Tadi ku suruh mandi, oh iya bagaimana tanggapan polisi?" Tanya Gina setelah ingat jika kasus kecelakaan Airin ada keganjilan apalagi luka diperutnya.
"Polisi belum menemukan nya, tetapi kasus kecelakaan itu sudah dibicarakan baik baik dengan keluarga korban yang lain. Mereka juga tidak ada luka serius," Jelas Dira.
"Syukurlah, kamu tenang saja. Biar Agas yang mengurus kejadian ini," Ucap Gina sambil mengelus pundak Dira mencoba menenangkan.
"Bun, Agas keluar dulu," Ucap Agas yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berganti dengan pakaian formalnya.
"Eh mau kemana? kamu kan belum makan!" Cegah Gina yang melihat Agas sudah merapikan barang barangnya.
"Mau bahas ini Bun, tenang aja nanti Agas makan di sana," Ucap Agas lalu menyalimi tangan Dira dan Gina.
__ADS_1
"Huh, yaudahlah terserah kamu! jangan lupa jemput Alga jam sebelas," Ucap Gina pasrah dengan sifat keras kepalanya Agas.
"Iya," Agas mendekatkan wajahnya dengan wajah Airin lalu mengecup dahi Airin lembut, dia tidak peduli dengan tatapan bunda Gina dan bunda Dira.
Cup.
"Agas titip Airin ya Bun bunda. Assalamualaikum," Ucap Agas lalu berlalu pergi.
"Waalaikumsalam, anak kamu sweet ya," Ucap Dira sambil tersenyum manis. Dia lega putrinya mendapatkan lelaki baik seperti Agas.
"Sama gadisnya aja sweet, sama bundanya mah swoot," Cibik Gina sedangkan Dira tertawa pelan.
...~o0o~...
"Kenapa dia masih hidup? seharusnya kau langsung saja tancapkan ke jantungnya!" Ucap Seorang pria yang duduk di kursi kekuasaannya.
"Kesalahan kecil," Timpal seorang pria yang duduk di sofa dengan gelas berisi wine ditangannya.
"Cih, kesalahan kecil bisa berakibat fatal!" Tegas pria itu yang terlihat lebih tua itu.
Pria yang duduk di sofa itu terkekeh pelan sambil menggoyang goyangkan gelas nya, "Tenang saja. Aku sudah mempunyai ide, aku yakin setelah ini. Pasti dia akan mati."
Pria yang duduk dikursi kekuasaan nya itu mengangguk pelan, "Aku tunggu. Dan bagaimana dengan anak itu?"
"Sudah aku tangani, sebentar lagi. Mungkin kejadian itu akan terulang," Ucapnya dengan senyum miring dibibirnya.
"Kau tunggu saja. Aku akan membuat drama ini terlihat menyedihkan!"
...~o0o~...
"Dasar aparat tidak berguna. Siapa yang berani membohongi ku? huh, awas saja aku tidak akan membantumu jika kelompokmu itu membutuhkan ku!"
Agas sedari tadi terus mendumel kala dirinya merasa terbohongi. "Mereka" bilang jika cctv ditempat kejadian tidak berfungsi. Dan lihat yang Agas temukan?
"Ah sial! beraninya dia!" Agas berteriak kesal, tangannya mengepal kuat.
Agas mengambil telepon kantornya, jari jari tangannya menekan nekan angka, "Halo, cari tahu plat yang akan aku berikan kepadamu. Aku ingin siang ini, ya. Cari sampai keakar akarnya."
Tuk.
Agas menyimpan telepon itu dengan kasar, "Berani sekali dia mengusik gadisku. Cih dasar bajingan kecil."
Brak.
Agas menatap tajam kearah pintu yang baru saja dibuka dengan tak santainya, sedangkan sang pelaku malah tersenyum tanpa dosanya lalu berjalan menuju sofa, lalu duduk dengan tenangnya.
"Dasar setan kecil. Kenapa kau kesini hah! apa kamu bolos lagi?" Tanya Agas dengan tangan yang sudah berada di pinggangnya.
"Aku malas dad. Pengen sama bidadari, tapi malah diusir sama nenek. Menyebalkan!"
Agas mengelus dadanya sabar lalu berjalan mendekati anaknya itu, tubuhnya dia dudukan disampingnya, "Bagaimana dadamu?"
"Udah nggak sakit," Jawabnya cuek.
__ADS_1
Agas mengangguk, tangannya mengelus rambut anaknya itu dengan lembut, "Kenapa bolos lagi? daddy kan sudah pernah bilang jangan membolos lagi."
"Ck, Azrel ngikutin Agion. Salahin aja tuh si Agion," Cibir Azrel.
"Opa Raynald mau kesini," Ucap Agas tiba tiba, Azrel mendongak melihat Agas.
"Apa? kalo gitu, kakak juga ikut?" Tanya Azrel lirih.
"Iya," Azrel menundukkan kepalanya, "Apa Azrel boleh ketemu kakak?"
Agas terdiam sebentar, "Nanti saja ya."
Azrel melihat wajah Agas, "Kenapa?"
"Kenapa daddy selalu larang Azrel buat ketemu kakak?" Tanyanya.
"Kamu kan sudah tau keadaan kakakmu Azrel. Bukankah Daddy sudah pernah bilang," Jelas Agas.
Azrel menunduk lesu, "Berarti, Daddy akan tinggalin Azrel sendiri lagi? daddy selalu saja begitu. Daddy gak pernah pikirin perasaan Azrel, Daddy selalu pikirkan kakak kakak dan kakak! daddy gak tau gimana rasanya terasingkan!"
Agas tergelak, matanya menatap Azrel sendu sedangkan Azrel terkekeh pelan, "Hahaha, daddy gak tau gimana rasanya tinggal sendirian di mansion itu. Sepi dad, Azrel kesepian!"
"Kenapa daddy selalu larang Azrel untuk ketemu kakak! bahkan Azrel dengar suaranya saja cuman sekali dua kali. Daddy egois, daddy selalu saja pilih kasih!"
Agas bangkit dari duduknya, "Apa maksud kamu Azrel! daddy begini itu demi kamu! kamu gak tau gimana jadinya jika kakak kamu lihat kamu!"
"Apa? demi Azrel? daddy tidak salah? bukankah ini untuk kebaikan daddy dan kalian semua? Azrel gak diuntungkan disini! Justru Azrel yang sangat rugi!" Azrel terkekeh pelan lalu berdiri didepan Agas.
"Yasudah terserah daddy. Azrel berbicara panjang lebar pun daddy gak akan ngerti! Ah, Azrel tau. Kenapa kalian bersikap beda sama Azrel," Ucap Azrel sambil berjalan mundur.
"Karena Azrel anak pungut, kan?" Agas terlonjak kaget.
"Apa maksudmu Azrel! Tarik kembali ucapanmu!" Ucap Agas sambil berteriak.
"Kenapa? Azrel benarkan? Azrel tau semuanya dad!" Teriak Azrel dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak Azrel-"
Brak.
Azrel menyimpan sebuah dokumen dimeja depan sofa, "Maaf dad! Azrel kecewa sama daddy, sama Azrel sendiri!"
"Apa ini! Azrel kembali kamu!" Teriak Agas saat Azrel keluar dari ruangannya dengan berlari.
Agas mengambil berkas yang dibawa oleh Azrel, tangannya mengepal dengan geraman emosi yang ditahannya, "Bajingan Sialan!" Teriak Agas.
Brak.
Agas melempar dokumen itu begitu saja, kakinya menendang meja dengan keras. Tangannya mengacak acak rambutnya kesal, tangannya mengambil handphone yang ada disakunya. Terdengar sambungan telepon terhubung.
"Lakukan sekarang. Dia sudah mulai, aku tidak mau ini berlanjut. Tunggu aku sepuluh menit lagi."
"Awas kau bajingan kecil. Kau sudah menghancurkan semuanya," Geram Agas.
__ADS_1