Young Mom

Young Mom
PART 36


__ADS_3

"AAAAAKH," Suara teriakan menggema dilorong tempat sepi, gelap dan juga lembab tersebut.


"Syut, kau ini berisik sekali," Ucap Seorang wanita sambil menjambak rambut pria yang sedang terduduk didepannya.


"Kau tau, aku tidak suka kebisingan. Jadi tutup mulutmu sebelum aku jahit sampai rapat," Tekan wanita tersebut.


Pria yang sedang terduduk tersebut hanya mengangguk sambil menahan ringisan. Ingin rasanya dia berteriak keras saat merasakan nafasnya sedikit demi sedikit tercekat.


"Ah, penurut sekali anjing ini," Ucap wanita ah tidak lebih tepatnya remaja itu sambil tersenyum.


Remaja itu jongkok mensejajarkan dirinya dengan pria didepannya ini, tangannya mencengkram rahang pria itu sambil tersenyum manis, "Kau tau tua Bangka, aku tidak suka penghianat. Dan kau juga tahu akan itu, tapi dengan bodohnya kau mengabaikan ucapan ku."


"Hah, sepertinya ini akan menjadi hari terakhirmu berada di dunia," Ucapnya dengan nada rendah.


"K-kau iblis kecil," Ucap pria tersebut dengan nafas yang memburu.


Senyum manis terukir dibibirnya, lalu tertawa renyah seakaan itu sebuah lelucon, "Hahaha, kau baru menyadarinya? bodoh."


Jleb.


"Aaakh," Pekik pria tersebut saat merasakan benda tumpul menembus jantungnya, matanya melotot kaget dengan mulut yang sudah mengeluarkan darah yang berwarna pekat.


Remaja tersebut terkikik geli melihat pria didepannya, adrenalin nya seakaan terpacu dan puas akan perbuatannya.


"Sayang sekali kau lebih dulu tiada, tadinya aku ingin memanfaatkan mu. Tapi yasudah lah aku akan mencari boneka lagi, yang tenang dineraka ya pak tua hihihi."


"Nona, waktunya sudah tiba," Ucap Seorang pria paruh baya yang baru saja datang.


Remaja tersebut berbalik badan lalu tersenyum manis, "Akh, benarakah?"


"Iya nona, dan tua sudah menunggu anda diruang keluarga."


Remaja itu mengangguk, "Yasudah, kau tolong urusi bangkai itu."


"Baik nona," Ucapnya.


Remaja itu mulai berjalan dengan anggunnya tak lupa senyum manis yang dapat menghipnotis siapa saja yang melihatnya, tetapi siapa yang tau bahwa senyumannya itu telah membunuh puluhan orang.


"Ah, aku tidak sabar bertemu dengan adik kecilku."


...~o0o~...


Drrt drrrt.


"Om ada yang nelepon nih!" Teriak Airin.


"Siapa?" Tanya Agas yang baru saja datang dengan membawa cangkir kopi.


"Gak tau, nomor gak dikenal," Ucap Airin, Agas pun mengambil ponselnya dan berjalan kebalkon apartemen nya, Airin hanya menatapnya sekilas lalu melanjutkan kembali aktivitas memasaknya.


"Halo, bagaimana?" Tanya Agas dengan suara kecil.


"Ada sedikit kemajuan bos, tapi sepertinya dia dilindungi oleh orang lain yang mempunyai kekuasaan tinggi. Data datanya tidak bisa ditembus bos."


"Hm, kau awasi terus pergerakannya dan jangan sampai ketahuan. Nanti akan saya beritahu caranya," Ucap Agas.

__ADS_1


"Baik bos, kalau begitu saya tutup dulu bos."


"Hm."


Tut.


Agas menghembuskan nafasnya panjang, sudah bertahun tahun tapi dia masih belum menemukan titik terang akan masalah ini.


Drrt drrrt.


Getaran handphone nya kembali terdengar, Agas langsung menjawab telepon yang masuk, tertera nama Jehon di layar handphone nya, "Kenapa?"


"Dia masih hidup, tinggal bersama orang yang mungkin berada disekeliling mu. Ah, dan sepertinya kau mempunyai musuh baru."


Agas memijat keningnya pelan, "Apa kau tau siapa yang menyembunyikan nya? dan tentang musuh aku sudah tau."


"Aku tidak tau, tapi sepertinya dia dilindungi oleh orang orang yang memiliki kekuasaan besar seperti kakekmu."


"Oh iya, seperti yang sudah ku bicarakan sebelumnya bahwa akan ada penyerangan disekolah Azrel beberapa hari lagi."


"Hm, itu bisa diatasi olehnya, aku akan melindungi Airin ku dulu."


Terdengar decakan malas disebrang sana, "Cih, menggelikan sekali ucapan mu itu, seperti anak SMA yang baru jatuh cinta."


"Kenyataannya," Ucap Agas dengan santainya.


"Menyebalkan, sudahlah aku tutup teleponnya. dan jangan lupa tiga hari lagi kau ada penobatan, jangan sampai lupa."


"Hm aku tau," Ucap Agas lalu menutup teleponnya.


"Om sini, makanannya udah jadi!" Teriakan Airin terdengar sampai keluar.


Agas berjalan menghampiri Airin lalu duduk dikursi makan sambil menatap masakan Airin yang menggugah selera, dan juga terdapat beberapa makanan kesukaan Agas, "Sepertinya kamu selalu tau apa yang saya suka."


Airin tersenyum sambil menyiapkan makan untuk Agas, "Insting cewek selalu benar."


Agas tertawa pelan, "Malam kita jalan jalan ke Malioboro, mau?"


"Ayok, sudah lama juga Airin gak ke Malioboro."


Seperti ucapan Agas tadi siang, kini mereka berdua berjalan dengan santai disekitar Malioboro. Airin sedari tadi tersenyum senang, dia rindu dengan suasana malam Jogja.


"Om, Airin mau soto Jogja," Ucap Airin saat melihat pedagang soto.


"Ayok, kita beli. Anggap saja ini kencan pertama kita," Ucap Agas tiba tiba sambil menggandeng tangan Airin.


Airin tertawa geli, "Kencan ya?"


Agas melihat kearah Airin, "Iya, kenapa? apa ini terlalu sederhana untuk ukuran kencan pertama?"


Airin tersenyum manis, "Tidak, justru yang sederhana sederhana itu selalu terkenang sepanjang masa."


"Lagian, makan mewah itu biasanya hanya untuk formalitas saja. Benarkan?" Lanjutnya.


Agas mengangguk, sedikit setuju dengan ucapan Airin. Agas pun duduk dikursi panjang dengan Airin disampingnya, tetapi sebelum itu mereka memesan makanan nya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Kamu kedinginan?" Tanya Agas saat melihat Airin menggunakan baju pendek.


"Tidak, angin malam itu menyejukan, Airin suka." Ucap Airin.


"Tapi tidak baik berlama lama terkena angin malam," Ucap Agas sambil melepaskan jaketnya lalu memakaikannya ketubuh Airin, "Saya tidak mau kamu sakit nantinya."


Airin tersenyum manis, "Terimakasih, sepertinya Airin beruntung bisa memiliki om."


"Tidak, saya yang beruntung bisa mendapatkan kamu," Ucap Agas sambil menggenggam tangan Airin.


"Om mau tau sesuatu gak?"


"Apa?"


Airin mendekatkan bibirnya kesamping telinga Agas, menggigit kecil telinga Agas lalu berbisik pelan, "I love you."


Pipi Agas bersemu seketika, Agas menyisir rambutnya dengan jarinya, tangannya bolak balik mengipasi mukanya yang memerah, "Aish kenapa tiba tiba panas."


Airin terkekeh pelan melihat tingkah lucu Agas, "Om."


"Apa?"


"I love you," Ucap Airin sambil tersenyum manis.


Agas bergerak gelisah, pipinya semakin panas hingga ketelinga sedangkan Airin hanya tertawa pelan. Agas menggigit bibirnya gemas dengan tingkah Airin, "Nakal."


"Ih siapa yang nakal, Airin cuman bilang 'I love you' dong," Ucap Airin dengan melembutkan nada pada kata i love you nya.


Agas mengacak acak rambutnya gemas dengan pipinya yang kembali memerah, "Aish gemes banget sih."


Airin tertawa keras, puas sekali rasanya menjahili Agas, "Cie ada yang salting."


"Aish," Geram Agas dengan tangan yang berusaha meraup muka Airin.


Andai saat ini mereka sedang di apartemennya, Agas jamin bahwa sekarang ini pipi Airin akan menjadi santapan makan malamnya.


"Nakal banget sih, hm," Ucap Agas sambil mencubit kedua pipi Airin.


Airin hanya tertawa geli, lalu berucap kembali dengan melembutkan kata i love you nya, "Lemah banget sih om, masa cuman dibilang 'i love you' aja salting."


"Belajar dari mana sih, jadi nakal kayak gini?" Tanya Agas sambil mengacak acak rambut Airin.


"Dari si Azila, hehehe."


Agas berdecak sebal, "Jangan nakal kayak gitu lagi, nanti saya kelepasan makan kamu gimana."


Airin tertawa lalu menatap Agas dengan tatapan menggoda, "Mau makan yang mana?"


"Astaghfirullah nyebut Rin nyebut, ayok tiga kali. Biar saya bimbing," Ucap Agas sambil menggoyang goyangkan bahu Airin.


Airin tertawa terbahak bahak lalu memegang kedua tangan Agas yang berada di bahunya, matanya saling menatap, "Om, i lov-"


Cup.


Mata Airin membola kaget saat bibir Agas mengecup tepat berada pada bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2