
Mobil Agas melaju dimalam hari yang sedang diguyur hujan, setelah tadi bekerja terlebih dahulu dan akhirnya malam ini dia berangkat menuju Villa keluarganya bersama Airin yang duduk anteng disampingnya.
"Apa kamu lapar?" Tanya Agas sambil melihat arlojinya yang menunjukkan jam delapan malam, bahkan waktu makan malam sudah lewat.
"Nggak, dari tadi udah ngemil. Kalo makan lagi nanti gendut," Tolak Airin.
Agas pun melihat kearah Airin, setelah itu membelokkan mobilnya kearah restoran.
"Om mau makan?" Tanya Airin dengan polosnya.
Agas menatap Airin dengan senyum paksanya, "Menurutmu saya kesini ingin apa? buang air besar?"
"Hehehe santai elah om, basa basi doang," Ucap Airin sambil terkekeh.
Agas tak menjawab ucapan Airin, tangannya melepas sabuk pengaman lalu mengambil dompet yang ada di dashboard mobilnya.
"Kamu ingin pesan apa?" Tanya Agas.
"Em, ayam goreng aja deh, tapi gak pake nasi, ayamnya yang banyak, jangan satu. Terus beli teh matcha aja yang ukuran besar," Ucap Airin.
Agas menganggukkan kepalanya, "Yaudah kamu tunggu disini."
Airin mengangguk nurut, sebelum memasuki restoran Agas mengambil selimut serta hoodie nya di bagasi mobilnya, lalu kembali masuk kedalam mobilnya.
"Loh kenapa cepat?" Tanya Airin heran.
"Saya belum masuk, ngambil dulu ini," Ucap Agas sambil memperlihatkan bawaannya.
"Om mau ganti baju?"
Agas menggelengkan kepalanya, lalu melepaskan sabuk pengaman Airin, "Buat kamu, hujannya makin lebat saya takut kamu kedinginan."
Airin tersenyum kecil, "Makasih."
"Heum, sini saya pakaikan."
Agas memakaikan hoodie oversize hijau mintnya ketubuh Airin dengan lembut, lalu menyelimuti kaki Airin dengan selimut yang dibawanya, "Hangat?"
Airin hanya mengangguk lalu memeluk tubuhnya yang terbalut hoodie yang besar untuknya, "yaudah saya kedalam dulu, kamu baik baik disini."
"Iya om, Airin gak akan kemana mana juga."
Agas keluar mobil dengan memakai payungnya, hujan semakin lebat tetapi tidak disertai petir sehingga Airin bisa menghela nafas lega.
"Harum banget sih," Gumam Airin sambil mencium cium hoodie yang dipakainya.
Drrt...drrt
Airin mengambil handphonenya yang bergetar lama tanda ada panggilan masuk kedalam handphonenya.
"Hallo Zil kenapa?" Tanya Airin saat melihat Azila menelepon dirinya.
"Hallo Rin, Lo lagi dimana?" Tanya Azila sambil berbisik.
Airin mengerutkan dahinya heran saat Azila meneleponnya seperti sedang sembunyi sembunyi, "Lagi di jalan kenapa?"
__ADS_1
"Lo bisa jemput gue gak? gue mohon," Ucap Azila sambil berbisik.
"Mana bisa, gue lagi jauh nih di perbatasan kota," Ucap Airin.
Terdengar suara helaan nafas berat disebrang telepon, "Huft, gimana nih? mau pulang gue, tadi juga gue nelpon si Ayla kagak dijawab jawab."
"Emang lo dimana sih Zil? mana suara Lo bisik bisik lagi?" Tanya Airin kepo.
"Gue dirumah si kepsek gila, masa gue gak dibolehin pulang, nyebelin banget kan tuh. Mana gue tadi dijadikan babunya lagi!"
Airin bingung dengan apa yang diucapkan Azila, "Kenapa emang, Lo ngelakuin kesalahan lagi?"
"Mana ada gue anak baik ya," Protes Azila.
"Ya terus apa elah, gak usah banyak bacot," Ucap Airin kesal.
"Aduh panjang Rin ceritanya, itu nanti ajalah gue ceritain. Sekarang gue mau pulang," Rengek Azila.
"Kabur aja Zil, Lo bisa?" Tanya Airin.
"Nggak bisa woy, si kepsek itu punya banyak bodyguard, brabe nanti," Bisik Azila.
"Yaudahlah lo diam aja disana, ntar juga dibalikin," Ucap Airin dengan santainya.
"Tapi-" Belum sempat Azila melanjutkan ucapannya suara Arsen terdengar memanggil menggelegar.
"Azila dimana kamu!" Airin menjauhkan handphonenya saat suara teriakan itu terdengar memekikkan telinga nya.
"Buset dah ketauan gue, huhuhu gimana ini Airin gue gak mau bikin anak," Rengek Azila.
Airin tertawa keras, lucu sekali mendengar Azila merengek-rengek, "Lo kenapa ketawa!" Pekik Azila.
"Lo mah! bukannya khawatir temen lo kenapa napa malah seneng. Ini gue mau di ***** ***** Airin!"
Airin semakin tertawa ngakak, bahkan matanya sampai mengeluarkan cairan beningnya, "Itu sih nasib lo, lagian lo pasti yang goda goda ya kan?"
"Hehe iya sih, tapi si kepsek nya aja yang lemah iman mana ngata nagatain gue jelek lagi, kan jiwa jiwa kecantikan gue membludak marah woy dengernya!"
"Azila!"
"Anjir, kenceng banget itu teriakannya," Ucap Airin sambil mengusap usap telinganya.
Azila meringis pelan lalu melihat kearah pintu yang sudah dibuka Arsen dengan wajah merahnya, "Eh hehe bapak, ngapain pak?"
Airin ingin tertawa rasanya mendengar suara Azila yang gugup, "Tanggungjawab gak!" Suara Arsen terdengar.
"Tanggung jawab apa sih pak! saya gak hamilin bapak ya!"
"Gila," Gumam Airin sambil tertawa keras, andai dia bisa melihatnya langsung.
"Ngaco! tanggungjawab buruan!"
Azila menggeleng ribut, "Gak mau pak!"
"Sini!"
__ADS_1
"Gak mau! huaaa Airin tolongin gue!" Pekik Azila.
Airin semakin tertawa keras, bahkan perutnya terasa keram akibat terlalu lama tertawa, "Hahaha, cie yang mau di unboxing. Hati hati pak sama si Azila soalnya di ganas! selamat ya Zil, semoga gue cepet cepet dapet ponakan!" Teriak Airin dalam teleponnya.
"Airin gila!"
Tut.
Airin tertawa terbahak bahak sambil memegang perutnya yang sakit, "Aduh gila hahaha gak nyangka gue si kepsek gercep juga," Ucapnya sambil menyeka air mata yang mengalir disudut matanya.
Cklek.
"Kamu kenapa?" Tanya Agas heran saat melihat Airin tertawa sendirian.
"Si Azila mau di unboxing," Ucapnya frontal sambil terus tertawa.
Agas menutup pintu mobilnya saat sudah duduk dikursi kemudinya. Dahinya mengerut bingung, kenapa dengan Airin? bukankah harusnya khawatir jika temannya itu di apa apain.
"Kenapa kamu malah tertawa bukannya khawatir?" Tanya Agas.
Airin duduk menyamping menghadap Agas dengan kaki yang dilipat menyila dikursinya, "Santai aja om, lagian gak mungkin si kepsek beneran."
"Kepala sekolah kamu?"
"Iya, kenapa? om kenal?" Tanya Airin sambil membuka makannya.
"Heem, namanya Arsen kan? dia teman smp saya."
Airin mengangguk anggukan kepalanya, "Omong omong kenapa om jarang ngobrol juga kalo ketemu sama si kepsek."
Agas menyodorkan minuman matcha kearah Airin yang diterima Airin dengan senang hati, "Dia gak waras."
"Hah? maksud om?" Tanya Airin bingung.
Agas menggeleng lalu menyeka noda disudut bibir Airin, sedangkan Airin terdiam kaku, "Tidak, lagian saya juga heran. Kenapa dia mau mau aja jadi kepala sekolah yang gajinya sedikit itu, padahal dia punya perusahaan sendiri malahan perusahaan nya hampir sama besar dengan punya saya."
Airin memiringkan kepalanya bingung, "Maksud om? dia juga seorang CEO?"
Agas mengangguk pelan sambil membuka makannya, lalu menyuapi Airin nasi goreng seafood punyanya, "Hm."
"Sejak kapan temanmu itu dekat dengan si Arsen?" Tanya Agas.
"Em, udah lama sih. Kira kira hampir dua tahun," Ucap Airin dengan muka sedikit mendongak berfikir.
"Kamu mau tahu sesuatu?" Tanya Agas sambil sesekali memakan nasinya.
"Apa?"
Agas mendongak menatap Airin, "Temanmu itu tidak bisa lepas dari Arsen."
"Maksudnya?"
"Tidak, saya hanya ingin memberitahu saja." Ucap Agas.
Airin mengambil ayam gorengnya lalu memakannya sambil menatap Agas bingung, "Ngomongnya jangan setengah setengah om, saya kepo nih."
__ADS_1
"Nanti kamu juga akan tahu," Ucap Agas sambil mengusap kepala Airin pelan.
"Termasuk rahasia yang saya takutkan akan membuat kamu jauh dari saya," Lanjut Agas dalam hati.