
Alga tersenyum lebar dia tak sabar untuk bertemu dengan opanya, terdengar suara panggilan keberangkatan pesawat menuju Amerika. Alga beserta Zio, Deren dan Rion berjalan menuju tempat keberangkatan.
"Lalala Alga gak sabal mau ketemu opa," Ucap Alga riang.
"Em, Alga," Panggil Deren.
"Kenapa?"
"Kita jalan jalan emang orang tua kita gak nyari? terus nanti kalo mamanya Deren nyari gimana?" Tanya Deren.
"Tenang aja Delen, nanti Alga telepon mama Delen," Ucap Alga sambil merangkul bahu Deren, Deren pun hanya mengangguk mengiyakan.
"Udah ayok jalan, nanti ketinggalan pesawat," Ajak Zio.
Mereka bertiga pun mengangguk lalu berjalan kembali, sedari tadi mereka berjalan banyak yang melihatnya dengan tatapan bingung. Bagaimana tidak, anak TK naik pesawat tanpa didampingi oleh orang tuanya.
"Pak penjaga, nanti jangan kasih tau daddy Alga ya, awas loh kalau dikasih tau, Alga tembak lagi nanti," Ucap Alga pada lelaki paruh baya yang ntah kapan sudah menjadi partner nya jika dia ingin menaiki pesawat sendirian.
"Baik tuan muda," Ucapnya, Alga pun berterima kasih sambil tersenyum.
Mereka pun menaiki pesawat dengan santai hingga suara teriakan yang menggema di lantai dua mengalihkan pandangan Alga, "Tuan muda!"
"OMG ada paman botak!" Pekik Alga ketika melihat bodyguard daddynya mengetahuinya.
"Dadah paman botak! Alga pelgi dulu! jangan kasih tau daddy ya!" Teriak Alga, sedetik kemudian pintu pesawat tertutup.
Sedangkan bodyguard tersebut berlari kearahnya bersama beberapa bodyguard lain. Alga tertawa keras melihat para bodyguard daddynya yang berlarian mengejar pesawat yang ditumpanginya.
"Hahaha, dadah Om!"
Semua pramugari yang melihat tingkah Alga pun hanya menggelengkan kepalanya sudah biasa melihat drama seperti ini, "Tante cantik, antelin Alga sama temen temen Alga keluang VIP dong."
"Baik, mari tuan muda," Ucap salah satu pramugari sambil mempersilahkan jalan untuk Alga.
Disisi lain Airin duduk dengan santai di apartemen Agas, hingga suara deringan telepon mengalihkan perhatian nya dari televisi yang ditontonnya.
"Ponselnya si om? tumben gak bawa ponsel," Gumam Airin kala melihat ponsel Agas yang berdering.
Airin pun mengambil ponsel Agas lalu melihat nama penelepon, "Paman Jack? kenapa nelepon?" Gumam Airin.
"Halo kenapa paman?" Tanya Airin setelah menjawab telepon itu.
"Halo non, tuan Agasnya ada?" Tanyanya.
"Gak ada paman. Om Agasnya lagi meeting, ini ponselnya ketinggalan di apartemen," Ucap Airin.
"Oh yasudah non, bisa tolong beritahu nanti sama tuan kalo saya nelepon."
"Oke paman, nanti Airin bilangin."
"Yasudah non, saya tutup dulu."
"Iya paman."
Tut.
Sambungan telepon terputus, Airin menyimpan handphone Agas kembali dimeja samping sofa.
__ADS_1
"Eh iya gue belum nanya keadaan si Azila, buset dah lupa gue. kira kira lancar gak ya?" Gumam Airin sambil terkekeh mengingat kejadian dimana Azila meneleponnya dengan heboh.
"Gue video call aja kali ya."
Airin pun segera menghubungi nomor Azila, meski harus menunggu lama akhirnya panggilan tersambung dengan muka Azila yang terlihat bangun tidur.
"Ngapa sih lo? gue lagi enak enakan tidur juga," Tanya Azila kesal.
Airin tertawa ngakak melihat keadaan muka Azila sekarang, dengan rambut yang acak acakan, muka yang kusut dan mata yang terlihat sedikit menutup, "Uh, nyonya besar baru bangun tidur. Enak ya tidur dikamar orang."
"CK, gak usah goda goda lo. Gue udah bangun ya, cuman tadi subuh gue tidur lagi hehe,"
Airin mencibir lalu menyandarkan ponselnya dimeja depan sofa, "Gimana Zil, gol gak?" Tanya Airin dengan tawa renyahnya.
Terlihat Azila yang sedang berjalan memasuki kamar mandi, "Gol Rin, kerasa sampe keubun ubun!"
"Wah, jago juga sikepsek. Jaga baik baik ya Zil, lumayan loh bibit unggul hahaha."
"Sialan bener mulut lo Rin, andai gue disana mungkin gue udah cakar cakar wajah ngeselin lo itu," Ucap Azila sambil mengelap mukanya dengan handuk kecil, lalu berjalan kembali menuju kasur sambil membawa cemilan yang berada dimeja pojok.
"Lo kenapa gak sekolah Zil?" Tanya Airin.
"Males gue disekolah ada si Jojo," Ucap Azila sambil sesekali memakan cemilannya.
"Lah si Jojo pindah? kapan?"
"Baru tadi, gue tau dari si Ayla."
Airin merebahkan kepalanya dimeja, "Kasihan gue sama si Ayla."
"Kasian kenapa?"
"Lah iya lupa gue, kesiksa gak tuh si Ayla. Kasian gue mana suka dari kecil lagi, hebat banget dah si Ayla gak pernah berpaling."
"Gimana gak berpaling, orang cinta pertamanya. Susah banget tuh dilupainnya,"
"Eh ngomong-ngomong lo lagi dimana Rin?" Tanya Azila.
"Di Jogja, nemenin si om kerja sekalin juga sih gue pengen jalan jalan tapi nunggu si om pulang."
"Oleh oleh Rin jangan lupa, yang banyak loh. Ntar gue kasih list nya sama lo," Ujar Azila dengan santainya.
"Gak ada akhlak! lo kira gue penitipan!"
Azila menatap Airin malas, "Yaelah sekali kali."
"Gak mau gue, malas banget."
Tit tit tit.
Terdengar suara seseorang menekan password pintu, Airin melirik kearah pintu masuk dan benar saja Agas masuk dengan keadaan yang acak acakan, muka kusut, jas yang sudah dilepas, rambut acak acakan serta dasi yang sudah menggantung tak benar.
"Lesu banget," Ucap Airin.
Agas menghampiri Airin lalu duduk disampingnya sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Airin, "Video call sama siapa?"
"Azila tuh," Jawab Airin sambil mengarahkan kameranya ke Agas.
__ADS_1
"Hai om," Sapa Azila.
"Halo," Sapa balik Agas.
"Udahan aja video callnya Rin, Urus dulu noh calsu lo," Ucap Azila.
Airin pun menghela nafas pelan, padahal dia masih ingin ngobrol ngobrol bersama sahabatnya itu, "Yaudah deh dah."
"Dadah."
Tut.
Airin menyimpan ponselnya lalu melihat kearah Agas yang sedang memejamkan matanya, "Om mau minum apa?"
"Teh aja, sekalian sama cemilannya," Jawab Agas.
"Yaudah, om mandi dulu sana nanti Airin bikinin."
Agas mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya, Airin beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju dapur dan mulai membuatkan Agas teh beserta menyiapkan cemilan.
"Kemana si om?" Tanya Airin setelah sampai dikamar.
Airin berjalan menuju balkon kamar yang pintunya terbuka, dan benar saja disana ada Agas yang duduk sambil memejamkan matanya. Airin duduk disampingnya sambil meletakkan nampan yang dibawanya diatas meja.
"Cepat banget mandinya," Ucap Airin.
Agas membuka matanya lalu melihat kearah Airin, "Buat apa lama lama, nanti masuk angin."
"Apa ada masalah dikantor?" Tanya Airin sambil menyerahkan secangkir teh manis kepada Agas.
"Sedikit. Makasih," Ucap Agas lalu meminum teh manis yang diberikan Airin, Airin hanya tersenyum.
"Tadi Paman Jack nelepon."
Agas meletakkan cangkir teh dimeja, "Kenapa? apa Alga buat masalah?"
"Gak tau, tapi paman Jack cuman bilangin ke om kalo paman tadi nelepon."
"Yaudah nanti saya telepon lagi," Ucap Agas lalu memeluk Airin dari samping, "Airin."
"Hm."
"Maaf jika kedepannya saya akan posesif sama kamu, bahkan mungkin over."
"Bukannya dari dulu juga posesif?" Tanya Airin.
"Nanti akan beda," Lirih Agas.
"Beda apanya?" Tanya Airin tak mengerti, Agas menggelengkan kepalanya.
"Tidak."
"Airin," Panggil Agas sambil menatap Airin.
Airin kembali menatap Agas lembut, "Kenapa?"
"Saya minta maaf jika nanti saya tidak bisa menjaga kamu, maafkan saya jika nanti kamu memiliki banyak masalah, maafkan saya jika nanti kamu akan selalu dalam bahaya," Agas menempelkan keningnya dengan kening Airin, tangannya mengelus pipi Airin lembut dengan mata yang menatap mata Airin intens.
__ADS_1
"Jika sesuatu terjadi nanti, saya mohon sama kamu. Jangan mencoba untuk meninggalkan saya," Bisik Agas.