Young Mom

Young Mom
PART 52


__ADS_3

Azrel berbaring di lapangan dengan rumput yang halus, matanya terpejam menikmati angin yang berhembus lembut. Nafasnya terdengar teratur, sesekali helaan nafas terdengar lirih.


"Azrel kangen bidadari. Kapan bidadari bangun, I need you," Gumam Azrel.


Azrel membuka matanya dengan pelan, seketika ingatannya kembali pada kejadian dimana dia sedang merindukan kedua orangtuanya. Dan di sini, Airin membuatnya terobati dengan rasa rindu yang membuncah.


"Siapa sebenarnya orang tua kandung Azrel? Apa benar Azrel anak pungut? ini membingungkan."


"Tuan muda," Panggil seorang pria paruh baya yang berjalan tergopoh-gopoh.


"Kenapa? bukankah sudah ku bilang, jangan menggangguku dulu," Ucap Azrel tanpa melirik pria yang berdiri tak jauh di sampingnya.


"Itu tuan, ini penting."


"Apa?" Tanya Azrel tak semangat.


"Nyonya Airin tuan," Azrel melihat kearahnya, tubuhnya segera ia dudukan.


"Kenapa? ada apa dengan bidadari Azrel? Jawab!" Tanya Azrel tak sabar.


"Maaf tuan muda. Tapi, sepertinya anda harus segera ke rumah sakit sekarang."


Azrel segara berdiri lalu berlari tanpa menghiraukan teriakan pria paruh baya itu. Kakinya berlari dengan cepat, Azrel segera menghidupkan motor nya lalu melaju dengan kecepatan penuh.


"Azrel mohon. Jangan ada kabar buruk lagi."


...~o0o~...


Agas berlari di lorong rumah sakit tanpa menghiraukan tatapan mata yang menatapnya aneh. Baju yang sudah tak serapih tadi, buku buku jari yang terlihat berdarah serta rambut acak acakan.


"Bun, ada apa? kenapa bisa begini?" Tanya Agas yang baru saja sampai didepan pintu ruang rawat Airin.


"Maafkan Bunda Agas, bunda lupa akan amanat kamu," Ucap Gina lirih.


"Tidak Gina. Jangan salahkan dirimu, ini juga salahku yang lalai menjaga putriku," Dira memeluk Gina yang terlihat lemas, sama seperti dirinya yang khawatir dengan keadaan Airin di dalam.


Agas mengacak acak rambutnya frustasi, lalu duduk di kursi tunggu. Tatapannya melihat ke arah Azrel yang sama sekali tidak meliriknya, helaan nafas lelah terdengar keluar dalam mulut Agas.


Tap tap tap.


Suara langkah kaki yang terburu buru datang menuju mereka, Agas melirik ke arah suara itu. Terlihat ayahnya dan ayah Airin yang berjalan ke arah mereka.


Bugh.


Agas terlempar begitu saja setelah mendapatkan tonjokan di bagian rahangnya, "Ayah sudah bilang padamu berapa kali Agas. Jangan lalai! kenapa kau sulit sekali di beritahu!"


"Damian sudah," Gina menarik Damian yang akan menonjok Agas kembali.


"Sudah Damian, jaga emosimu. Ini bukan sepenuhnya salah Agas," Ucap Raymond sambil membantu Agas berdiri.

__ADS_1


"Maaf Ayah," Cicit Agas.


Raymond tersenyum tipis, "Tidak apa apa. Ini bukan salahmu. Jangan menyalahkan diri sendiri."


Azrel duduk menunduk, sebenarnya dia tak tega melihat keadaan Agas yang terlihat kacau. Apalagi melihat tangan Agas yang terlihat ada darah yang sudah mengering.


Cklek.


Seorang dokter keluar di ruangan Airin, mereka dengan segera menghampiri dokter tersebut, "Bagaimana keadaan anak saya dok?"


"Alhamdulillah, putri ibu tidak apa apa. Meskipun sempat henti jantung tapi sekarang jantungnya berdetak dengan normal kembali."


"Sebenarnya, apa yang terjadi tadi dok?" Tanya Raymond.


"Sepertinya ada yang memberikannya cairan yang bisa memperlambat detak jantung atau bisa juga menghalangi saluran pernafasan yang ada di kerongkongan nya."


"Boleh kita lihat dok?" Tanya Dira tak sabar.


"Boleh. Kalau begitu saya permisi."


Agas masih saja duduk di kursinya saat kedua orangtua itu memasuki ruang rawat Airin. Agas menghela nafas lega, kepalanya ia sandarkan di tembok dengan mata yang tertutup.


Agas membuka matanya saat merasakan sesuatu yang dingin menempel di kulit tangannya, tatapannya melihat kearah samping dimana Azrel yang sedang membersihkan lukanya yang ada di buku buku jarinya.


"Tidak usah Azrel, daddy tidak apa apa," Ucap Agas sambil menarik tangannya tetapi terlebih dahulu pergerakannya dikunci oleh Azrel.


Azrel dengan telaten mengobati punggung tangan Agas, meskipun dia sedikit kecewa terhadap daddynya itu. Tapi tetap saja, Azrel tidak bisa melihat daddynya terluka meski luka sekecil apapun.


Azrel terdiam, lalu kembali lagi membalut luka Agas. Agas menghembuskan nafasnya pelan, "Maafkan daddy Azrel. Daddy tau daddy salah."


"Bisakah kamu mendengarkan alasan daddy?"


Azrel terlihat terdiam lalu membereskan peralatan tadi yang sempat dia pinjam ke salah satu suster yang melewatinya.


Agas tersenyum tipis, "Jangan terlalu lama marah pada daddy Azrel. Daddy tidak bisa melihatmu terdiam seperti ini."


Azrel hanya terdiam, matanya menatap kearah Agas yang baru saja masuk kedalam ruangan Airin, "Maafkan Azrel dad."


...~o0o~...


"Sebenarnya apa yang terjadi Dira?" Tanya Raymond.


Kini mereka berlima duduk di sofa ruang rawat Airin, "Tadi, kami sempat meninggalkan Airin sendiri. Aku pergi ke ruangan dokter sedangkan Gina pergi ke kantin."


"Tapi anehnya, dokter yang menangani Airin tidak merasa memanggilku. Terus selepas aku kembali ke ruangan Airin, detak jantungnya sudah melemah," Jelas Dira sambil menundukan kepalanya merasa bersalah.


"Maaf kita gagal menjaganya," Cicit Dira dengan air mata yang perlahan mengalir dari pelupuk matanya. Dia takut dengan kejadian tadi.


Raymond menarik istrinya itu kepelukannya, tangannya mengelus kepala Dira lembut, "Apa sempat ada yang masuk ke ruangan ini?"

__ADS_1


"Aku tidak tau," Lirih Dira.


Agas menunduk, tangannya menggenggam tangan Airin. Tubuhnya berdiri seketika mengingat sesuatu, "Aku pergi dulu."


"Mau kemana lagi kamu Agas?" Tanya Damian dengan suara tegasnya.


"Aku. Aku harus membereskan ini Ayah, aku permisi," Ucap Agas lalu berlari keluar ruangan, tujuannya saat ini yaitu markasnya.


Agas berlari sambil mengotak atik handphone nya, lalu terdengar nada sambung di sana, "Halo, aku membutuhkan kalian. Kali ini aku benar benar, kita lakukan rencanamu."


Bertepatan dengan keluarnya Agas, Agion serta Alga dan Azrel masuk keruang rawat Airin. Tak lupa dengan Alga yang menangis tersedu sedu.


"Nenek!" Alga berlari kearah Gina lalu memeluknya erat.


"Hiks nenek mommy kenapa?" Tanya Alga dengan muka yang memerah.


Gina mengusap kedua pipi Alga pelan, "Mommy Alga lagi sakit sayang. Tapi, sebentar lagi juga sembuh kok. Alga jangan nangis ya, nanti demam sayang."


Alga mengangguk, "Nenek Alga mau tidul sama mommy."


"Nanti ya, Mommy nya kan lagi sakit, gak boleh diganggu," Mata Alga kembali berkaca kaca.


Dira mengangkat Alga yang berada di pangkuan Gina, "Gak papa Gin. Kasian dia mau nangis lagi nih."


Alga melihat ke arah Dira dengan muka memerah nya, "Hiks kamu siapa?"


"Aku nenek kamu juga sayang. Nenek itu bundanya mommy kamu," Alga mengangguk lalu menunjuk ke arah Airin.


"Alga mau tidul sama mommy," Pinta Alga.


Dira mengangguk lalu berjalan kearah hospital bed Airin, dengan perlahan Dira membaringkan Alga di samping Airin, "Jangan banyak gerak ya. Nanti mommy nya ke ganggu."


"Iya nenek," Ucap Alga pelan.


"Kita pergi dulu, aku akan mengecek cctv sebentar," Pamit Raymond dan Damian.


"Aku ikut kek," Ucap Azrel sambil berdiri dari duduknya.


"Agion juga."


"Hm, ayok."


Mereka berempat keluar dari ruangan Airin tanpa suara, kini keadaan hening dengan Gina yang duduk sambil memejamkan matanya. Dira yang sedang menghubungi kedua sahabat Airin dan Alga yang fokus menatap wajah damai Airin.


Alga mengusap pipi Airin pelan, Lalu berbisik pelan, "Mommy sakit apa? kok gak bangun bangun? mommy. Alga kangen mommy, mommy cepet sembuh ya, biar bisa main sama Alga lagi."


Alga mengusap punggung tangan Airin yang sedang di infus, "Ini pasti sakit, kasian mommy," Gumam Alga.


"Mommy. hoam Alga ngantuk," Alga menyamankan tidurnya dengan memeluk Airin, "Mommy. Kalau mommy gak bangun bangun, datang aja ke mimpi Alga," Bisiknya.

__ADS_1


Cup.


Alga mengecup pipi Airin lembut tak lupa senyum manis yang terukir di wajahnya, "Cepet sembuh mommy, kita lindu mommy," Bisiknya.


__ADS_2