
"Diminum kak," Ucap Airin setelah menyimpan minuman dimeja tamu.
Nadia menumpangkan kakinya, dengan tubuh yang duduk tegap, tatapan yang menyelidik, serta tangan yang menompang dagunya.
Airin duduk dengan gugup karena tatapan yang diberikan Nadia, "Kapan Lo nikah? kok gak ngundang gue? sejak kapan lo punya anak? perasaan setahun yang lalu perut lo masih rata? atau lo nyulik anak? anak siapa yang lo culik? mana tiga lagi? ck ck ck gak nyangka gue, Airin yang 'pendiam' udah punya buntut tiga."
Airin dibuat bingung kala mendengar ucapan Nadia yang tiada hentinya, "Pertama, gue belum nikah! pacaran aja gak pernah. Kedua, gue belum punya anak, bikin aja gak pernah! ketiga, itu bukan anak kandung gue."
Nadia mengangguk anggukan kepalanya, sebelum berbicara dia meminum segelas teh didepannya dengan tenang, "Oh, gue kira lo pernah hamil."
"Lah nikah aja belom, hamil dari mananya!" Sanggah Airin.
Nadia menatap Airin heran, "Terus itu anak siapa dong? gak mungkin kan itu anak tiba tiba datang sama lo."
"Adeknya adek kelas gue, dan dia manggil gue mommy," Jelas Airin singkat.
"Terus kalo dia manggil Lo mommy, mommy aslinya kemana?" Tanya Nadia penasaran.
"Lah mana saya tau, yang saya tau bapaknya duda."
Nadia menyerngit heran, "Duda? Duren Mateng maksud lo?"
"Atau, duda tuwir? sugar duda? atau jangan jangan durik, duda burik, hahaha," Lanjutnya sambil tertawa ngakak dengan ucapannya sendiri.
Airin menatap Nadia datar, sudah biasa dengan tingkah gila Nadia. Meskipun usia yang sudah dewasa tak ayal dia terlihat seperti seorang remaja.
"Stop halu, daddy nya biasa biasa aja, jangan terlalu berkhayal terlalu tinggi," Sanggah Airin.
"Hahaha, eh tapi gue penasaran deh. Kalo anaknya gemoi gitu pasti daddynya tampan," Ucap Nadia dengan senyum centilnya.
Airin tersenyum paksa, lalu menatap Nadia kesal, "Inget mbak, udah punya laki, lo udah punya buntut satu. Jangan centil deh ntar gue bilangin sama bang Riyan mampus lo."
"Ah elah aduan lo."
Airin memutar bola matanya malas, lalu beranjak dari duduknya, "Udahlah, gue mau kedapur dulu liat kancil kancil."
"Durhaka, anak gemoi gitu dibilang kancil," Ucap Nadia.
Sedangkan didapur keadaan kacau dengan baju ketiga kancil yang belum diganti, bumbu rujak yang berserakan dimeja makan, dan kulit buah mangga yang berserakan dibawah meja makan.
Airin melongo melihatnya, sekali lagi. Hanya bisa mengusap dadanya, sabar!
"Lion ih, itu punya Alga jangan diambil!" Pekik Alga saat mangga yang sudah dikupas Agion diambilnya.
"Rion cuma minta dikit Alga, jangan pelit nanti kuburannya sempit," Ucap Rion sambil menggoyang goyangkan telunjuk jarinya.
Alga merenggut cemberut, "Yaudah itu buat Lion aja."
Rion tersenyum manis, "Makasih Alga."
Berbeda dengan Zio yang anteng memakan buah rambutan dan Derren yang diam memakan rujaknya.
Airin berjalan mendekati mereka, lalu berdehem keras, "Ekhm."
__ADS_1
Keempat bocah itu melihat kearah Airin dengan ekspresi yang berbeda beda. Airin bisa melihat wajah cemong mereka, apalagi Alga yang tangan serta sekitar mulutnya penuh dengan bumbu rujak.
"Enak ya makan rujak?" Tanya Airin dengan senyum manisnya.
Empat bocah itu mengangguk, "Enak mommy, mommy mau," Ucap Alga.
"Nggak!"
Airin menghela nafas pelan dengan mata terpejam mencoba mengubur rasa kesalnya, "Udah beres makan rujaknya?"
"Udah mommy,"
"Udah aunty,"
Ucap mereka serentak. Airin mengangguk, "Yaudah, Derren kamu tunggu di ruang tamu sama bunda kamu, dan tiga kancil mari kita mandi."
Derren mengangguk lalu berlari menuju ruang tamu, Airin pun melihat ketiga kancil dkk a.k.a dekil, kucel, kulehe.
"Gak mau!" Airin tersentak kaget saat mendengar teriak ketiga kancilnya.
"Kenapa?" Tanya Airin bingung.
"Pokoknya gak mau!" Teriak ketiganya lalu berlari kearah taman belakang.
"Sabar Airin, orang sabar senyumnya lebar," Gumam Airin lalu segera berlari kearah taman belakang tetapi baru saja sampai teras belakang Agion meneriakinya.
"Kak Agion mau main dulu," Teriak Agion dari ujung tangga.
"Iya jangan pulang malem,"
Airin berjalan mengelilingi taman belakang rumahnya, dia tak melihat ketiga kancil itu. Setiap sudut Airin cari dengan teliti, bahkan bawah pot pun dia cari.
"Aish kemana sih tuh kancil," Gumam Airin frustasi.
Airin berjongkok menghadap kolam renang, dagunya dia tumpukan di lipatan tangannya, "Masa iya mereka tenggelam dikolam, eh tapi gak mungkin, kalo tenggelam dikolam kan keliatan, wong kolamnya aja jernih."
"Lagi ngapain?"
"Kya!"
Byur.
Agas kaget saat Airin terjatuh kekolam renang, bukannya menolong, Agas malah berdiri dengan santai. Terlihat Airin sudah naik keatas permukaan air, tatapan tajam terlihat dari matanya.
"Om!" Teriak Airin dengan muka memerah.
"Kenapa? saya tidak salah apa apa," Ucap Agas kala melihat tatapan Airin seolah menyalahkan dirinya.
"Setan!" Pekik Airin dalam hati.
Airin segera naik keatas, seluruh tubuhnya basah kuyup, Airin memukul mukul telinganya saat merasa ada air yang masuk ke telinganya.
"om kenapa sih datang datang bikin kaget orang!"
__ADS_1
"Saya hanya bertanya, salah?"
Airin memasang muka datar saat melihat wajah tak bersalah Agas, "Om gak sopan, main masuk kerumah orang aja."
"Saya sudah panggil kamu, tapi ya kamu aja yang tidak mendengar."
"Maksud om, saya tuli gitu?" Tanya Airin dengan sensi.
"Bukan saya yang ngomong, tapi kamu," Ucap Agas lalu mencolek hidung Airin.
Airin bergidik ngeri, lalu menatap Agas was was, "Om kok jadi genit gini? jangan jangan om kerasukan penunggu lampu merah lagi!"
Bukannya menjawab Agas malah melepaskan jaket yang dipakainya lalu memakaikannya ketubuh Airin, Airin memundurkan wajahnya saat wajah Agas mendekat, "O-om ngapain sih!"
Sret, Agas meresleting jaketnya yang dipakai ditubuh Airin lalu menumpukan dagunya dibahu Airin, "Tubuhmu terlihat jelas, ternyata bodymu bagus, saya kira seperti karung beras," Bisik Agas.
Airin melotot dibuatnya lalu mendorong tubuh Agas, tangannya dengan cepat menutup dadanya. Sedangkan Agas hanya tersenyum miring, Wajah kesal Airin terlihat lucu menurutnya.
"Sialan, om setan!"
...~o0o~...
Saat ini Airin sudah berganti pakaian, Airin menuruni tangga dengan pikiran yang bertanya tanya.
"Gue lupa sesuatu gak sih?" Tanya Airin.
Airin berjalan kearah ruang tamu, ternyata sudah tidak ada Nadia, mungkin sudah pulang kerumahnya lalu Airin terus berjalan sampai dapur, saat melihat keadaan dapur Airin melotot kaget.
"Gila! Tiga kancil kemana woy! lupa gue!" Pekik Airin.
Agas menghampiri Airin dengan raut bingung, "Kenapa?"
Airin manatap Agas dengan muka khawatir, lalu dengan cepat menarik tangan Agas menuju taman belakang.
"Om, bantu Airin cari tiga kancil buruan," Titah Airin.
"Tiga kancil? siapa?" Tanya Agas bingung.
Airin menghela nafas pelan, "Anak om lah, buruan!"
"Emang mereka kemana?" Tanya Agas heran.
Airin menatap Agas geram, "Lah om kalo saya tau, saya gak akan nyari, setanlah!"
Agas menatap Airin tak percaya, "Kamu mengumpat?"
"Nggak om, saya gak ngumpat tapi monolog," Ucap Airin dengan santai tanpa mempedulikan tatapan tajam Agas.
Airin berjalan menuju pohon apel yang berada didekat gajebo, dengan Agas yang mengikuti nya dibelakang, Airin heran melihat bekas apel yang dimakan berserakan dibawah.
Dengan curiga Airin menatap keatas pohon, matanya melotot melihat ketiga kancil yang duduk anteng didahan pohon sambil memakan apel.
"Astaghfirullah bocah!"
__ADS_1
Alga menyengir lebar lalu melambai lambaikan tangannya pada Airin, "Hehe, hai mommy."