
Setelah mengantarkan Airin pulang Agas duduk diruang kerja Agas beserta Ayah, Abang serta kakak nya. Pembicaraan serius itu tidak ada yang tahu kecuali bundanya Agas.
"Jangan sekarang yah, Agas belum siap," Tolak Agas.
"Terus selain kamu siapa lagi? Laila? kakak mu sudah memegang punya ayah, abangmu meneruskan almarhum Abang mu, dan tinggal kamu sendiri. Ambil alihlah punya kakek," Ucap Damian.
"Tapi yah, bang Roki kan ada. Kenapa harus Agas? Agas gak mau seperti tahun lalu," Ucap Agas dengan nada khawatir.
"Ayah yakin itu tidak akan terjadi," Ucap Damian tenang.
"Ayah selalu bilang begitu tapi nyatanya?" Tanya Agas.
Damian menghela nafas lalu melirik Deon, Deon pun mengangguk, "Agas, coba pikirkan kakek sudah tua, dia semakin kesulitan memegang nya karena tubuhnya yang semakin rentan, kau juga sekarang sudah mempunyai calon. Bukankah kau harus melindunginya?"
Agas terdiam sebentar, "Agas bisa melindungi Airin sendirian tanpa mengambil alih itu."
"Masalahnya, kau tidak tau bagaimana rumor rumor dunia bawah sekarang," Timpal Laila dengan santainya.
Agas mengacak acak rambutnya kesal, "Tapi kak."
"Sudah Agas, pikirkan ini baik baik. Ayah kasih waktu dua hari," Final Damian.
Agas mengendus kesal, pikirannya dipenuhi segala kemungkinan kemungkinan. Sulit untuk masuk kembali kedunia bawah saat ini, apalagi setelah kejadia hari itu.
Airin sedari tadi berguling guling dikasurnya, sulit rasanya untuk tidur setelah kejadian tadi dan akhirnya sampai hampir tengah malam matanya masih tetap terjaga.
"Aish, tutup dong mata!" Pekik Airin kesal.
Kakinya menendang nendang keatas, meskipun besok libur sekolah, dia tidak mau ada lingkaran hitam dimatanya.
Drrt...Drrt..
Deringan nada ponsel terdengar nyaring, dengan sigap Airin mengambil handphone nya. Dahinya mengernyit saat mendapatkan nomor ponsel tak dikenal dan sepertinya bukan nomor dari Indonesia.
"Siapa?" Gumam Airin.
Tak mau mati penasaran, Airin segera mengangkat teleponnya, "Hallo."
"Hallo sayang!" Suara pekikan kencang terdengar pertama kali oleh Airin.
Airin mengerutkan dahinya bingung, "Siapa?"
"Masa lo gak kenal sama gue sih babe," Ucapan disana terdengar sedih.
"Siapa sih! yang bener dong!" Pekik Airin kesal.
"Aelah santai babe, gue baru pergi 6 bulan loh babe, masa lo lupa sama orang tampan kayak gue, sedih gue babe, orang setampan gue terlupakan sama lo."
Airin mengendus kasar, "To the poin deh lo, banyak bacot banget sih!"
"Astaghfirullah babe, santai. Perkenalkan babe nama saya Joshua Kedren Emilio, orang tertampan se republik dunia."
Airin melotot kaget, lalu seketika berteriak kencang, "OMG, Jojo! anaknya pak Kanan! ya ampun Lo kemana aja setan!"
Terdengar kekehan diseberang telepon, "Santai babe elah, gue tau gue itu orangnya ngangenin tapi jangan teriak teriak gitu buset, pengang kuping gue."
Airin tertawa singkat, "Lagian lo sih, tiba tiba hilang tiba tiba datang juga. Mau lo apa sih? bikin khawatir aja lo, mana keluarga lo semuanya kagak ada lagi."
"Cie babe gue khawatir ya," Ucap Joshua sambil tertawa jenaka.
__ADS_1
"Ternyata kepedean lo masih ada ditingkat dewa ya Jo."
"Orang tampan kayak gue memang diharuskan punya kepercayaan yang tinggi bebe."
"Ngomong ngomong babe gimana keadaan lo? semakin burik kah?" Tanya Joshua dengan entengnya.
"Mulut lo lemes banget ya Jo. Lo gak tau aja dari dulu sampai sekarang gue glowing, badan gue kek gitar Spanyol kalo lo lupa," Ucap Airin tak terima.
"Yaelah babe, badan kerempeng gitu bukan kayak gitar Spanyol yang ada kayak sapu lidi lo,"
"Enak aja gue kerempeng, Lo tuh yang kerempeng. Badan tinggi tapi nggak ada ototnya, gue khawatir deh kalo ada angin gede lo kebawa," Ucap Airin lalu tertawa pelan.
"Enak ya babe ngomong kayak gitu. Dahlah babe gue mau pergi dulu, jangan lupa jemput gue jam enam pagi ya babe by."
Tut.
Belum sempat Airin berbicara, panggilan telepon terlebih dahulu di putuskan, "Astaghfirullah nyebelin banget ini orang."
"Siapa juga yang mau jemput dia, mending gue tidur cantik."
...~o0o~...
Pagi tiba, suara koper diseret terdengar beserta langkah kaki yang terdengar di sebuah bandara yang masih sepi. Lelaki tampan itu celingukan kekanan dan kekiri, wajahnya terlihat masam kala tidak ada yang menjemputnya.
"Hais, Indonesia pagi aja panas," Gerutunya.
"Dimana sih si Airin, masa iya dia gak mau jemput gue, fiks kalo dia gak jemput gue, gak akan gue kasih oleh olehnya."
Sedangkan disisi lain Airin masih bergulung diselimut tebalnya, keadaan tidur yang sepertinya baru saja berputar 360 derajat dengan rambut yang sudah seperti singa jantan.
Drrt...drrt...
"Aish,"
Brak brak brak.
"Kak, bangun! ada yang nelepon itu, berisik!" Teriak Azrel setelah menggedor gedor pintu kamar Airin.
"Akkh, Jojo sialan!" Pekik Airin.
Dengan penuh emosi Airin mengambil handphonenya lalu menjawab telepon tanpa melihat nama penelepon.
"Apa! Lo nyebelin banget sih! gue gak mau jemput Lo!"
Tut...
Airin dengan cepat menutup teleponnya setelah menjawabnya dengan teriakan.
Drrt...drrt..
"Akhhh!" Pekik Airin kesal lalu mengambil kembali handphone yang baru saja diletakkannya.
"Apa sih!" Pekik Airin.
"Kenapa kamu menutupnya begitu saja?"
Airin melotot mendengar suara yang familiar hari hari ini, dengan cepat Airin melihat nama si penelepon.
"Ehehe, maaf om kirain Airin bukan om," Ucap Airin malu dengan wajah yang memerah, jadi sedari tadi yang meneleponnya bukan Joshua?
__ADS_1
"Bego banget sih Rin!" Rutuk Airin dalam hati.
"Kenapa kamu berteriak kesal seperti itu? saya mengganggu kamu?" Tanya Agas.
"Ahahaha, nggak om," Ucap Airin dengan tertawa hambar.
"Tapi bohong, ganggu om. Pagi pagi udah nelepon aja gak tau apa orang cantik masih tidur," Ingin rasanya Airin menjawab seperti itu, tapi sepertinya nyalinya tidak sehebat itu.
"Oh yasudah, saya hanya ingin mengatakan. Jam 10 saya jemput," Ucap Agas.
Airin mengangguk, "Mau ngapain om?"
"Lihat saja nanti, jangan berdandan berlebihan seperti kemarin, gimana sehari hari kamu aja. Yaudah, silahkan tidur lagi, maaf saya ganggu kamu tidur."
Tut.
"A-"
Belum sempat Airin menjawab sambungan telepon sudah terputus, Airin menatap handphone nya kesal, "Gitu ya kelakuan cowok cowok, seenaknya aja putus putus telepon, telepon juga punya hati kali."
Brak brak brak.
"Airin woy burik! keluar lo! kalo gak keluar gue santet juga Lo hah!"
Airin menutup telinganya saat suara Joshua yang memekikan telinga.
"Berisik woy!" Teriak Airin kesal.
Kini Airin berada diruang tamu dengan Joshua yang menatapnya tajam. Lihatlah, Airin seperti pelayan raja yang duduk di karpet dengan duduk ipet dan Joshua yang duduk dikursi singel dengan gaya sok berkuasanya.
"Kesalahan lo?" Tanya Joshau.
Airin memutar bola matanya malas, lalu menundukan matanya kala mata tajam Joshua menatapnya, "Gak tau."
Joshua berdecak kesal, "Sekali lagi gue tanya, kalo jawaban lo salah, itu oleh oleh gue kasih semua sama si Azila dan Ayla.
"Gak bisa gitu dong!" Pekik Airin sambil berdiri menentang.
Seketika Airin kembali duduk kala Joshua menatapnya tajam, bibirnya mencibik kesal dengan tingkah orang gila yang sayangnya sangat tampan didepannya ini.
"Kesalahan lo?" Tanya Joshua sekali lagi.
"Mengabaikan perintah raja," Ucap Airin pelan.
Joshua mengangguk anggukan kepalanya, "Hukumannya?"
"Menuruti perintah raja seharian," Ucap Airin.
"Bagus, berdiri," Ucap Joshua, Airin dengan segera berdiri dari duduknya dengan kepalanya yang masih menunduk.
"Siapa yang nelepon lo pagi pagi sampai gue susah buat nelepon lo?" Tanya Joshua penuh intimidasi.
Airin tidak menjawab, dia bingung antara memberi tahu atau nggak. Joshua menghela nafas kemudian merentangkan tangannya kepada Airin, dengan cepat Airin memeluk Joshua erat.
"Gue rindu babe," Bisik Joshua.
"Gue juga, maaf gak jemput Lo," Ucap Airin pelan.
Joshua mengangguk mengerti, tangannya mengusap usap rambut panjang Airin sambil menghirup aroma gadis diperlukannya ini, 6 bulan tidak bertemu saja dia seperti raga yang tidak memiliki jiwa. Lebay memang, tapi itu benar adanya.
__ADS_1
"Airin?" Panggil seseorang didepan pintu Airin.
Airin dengan cepat melepas pelukannya, matanya menatap kearah pintu yang memang terbuka lebar, "Om!"