Young Mom

Young Mom
PART 60


__ADS_3

Airin membuka matanya perlahan lahan. Kepalanya terasa berat dengan muka yang terasa perih. Airin mengedarkan pandangannya di saat nyawanya sudah terkumpul. Sebuah ruangan kecil yang gelap serta pengap lah yang pertama kali Airin lihat dan rasakan.


"Aish, kepala gue!" Ringis Airin saat merasakan kepalanya terasa pusing.


"Halo! apa ada orang! siapapun itu tolongin gue!" Teriak Airin.


Airin menggerak gerakan tangannya yang terikat di belakang kursi, kakinya juga terikat dengan kencang, bahkan sepertinya akan ada bekasnya. Airin sedikit meringis kala punggung tangannya terasa perih, sepertinya mereka mencabut paksa jarum infus yang ada di punggung tangannya.


"Kenapa gue bisa di sini sih? mereka juga siapa? perasaan gue gak pernah punya musuh," Gumam Airin.


Tak.


Airin memejamkan matanya saat sebuah cahaya tersorot di depan nya. Matanya mengerjap ngerjap menyesuaikan cahaya yang memasuki retina matanya.


Mata Airin mengedar ke sekeliling ruangan yang ada di depannya, ruangan yang sangat berbeda dengan ruangannya. Ruangan itu berwarna putih dengan satu lampu yang menyorot ke tengah sebuah kursi. Dan hanya kaca besar sebagai pembatas ruangan yang kini di tempati Airin dengan ruangan di depannya.


Cklek...Sssrt...


Pintu besi yang jadi salah satunya perantara memasuki ruangan Airin itu terbuka dengan dua orang bodyguard dengan memakai sebuah topeng yang berjalan lalu berdiri di samping Airin.


"Ka-kalian siapa? lepaskan saya, saya mohon," Ucap Airin tetapi kedua bodyguard itu tetap berdiam diri layaknya sebuah robot.


Airin menghela nafas, jujur dia takut jika orang orang ini melakukan sesuatu dengannya. Airin menggigit bibir bawahnya cemas, "Mereka mau apain gue?" Tanya Airin dalam batinnya.


Cklek...Sssrt...


Pintu ruangan di depannya terbuka lebar, terlihat dua orang bodyguard yang datang dengan seorang wanita yang terlihat lemas. Sungguh, keadaan wanita itu tidak terlihat baik baik saja. Airin meringis melihat banyaknya lebam di muka wanita itu.


"Welcome to the start of your new life, dear. I just wanted to give you a gift, a gift you will never forget. At least, before I die. I can see her life suffering, enjoy baby. And hopefully after this you won't be crazy hahaha."


Airin mengerutkan dahinya bingung saat mendengar suara yang sepertinya di rekam.


"Jangan melihat ke belakang. Lihatlah ke depan," Suara datar tanpa nada itu keluar dari salah satu bodyguard yang ada di sampingnya. Airin bergidik takut lalu melihat kedepan dengan hati hati.


Matanya melotot ketika melihat wanita yang ada di ruangan depannya itu sedang di kulit hidup hidup, "YAK! APA YANG KAU LAKUKAN! HENTIKAN! AKU BILANG HENTIKAN BODOH!"


Airin bergerak tak karuan, matanya bergerak tak beraturan saat melihat kulit wanita itu hampir terlepas setengah, "HENTIKAN! HIKS. JANGAN JANGAN!" Teriaknya ketika melihat wanita di depannya berteriak sambil menangis kala jarinya di potong dengan paksa.


Tak..tak..tak, suara pisau yang telah memotong itu terdengar jelas di telinga Airin. Airin memejamkan matanya erat.


"Tidak! Jangan lakukan itu! hiks hentikan! LEPASKAN AKU. HENTIKAN ITU AKU MOHON!" Jerit Airin, tubuhnya bergetar hebat dengan keringat yang membasahinya.

__ADS_1


"AKKKH!"


Airin memejamkan matanya kembali saat mendengar teriakan pilu wanita di depannya. Bibir Airin terisak pelan, "Hentikan itu, aku mohon. Kenapa kalian melakukan ini kepadanya," Racaunya.


"Buka matamu jika kau tak ingin seperti dia," Ucapan tanpa nada itu kembali terdengar.


Airin menggeleng keras dengan mata yang tertutup, tubuhnya bergetar dengan isakan kecil yang muncul dalam bibirnya. Srek...


"Akkh!" Pekik Airin saat merasakan perih di kepalanya. Kepala mendongak saat jambakan di rambutnya kembali mengerat.


Bodyguard yang menjambak rambut Airin itu melepaskan jambakannya, "Jangan membangkang nona. Kau tidak mau seperti dia kan?"


Airin mengangguk lalu menatap ke depan dengan takut, terlihat tubuh wanita itu sudah tidak lengkap. Suara rintihan kesakitan menggema di telinga Airin, Airin menangis keras saat kedua matanya berpandangan sejenak dengan mata wanita itu.


"Hentikan. Tolong hentikan hiks kalian kejam," Racau Airin.


"AKKH!"


Airin memejamkan matanya kuat mendengar teriakan memilukan itu, "JANGAN! HIKS LEPASKAN ITU! AKU MOHON LEPASKAN!"


Blash...


"AKKH!" Teriak Airin ketika melihat kepala wanita itu terbelah.


Airin bergerak liar dengan tangis yang semakin menjadi. Tubuhnya bergetar saat melihat salah satu bodyguard di ruangan depan itu memotong badan wanita itu dengan gergaji mesin.


Drrtngeng... Suara gergaji terdengar keras dengan suara darah yang memercik kemana mana.


"NGGAK! NGGAK! HIKS JAUHKAN ITU AKU MOHON HIKS!"


Sret... Potongan tubuh itu terlempar ke sembarang arah, badan Airin bergetar melihat ruangan di depannya yang kini berwarna merah pekat. Kaca yang bersih kini terkotori dengan percikan darah, bola mata Airin bergetar takut hingga kegelapan merengut kesadarannya.


...~o0o~...


Di sisi lain, kini Damian, Raymond, Azrel, Agion serta Alexander dan Raynald yang kebetulan berkunjung ke ruamah Damian berkumpul di ruangan kerja Damian. Damian sudah berbicara bersama Raymond dengan hati hati. Kini mereka sedang membuat rencana membawa kembali Airin.


"Bukankah itu terlalu berisiko kek?" Tanya Azrel.


"Tidak. Mereka benar benar harus di musnahkan!" Timpal Raynald, terlihat di matanya ada sebuah dendam, kesedihan serta kekecewaan.


"Aku setuju. Ayo kita bergerak, firasat ku tidak enak," Ucap Alex sambil bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Mereka mengangguk patuh. Kini mereka berada di dalam mobil masing masing. Jalanan kota tidak terlalu padat membuat keuntungan tersendiri bagi mereka.


"Apakah benar ini tempatnya?" Tanya Agion sambil melirik ke kiri dan kanan di mana hanya ada pepohonan.


"Kenapa? kamu takut? jika iya, kamu tunggu saja di mobil. Biar Ayah saja yang ikut," Ucap Raymond.


Agion menggeleng ribut, "Tidak. Agion mau ikut," Bantahnya. "Lagian, lebih seram menunggu sendiri di sini," Batinnya.


"Kita gunakan strategi A, jika itu gagal. Maka dengan berat hati, aku menyarankan strategi B kita lakukan," Ucap Damian.


"Tenang saja. Itu tidak akan terjadi," Ucap Raynald.


"Oke, let's go. Bebaskan bidadari dari pria bajingan itu!" Pekik Azrel.


Mereka pun berjalan dengan di bagi dua kelompok, kelompok satu yaitu Alex, Azrel serta Raymond. Mereka akan menyelamatkan Airin sedangkan kelompok dua Damian, Agion serta Raynald. Mereka akan membalaskan dendam nya dengan pria bajingan yang menyekap Airin.


Damian, Reynald dan Agion masuk melalui pintu samping dengan tenang. Raynald berhenti lalu memberi isyarat kepada Damian agar menyerang.


Dor


Dor


Dor


Agion melongo melihat skill Damian dalam menembak, bagaimana tidak? Tiga tembakan menumbangkan lima orang, keren.


Bugh.


Agion dengan refleks menendang bodyguard yang tiba tiba berada di belakangnya, "Sialan! ngagetin aja lo setan!"


Raynald hanya menggelengkan kepalanya lalu dengan cekatan menembak serta menendang musuhnya itu. Berbeda dengan mereka berdua, Damian kini terus menembak musuhnya dengan pistolnya. Baginya, bertarung itu membuang buang buang tenaga.


Jika ada yang gampang, kenapa harus pilih yang susah, Begitulah kira kira pikirannya.


Brak.


"Wah wah wah. Siapa ini? kita kedatangan tamu spesial!" Ucapnya.


Pria yang berada di depan Raynald itu tersenyum remeh, "Kau sepertinya tidak gentar dengan peringatan ku."


Pria itu berdecih pelan, "Ck. Kau ini bodoh! siapa yang tidak gentar jika di teror seperti anak kecil kecil seperti itu."

__ADS_1


Raynald mengepalkan tangannya kesal saat pria itu meremehkannya, "Kau akan melihat kematian mu sendiri Jadrel." Desis Raynald.


__ADS_2