Young Mom

Young Mom
PART 64


__ADS_3

still flashback.


"TIDAK! JANGAN MENDEKAT..."


Raynald menatap sendu putri satu satunya itu dengan tangan yang mengepal erat. Dirinya bersumpah akan membalas perbuatan orang yang membuat putrinya menjadi seperti ini.


"Pah," Panggil Nadine sambil menepuk bahu Raynald.


"Saga akan segera di kebumikan," Ucap Nadine, Raynald hanya mengangguk lalu berjalan meninggalkan kamar Seira yang dia kunci dengan rapat.


"Siapa yang menjaga Seira?" Tanya Raynald pada salah satu bawahannya.


"Pak Jadrel, tuan," Balasnya, Raynald mengangguk lalu berjalan keluar mansion dengan Nadine.


Di pemakanam Agas berdiri dengan pandangan kosong, raut wajahnya datar tanpa ekspresi dengan mata yang memerah menahan tangisnya.


"Sadar jangan melamun," Ucap Deon yang berdiri di samping Agas.


Agas hanya meliriknya dari ekor matanya, "Gimana?" Tanyanya.


"Apa?" Tanya Deon tak mengerti.


"Pelakunya," Deon mengangguk lemah, "Tidak ada hasil. Sepertinya dia orang dalam."


Agas menghembuskan nafasnya pelan, dadanya terasa sesak melihat orang yang disayanginya tengah di tumpuk dengan tanah.


"Om," Agas melirik ke arah samping melihat Azrel yang menarik narik celannya.


Agas berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Azrel yang menatapnya takut, "Kenapa?"


"Kenapa Ayah di baringin di tanah?" Tanyanya dengan nada lugu.


Agas terdiam, bingung dengan jawaban apa yang akan dia sampaikan pada Azrel yang masih berusia 3/4 tahunan. Agas mengelus rambut lebat Azrel dengan pelan, "Ayahnya Azrel mau ketemu sama tuhan."


"Kenapa Azrel, adek sama kakak gak di ajak om? mama juga."


"Belum waktunya. Nanti juga kita akan bertemu dengan ayahmu."


"Terus kenapa Ayah harus di tutupin sama tanah. Nanti ayah gak bisa nafas, apa di sana nggak gelap?"


"Semoga saja. Azrel berdoa saja semoga ayah Azrel baik baik saja," Ucap Agas.


Azrel menunduk menatap ke arah neneknya yang sedang menaburkan bunga di makan ayahnya, "Azrel pengen sama ayah, gimana caranya Azrel ketemu sama ayah?"


"Tidak untuk sekarang. Azrel harus tumbuh besar terlebih dahulu, dan saat itu juga Azrel akan mengerti," Jelas Agas.


Azrel mengangguk lalu berjalan ke samping makam Saga, tangan kecil itu mengelus nisan Saga dengan lembut, "Ayah, Azrel nanti ketemu ayah lagi gak ya? kenapa ayah mau ketemu sama Tuhan? Azrel pengen peluk ayah, tapi kata om Agas tunggu Azrel besar dulu. Nanti Azrel bakalan ngerti kenapa ayah ada di sini."


"Azrel ayok pulang," Ajak Damian.


"Tapi, ayah..."


Damian menggendong Azrel sambil menepuk nepuk punggung kecil Azrel, "Nanti kita ketemu lagi sama ayah, sekarang kita pulang dulu. Kasian bunda Azrel di rumah sendiri."


Azrel mengangguk lalu turun dari gendongan Damian, kaki kecilnya itu kembali melangkah ke depan nisan yang tingginya hampir setara dengan tubuhnya, "Ayah, Azrel pulang dulu. Nanti Azrel kesini lagi jemput ayah, dadah ayah."

__ADS_1


Cup.


Azrel mengecup nisan itu dengan lembut lalu berjalan kembali ke hadapan Damian dengan tangan terangkat, dengan cepat Damian menggendong Azrel dengan memandang makam anaknya sendu.


"Agas ayok pulang," Ajak Damian saat melihat Agas yang masih berdiri di tempatnya.


"Ayah duluan saja," Ucap Agas.


Damian mengangguk lalu berjalan meninggalkan Agas yang berdiri di depan makam Saga. Merasa Damian sudah jauh darinya, Agas berjongkok di depan makam Saga.


"Lo tenang saja bang, gue akan membalas perbuatan mereka. Bukan hanya pelaku, tapi sampai ke tetesan darahnya," Ucap Agas dengan tersenyum semirik, tangannya terkepal mencekram tanah yang masih basah itu dengan erat.


Flashback off


...~o0o~...


Tit Tit Tit...


Terdengar suara mesin EKG di hening nya ruangan rawat Airin. Hanya ada dua orang berlawan jenis di dalam ruangan ini, ruangan 3×3 ini terasa dingin tanpa dengan cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui gordeng jendela yang terbuka sedikit.


Airin melenguh merasakan keram di tangan kanannya, matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya yang masuk melalui retina matanya.


Merasa nyawanya sudah terkumpul, Airin melihat sekeliling. Sudah tidak ada keluarga serta teman temannya lagi, memang kemarin keluarga serta teman temannya menjenguknya bersamaan secara tidak sengaja. Dan mungkin mereka sudah pulang kala Airin yang tak sengaja tertidur saat menonton bersama malam tadi.


"Aws," Ringis Airin saat tangan kanannya terasa sakit.


Airin melihat kearah kanannya, seketika tubuhnya terdiam terpesona melihat wajah damai Agas yang tersorot cahaya matahari.


"Wajahnya semakin tampan," Batin Airin menyeru.


Airin mengelus rambut Agas dengan tangan kirinya, bibirnya tersenyum kecil dengan raut khawatir dimuka nya, "Apa dia tidak sakit tidur sambil duduk?" Gumam Airin.


"Kenapa?"


"Eh!" Kaget Airin saat melihat Agas sudah bangun, mata bulat Airin terpaku melihat wajah tampan Agas.


"Kenapa hm? kamu butuh sesuatu?" Tanya Agas sambil mengelus tangan kanan Airin.


Airin hanya menggeleng sambil tersenyum manis, "Om sudah solat?"


"Sudah."


"Kenapa tidur di kursi? bukannya di sana ada ranjang?" Tanya Airin sambil menunjuk Ranjang yang lumayan besar.


Agas menggelengkan kepalanya, "Nggak mau, saya tidak bisa tidur jika di sana."


"Kenapa?" Tanya Airin penasaran.


"Entah," Ucap Agas cuek sambil mengangkat bahunya acuh.


"Om habis darimana, waktu itu?" Tanya Airin, Agas hanya terdiam sambil menutup kedua matanya.


"Ada kerjaan sama opa," Ucap Agas dengan suara parau nya.


Airin mengangguk lalu kembali mengelus rambut Agas, "Om tidur di ranjang sana. Keliatan banget capeknya, ini juga katung matanya hitam banget."

__ADS_1


"Nggak mau...saya mau sama kamu," Rengek Agas.


"Tapi kalau tidur sambil duduk itu gak enak om. Nanti badannya pegel pegel," Ucap Airin.


Agas mengangkat kepalanya melihat Airin, "Saya tidur di sini saja sama kamu."


"Hah?"


"Kamu tidurnya miring," Titah Agas, sedangkan Airin hanya menatap tak mengerti. Agas berdecak pelan lalu memiringkan tubuh Airin setelah itu membaringkan tubuhnya di samping Airin.


Agas memeluk Airin erat dengan kepala yang di sembunyikan di dada Airin, "Elus elus," Rengek Agas sambil membawa tangan Airin menuju kepalanya.


Airin mengerjap ngerjapkan matanya lalu mengelus belakang kepala Agas dengan lembut, "Aku yang sakit kok om yang manja?"


"Saya juga sakit..." Rengek Agas.


Airin mengerutkan dahinya dalam, punggung tangannya dia tempelkan di dahi Agas, "Gak panas kok. Om sakit apa? penyakit luar atau dalam? keluhannya apa?"


"Ck, kamu seperti dokter. Banyak tanya," Keluh Agas.


Airin berdecak sebal, "Aku kan khawatir sama om. Kali aja punya penyakit serius."


Agas mendongak melihat wajah Airin, "Emang kenapa kalo saya punya penyakit serius?"


"Mau saya tinggalin," Ucap Airin sambil tertawa pelan sedangkan Agas mengerutkan mulutnya, "Tega!"


"Hahaha, becanda om. Mau bagaimana pun luar dalam om, Airin tetap cinta sama om hahaha," Ucap Airin lalu tertawa geli.


"Ulululu, anak siapa sih ini gemes banget," Ucap Agas sambil mencubit kedua pipi Airin.


"Anaknya bapak paling tampan dengan ibu yang paling cantik sedunia," Ucap Airin dengan senyum manisnya.


Agas terdiam dengan senyum kecilnya, matanya terus memperhatikan Airin yang sedang tersenyum, "Cantik."


"Hah? apa?" Tanya Airin.


"Kamu cantik, banget malah," Ucap Agas sambil mengelus pipi tembam Airin.


"Makasih, kamu juga," Ucap Airin.


Agas mengangkat sebelah alisnya, "Apa?"


"Cantik," Raut muka Agas seketika berubah datar sementara Airin tertawa pelan.


"Bercanda, kamu tampan. Eh, nggak deh kamu itu manis. Ah bukan juga kamu itu, tampan, tampan, tam..."


Cup.


Airin terdiam seketika saat merasakan benda kenyal dan dingin menyentuh bibirnya. Sedangkan Agas menutup kedua matanya dengan tangan yang berada di pipi Airin, bibirnya bergerak berirama di atas bibir Airin.


Sungguh, sedari tadi Agas menahan dirinya agar tidak memakan bibir menggoda Airin. Tapi, apa yang harus dia lakukan ketika setan sudah bertindak. Perlahan Airin memejamkan matanya dengan tangan yang mengelus belakang kepala Agas.


Agas tersenyum kecil di selan sela ciuman mereka, tangannya semakin mendekat kepala Airin guna memperdalam ciuman mereka.


Brak...

__ADS_1


"KALIAN!" Teriakan itu terdengar bersamaan dengan dobrakan pintu yang sangat kencang.


Airin dan Agas dengan segera menjauhkan diri lalu melihat kearah pintu masuk dengan mata yang membola, "BUNDA?"


__ADS_2