Young Mom

Young Mom
PART 46


__ADS_3

Suasana sore ini memang cocok untuk berjalan jalan ditaman, seperti halnya keempat kancil ini. Mereka sedari tadi bermain ditaman yang tak jauh dengan mansion Alga.


Alga berbaring di karpet yang sudah dia bawa dari mansion nya, ah tidak lebih tepatnya bodyguard nya yang membawa.


"Cih, celita macam apa ini?" Gumam Alga sembari membaca buku cerita yang dibawanya.


"Itu buku apa Alga?" Tanya Deren yang berbaring disampingnya sembari memakan kukisnya.


"Gak tau, Alga tadi asal bawa dikamal abang Alga."


"Coba liat judulnya," Alga memperhatikan judul bukunya kepada Deren, sedangkan Deren menukik alisnya bingung, "adulthood?"


"Hah apa?" Timpal Rion.


"Ini Alga baca buku ini. Pantas aja gak ngerti, orang ini bukan buku anak anak," Jelas Deren sambil menunjuk buku yang dipegang Alga.


"Kenapa Alga baca itu?" Tanya Zio.


Alga merebahkan kepalanya diatas buku hingga pipi gembulnya tumpah begitu saja, "Alga pengen baca kalena walnanya bagus, telus gambal covel bukunya kelen."


Zio menggelengkan kepalanya, "Nanti jangan asal baca buku, Alga mau dimarahin daddy Agas?"


"Nggak. Maaf Zio," Ucap Alga lirih.


Zio pun hanya mengangguk saja.


"Hallo!"


Keempat kancil itu menolehkan kepalanya saat suara seorang perempuan menyapa mereka, Alga menyerngit bingung karena tak kenal dengan mereka, "Halo! kalian siapa?"


Salah satu dari ketiga anak perempuan itu maju sedikit, "Aku Amola," Ucapnya dengan nada semangat.


"Kalau aku Nataya," Ucap Seorang anak perempuan berambut sedikit ikal dengan lesung pipi yang manis.


"Kalau kamu?" Tunjuk Alga pada anak perempuan disamping Nataya, "Aku Laisha."


"Kalian cantik cantik, Deren suka," Celetuk Deren sambil tersenyum senyum.


"Kamu juga ganteng, aku suka!" Pekik Nataya dengan girangnya.


"Kita boleh ikutan main?" Tanya Amora.


"Boleh dong hehe duduk aja," Ucap Alga dengan girang, batinnya tersenyum berseri seri.


"Yey Alga punya temen pelempuan! Alga nanti halus pamelin sama Abang!" Pekik Alga dalam hati.


"Nama kamu sama teman teman kamu siapa?" Tanya Raisha yang kini duduk disamping Alga yang masih tetap tengkurap.


"Aku Alga, kalau itu Zio, telus Lion telus Delen," Ucap Alga sambil menunjuk satu satu temannya.


"Kalian kok ganteng ganteng sih? kayak cowok cowok yang suka diliat mama aku di tv," Ceplos Nataya dengan polosnya.


"Karena kita bibit unggul!" Sambar Deren dengan mengangguk anggukan kepalanya.


Nataya menatap Deren bingung, "Bibit unggul apa Delen? emang Delen asalnya dali bibit ya?"


"Em, aku juga gak tau. Tapi kata tante Airin, kalo liat orang ganteng atau cantik itu tandanya mereka bibit unggul," Jelas Deren, Nataya mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Belalti Nataya juga bibit unggul dong!" Pekiknya.


"Iya sepertinya. Soalnya kamu cantik banget, lucu lagi. Ih! aku kan jadi gemes!" Cerocos Deren sambil mencubit kedua pipi Nataya.


"Aduh sakit Delen, kamu kok kasal sih? gak boleh gitu tau, nanti mama kamu bakalan malah," Marah Nataya dengan polosnya.


"Maaf aku ya. Soalnya kamu gemes jadinya aku gak tahan pengen cubit pipi kamu," Ucap Deren.


"Iya iya Nataya maafin kok soalnya Delen ganteng, jadi Nataya gak bisa nolak," Jelas Nataya dengan polosnya.


Deren tersenyum lalu melihat kearah teman temannya yang asik dengan dunianya sendiri, lalu kembali menatap Nataya, "Nataya."


"Apa?"


"Mau jadi istri aku gak?" Nataya menatapnya bingung.


"Istli? bukannya halus nikah dulu ya?" Tanya Nataya.


"Iya terus nanti kamu jadi istri aku setelah nikah. Kamu mau?" Tanya Deren dengan wajah yang terlihat serius.


"kalau aku mau nanti kamu kasih aku permen yupi yang banyak, boleh?" Deren mengangguk senang lalu memeluk Nataya erat.


"Yey, nanti kita jadi suami istli. Em, nanti aku panggil kamu apa?" Tanya Nataya dengan polosnya.


"Panggil aku daddy aja biar keren kayak om Agas."


"Oke!"


...~o0o~...


"NGGAK DADDY!" Teriakan Azrel terdengar nyaring dimansion sore ini.


Agas menghela nafas kasar, dia geram dengan sifat keras kepala Azrel, "Minum gak!"


"Nggak nggak nggak!" Pekik Azrel tertahan karena mulutnya dia tutupi dengan kedua tangannya.


"Kamu seperti nya ingin dengan cara kasar hm?" Ucap Agas dengan suara rendahnya.


Azrel menggeleng ribut melihat Agas mendekat dengan membawa gelas serta beberapa obat untuk Azrel. Agas menyimpan kasar gelas itu dinakas samping tempat tidur lalu melepaskan tangan Azrel yang menutup mulutnya.


"Buka!" Azrel menggeleng ribut dengan mengalum bibirnya kedalam.


"Keras kepala," Geram Agas lalu mencengkram pipi Azrel sehingga mulut Azrel terbuka dengan terpaksa.


"Telan," Ucap Agas sambil memberi minum Azrel.


Mata Azrel berkaca kaca ketika dengan paksa Agas memasukan beberapa obat kedalam mulutnya.


"D-daddy jahat uhuk uhuk," Ucap Azrel sambil menangis.


Agas menyimpan gelas itu diatas nakas, "Salah kamu juga."


"Pokoknya daddy jahat! hiks PIPI AZREL SAKIT TAU!" Ucap Azrel diakhiri teriakan.


"Ya ampun kenapa Azrel nangis!" Pekik Airin yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi beberapa buah buahan serta susu untuk Azrel.


Agas mengangkat bahu acuh lalu berjalan menuju sofa, dirinya duduk anteng sambil mengerjakan pekerjaannya. Airin menghampiri Azrel lalu duduk disampingnya setelah menaruh nampan yang dibawanya.

__ADS_1


"Daddy," Ucap Azrel sambil menunjuk Agas.


Airin menatap Agas tajam, sedangkan yang ditatap mengangkatnya sebelah alisnya.


"Hiks pipi Azrel sakit, lihat merah," Adu Azrel sambil menunjuk kedua pipinya.


Airin menangkup kedua pipi Azrel lalu mengelusnya pelan, "Kenapa bisa merah gini?"


"Gara gara daddy. Daddy cengkram pipi Azrel kayak gini nih," Adu Azrel dengan mempraktekkan bagaimana tadi Agas mencekam kedua pipinya.


"Syut syut udah nangisnya ya, ntar nafasnya keganggu lagi. Mending bobo, biar nanti om om itu Airin cekek sampe mati, oke," Ucap Airin seolah berbicara dengan anak berusia lima tahun.


Azrel mengangguk lalu berbaring dipaha Airin, "Elus elus kepalanya," Pinta Azrel dengan suara serak.


Airin menurut, tangannya mengelus kepala Azrel dengan lembut. kepalanya menunduk merasakan nafas Azrel yang sudah teratur, mungkin karena habis memakan obat sehingga Azrel cepat tidur.


"Manja," Geram Agas melihat gadisnya dikuasi oleh anaknya.


Airin menggelengkan kepalanya. Airin membenarkan tidur Azrel sehingga kini kepala Azrel berada dibantalnya. Airin menyelimuti Azrel sampai ke pinggang lalu beranjak mendekati Agas yang sepertinya sedang merajuk.


"Marah marah mulu kayak orang tua. Eh, emang om itu udah tua," Ucap Airin yang sekarang ini duduk disamping Agas.


Agas tak menghiraukan Airin, tatapannya tetap pada laptop didepannya. Airin terkekeh pelan, ternyata Agas beneran sedang marah atau cemburu?


"Marah?" Agas terdiam tak menjawab.


"Kalo orang nanya itu jawab, gak sopan!" Sembur Airin.


Agas menatap Airin dengan muka datarnya, sedangkan Airin menatap Agas dengan muka jahilnya.


"Jangan marah marah om, om kan udah tua. Ntar darah tinggi, terus mati gimana?" Ucap Airin ngawur.


"Bodo amat," Ketus Agas.


Airin mengelus surai rambut Agas dengan lembut, "Kenapa masih kerja? bukannya ini udah jam pulang?"


"Nanggung," Balas Agas singkat.


Airin mengangguk, "Jangan lama lama, om itu kerja mulu. Gak baik buat otak hehe, sekali kali holiday keh."


"Hm."


Airin menghela nafas pelan, tangannya mendorong kepala Agas agar bersandar di bahunya, "Istirahat dulu ya?"


Agas mengangguk lalu melemaskan tubuhnya ke dekapan Airin, tangannya memeluk pinggang Airin dengan kepala yang menyelusup dileher jejang Airin.


"Nikah yuk," Ajak Agas, Airin terdiam sebentar lalu mengelus belakang kepala Agas.


"Hayulah. Maunya kapan?" Tanya Airin.


Agas mendongakkan kepalanya melihat wajah Airin, "Beneran mau?"


Airin mengangguk sambil tersenyum, "Mau tapi kapan kapan," Ucap Airin sambil terkekeh pelan.


Agas merengut tak terima, hidungnya dia gesek gesekan keleher Airin. Airin tertawa geli, "Udah, Airin bercanda kok. Kalau mau nikah, minta izin dulu sana sama ayah dan bunda Airin. kalau dibolehin, yaudahlah gas keun."


"Beneran?" Tanya Agas lirih.

__ADS_1


"Iya, mau nyusul si Azila. Beberapa hari lagi di nikah kan? malu dong kalo ditinggal nikah sama yang lebih muda."


Agas tertawa pelan, sudut bibirnya mengangkat keatas, "Tunggu aja, satu bulan lagi kita nikah!"


__ADS_2