
"Sial banget hidup gue, ya Allah beri hamba ketabahan, kekuatan, kesabaran untuk mengahadapi ciptaan mu ini," Ucap Azila sambil memotong motong wortel kasar.
Sedangkan Arsen duduk dikursi bar dengan tenang, matanya terus mengawasi setiap pergerakan Azila. Dengan tangan yang dilipat didepan dada dan mulut yang mengemut permen kaki.
"Yang bener motong wortelnya, ukurannya harus sama, tebal tipisnya juga harus sama, bentuk dadunya harus sempurna," Ucap Arsen.
"Harus bisa masak kalo mau jadi istri saya," Lanjutnya.
Azila menatap Arsen dengan senyum terpaksanya, batinnya menggerutu kesal, "Siapa juga yang mau jadi istri lo."
"Baik tuan muda Arsen yang terhormat."
Arsen tersenyum puas melihat Azila tertekan seperti ini. Ah dirinya jadi ingat kejadian tadi yang membuat Azila berteriak heboh, ingin rasanya tertawa kencang saat melihat muka Azila yang merasa terancam itu terlihat lucu.
Flashback
Azila melihat sekeliling dengan pandangan memuji, mansion dengan pilar pilar mewah, tangga yang melingkar tinggi dengan lift disebelahnya, lampu gantung yang besar serta berwarna emas terlihat indah, guci guci besar terlihat disetiap pojok ruangan.
"Pak kita dimana nih, saya mau pulang ah," Ucap Azila lalu berbalik badan berniat meninggalkan mansion tersebut. Tetapi belum sempat berjalan, tangannya dicekal oleh Arsen.
"Kamu gak boleh pulang," Ucap Arsen lalu menarik tangan Azila menuju lantai tiga.
"Masuk," Titah Arsen ketika sampai dipintu tinggi berwarna hitam.
Azila pun masuk diikuti Arsen, bau maskulin pertama kali tercium olehnya, jajaran rak rak buku terlihat rapi, Azila pun berjalan semakin kedalam dan ternyata ada ruangan kerja yang sedikit berantakan.
"Mau ngapain pak?" Tanya Azila heran saat dirinya dibawa kesini.
Arsen berjalan kearah kursi kerjanya lalu duduk dengan santai, "Tolong bereskan kekacauan ini, saya harus bekerja."
"Hah!" Azila menatap Arsen dengan tatapan tak percaya.
"Pak! situ kan punya pembantu, kenapa jadi saya yang harus beresin ini," Protes Azila sambil menunjuk berkas berkas yang berserakan beserta buku buku dimana mana.
"Tapi saya maunya kamu yang beresin, udah gak usah protes nanti saya belikan kamu album lagi," Ucap Arsen sambil mengotak atik tabletnya.
"Cih, kenapa bapak demen banget jadiin saya babu sih!" Ucap Azila kesal sambil membereskan berkas berkas yang sudah tercampur padu.
"Terserah saya," Ucap Arsen dengan santainya.
Azila meninju ninju udara sambil menggigit bibirnya gemas, ingin menolak tapi tawaran yang diberikan sangat menarik untuknya.
"Lagian kenapa sih pak sampe berantakan begini, kalo udah berantakan situ juga kan gak mau beresin," Omel Azila.
"Bapak juga harusnya rapi dong, cowok juga harus apik pak, bisanya ngeberantakin tapi beres beresnya gak mau," Lanjutnya sambil terus menyusun kertas kertas yang berserakan.
Arsen menatap Azila jengah, sudah biasanya dia diomeli olehnya. Rasanya seperti istri yang mengomeli suaminya.
Beberapa menit kemudian Azila selesai membereskan dokumen serta buku buku yang berserakan tadi. Badannya dia regangkan lalu berjalan keluar ruang kerja Arsen.
Arsen menatap Azila heran lalu setelah itu menghedihkan bahunya acuh, tak lama Azila datang dengan membawa sapu dan juga empelan.
Tak tunggu lama Azila menyapu ruang kerja Arsen dengan tenang, "Angkat kaki," Titah Azila saat akan menyapu kolong meja kerja Arsen, Arsen mengangkat kakinya malas.
"Angkat kaki," Titah Azila lagi saat akan mengepel kolong meja kerja Arsen.
"CK," Decak Arsen lalu mengangkat kakinya kembali.
"Udah beres pak, saya lapar mau makan," Ucap Azila setelah selesai bersih bersih dan menyimpan kembali alat kebersihan nya.
"Ck," Azila berdecak kesal saat Arsen tidak menjawab ucapannya.
Dengan malas Azila beranjak dari duduknya lalu berjalan kesamping Arsen, "Pak elah, saya laper nih. Tanggungjawab dong pak, traktir traktir kek."
"Gak tau malu," Ucap Arsen yang masih sibuk dengan tabletnya.
"Salah bapak juga bikin saya capek jadikan perut saya lapar lagi, jadi ayok makan," Ajak Azila sambil menggoyang goyangkan tangan Arsen.
"Sebentar lagi," Sahut Arsen.
"CK pak buruan ih, saya lapar pak," Rengek Azila.
Arsen menatap Azila lalu menarik Azila agar duduk dipangkuannya, "Pak!" Pekik Azila.
"Hm,"
"Ngapain sih, saya tuh lapar pak. Gak usah ngajak war deh!" Pekik Azila kesal sambil beranjak dari duduknya.
"Saya gak ngajak kamu war," Ucap Arsen santai.
"Tapi kalo ngajak kepelaminan sih ayo," Lanjutnya sambil melihat Azila dengan senyum manisnya, sedangkan Azila menatapnya ngeri.
"Pak, bapak kesurupan ya? sejak kapan bapak bisa ngegombal kek gitu? gak cocok pak sama tampang bapak yang menyebalkan," Ucap Azila sambil berdiri.
Arsen tersenyum miring kearah Azila lalu menarik kembali Azila kedalam pangkaunnya, Azila memberontak sambil berteriak, "Pak Apasih!"
"Syut diam, lihat ini," Ucap Arsen sambil memperlihatkan berbagai gaun pernikahan yang ada di tabletnya.
"Bapak mau nikah?" Tanya Azila sambil mengambil alih tablet yang ada ditangan Arsen lalu melihat lihat dengan serius.
"Hm."
__ADS_1
"Sama siapa?"
"Kamu," Bisik Arsen.
"Hah! kapan saya ngeiyain nikah sama bapak? gak usah ngaco deh haha," Ucap Azila dengan tawa sumbangnya.
"Saya tahu, tapi mau kamu bilang iya ataupun tidak pun, kamu akan menikah dengan saya," Bisik Arsen.
"Pemaksa, siapa juga yang mau nikah sama bapak! eoh, gak mau saya, bapak kan pelit!" Pekik Azila heboh.
"Kata siapa saya pelit?" Tanya Arsen.
"Lah waktu itu saya minta permen gak dikasih, permen loh pak, permen! satu permen aja pelitnya nauzubillah apalagi kalo saya minta mahar yang harganya kayak jantung," Cerocos Azila sambil terus melihat lihat gaun di tablet Arsen.
"Bukannya saya pelit, itu kan permen harganya bukan gopean. Satu permen harganya seratus ribu."
"Lah permen apaan pak yang harganya seratus ribu? wong saya waktu itu liat bapak pegang permen gopean yang ada dikantin."
Arsen menatapnya jengah, lalu membuka laci meja kerjanya, mengambil toples kecil yang berisi permen dengan kemasan hitam dan emas.
"Nih," Arsen menyerahkan setoples permen itu kepada Azila.
Azila menyimpan tablet dipangkuannya lalu merebut toples permen itu dengan mata berbinar-binar, "Wah, gila! kemasannya aja mewah, gimana rasanya."
"Ngomong ngomong pak, setoples harganya berapa? Tanya Azila sambil membuka permen itu.
"Satu juta."
"Apa!" Pekik Azila.
"Bapak buang buang uang deh, mending kasih kesaya yang lebih membutuhkan," Ucap Azila sambil memakan permen itu. mata Azila melotot, sempurna! rasa permen yang manis, asam dan segar terasa menyenangkan.
Arsen menggelengkan kepalanya melihat Azila yang sangat menikmati permennya, lalu mengambil tabletnya dan melihat kembali gaun gaun yang dirancang khusus desainer nya.
"Kamu mau ini?" Tanya Arsen sambil memperlihatkan gaun berwarna putih yang terlihat elegan dan mewah sekaligus.
"Wah, cantik pak, kayak saya," Puji Azila .
"Pede, dari mananya kamu cantik?"
"Saya itu cantik pak kayak bidadari, bapak aja yang matanya bermasalah jadi gak bisa lihat aura kecantikan saya."
"Aura kecantikan matamu, yang ada aura kejelekan."
Azila menatap Arsen tajam, mulutnya bergumam kecil menyumpah serapahi Arsen.
"Kamu ingin indoor atau outdoor?" Tanya Arsen.
"Pernikahan kita."
"Hah? ih, saya kan udah bilang gak mau nikah sama bapak," Protes Azila.
"Saya juga sudah bilang kalo saya memaksa," Ucap Arsen santai.
Azila menatapnya geram lalu berdiri dengan tangan yang tak sengaja menekan aset Arsen.
"Aws!" Pekik Arsen.
"Omo!"
"Azila! awas kamu!" Pekik Arsen dengan sesekali meringis.
Azila mundur secara perlahan menuju pintu keluar, "Hehe, maaf pak. Saya gak sengaja sumpah!"
"Saya gak mau tau, tanggungjawab sama aset saya!"
"Aduh pak, saya kan udah minta maaf," Ucap Azila sambil meringis pelan melihat Arsen yang berjalan lemah.
"Awas Azila, saya terkam kamu," Ucap Arsen sambil berjalan cepat kearah Azila.
Azila melotot lalu membuka pintu dengan cepat dan berlari tanpa menghiraukan tatapan heran pembantu serta bodyguard.
"Gila, gimana nih woy, sembunyi dimana gue," Ucap Azila panik.
Azila masuk kedalam kamar yang berada dilantai Empat lalu bersembunyi dibalik lemari pajangan, Azila melihat sekelilingnya lalu matanya melotot kaget.
"Gila! kenapa gue malah masuk kandang!" Pekik Azila saat menyadari bahwa dirinya berada dikamar Arsen.
Azila mengambil handphonenya dengan tangan bergetar, lalu menelepon Ayla berkali kali, "Buset dah, kaga diangkat."
"Airin," Gumam Azila kala mengingat Airin.
"Angkat woy angkat," Pinta Azila sambil sesekali menengok kearah pintu yang sialnya dia lupa untuk menguncinya.
"Hallo Zil kenapa?"
"Hallo Rin, Lo lagi dimana?" Tanya Azila sambil berbisik.
"Lagi di jalan kenapa?" Tanya Airin disebrang telepon.
"Lo bisa jemput gue gak? gue mohon," Ucap Azila sambil berbisik.
__ADS_1
"Mana bisa, gue lagi jauh nih di perbatasan kota," Ucap Airin.
Azila menghela nafas berat, "Huft, gimana nih? mau pulang gue, tadi juga gue nelpon si Ayla kagak dijawab jawab."
"Emang lo dimana sih Zil? mana suara Lo bisik bisik lagi?" Tanya Airin kepo.
"Gue dirumah si kepsek gila, masa gue gak dibolehin pulang, nyebelin banget kan tuh. Mana gue tadi dijadikan babunya lagi!"
"Kenapa emang, Lo ngelakuin kesalahan lagi?"
"Mana ada gue anak baik ya," Protes Azila.
"Ya terus apa elah, gak usah banyak bacot," Ucap Airin kesal.
"Aduh panjang Rin ceritanya, itu nanti ajalah gue ceritain. Sekarang gue mau pulang," Rengek Azila.
"Kabur aja Zil, Lo bisa?" Tanya Airin.
"Nggak bisa woy, si kepsek itu punya banyak bodyguard, brabe nanti," Bisik Azila.
"Yaudahlah lo diam aja disana, ntar juga dibalikin," Ucap Airin dengan santainya.
"Tapi-" Belum sempat Azila melanjutkan ucapannya suara Arsen terdengar memanggil menggelegar.
"Azila dimana kamu!" Azila menepuk dahinya frustasi.
"Buset dah ketauan gue, huhuhu gimana ini Airin gue gak mau bikin anak," Rengek Azila.
Terdengar tawa keras disebrang telepon, "Lo kenapa ketawa!" Pekik Azila.
"Udahlah terima nasib aja Zil," Ucap Airin sambil tertawa.
"Lo mah! bukannya khawatir temen lo kenapa napa malah seneng. Ini gue mau di ***** ***** Airin!"
"Itu sih nasib lo, lagian lo pasti yang goda goda ya kan?" Azila mendelik saat tawa Airin semakin keras.
"Hehe iya sih, tapi si kepsek nya aja yang lemah iman mana ngata nagatain gue jelek lagi, kan jiwa jiwa kecantikan gue membludak marah woy dengernya!"
"Azila!"
"Anjir, kenceng banget itu teriakannya."
Azila meringis pelan lalu melihat kearah pintu yang sudah dibuka Arsen dengan wajah merahnya, "Eh hehe bapak, ngapain pak?"
Airin ingin tertawa rasanya mendengar suara Azila yang gugup, "Tanggungjawab gak!" Suara Arsen terdengar.
"Tanggung jawab apa sih pak! saya gak hamilin bapak ya!"
"Gila," Terdengar gumaman Airin disebrang telepon.
"Ngaco! tanggungjawab buruan!"
Azila menggeleng ribut, "Gak mau pak!"
"Sini!"
"Gak mau! huaaa Airin tolongin gue!" Pekik Azila dengan handphone yang masih disamping telinganya.
"Hahaha, cie yang mau di unboxing. Hati hati pak sama si Azila soalnya di ganas! selamat ya Zil, semoga gue cepet cepet dapet ponakan!" Teriak Airin dalam teleponnya.
"Airin gila!"
Tut.
brak.
Azila meringis saat tubuhnya tertarik berbaring di kasur, badannya Sekarang berada dibawah Arsen yang menatapnya tajam, "Pak lepasih huaa!" Teriak Azila.
"Tanggungjawab!"
"Apasih pak! saya kan udah minta maaf, jangan jadi pendendam deh pak gak baik. Jadi maaf ya pak," Ucap Azila sambil menyatukan kedua tangannya.
"Saya gak mau tau, kamu harus tanggungjawab."
Azila menatap Arsen dengan tatapan memelas, "Maaf pak huhuhu, saya gak mau di unboxing."
Arsen menatap Azila heran, "Siapa juga yang mau unboxing kamu."
Azila terdiam dengan kedua tangan yang menyilang dadanya lalu menatap Arsen dengan wajah tanda tanyanya, "Lah kok? tadi kata bapak."
Arsen tertawa keras, perutnya terasa geli melihat wajah Azila, "Hahaha."
"Saya hanya bercanda."
"Terus yang kata bapak tanggungjawab, tanggungjawab itu apa?" Tanya Azila heran.
"Saya lapar, sana kamu masak."
"Hah," Ucap Azila mudeng, tangannya menggaruk kepalanya gatal.
Flashback off
__ADS_1