
Suara suara yang terdengar samar itu mengganggu tidur Airin, ditambah dengan cahaya matahari yang menyilaukan mata nya dan juga badannya yang terasa pegal.
"Eung," Erang Airin saat suara suara itu terdengar lebih jelas.
Mata Airin mengerjap ngerjap pelan, Airin masih terdiam saat nyawanya belum terkumpul semua. Wangi maskulin menyeruak kedalam hidung saat Airin sudah sepenuhnya terbangun.
Mata Airin membola saat menyadari bahwa dirinya berada di pangkuan seseorang. Airin mendongakkan kepalanya keatas melihat Agas yang tertidur dengan kepala menunduk.
"Aish, baru Inget gue kalo gue tidur dipangkuan si om," Gumam Airin.
"Is Zio, bukan gitu, kata mommy juga harus diputal putal."
Suara Alga terdengar jelas, Airin yang teringat dengan mereka bertiga pun seketika melihat kearah ranjang yang ternyata sudah kosong dan rapi.
"Kemana mereka?" Tanya Airin lirih.
"Ini juga udah bener Alga," Sahut Zio.
Seketika Airin menengok kearah kamar mandi, dan sepertinya apa yang ada dipikirannya benar bahwa mereka sedang mandi. Tak mau terjadi apa apa Airin beranjak dari duduknya, tetapi tarikan pada tangannya membuat dia kembali duduk.
"Mau kemana hm?" tanya Agas dengan suara serak khas bangun tidur bahkan matanya masih tertutup.
"Mau liat itu anak anak, mereka kayaknya lagi mandi," Ucap Airin.
"Tidak usah, diam saja disini," Agas memeluk Airin kembali, tangannya membawa kepala Airin agar bersandar didadanya kembali.
"Tapi om, ntar kalo mereka kenapa napa gimana?" Tanya Airin khawatir.
"Tidak akan terjadi apa apa, tenanglah," Bisik Agas sambil mengusap kepala Airin lembut.
Airin dengan pasrah menurut, tatapan Airin mendongak melihat wajah Agas yang terlihat hampir sempurna, hidung yang mancung dan ramping, bibir sexy yang sedikit tebal, mata yang tajam dengan bulu mata lebat, alis yang hitam menukik tajam serta rahang tegas sebagai penyempurna rupanya.
"Sempurna," Batin Airin memuji.
"Om," Panggil Airin.
"Hm."
"Airin mau berdiri, kasian nanti kaki om pegal, Airin kan berat," Ucap Airin kala teringat jika sudah lama dia duduk dipangkuan Agas.
"Tidak, kamu ringan seperti Alga," Jawab Agas sambil membuka matanya lalu menunduk melihat Airin.
"Bohong! berat badan Airin 50 loh om," Ucap Airin.
Agas tidak menjawabnya, pandangannya sibuk menatap Airin dengan tangan yang mengelus elus rambut lembut Airin.
"Tidak masalah, mau seberapa berat pun. Jika itu kamu, saya akan tetap memangku mu," Ucap Agas.
"Terserah om lah."
Tangan Agas turun ke pipi chubby Airin, mengelusnya dengan pelan, mata dan tangan Agas seolah terhipnotis dengan pipi yang putih, lembut juga sedikit bulat itu.
__ADS_1
"Kenapa pipimu lembut sekali?" Tanya Agas lirih.
"Mana saya tahu, mungkin efek skincare," Jawab Airin acuh.
"Saya mau," Ucap Agas sambil terus melihat kearah pipi Airin.
"Hah? maksud om apa? skincare?" Tanya Airin bingung.
Agas tidak menjawab, wajahnya ia dekatkan dengan wajah Airin, "Boleh?"
"B-boleh apa?" Tanya Airin gugup.
Agas menunjuk pipi Airin, "Ini, saya mau ini Airin," Bisiknya.
Cup.
Airin menegang saat sebuah benda hangat dan kenyal menyentuh pipinya. Sedangkan Agas terus mencium pipi Airin pelan dengan mata yang tertutup.
"Akh," Ringis Airin saat merasakan gigitan pada pipinya.
Agas tidak menghiraukan ringisan Airin, bibir dan giginya terus mencium dan menggigit pipi Airin gemas.
"O-om udah," Ucap Airin sambil mencoba menjauhkan Agas darinya.
"Sebentar lagi," Bisik Agas.
Tangan Agas yang satunya mengelus pipi Airin yang sebelah. Sungguh, dia tidak bisa menghentikan ini, pipi Airin membuatnya gemas membuatnya ingin terus mencium dan menciumnya.
"Daddy!"
Agas menjauhkan wajahnya dari muka Airin lalu melihat kearah Alga yang berlari kearahnya sambil menangis diikuti Zio dan Rion yang menatap heran. Airin mengelap pipinya yang basah dengan tatapan mata mengarah pada Agas tajam.
"Mommy," Rengek Alga yang masih memakai jubah mandi sambil merentangkan tangannya kearah Airin.
Airin pun menggendong Alga dengan posisi duduknya masih sama yaitu duduk dipangkuan Agas, ingin sekali dia beranjak tapi Agas selalu menahannya dengan pelukan eratnya.
"Hiks mommy, ayo jangan deket deket daddy nanti mommy dimakan," Ucap Alga sambil sesenggukan.
Agas menatap Alga malas, "Mengannggu saja," Ucap Agas dalam batinnya.
"Siapa yang mau makan mommy? udah jangan nangis, ayok kita pakai baju nanti keburu masuk angin," Ucap Airin.
Airin melepaskan lilitan tangan Agas dengan paksa, lalu beranjak kearah walk in closest sambil diikuti Zio dan Rion. Sedangkan Agas menatap Airin kesal, wajahnya dia tutup dengan bantal sofa, kakinya menendang nendang udara kesal.
...~o0o~...
Ayla kini berjalan sendirian disebuah event makanan, tatapannya sedari tadi berkeliling melihat makanan yang menggiurkan.
"Fiks si Airin sama si Azila bakalan nyesel gak mau nemenin gue," Ucapnya sambil tersenyum miring.
Langkah ringannya terhenti saat melihat pedangan soto khas Jogja, "Omo! is this true! soto Jogja!"
__ADS_1
Ayla segera berlari menuju pedagang tersebut, "Mang, pesan sotonya dong satu porsi!"
"Siap neng, monggo duduk dulu neng," Ucapnya.
Ayla duduk dengan tenang dikursi kayu panjang ini, layaknya anak kecil yang senang jika dibelikan ice cream, mulutnya bersenandung pelan saat merasakan kebahagiaan bisa menikmati soto favorit dia dan sahabatnya.
"Ini neng,"
"Makasih mang," Ucap Ayla saat pesanannya datang.
"Ets Poto dulu dong," Ucap Ayla saat ingat jika dirinya harus menyombongkan nya kepada dua sahabatnya.
Setelah mengirim pesan, Ayla langsung memakan sotonya dengan lahap, tak peduli dengan tatapan orang orang padanya.
"Gila enak banget! rasanya sama kayak waktu itu," Gumam Ayla dengan mata berbinar-binar.
Saat akan menyuapi sesendok nasi ke mulutnya, sendoknya terlebih dahulu direbut. Ayla mengerjap ngerjap bingung lalu melihat kesampingnya dengan tatapan marah.
"Joshua!" Pekik Ayla kesal.
Joshua dengan santainya duduk disamping Ayla, "Kenapa? gue ganteng ya," Ucapnya pede.
Ayla menatapnya kesal lalu memakan kembali sotonya dengan tenang tanpa menghiraukan Joshua yang ada disampingnya.
"Bagi dong Ay," Pinta Joshua.
"Enak aja beli sana, punya uangkan," Ucap Ayla sinis
"Elah, pelit banget sih lo."
"Terserah gue dong, Lo ngapain disini? jangan jangan lo ngikutin gue lagi," Ucap Ayla sambil menatap Joshua dengan pandangan menyelidik.
"Ngapain gue ngikut ngikut Lo dasar pede lo," Ucap Joshua lalu menoyor jidat Ayla pelan.
"Sialan gak usah noyor noyor juga lo, ntar gue bego emang lo mau tanggungjawab," Ucap Ayla kesal.
"Elah lebay lo, mana ada ditoyor langsung bego," Ucap Joshua.
"Serah, sana lo gak usah deket deket. Gue lagi alergi kalo deket lo sekarang," Ucap Ayla sambil mendorong dorong tubuh Joshua.
"Dikira gue apa," Gumam Joshua kesal.
"Sana lo ih! gue lagi me time, lo ganggu aja deh ah!" Kesal Ayla.
"Dih siapa juga yang ganggu, pede lagi kan lo. Gue kesini mau makan," Ucap Joshua lalu beranjak dari duduknya.
"Yaudah sana lo sana," Ucap Ayla sambil mengusir Joshua.
Joshua berdecak kesal lalu berjalan mengambil pesanannya, sebelum pergi dia menatap Ayla dengan senyum jahilnya.
"Am, makasih loh. Lo baik banget sih, gue pergi dulu dadah boncel," Ucap Joshua setelah merebut suapan Ayla.
__ADS_1
Joshua menatap Ayla sambil mengedipkan sebelah matanya lalu mengacak acak rambut Ayla sebelum berlari pergi menghindari amukan temannya itu.
"Joshua setan!"