Young Mom

Young Mom
PART 53


__ADS_3

Saat ini ke empat lelaki beda usia itu berada di ruang cctv, Azrel beserta Agion berdiri di samping kedua lelaki tua itu dengan santai.


"Cek cctv di ruangan VVIP menantu saya," Titah Damian kepada lelaki yang sedikit tua.


"Baik tuan," Lelaki itu mulai mencari cctv ruangan itu.


"Percepat ke jam sepuluh," Ucap Damian.


Cctv pun dipercepat ke jam sepuluh, terlihat di layar Gina dan Dira keluar ruang rawat Airin. Tak lama hanya berselang satu menit datang seseorang dengan pakaian tertutup yang menyuntikan cairan ke infusan Airin.


"Tunggu, bisa kau perbesar," Titah Agion lelaki tersebut berjalan keluar.


"Kenapa? kamu mengenalnya?" Tanya Raymond.


Agion menatap layar itu dengan mata tajamnya, "Aku sepertinya mengenalnya, tapi. Ah, itu tidak mungkin," Batin Agion.


"Ah, tidak. Aku hanya ingin melihatnya lebih jelas," Ungkap Agion tetapi pikirannya tetap kecurigaan nya.


Dor...dor...dor.


Suara tembakan menggema di mansion yang berada di pinggir kota. Bau amis tercium samar, Agas bersandar di dinding. Gerakannya seolah mengisyaratkan untuk masuk kedalam, Jehon yang berada di sekitar Agas mengangguk lalu berlari memasuki ruangan dengan pintu yang lumayan besar.


Agas memegang bahunya yang terkena benda tajam, "Lo oke?" Tanya Daniel sambil berbisik.


Agas mengangguk lalu berjalan memasuki pintu tadi, meskipun bahunya sedikit nyeri. Dia tidak peduli, yang terpenting dia bisa bertemu dengan rivalnya itu.


"Akhirnya, aku menemukanmu," Ucap Agas.


Tatapan matanya menyorot tajam ke seorang lelaki yang saat ini diikat oleh Jehon, sedangkan lelaki tersebut tertawa renyah lalu menatap Agas berang.


"Kenapa? kenapa gadismu tidak mati saja!"


"Sialan!" Agas mencengkram kerahnya dengan kencang, terdengar tawa sinis serta sedikit putus asa.


"Hah, kau harusnya tidak bahagia. Wanita itu bodoh, kenapa dia mau dengan pembunuh seperti mu."


Bruk.


Agas dengan keras membanting tubuhnya, tangannya mengepal erat dengan wajah yang penuh emosi. Jehon dan Daniel hanya melihat saja, biarkan saja Agas yang mengurusi lelaki itu.


"Hahaha, hais kau ini cepat sekali emosi," Ucap lelaki itu sambil tertawa hambar.


Agas berdiri di samping lelaki yang kini berbaring dengan tangan terikat itu. Agas menginjak dadanya dengan keras, "Berani sekali kau menyentuh gadisku, kau tau, aku tidak suka miliku di usik. Apalagi dengan lelaki bajingan seperti mu."

__ADS_1


"H-hah. Jika aku bajingan, lalu kau apa? pembunuh?" Ucapnya terbata bata.


"Jika iya kenapa? bukankah penghianat pantas dihukum?" Agas berbisik pelan dengan senyum sinisnya.


Lelaki tersebut mengerang keras saat Agas menekan kakinya diatas dadanya, "Sialan. Kau memang iblis."


Agas menarik kerah lelaki itu, "Dan iblis ini yang akan membuatmu tenang."


Bugh.


Bugh.


Bugh.


Agas memukul lelaki di hadapannya dengan membabi-buta, bibirnya tersenyum menyeringai. Bugh.


"Ash," Agas mengelap hidungnya yang mengeluarkan darah, sedangkan lelaki itu tersenyum puas setelah menonjok hidung Agas dengan tangannya yang terikat.


"Ouh, maaf om saya tidak sengaja," Ucapnya dengan nada yang menjengkelkan.


"Kau tahu. Aku tidak suka basa basi. Bukankah bagus jika aku membunuhmu?" Agas mengangkat lelaki tersebut agar bangkit lalu mendorong nya kekaca.


Prang.


Agas jongkok disampingnya, tangannya meremas pecahan kaca itu tanpa menghiraukan darah yang keluar dari genggamannya, "Aku ingin bertanya, bagaimana reaksi sahabat mu jika kau mati mengenaskan."


"Cih, kau tidak perlu tahu."


Agas menodongkan pistol ke arah jidat lelaki itu, "Aku hanya ingin tahu, bagaimana reaksi mereka jika mempunyai sahabat bajingan seperti mu!"


Jelb.


"Akkh!" Teriaknya saat Agas menancapkan pecahan kaca itu didadanya.


Agas tertawa pelan, menyenangkan sekali rasanya melihat bajingan kecil ini meringis. Agas mencabut kembali kaca itu lalu menancapkan tepat kearah jantungnya.


"B-reng-sek!" Desis nya dengan terbata bata.


Agas tersenyum menyeringai, "Bukankah kau melakukan ini kepada gadisku? bagaimana rasanya?"


Lelaki tersebut menatap Agas tajam, nafanya mulai terhimpit. Darah segar keluar dari mulut serta hidungnya, sedangkan Agas tersenyum manis, "Sebentar lagi kau akan bertemu dengan kakakmu, ah tidak. Lebih tepatnya korban mu! right? oh iya aku melupakan nya, anak mu juga."


"Aku sangat baik bukan? mempertemukan mu dengan keluarga yang kau lenyap kan itu. Bersenang-senang lah dengan mereka, tapi aku tidak yakin kau akan bertemu dengannya."

__ADS_1


Agas Berdiri lalu mengarahkan pistol nya kepada kepala lelaki itu, lelaki yang masih sadar setengah itu menatap Agas penuh dendam sedangkan Agas menatapnya datar.


"Selamat datang ke neraka,"


Dor.


"Giri." Lirih Agas setelah menembak kepala Giri.


...~o0o~...


"Arrgh! sialan!" Teriakan menggema di ruangan kosong serta gelap.


"Cih, dasar bocah tidak berguna. sekarang kau sudah mati dan aku tidak punya boneka lagi. Brengsek!"


Tatapan lelaki itu menyorot tajam dengan tangan yang mengepal erat. Perasaan marah membuncah di dalam tubuhnya, "Aku akan membunuhmu. Dengan tanganku sendiri."


Di sisi lain, tepatnya di ruang rawat Airin. Keadaan hening meskipun banyak orang yang berada di ruangan ini. Semua tampak fokus pada kegiatannya masing masing.


"Fiter, kemana Giri?" Tanya Agion yang sedari tadi diam memperhatikan kegiatan teman temannya.


"Entah gue gak tau. Terakhir gue liat waktu pulang sekolah," Ucap Fiter yang masih fokus dengan ponselnya.


Azrel hanya terdiam mendengarkan percakapan teman temannya, tangannya sibuk mengelus rambut Alga yang dengan nyenyak nya tidur sambil memeluk Airin.


"Eh maaf, gue pulang duluan. Bapak suami udah telepon," Ucap Azila tiba tiba lalu berjalan menghampiri Airin, mengecup dahinya sebentar lalu membisikan sesuatu dengan pelan.


"Eh kalau gitu gue juga pulang, kan gue bareng Lo Zil," Ucap Ayla sambil berdiri tetapi tangannya di cegah oleh Joshua.


"Lo pulang bareng gue," Timpal Joshua lalu menyeret Ayla menuju hospital bed Airin.


Joshua mengusap rambut Airin pelan lalu mencium jidat Airin lembut, "Cepat bangun Rin. Rajamu ini rindu," Bisiknya.


Ayla menggigit bibir bawahnya, ntah kenapa melihat tingkah Joshua kali ini membuatnya sedikit kesal. Padahal, Ayla sudah biasa melihat sikap romantis Joshua terhadap Airin. Ayla dengan cepat menarik tangan Joshua lalu berganti posisi dengannya.


"Cepat sadar Rin. Gue kangen lo, gue janji deh kalo lo besok bangun. Gue traktir lo makan soto langganan kita selama satu bulan," Gumam Ayla.


Joshau menggelengkan kepalanya, Dia yakin. Ayla akan menyesali ucapannya!


"Kita pulang dulu ya, kalian jaga sahabat gue yang bener. Awas kalo ada kejadian yang tidak diinginkan, habis Lo semua sama gue," Ucap Azila yang akhirnya membuka suara setelah drama Ayla dan Joshua.


"Iya kak. Hati hati dijalan, jaga ponakan gue," Ucap Agion ngawur, sedangkan Azila menatapnya berang lalu berpamitan keluar ruangan diikuti Ayla dan Joshua yang sepertinya sedang tidak atau dalam keadaan yang kurang baik.


Agion menghela nafas, entah kenapa hatinya merasa tidak tenang. Sesuatu seolah merengut paksa kesadarannya, tatapannya kini menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong dimana terdapat pesannya yang sama sekali tidak di balas Giri.

__ADS_1


"Gue harap lo gak papa," Gumamnya.


__ADS_2