Young Mom

Young Mom
PART 37


__ADS_3

Agas memasuki cafe yang buka dua puluh empat jam, jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Setelah tadi jalan jalan bersama Airin, ada seseorang yang meneleponnya.


"Kenapa?" Tanya Agas sambil duduk didepan seorang wanita cantik.


"Seperti biasa, to the point heh," Sindir wanita tersebut.


"Jangan bertele-tele Angel, saya tidak bisa lama lama meninggalkan gadisku sendirian," Ucap Agas sambil melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.


Angel tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya dikursi dengan menggoyang goyangkan gelas yang berisi wine ditangan kanannya, "Cih, kau terlalu over. Lagian tidak ada yang bisa masuk ke apartemen mu, right?"


Agas menghela nafasnya pelan lalu bersandar dikursinya, "Apa yang kau mau?"


Angel tersenyum manis lalu menyimpan gelasnya dimeja, "Bagaimana jika tubuhmu?"


"Jangan bercanda jika tak ingin wajah kesayangan mu itu berubah, "Ucap Agas tajam.


"Hahaha kau ini serius sekali. Ah, baiklah aku hanya ingin jantung bajingan itu," Ucap Angel.


Agas memijat hidungnya pelan, "Bajingan siapa yang kau maksud?"


"Tentu saja pamanmu, Mr.Robetrt. Aish, lidahku saja gatal menyebut namanya," Ucap Angel lalu memainkan lidahnya didalam mulutnya.


"Kenapa tidak kau saja yang mengambilnya. Dan sudah ku katakan bahwa dia bukan pamanku!" Tekan Agas.


"Ah bocah ini, kau tak ingat? dia berada di tanganmu."


"Bukan aku yang memegangnya, tapi Laila," Sanggah Agas.


"Oh, si perawan tua itu? bagaimana bisa?" Tanya Angel.


"Kau mengatai dirimu sendiri jika kau sadar," Agas memutar bola matanya malas lalu meminum kopi yang berada dimeja.


"Aku tidak terlihat tua, ah lagian aku sudah tidak perawan," Ucap Angel dengan tidak tau malunya.


Sedangkan Agas hanya menatapnya datar, sudah biasa dengan tingkah Angel yang blak blakan, "Karena kau operasi plastik dan jangan membanggakan gelar mu itu jika suatu saat nanti kau terkena penyakit kelamin."


"Oh benarkah? aku tidak peduli, aish kenapa kita jadi membahas itu," Geram Angel, "Bisakah kau bilang ke perawan tua itu untuk memberikan si bajingan itu kepadaku."


"Merepotkan, bilang saja sendiri. Sampai kau sujud dikakinya pun dia tidak akan memberikannya," Ucap Agas.


"Aish menyebalkan sekali!"


Agas berdiri dari duduknya, "Sudahlah, kau mengajakku kesini hanya untuk itu? membuang buang waktuku saja."


"Tentu saja tidak."


Angel berdiri didepan Agas sambil melipat tangannya didepan dadanya, "Aku ingin melihat gadismu itu, bagaimana rupanya? sampai sampai bisa menarik hati es mu itu."


"Jangan macam macam Angel. Aku tidak mengijinkan kau untuk bertemu dengan gadisku," Tekan Agas.


"Uh, posesif sekali kau ini. Lagian aku tidak akan macam macam, aku janji," Ucap Angel sambil mengangkat sebelah tangannya.


"Tidak. Kau itu pembohong, mana bisa aku percaya padamu."

__ADS_1


"Aish ayolah, kau tidak mau membawakan ku jantung si bajingan dan sebagai gantinya biarkan aku bertemu gadismu," Pinta Angel.


"Tidak. Sekali aku bilang tidak ya tidak. Gadisku bisa bisa gila bertemu dengan wanita seperti mu," Ucap Agas sarkas.


"Cih kau pikir aku apa? aku kan malaikat," Ucap Angel sambil mengibaskan rambutnya.


"Malaikat maut heh!"


"Sudahlah, kau pulang sana. Jangan dulu muncul dihadapan gadisku, ah dan jangan lupa beberapa hari lagi penobatan ku. Dan kau jangan sampai telat," Ucap Agas lalu berjalan meninggalkan Angel yang menggerutu kesal.


Agas duduk dikursi kemudinya sambil mengotak atik handphone nya, lalu tak lama nada sambung terdengar.


"Halo," Sapa seseorang.


"Halo, kenapa kau membiarkan wanita itu menemuiku sih?" Tanya Agas kesal.


"Dia memaksa ingin bertemu dengan gadismu," Ucapnya.


Agas menghela nafas pelan, "Jangan sampai Angel bertemu dengan gadisku, aku tidak mau sifat gilanya itu menular pada gadisku."


"Kau ini jahat sekali. Biarkan saja Angel menemuinya,"


"Tidak. Jangan sekarang, dia kan mulutnya blak blakan. Aku tidak mau rahasia ku terbongkar sekarang."


"Huft, yasudah. Nanti ku bicarakan dengannya," Ucapnya.


"Oke, terimakasih Jehon."


...~o0o~...


Azila duduk santai membaca novel di kamarnya. setelah berhasil kabur dimansion Arsen, Azila bersembunyi dirumahnya yang sedang kosong ah tidak lebih tepatnya setiap hari kosong, hanya ada dirinya dan pembantu yang datang sampai sore hari saja serta pak satpam yang sampai jam delapan malam.


Kedua orangtuanya sedang bekerja dan akan pulang saat mereka merasa lelah, sedangkan Azila tak masalh jika kedua orangtuanya jarang pulang yang penting masih ada waktu untuk berkumpul bersama dirinya meskipun hanya sebentar.


"Hiks, sedih banget gue. Masa anaknya mati, kenapa gak sibapak durhakan aja yang mati."


"Ini gak adil, huaaa gue kan jadi sedih coy. Siapa sih yang bikin novel ini! gak berperikehatian banget."


"Woy gila, anak lo baru aja mati bund. Kenapa Lo malah mau bikin lagi!"


"Setan lah! nyebelin banget nih pebinor."


Azila terus mengoceh tak jelas sambil sesekali memakan cemilannya, tanpa dia ketahui Arsen berdiri dibelakangnya dengan tangan yang berada dikedua sakunya.


"Mampus lo! kena karma kan hahaha!"


Arsen menggelengkan kepalanya melihat tingkah Azila yang mengoceh sendiri. Dengan pelan Arsen tengkurap disamping Azila, "Sedih banget ya novelnya."


"Iya huhuhu, anaknya mati tau. Gak adil, harusnya kan yang matinya si bapak sama emaknya," Oceh Azila tak sadar.


Arsen mengangguk anggukan kepalanya lalu berbisik pelan ketelinga Azila, "Sukses kaburnya."


Azila menegang seketika lalu menengok ke arah Arsen pelan pelan, "Eh hehehe kok ada bapak disini? masuk lewat mana pak? lewat genteng ya? kok gak kedengeran? jangan jangan bapak setan!"

__ADS_1


Arsen memutar bola matanya malas mendengar ucapan Absrud Azila, Tak. Arsen menjitak jidat Azila pelan, sedangkan Azila meringis sambil mengelus jidatnya.


"Sakit pak elah main jitak jitak aja, kasian otak saya pak ntar geser 0,1 derajat ," Ucap Azila ngawur.


"Gak jelas. Ayok pulang," Ucap Arsen sambil menarik Azila agar beranjak dari tengkurap nya.


"Aish, gak mau pak. Rumah saya kan disini!" Azila memberontak liar.


"Ish, ayok pulang," Ucap Arsen sambil mencoba menggendong Azila.


Azila memberontak, menggulingkan badannya kesana kemari, "Gak mau! rumah saya kan disini! bapak kalau mau pulang, pulang aja sana. Ngapain ngajak ngajak saya!"


Hap.


Arsen berhasil menangkap tangan Azila sedangkan Azila menggoyang goyangkan tangannya agar terlepas, "Ayok. Kamu licin banget sih kayak belut."


"Ih bapak gak mau! lepas lepas!" Teriak Azila saat Arsen sudah mengunci pergerakannya.


"Gak, kamu pulang kerumah kita," Ucap Arsen sambil menahan pergerakan Azila.


"Apasih pak! rumah kita rumah kita! nikah aja belum!" Pekik Azila tepat didekat telinga Arsen.


Arsen melepaskan satu tangannya lalu mengusap telinganya yang terasa berdengung, "Aish, kamu kalau mau teriak jangan didekat telinga saya."


Merasa pertahanan Arsen melemah Azila segera berguling kesisi kosong kasurnya, "Siapa suruh telinga bapak dekat mulut saya."


"Akh! Kamu nyebelin banget sih! ayok pulang kalau nggak saya paksa!"


"Ih! kan saya bilang nggak! situ siapa nyuruh nyuruh saya!" Pekik Azila.


Arsen geram dengan tingkah Azila yang keras kepala, kedua tangannya menarik tangan Azila agar bangkit dari tidurnya, "Ayok!"


"Nggak, huaaa nggak mau bapak!" Pekik Azila sambil menggeliat seperti ulat.


"Ayok, kamu berat banget sih!"


"Nggak nggak nggak!"


Bruk.


"Aws,"Ringis Azila dengan mata tertutup saat tak sengaja menarik tangan Arsen.


Arsen mengerjap ngerjapkan matanya, sedangkan Azila meringis pelan merasakan berat diatas tubuhnya, "Bapak ken-"


Azila membuka matanya saat merasakan deru nafas yang dekat dengan wajahnya, matanya membola melihat Arsen yang berada diatasnya dengan kedua hidung mereka bersentuhan.


Azila menelan salivanya gugup, jantungnya berdegup kencang melihat muka tampan Arsen yang sangat dekat dengannya. Sedangkan Arsen hanya menatap Azila dengan raut wajah kaget, kedua tangan yang menggenggam tangan Azila ia jadikan tompangan badannya.


Cklek.


"Azila mama pul-lang," Ucapan Seorang wanita paruh baya itu terhenti saat melihat mereka berdua, sedangkan Azila dan Arsen menatap nya dengan bola mata yang membesar kaget.


"Alamak tamat riwayat mu Azila! huhuhu pasti habis ini gue di kawinin," Ucap Azila dalam batinnya.

__ADS_1


__ADS_2