Young Mom

Young Mom
PART 66


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul setengah satu malam, Airin baru saja selesai dengan mandinya dan kini dia sudah berbaring di ranjang kamarnya. Memang, setelah resepsi outdoor itu mereka langsung pulang ke rumah kedua orangtua Airin.


Airin berbaring sambil memainkan handphone nya, ingin tidurpun dia harus menunggu Agas yang hilang entah kemana.


Cklek...


"Kenapa belum tidur?" Tanya Agas yang baru saja masuk dengan pakaian yang sudah tidak serapi tadi.


Airin berbaring menyamping menghadap pintu kamarnya, "Nunggu kamu, bukankah tidak baik istri tidur duluan?"


"Apalagi ini malam pertama," Gumam Airin.


Agas mengangguk sambil melepaskan jas, dasi, kaus kaki serta kancing kemejanya, "Padahal tidak apa apa jika kamu ingin tidur duluan."


"Nggak, Airin mau tidur bareng," Kekeh Airin.


Agas terkekeh pelan lalu mengambil baju serta handuk, "Yasudah, tunggu dulu ya. Aku mau mandi bentar kok gak bakal lama."


Airin mengangguk, "Jangan lupa, berendam dulu bentar. Airnya udah aku siapin."


Agas tersenyum kecil, "Baik banget sih, terima kasih istri," Ucapnya lalu berlalu memasuki kemar mandi.


Sekitar dua puluh lima menit Airin menunggu akhirnya Agas keluar dari kamar mandi dengan baju tidur satin yang sama dengan Airin. Entah siapa yang menyiapkan baju ini untuk mereka, yang pasti Airin merasakan sedikit lebih tua.


"Sini," Ucap Airin sambil menepuk bagian kasur yang kosong di sebelahnya.


Agas mengangguk lalu menaiki kasur dan duduk di samping Airin yang kini duduk menyila menghadap Agas, "Balik badan ke belakang."


Agas hanya menurut saja apa yang di ucapakan Airin sambil menggosok gosok rambutnya yang basah, "Sini," Titah Airin sambil merebut handuk kecil yang ada di tangan Agas.


"Mandinya pakai air hangat yang aku siapin tadi kan?" Tanya Airin sambil mengeringkan rambut Agas dengan handuk kecil.


"Iya, karena itu juga badan aku jadi wangi kamu. Jasmine sama... Rosella?" Tebak Agas dengan mata tertutup menikmati sapuan tangan Airin di kepalanya.


"Hehehe iya, badan kamu jadinya girly banget tahu."


Agas terkekeh pelan, "Gak papa aku suka. Tapi, kenapa ya kalo di pakai kamu wanginya beda?"

__ADS_1


Airin menyimpan handuk tadi di nakas lalu mengambil sisir yang ada di samping tempat tidur, "Beda apanya?" Tanya Airin sambil menyisir rambut Agas.


"Wanginya," Ucap Agas lalu berbalik menghadap Airin di saat dia rasa rambutnya sudah selesai di bereskan.


"Kenapa gitu?" Tanya Airin penasaran.


Agas tidak menjawab malah membawa Airin agar berbaring bersamanya, tangannya memeluk pinggang Airin posesif dengan kepala yang berada di tempat kesukaannya yaitu dada Airin.


"Wanginya jadi menantang, kadang lembut, bikin aku tenang, aku suka. Wangi kamu itu candu," Ucap Agas sambil hidungnya sesekali menghirup wangi badan Airin.


Airin tersenyum sambil mengusap belakang kepala Agas, "Syukur deh kalo aku wangi. Kalo bau kan bahaya, ntar kamu gak mau deket deket aku."


"Mau kamu wangi atau bau pun aku tetap suka. Karena, baunya kamu itu bukan bau gak mandi satu bulan."


"Terus apa?" Tanya Airin.


Agas membuka matanya lalu mendongak menatap Airin, "Bau alami, ntah aku juga gak tau yang pasti mau kamu bau atau wangi. Tetap aja aku nyaman."


Airin tertawa di buatnya, "Itumah kamu udah kelewat bucin."


"Sayang," Panggilnya.


Airin menatap Agas dengan tanda tanya sedangkan Agas tersenyum penuh misteri, "Kita buat baby yuk!"


"Hah?" Tanya Airin mudeng, sungguh. Dia tidak terpikirkan kearah sana.


"Buset dah, baru ingat gue. Malam pertama kan waktunya memecah sebongkah berlian," Gerutu Airin dalam hati.


"Sayang ayok..." Rengek Agas sambil menggoyang goyangkan tubuh Airin yang kini di peluknya erat.


"Kamu gak capek emang? kalo aku sih capek," Ucap Airin dengan santainya, seketika raut muka Agas berubah sendu.


"T-tapi.."


"Hm, gimana kalo gini," Ucap Airin menggantung, "Kita malam ini istirahat aja, terus buat baby nya waktu honeymoon. Terserah deh nanti kamu mau gimanain aku, yang penting malam ini kita istirahat. Deal?"


Agas terdiam dengan pikiran semrawut nya, lalu tak lama seringai tipis muncul di bibir nya, tak taukah Airin bahwa dia baru saja membuat Agas traveling dengan pikiran nya dan seketika senyum puas tertampang di wajah tampannya.

__ADS_1


Cup..


Agas mengecup bibir Airin sekilas lalu tersenyum menyeringai, "Tentu saja, deal baby!"


...~o0o~...


Dilain tempat dengan hawa yang berbeda dengan kesan romantis yang di lakukan pasutri baru itu. Arsen menatap ranjangnya dengan sendu, baru sekitar satu bulan yang lalu dia senang dengan kehadiran baby di perut Azila dan sekarang matanya menatap perut Azila dengan tatapan permusuhan.


Sepertinya dia akan mendapatkan rival baru di dalam kehidupan romantisnya dengan Azila, "Baru satu bulan saja aku sudah tersiksa. Bagaimana nanti saat aku harus sabar menunggu delapan bulan lagi," Gumamnya dengan nada kesal.


"Cih, jika kau seorang lelaki akan aku ajak bertarung. Jika kau seorang perempuan akan ku ajak perang memasak."


Arsen duduk di sofa dengan kaki menyilang, tangan yang menyilang di depan dadanya serta tatapan kesalnya mengarah pada perut Azila.


"Sombong sekali bayi itu, karena mu aku tidak bisa tidur sambil memeluk my honey ku," Gumam Arsen kesal.


Bagaimana tidak kesal kakak? Azila menyuruhnya untuk tidur di sofa selama delapan bulan yang berarti selama masa kehamilan nya sampai akan melahirkan. Dan juga jangan mendekat dalam radius satu meter, katanya wangi badan Arsen mengganggunya.


"Apa aku harus mengganti merek parfum ku? sepertinya bayi itu punya selera miskin, bagaimana bisa parfum ku yang seharga ginjal itu tidak disukainya?" Gerutunya.


"Ck, Arsen! jangan bergibah, sepertinya bayi kita tidak suka jika kau berbicara," Ucap Azila dengan mata tertutup.


"Ck sayang. Yang benar saja? kenapa bayi itu sangat menjengkelkan!" Ucap Arsen sambil memutar bola matanya malas.


Azila seketika membuka matanya lebar lebar menatap Arsen dengan tatapan tajam, "Arsen! Jangan begitu, kau itu tidak berkaca. Sifat menjengkelkan ini turun dari siapa?"


Arsen menghela nafas jengah, "Ck aku."


"Yasudah jangan berbicara lagi, kau itu menjengkelkan. Hais jadi begini rasanya saat ibumu mengandung mu," Ucap Azila.


"Memang kenapa?" Tanya Agas penasaran.


"Menjengkelkan! aku lapar tapi tak bisa makan! aku ingin memelukmu tapi kau bau! menjengkelkan!" Sembur Azila lalu kembali menutup matanya dengan selimut yang dinaikan sampai dadanya.


"Apa aku se-menjengkelkan itu? ck, lagian bagaimana bisa bayi itu memiliki sifat seperti ku? baru satu bulan saja sifatnya sudah ketebak, menjengkelkan!" Gerutu Arsen lalu berbaring disofa dengan selimut tebal menyelimuti nya.


"Huft, sepertinya hidupku kedepannya akan penuh dengan cobaan. Menyedihkan!"

__ADS_1


__ADS_2