Young Mom

Young Mom
PART 17


__ADS_3

Alga berjalan dengan riang sambil menggandeng tangan Zio, sedari tadi mereka menjadi pusat perhatian.


Alga mengehntikan jalannya lalu berbalik menatap Zio yang sedari tadi mengekornya, "Zio."


"Hm, kenapa?"


Alga menatap sekitar dengan bingung, "Kenapa meleka liatain kita mulu sih? emang kita aneh ya Zio? atau meleka telpesona sama ketampanan Alga."


Alga berbicara dengan polosnya, jari telunjuknya diletakan didagunya, tatapan mata yang berbinar itu menatap Zio yang berwajah dingin.


"Menurut Alga, mereka ngeliatin kita karena apa?" Tanya balik Zio.


Alga menggaruk rambutnya yang tidak gatal, keningnya berkerut dengan mata menyipit, "Kalena kita tampan jadi meleka telpesona sama kita."


Alga mengangguk anggukan kepalanya merasa bahwa perkataannya benar, semua orang melihatnya dengan menahan gemas.


"Hm, bener. Udah kan? kalau udah kita lanjut kekantin," Ucap Zio.


"Udah Zio, yuk kita kekantin. Pelut Alga gelak gelak mulu, kalo kata Abang itu tandanya lapal, cacingnya mau makan."


Alga berbicara sambil berjalan dengan tangan yang senantiasa menggandeng telapak tangan Zio yang lebih besar darinya. Sedangkan Zio hanya mengangguk anggukan kepalanya.


"Eh Zio."


"Apalagi?"


"Kan kata abang dipelut kita ada cacing, Alga mau liat cacingnya, Zio."


Zio mengerutkan dahinya bingung, bagaimana cara melihat cacing diperut sendiri.


"Mm, aku jawab apa ya? aku juga gak tau gimana caranya," Ucap Zio dalam batinnya.


"Nanti kita tanyain ke Daddy Agas," Putus Zio.


Alga mengangguk, kini sampailah mereka berdua dikantin rumah sakit yang lumayan ramai. Alga menatap sekitar guna mencari makanan yang menurutnya enak.


"Zio, menulut Zio kita makan apa?" Tanya Alga dengan pandangan yang sibuk melihat sekeliling.


"Nasi aja, soalnya tadi pagi kan cuman makan roti."


Alga mengangguk setuju, "Yaudah kita makan Nasi goleng sama ayam goleng aja yuk."


"Yaudah ayok."


Alga berjalan kearah wanita paruh baya yang sepertinya pelayan, "Bibi."


Wanita itu melihat kearah Alga dan Zio, lalu berjongkok menyesuaikan tingginya, "Halo, ada yang bisa bibi bantu."


"Bibi, kita mau pesan nasi goleng dua sama ayam golengnya dua polsi, telus em apa ya."


"Zio kita minumnya apa ya?" Tanya Alga sambil melihat kearah Zio.


"Minumnya air putih aja bi."


Wanita itu tersenyum lalu mengangguk, "Kalian tunggu dulu dikursi itu ya, bibi mau buatin pesanan kalian."


"Makasih bibi, ayo Zio," Ucap Alga lalu mengajak Zio duduk dengan saling berhadapan.


Alga duduk dengan mengayun ayunkan kakinya, tatapannya sedari tadi melihat sekeliling. Lalu mata Alga melihat kearah seorang anak yang sepertinya seumuran dengannya.


"Zio, tunggu disini ya Alga mau kesana bental."


Belum sempat Zio menjawab Alga terlebih dahulu berlari menuju meja paling ujung, Zio hanya memperhatikan saja.


"Hai nama kamu siapa? aku Alga," Ucap Alga sambil mengulurkan tangannya kedepan anak yang sedang menunduk itu.

__ADS_1


"Halo, kamu dengel Alga ngomong gak sih!"


Anak tersebut mengangkat wajahnya tatapan mereka bertemu, Alga tersenyum dengan polosnya saat tatapan dingin melihat kearahnya.


"Nama kamu siapa?" Tanya Alga sekali lagi.


"Rion."


"Oh Lion, halo Lion. Kenapa Lion disini sendili?" Tanya Alga dengan wajah bingung nya.


Rion tidak menjawab, sedangkan Alga yang sudah geram pun menggandeng tangan Rion menuju mejanya.


"Apa sih!"


"Lion, anak kecil jangan sendilian nanti Lion diculik badut jahat. Mending Lion disini sama Alga sama Zio."


Alga duduk lalu memaksa Rion duduk disampingnya, "Oh iya Zio, ini namanya Lion."


"Alga kenal dari mana?" Tanya Zio sambil terus menatap mata Rion yang mirip dengannya.


"Tadi Alga balu kenalan, iya kan Lion," Ucap Alga dengan menatap Rion penuh harap.


"Iya."


Alga membawa tangan Zio dan Rion agar bersalaman, "Oh iya, kenalan dulu dong Zio."


"Zio."


"Rion."


"Yey, udah kenal kan Zio sekalang. Eh Lion, Lion lagi ngapain disini sendili?"


"Gak ngapa ngapain." Alga mengerutkan dahinya bingung, baru saja dia ingin berbicara bibi yang tadi datang sambil membawa pesanan.


Alga tersenyum antusias lalu dengan ceoat membawa piringnya, "Makasih bibi."


"Sama sama, makan yang banyak. kalau gitu bibi pergi dulu ya."


"Iya bibi." Ucap Alga dan Zio.


Alga memakan makannya dengan cepat, sedangkan Zio hanya memperhatikan saja kelakuan sahabatnya ini.


Merasa diperhatikan Alga melihat kearah Zio dan Rion yang sedang memperhatikan nya, "Kenapa kalian ngeliatin Alga?"


"Nggak papa," Ucap Zio lalu dengan segera memakan makanannya.


"Eh iya, Lion mau?" Tanya Alga sambil menyodorkan seseondok nasi goreng.


"Itu apa?" Tanya Rion sambil menunjuk nasi goreng Alga.


"Lion gak tau? inituh namanya nasi goleng, enak tau. Nih Alga suapi," Ucap Alga sambil menyodorkan seseondok nasi, dengan ragu Rion memakannya.


"Enak," Ucap Rion dengan pekikan senang.


Alga tersenyum manis, "Enak kan, emang Lion belum pelnah makan nasi goleng ya?"


"Belum."


Alga menganga, kenapa bisa Rion tidak pernah makan nasi goreng padahal ini enak dan murah juga.


Alga menggelengkan kepalanya, lalu memakan kembali nasi gorengnya, "Kasihan."


...~o0o~...


Azila duduk dengan lesu sedangkan Ayla sibuk dengan seblak pedasnya, hembusan nafas pelan terdengar.

__ADS_1


"Kapan sih bel pulang! gue pengen ketemu Airin ini!" Pekik Azila kesal.


"Sabar elah, orang sabar dadanya lapang."


Azila melirik Ayla sinis, sedangkan Ayla terkekh pelan lalu memakan seblaknya kembali.


"Kira kira si Airin gimana ya? sekarat apa nggak?"


Plak.


"Aws," Ringisan terdengar dari mulut Azila saat Ayla dengan santainya memukul kepalany menggunakan penggaris besi yang ada di mejanya.


"Sakit bego."


"Lagian mulut lo asal jeplak aja, natr kalo kejadian kan Lo yang histeris," Ucap Ayla dengan santainya.


Sedangkan Azila menatapnya geram, lalu menompang dagunya dilipatan tangannya, "Moga aja lo gak sekarat Rin."


...~o0o~...


Airin tersenyum kaku saat melihat wanita paruh baya yang dipanggil bunda oleh Agas itu menatapnya dengan senyum lebarnya.


"Hentikan senyum lebar itu bun, gak pegel apa," Ucap Agas dengan jengahnya.


Gina menatap anaknya itu datar, mengganggu saja! lalu menatap Airin kembali dengan senyum tipisnya, sedangkan Airin membalas dengan senyum kakunya.


"Buset gugup banget gue, serasa penobatan jadi presiden gue," Airin menggerutu dari hatinya.


"Airin."


"Iya om," Jawab Airin saat namanya dipanggil pria paruh baya yang sepertinya ayah Agas.


"Gimana keaadan kamu? sudah baikkan?" Tanyanya.


"A-a, udah om alhamdulilah keadaan Airin gak selemas kemarin," Ucap Airin gugup lalu diakhiri senyum kakunya.


"Kamu sakit apa sayang?" Tanya Gina sambil tersenyum manis.


"Em, kata dokter gejala tipes."


"Syukur, untung cuman gejala."


Airin mengangguk menyetujui, gini saja dirinya sudah gak tahan pengen cepat sembuh apalagi tangannya yang kebas karena infusan itu.


"Lain kali jaga kesehatan ya, gak enak tau dirumah sakit itu," Ucap Gina.


"A-haha iya tante."


"Eh iya, ini Tante bawa makanan untuk kamu, buah juga, habisin ya semuanya biar cepat sehat," Ucap Gina sambil menyerahkan bingkisan yang banyak kedepan Airin.


Airin hanya bisa tersenyum kaku kembali, "Ah makasih Tante, maaf Airin jadi ngerepotin."


Gina tertawa pelan, lalu tersenyum, "Aish, gak papa, Tante suka direpotkan kok."


"Ibu sama anak sama aja," Airin membatin lalu tersenyum kembali.


"Yaudah kalau gitu, kita pamit dulu ya Airin, maaf Tante cuman bisa nengok sebentar."


"Gak papa kok tan, makasih udah nengok Airin makasih juga untuk bingkisannya," Airin tersenyum.


"Aish, kamu lucu banget sih, cepat cepat nikah sama Agas ya, biar bunda ada temen hehe, kalau gitu kita pergi dulu, assalamualaikum."


Airin terdiam sambil melihat kearah pintu dimana baru saja tertutup saat bunda dan ayah Agas keluar.


"Ya ampun siapa yang mau nikah sama om om!" Pekik Airin dalam batinnya lalu melihat Agas yang menatapnya dengan alis terangkat, sedangkan Airin hanya tersenyum terpaksa melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2