Young Mom

Young Mom
PART 47


__ADS_3

Ruangan sedikit gelap itu membuat suasananya terasa menyeramkan. Hanya ada satu meja dengan tiga kursi disana. Kepulan asap rokok terlihat jelas dimulut seorang pria, tangannya yang mengapit rokok, serta tangan satunya lagi memegang gelas berisi air berwarna merah.


"Ada kemajuan?" Tanyanya pada seorang pria yang berdiri disampingnya.


"Sedikit tuan, saya sudah melakukan nya sesuai dengan perintah anda," Ucapnya.


"Bagus, awasi dan ganggu terus. Jangan sampai dia tahu identitas mu," Pria yang berdiri disampingnya itu mengangguk.


"Baik tuan."


"Kau boleh pergi," Ucapnya sambil menghisap rokok yang dipegangnya. Pria itu mengangguk lalu berjalan meninggalkan tuannya diruangan gelap dan pengap ini.


"Hah, membosankan sekali. Dia tidak ada perlawanan, sepertinya aku harus membuat sesuatu yang besar. Bahkan sangat besar, Ah bagaiman jika aku menghilangkan salah satunya? sepertinya akan menarik!" Ucapnya dengan tersenyum sinis.


"Kau sudah melewati batasanmu Agas! dan kau harus menerima akibatnya."


Disisi lain Agas duduk dimeja bundar bersama teman temannya dengan salah seorang yang tengah mempresentasikan sesuatu.


"Cukup," Titah Agas, Orang tersebut berhenti menjelaskan.


"Bagaimana apa kalian mau bergabung?" Tanya Agas.


"Tentu saja! aku sudah lama menanti momen ini!" Pekik Daniel.


Jehon hanya mengangguk setuju, Agas melirik kearah Angel yang duduk dengan santainya. Angel menatap Agas dengan alis mengangkat, "Kenapa?"


"Ck, apa kau setuju?" Tanya Agas geram.


"Jangan ditanya, aku tentu saja setuju. Apalagi menghadapi bajingan tengik itu, ini pasti akan sangat mudah," Ucap Angel dengan percaya diri.


"Kau jangan meremehkannya," Celetuk Arsen.


"Nah, benar apa yang dikatakan Arsen. Jangan dulu menilai lawan kita karena tampangnya saja, bisa saja di dalamnya dia sangat buas," Jelas Jehon.


"Hm, baiklah baiklah. Santai saja denganku," Ucap Angel.


"Eh ngomong-ngomong. Aku dengar kau sedang bertengkar dengan gadismu? benarkan rumor itu?" Tanya Daniel pada Arsen. Arsen hanya menatapnya malas.


"Kau tau dari mana?" Tanya Arsen dengan tenang.


"Tentu saja paparazi bawah tanah, siapa lagi yang tidak mempunyai kerjaan sepertinya," Jelas Daniel.


"Kenapa kalian bertengkar? bukankah kurang dari satu Minggu lagi kalian akan menikah?" Tanya Jehon yang sedari tadi terdiam menyimak.


"Jangan terlalu banyak bertanya. Kalian mengganggu privasinya," Celetuk Agas sambil mengotak Atik ponselnya.


"Cih, kau ini tidak seru sekali. Aku kan kepo dengannya," Cibir Daniel sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


"Sudahlah aku ingin menemui gadisku," Agas beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar tetapi langkahnya terhenti kala mengingat sesuatu, "Ah iya Arsen."


"Kenapa?" Tanya Arsen.


"Pulanglah, gadismu mencarimu," Ucap Agas lalu pergi dengan langkah ringan.


Sedangkan Arsen masih terdiam dengan pikirannya, pulang? apa maksudnya Azila ada dirumahnya? menunggunya? Setelah tersadar akan pikirannya, Arsen dengan cepat bangkit lalu berlari keluar.


"Ck ck ck, sejak kapan mereka menjadi budak cinta?" Tanya Daniel.


Jehon berdiri dari duduknya, matanya melirik Daniel sekilas lalu berjalan dengan pelan, "Sejak kau tobat menjadi Playboy."

__ADS_1


"Sialan."


Kini di ruangan ini hanya ada Daniel dan Angel. Daniel sibuk menatap Angel yang sedang sibuk dengan ponselnya sesekali wanita itu tertawa pelan, Daniel menggelengkan kepalanya heran, apa dia gila?


"Hey wanita tua, apa kau gila. Tersenyum senyum sendiri sambil menatap ponsel," Cibir Daniel.


Angel menatap Daniel sinis lalu memasukan ponselnya ke tas yang dibawanya, "Terserah yang punya dong, sewot aja heran."


"Kau itu semakin tua bukannya tobat malah semakin mejadi ya. Ku tebak, pasti kau mengajak lelaki berkencan ya?" Tanya Daniel sambil menatap Angel dengan tatapan selidik.


Angel berdiri dari duduknya, "Sudahlah. Hapus sana sifat menyebalkan mu itu, tidak ada wanita yang mau mempunyai lelaki super super menyebalkan seperti mu."


Angel berjalan ruangan tanpa melihat raut muka Daniel, dengan cepat Daniel membuka cermin yang selalu dibawanya lalu melihat tampilannya.


"Aku masih tampan, pasti ada wanita yang ingin denganku. Secara, ketampanan ku tidak ada yang mengalahkan nya. Kecuali dengan si Agas," Cicit Daniel.


...~o0o~...


Arsen menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata, Pikirannya kalang kabut kala mendengar gadisnya itu ada dirumahnya.


Tin tin.


Gerbang terbuka setelah Arsen membunyikan klakson, mobil hitam mrngkilap itu memasuki garasi. Brak... Arsen dengan tidak santainya menutup pintu mobil lalu berlari memasuki mansion nya.


"Azila," Panggil Arsen sambil berjalan mengelilingi mansionnya.


Arsen berlari kekamarnya, tetapi tidak ada Azila disana, "Kemana dia? apa Agas berbohong?"


Arsen segera berlari menuruni tangga, dari lantai tiga kelantai satu. Ntahlah, dia sedang kalang kabut jadi tidak bisa berfikir jernih, padahal dimansion ini ada lift disamping tangga.


"Bi bibi!" Teriak Arsen dengan nafas ngos-ngosan.


"Bibi lihat Azila? apa Azila? dimana dia?" Tanya Arsen beruntun.


"Eh, bibi gak liat non Azila tuan. Bibir tadi baru pulang dari pasar," Jelasnya.


Arsen menurunkan bahunya lesu, "Oh gitu ya, makasih bi."


"Iya tuan sama sama," Ucapnya lalu berlalu pergi meninggalkan ruang keluarga.


Arsen berjalan lesu kedepan sofa, tubuhnya dia baringkan disofa dengan lesu. Raut wajah yang tadinya senang dan khawatir kini menjadi datar dan suram.


"Azila saya kangen," Gumam Arsen dengan mata tertutup.


"Saya juga kangen sama bapak," Suara bisikan terdengar ditelinga Arsen. Arsen dengan cepat membuka matanya.


Hal pertama yang dia lihat adalah Azila yang sedang membungkuk sambil tersenyum. Arsen menepuk nepuk pipinya, ini rasanya seperti mimpi, "Sadar Arsen, ini mimpi."


Azila tertawa pelan lalu kedua tangannya menangkup kedua pipi Arsen dengan gemas, tatapan mereka kini beradu. Azila tersenyum manis, "Ini bukan mimpi sayang, ini nyata."


Arsen mengerjap ngerjapkan matanya, tangannya memegang kedua tangan Azila yang ada dipipinya, "Nyata? ini nyata?"


Bruk.


Arsen segera menarik Azila kedalam pelukannya, sedangkan Azila meringis merasakan ngilu dilututnya yang terantuk ujung sofa, "Aws, pak aba aba dong kalau mau peluk!"


"Maaf, saya gak bisa nahan untuk memeluk kamu," Ucap Arsen terendam karena mukanya berada disampingnya leher Azila.


"Saya rindu, saya takut kamu membatalkan pernikahan kita. Saya tidak tau bagaimana kehidupan saya tanpa kamu, jangan meninggalkan saya lagi Azila. Saya bisa bisa jadi gila," Ucap Arsen lirih.

__ADS_1


Azila tersenyum manis, tangannya mengusap usap belakang kepala Arsen dengan lembut, "Saya gak akan ninggalin bapak lagi kok. Kecuali, kalau bapak yang minta."


Arsen menggeleng ribut sambil mengeratkan pelukannya, "Nggak! itu nggak akan pernah terjadi!"


Azila kembali tersenyum lalu melepaskan pelukannya agar dapat melihat wajah Arsen, tangan Azila menangkup wajah Arsen dengan jari yang sesekali mengusap pipinya. Sedangkan Arsen melingkarkan kedua tangannya di pinggang Azila, matanya melihat Azila dengan intens.


"Bapak lapar?" Arsen mengangguk dengan cepat.


"Makan yuk, tadi saya masak loh," Ucap Azila.


"Jadi kamu dari tadi ada didapur?" Tanya Arsen, Azila mengangguk dengan senyum manisnya.


"Kenapa saya panggil panggil tadi gak nyaut nyaut!" Sinis Arsen.


Azila tertawa pelan, tangannya dia pindahkan menjadi melingkar dibelakang leher Arsen, "Sengaja, hehe. Lucu juga ya kalau kamu lagi kalang kabut."


"Nyebelin," Geram Arsen.


"Nah itu tau, kenapa? nyesel ya suka sama orang nyebelin kayak saya?" Tanya Azila sewot.


Arsen tersenyum miring lalu mendekatkan tubuh Azila dengan dirinya, "Nakal. Anak nakal itu harus dihukum."


"YAK, ARSETAN!" Teriak Azila kaget saat Arsen berdiri tiba tiba dengan menggendong nya ala koala.


"Mulutnya. Minta dicium ya, hm?" Geram Arsen sambil berjalan kelantai tiga.


Azila memberontak dari gendongan Arsen, "APASIH ARSEALAN! MESUM LO! TURUNIN GUE!"


Arsen tidak menghiraukan teriakan Azila, meskipun telinganya terasa sakit. Cklek... Pintu kamar Arsen terbuka, Arsen dengan cepat masuk lalu menutup pintu kembali, tak lupa mengunci rapat rapat.


Arsen berjalan kedekat jendela dengan Azila yang terus saja memberontak didalam gendongannya, srak...


Gordeng jendela tertutup rapat dalam sekali tarik, "Mau ngapain?" Tanya Azila waspada.


Arsen tersenyum miring lalu berjalan ke ujung ranjangnya, "Bagaimana jika kita membuat baby duluan?"


"A-apa? nggak! saya gak mau!" Pekik Azila sambil menggoyang goyangkan kakinya yang menggelantung disamping pinggang Arsen.


"Tapi saya memaksa," Ucap Arsen dengan suara rendahnya.


"Ya-"


Bruk.


Perkataan Azila terpotong kala tubuhnya terlempar keatas ranjang dengan Arsen yang berada diatasnya, Azila menahan tubuh Arsen dengan kedua tangan yang berada didada Arsen.


"Apasih sana!" Ucap Azila.


Arsen mendekatkan wajahnya dengan wajah Azila, bibirnya tersenyum menyeringai, "Syut, jangan takut. Kita hanya akan membuat baby, ini tidak akan sakit aku janji," Bisik Arsen.


"Nggak!" Tolak Azila.


Raut wajah Arsen seketika berubah menjadi datar, wajahnya dia dekatkan dengan tekuk leher Azila. Cup... Arsen mengecup leher Azila dengan pelan. Sedangkan Azila menegang dengan wajah yang dibanjiri keringat dingin.


"relax honey, i will do this well," Bisik Arsen.


Azila meneguk salivanya dengan susah payah, sedangkan Arsen tersenyum miring dengan mata yang sayu.


"we will start, you ready," Tanya Arsen dengan suara beratnya.

__ADS_1


"Gila! ya Allah, mama papa. Ayah bunda. mommy Daddy. Huaaa, apa yang harus gue lakuin!" Pekik Azila dalam hati.


__ADS_2