
"Pagi," Sapa Azrel pada Agion dan Alga yang sudah duduk di meja makan.
"Pagi juga," Jawab Agion dan Alga.
Azrel duduk disamping Alga yang sedang meminum susunya, "Sarapannya apa?"
"Belum ada, kata pak Jono bibinya lagi sakit," Jawab Alga.
Azrel berdiri lalu berjalan kearah kulkas, membuka kulkas dengan lebar, "Sama roti mau?"
"Nggak, kata bang Gio, bial kakak cantik aja yang masak," Ucap Alga dengan polosnya, sedangkan Agion hanya meliriknya lalu memainkan handphone nya kembali.
"Panggil sana kakak gue, kali aja belum bangun dari tidurnya," Titah Agion pada Azrel.
Azrel mendengus kesal, lalu dengan terpaksa kembali berjalan kelantai tiga. "Bang Gio, emang kakak cantik bisa masak?" Tanya Alga.
Agion menyimpan handphone nya lalu menatap Alga, "Bisa, masakannya enak tau."
"Wah, kakak cantik emangnya masak apa?"
"Eem, apa aja bisa. Tapi bang Gio suka rendang buatan kak Airin," Ucap Agion sambil membayangkan lembutnya daging sapi dengan bumbu bumbu rempah yang melimpah.
Alga melipat bibirnya kedalam seolah membayangkan ucapan Agion, "Alga juga mau!"
"Kalau Alga mau, bilang kek kak Airin makan siangnya bikin rendang oke," Ucap Agion lalu membuat huruf O dengan jarinya.
"Oke!"
...~o0o~...
Sebelum lanjut ke lantai tiga, Azrel terlebih dahulu mengambil handphone nya di kamarnya. Lalu melangkahkan kakinya kembali menuju lantai tiga, sebenarnya dia bisa saja menggunakan lift, tapi tetap saja lebih nyaman menggunakan tangga, lagian tangga dirumahnya tidak setinggi eskalator yang ada di mall mall besar.
Tok tok tok
"Bidadari, bidadari udah bangun?" Tanya Azrel sambil mengetuk pintu kamar daddy-nya.
Hening tidak ada jawaban, Azrel pun mengetuk pintunya kembali sambil terus memanggil, "Bidadari, bidadari."
"Aish, bidadari kemana sih? masa belum bangun? apa Azrel buka aja ya?" Tanyanya.
Perlahan Azrel pun membuka pintu kamar daddy-nya, cklek, cklek, "Kok gak bisa? pasti dikunci didalam, Azrel ambil kunci cadangan aja deh."
Azrel pun melangkah menuju lantai dua dimana terdapat tempat kerja daddy-nya, "Pasti kunci cadangannya di tempat kerja daddy."
Sementar itu, didalam kamar Agas terasa hening. Airin menatap tajam Agas yang sedang membekap mulutnya.
"Apa?" Tanya Agas dengan santainya.
Airin semakin menatapnya tajam, rasanya matanya seperti ingin memakan orang saja. Batinnya berteriak kesal saat mengingat kejadian pagi hari tadi.
__ADS_1
Flashback
Airin bergerak gelisah dalam tidurnya saat merasakan berat pada perut dan bahunya. Perlahan mata cantiknya itu terbuka menyesuaikan cahaya yang sedikit redup.
Sinar matahari yang menembus gordeng adalah hal yang pertama kali dia lihat saat membuka matanya, "Aish, berat banget perut gue."
Airin terdiam sebentar demi mengumpulkan kesadarannya, tangannya meraba raba sesuatu yang ada di perutnya, "Tangan?"
"Oh my God!" Pekiknya kaget saat mengingat kejadian semalam.
Airin membalikan tubuhnya dengan perlahan, bantal yang semalam dia pakai sudah tergantikan dengan tangan kekar, selimut yang membungkus nya tadi malam, sudah tergantikan dengan pelukan seseorang.
"Ya Allah, maafin Airin udah buat dosa, huhuhu, tapi si om tutup mata aja ganteng ya?" Batin Airin bertanya tanya.
Matanya terus memperhatikan setiap sudut wajah Agas, hingga tak terasa dia sudah memperhatikan Agas selama lima menit.
Matanya melotot saat pelukan itu semakin erat, tubuhnya menegang kala Agas mengendus endus lehernya.
"Ya Allah, kuatkan iman tipis hamba, jauhkan segala godaan setan mesum dalam diri hamba, huaaa si om wangi bener, gak tahan gue gak tahan, pengen nerkam aja rasanya," Airin menjerit jerit dalam hatinya.
"Om," Panggil Airin sambil menepuk nepuk pundak Agas.
"Hmm,"
"Om, tolong bangun. Ini saya gak bisa nafas om!" Pekik Airin karena merasa pengap dengan pelukan yang diberikan Agas.
Agas membuka matanya perlahan, matanya melotot kala dirinya memeluk seseorang dalam tidurnya, baru saja ingin marah. Suara seseorang mengalun di telinganya.
"Aaaaakh," Teriak Airin saat merasakan lehernya terkena gigitan.
"Om!" Agas terkekeh pelan, wajahnya dia jauhkan dari leher Aiirn hingga akhirnya mata merek bertatapan.
Airin dengan tatapan tajamnya, sedangkan Agas dengan tatapan sayu nya. "Om ngapain sih gigit gigit leher Airin?"
"Pengen aja, kamu juga. Ngapain tidur di kamar saya tanpa izin?" Tanya Agas dengan suaranya yang serak.
"Gak ada kamar lain om, lagian orang kaya kok punya rumah kamarnya cuman 4 malu dong!"
Agas mendelik tak suka, "Terserah saya, Lagian saya ini bikin rumah, bukan kos kosan."
Airin tak menjawab, tubuhnya bergerak ingin berdirinya, tapi belum sempat berdiri Agas lebih dulu menarik tangannya hingga dia tertidur kembali.
Agas segera memeluk pinggang Airin erat, "Mau kemana hm?"
"A-apa sih? Airin mau mandi lah om! Udah pagi om bangun, jangan rebahan mulu kek orang miskin," Ucap Airin sarkas.
"Orang yang rajin belum tentu jadi orang kaya, Orang yang suka rebahan juga belum tentu orang miskin."
Airin memutar bola matanya malas, "Terserah om aja."
__ADS_1
"Airin mencoba melepaskan tangan Agas yang melingkar di pinggangnya, "Awas Airin mau bangkit."
"Bangkit? bangkit dari mana? bangkit dari kubur?"
"Om kok nyebelin yah?"
"Kenapa? baru tau?"
Airin mengangguk anggukkan kepalanya, "Pantes, jomblo. Gak laku nih pasti. Makanya jadi orang jangan nyebelin."
Agas melotot tak terima, "Mana ada! orang banyak mau sama saya."
"Tapi sayang, cabe cabean pasti," Tebak Airin.
"Mulutmu."
"Apa? Seksi kan mulut saya, saya juga tau om. Banyak yang bilang, om tuh yang kesekian kalinya yang bilang gitu," Agas menatap Airin datar, siapa yang bilang begitu? toh dia cuman bilang 'mulutmu' .
"Gak waras emang," Batin Agas.
"Bau iler," Airin terdiam seketika, lalu meraba raba mulut dan pipinya.
"Ngaco! mana ada saya ngiler," Bantah Airin karena memang tidak ada bekas iler dipipinya. Mata cantiknya menatap Agas tajam dengan bibir mengerucut dan dahi yang mengerut.
"Jangan masang muka kayak gitu jelek!"
Airin mengelus dadanya dengan muka jengkelnya, "Astaghfirullah, sabar sabar."
Agas terkekeh pelan, gemas melihat wajah lucu Airin. Sebenarnya tadi dia berbohong jika muka Airin jelek, malahan sedari tadi dia menahan gemas melihat muka bangun tidur Airin, apalagi bibir yang sedikit tebal dan kecil yang terlihat berwarna alami itu mampu menggoyahkan iman Agas.
Cup
Airin mematung kala sebuah kecupan mendarat di pipinya, seketika wajah garang terpasang di mukanya. Saat akan berancang-ancang ingin berteriak, Agas terlebih dahulu membekap mulutnya.
"Syuut, ada Azrel."
Flashback off
"Giaman nih? ntar kalo ketauan saya tidur berdua sama om, bisa bisa langsung dinikahi saya," Ucap Airin sambil membayangkan wajah galak ayahnya.
"Ya udah, nikah aja apa susahnya."
Airin menatap Agas tajam, "Om bapak saya tentara loh."
"Emang kenapa kalau bapak kamu tentara?"
"Mau tau namanya gak om?" Tanya Airin.
"Siapa?"
__ADS_1
"Jendral Raymond da kaylo Alatas."
Mata Agas melotot mendengarnya, yang benar saja! Dunia memang sesempit ini.