Young Mom

Young Mom
PART 50


__ADS_3

Gugup, satu kata yang kini dialami Azila. Tangannya saling bertaut dengan pipi yang memerah. Jam sudah menunjukkan pukul satu malam dan tepat jam dua belas resepsi mereka berakhir.


"Ck, kenapa gue harus gugup? gue kan udah pernah tidur berdua sama si bapak? huft, rileks Azila. Lo pasti bisa," Ucap Azila sambil berjalan bolak balik di depan jendela yang menampilkan suasana kota malam hari.


"Eh, tapi kalau si bapak bapak itu minta hak nya gimana? aduh gak mau gue. Gue kan masih polos polos imut nan lucu," Ucap Azila.


Azila berdiam sebentar lalu mengambil nafas dengan tenang, Cklek... pintu kamar mandi terbuka. Azila berbalik kebelakang, terlihat Arsen yang sudah memakai baju tidur satin yang sama dengannya, tak lupa tangannya yang menggosok rambutnya dengan handuk kecil.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Arsen sambil berjalan kearahnya.


"Em, anu Azila nungguin bapak dulu. Kata mama Azila gak sopan istri tidur duluan," Ucap Azila dengan sedikit rasa gugup.


Arsen mengangguk lalu duduk dipinggir kasur, tangannya menarik Azila agar berdiri didepannya, "Tolong keringkan rambutnya."


Azila mengangguk lalu mengambil alih untuk mengeringkan rambut Arsen, sementara Arsen melingkarkan kedua tangannya di pinggang Azila.


"Apa kamu lapar?" Tanya Arsen.


"Nggak, tadi kan udah makan kue sama Airin. Lagian gak enak makan tengah malam begini," Ucap Azila dengan tangan yang berhenti menggosok gosok rambut Arsen.


"Emang kenapa? bapak lapar?" Tanya Azila sambil menunduk melihat Arsen.


Arsen menatap Azila datar sedangkan yang ditatap hanya mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya 'apa'.


"Kenapa masih memanggil bapak hm?" Tanya Arsen dengan suara rendah.


Kening Azila mengerut dalam, "Terus, saya harus panggil apa?"


Arsen mencibik kesal kenapa Azila tidak peka, "Honey. Bukankah sudah aku bilang sehari sebelum menikah, bahwa jangan memanggilku dengan sebutan bapak. Aku bukan bapak mu honey."


"Oh hehe maaf, a-aku lupa."


"J-jadi aku harus memanggilmu apa?" Cicit Azila, Arsen mengalum bibirnya gemas.


"Kenapa kamu jadi malu malu begini sih? panggil aku dengan sebutan yang terkesan romantis sayang."


Azila mengangguk pelan tangannya menggaruk tengkuknya gatal, "Sial! kenapa gue jadi gugup kek gini," Batin Azila meringis.


Sementara Arsen menatap Azila penuh harap, Azila menggigit bibir bawahnya, "Em, gi-gimana kalo Azila panggil ka-kak?" Tanya Azila ragu.


Seketika raut wajah Arsen yang tadinya ceria menjadi datar, Azila gelalapan dibuatnya, "Kenapa?"


"Ck, sayang. Kamu ini kenapa sih hm?" Tanya Arsen sambil mengelus punggung Azila pelan.


"Ck, sialan si Arsen. Gak tau aja kalo gue lagi gugup ini, takut diajak iya iya gue," Batin Azila berteriak.


"Nggak, aku gak kenapa kenapa. A-aku hanya ngantuk aja, tidur yuk. Ini juga udah malam," Azila menuntun Arsen agar berbaring.


Arsen hanya menatap Azila heran sementara Azila dengan santainya tidur disamping Arsen dengan membelakanginya.

__ADS_1


"Sayang."


"Hm," Jawab Azila.


"Bukankah tidur membelakangi suami itu tidak sopan?" Azila mengalum bibirnya lalu dengan perlahan membalikan tubuhnya menghadap Arsen yang tidur menghadap dirinya dengan tersenyum tipis.


"Maaf,"


Arsen tersenyum lalu membawa Azila kepelukan nya, "Tidak apa apa. Jangan lakukan itu lagi."


"Iya."


Arsen semakin mengeratkan pelukannya, Azila yang terlihat nyaman pun menyelusup kan kepalanya kedada Arsen, "Hm, tidurlah."


Tak lama terdengar dengkura halus ditelinga Arsen, Arsen menunduk melihat muka damai Azila. Senyum manis tertampang dimulutnya, Arsen mengecup dahi Azila lembut.


"Sweet dreams, my wife," Bisiknya.


...~o0o~...


Dua minggu sudah terhitung sejak pernikahan Azila, kini Airin mengendarai motor metik nya dengan kecepatan sedang. Dia baru saja pulang dari sekolahnya yang menambahkan jam belajar bagi siswa siswi kelas dua belas dikarenakan kurang dari dua minggu lagi, mereka akan mengadakan ujian sekolah.


Airin melihat keatas kala merasakan rintik hujan yang mengguyur kota disore hari ini. tatapannya melihat kearah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, terlihat jarum pendek yang menunjukan enam lebih seperempat.


"Aduh gimana nih, terobos aja apa neduh dulu ya," Pikirnya sambil menjalankan motornya dengan pelan.


Airin menggigit bibir bawahnya bimbang, "Ah elah, terobos ajalah."


Tanpa disadari nya, sebuah mobil membuntutinya dibelakang. Seseorang yang berada didalam mobil itu tersenyum menyeringai, "Habis kau kali ini," Gumamanya.


Sementara Airin melajukan motornya dengan lebih cepat kala hatinya merasakan sesuatu yang aneh, "Apa ini? perasaan gue gak enak."


Airin melihat kearah kaca spionnya, matanya menajam kala mobil dibelakangnya itu terlihat membuntutinya. Merasa ada yang tidak beres Airin menambah kecepatan motonya sambil sesekali melihat kearah belakang.


"Ah ketahuan ternyata hihihi," Ucap seseorang yang berada didalam mobil tersebut.


"Gila kenapa dia buntutin gue, ini juga. Kenapa jalan kerumah gue rasanya lama banget," Gumam Airin.


Tinnnn...


Airin melotot melihat dari arah samping ada mobil yang melaju kencang, sungguh dia tidak sadar jika lampu lalu lintas sedang merah.


Brak.


"Akh," Teriak Airin saat tubuh beserta motornya terlempar begitu saja.


Rintik hujan semakin deras, air yang bercampur dengan darah menggenang dijalanan sepi ini. Airin mengerjap ngerjapkan matanya kala merasakan pusing yang begitu hebat, kepala yang terbungkus helm itu terasa sangat basah dengan bau anyir serta tanah basah tercium pekat.


"T-tolong," Lirihnya dengan air mata yang sesekali menetes.

__ADS_1


Airin melihat kearah sampingnya dimana mobil yang menabraknya itu terguling dengan pecahan kaca disekelilingnya. Nafasnya terasa berat dengan tubuh yang terasa terkunci.


Tap tap tap.


Suara langkah kaki terdengar begitu samar diderasnya hujan, Airin mengerjap ngerjapkan matanya kala penglihatan nya terasa kabur. Sekilas bayangan seorang lelaki berdiri disampingnya.


"Ternyata, aku tidak perlu mengotori tangan ku untuk ini. Baguslah, istirahat lah yang tenang hahaha. Kau ini gadis bodoh yang mau mau saja dengan bajingan sepertinya."


Airin sayup sayup mendengar suara seseorang pria, "Aku akan senang jika kau mati. Jika kau mati, dia akan lemah. Dan aku akan leluasa untuk membunuh kedua anak itu."


"Aaa-" Pekik Airin tertahan kala sebuah kaca ditancapkan diperutnya, sementara pria tersebut tersenyum miring.


"Menyenangkan bukan? Ah, jika iya. Saya akan menambahnya," Ucapan Pria itu yang terendam suara derasnya hujan.


Airin meraskan perih diperut nya yang seperti mengeluarkan banyak darah, "Akh!" Pekik Airin kala merasakan kaca tersebut dicabut dan ditancapkan kembali.


"Hahaha selamat tinggal. Gadis bodoh!"


Pria tersebut tersenyum menyeringai lalu berjalan meninggalkan Airin yang setengah sadar. Airin melirik kearahnya dengan air mata yang turun dengan deras, matanya terasa berat dengan perut yang terasa sangat sakit.


"Om, t-tolong Airin. I-ini sa-kit."


Agas berlarian dari lorong rumah sakit, tatapannya terlihat khawatir. Deru nafasnya memburu saat sampai diruang operasi, terlihat kedua orangtuanya serta orang tua Airin duduk lemas dikursi tunggu.


"Bun," Panggil Agas pelan.


Semua orang menengok kearah Agas, Gina tersenyum menenangkan. Tangannya menggandeng Agas agar duduk disamping ruang operasi.


"Airin?"


"Tenang ya. Airin pasti baik baik saja," Gina mengelus rambut anaknya itu dengan lembut.


Agas berjalan menuju kedua orang tua Airin lalu duduk dengan kedua lutut menjadi tumpuan, "Maafin Agas om Tan. Agas gak bisa jaga Airin."


Dira mengusap air matanya pelan lalu tersenyum tipis kearah Agas, "Tidak, jangan meminta maaf. Ini bukan salah kamu, berdiri lah."


Agas berdiri dengan kepala menunduk, "Maaf."


"Sudah, berhenti meminta maaf. Doakan saja Airin didalam sana," Dira menepuk nepuk lengan Agas.


Cklek.


Pintu ruang operasi terbuka, Agas dengan cepat menghampiri sang dokter, "Bagaimana keadaan kekasih saya dok?"


Dokter tersebut membuka maskernya, "Ada benturan keras dikepalanya tapi untungnya benturan itu tidak berakibat fatal pada otaknya. Tangan kirinya mengalami keretakan tulang serta tancapan kaca diperutnya sedikit melukai organ dalamnya."


"Dan maaf, pasien mengalami koma. Pasien akan dipindahkan keruang inap hari ini, saya permisi."


"Koma?" Tanya Agas tak percaya.

__ADS_1


"H-haha, tidak. I-ini pasti bohong, bun ini mimpi kan," Ucap Agas sambil menggoncang kan lengan Gina.


"Bunda!" Ucap Agas sedikit keras, tangannya mengacak acak rambutnya frustasi. Air matanya jatuh begitu saja, hatinya merasa sangat cemas mendengar bahwa gadisnya tengah koma, dia takut jika gadisnya tidak mau bertemu dengannya lagi.


__ADS_2