Young Mom

Young Mom
PART 75


__ADS_3

Kini di ruang keluarga itu terasa hening juga canggung? setelah hal mengejutkan tadi, akhirnya mereka duduk ber empat di ruang keluarga dengan Agas dan Airin yang berhadapan dengan twins.


Azrel menunduk dalam takut takut jika kakaknya akan kambuh kembali seperti dulu saat kakaknya itu terlihat sangat ketakutan saat melihatnya, tetapi sepertinya itu tidak akan terjadi. Terbukti bahwa sedari tadi Azralia hanya diam dengan tenang menatap ketiga orang tersebut.


Airin hanya tersenyum manis saat Azralia menatapnya, entah kenapa rasanya canggung sekali saat ini, "A-aku ke dapur dulu, kalian mengobrol lah," Ucap Airin sesaat setelah merasa jika ketiganya membutuhkan ruang untuk berbicara.


"Sungguh canggung, aku bahkan sulit bernafas tadi," Gumam Airin sambil berjalan menuju dapur.


Azralia tersenyum lebar lalu menatap Agas, "Bagaimana kabar Daddy?"


Agas menatap Azralia lalu tersenyum tipis, "Aku baik."


Azralia mengangguk ringan, "Hm syukurlah, ku kira kau akan ambruk setelah mengelilingi Prancis lima hari. Apalagi kau semakin tua, tubuhmu tidak akan sebugar dulu."


Agas menyenderkan tubuhnya di sofa dengan santai, "Daddy tidak selemah itu, dan aku belum tua! umurku masih pantas untuk berpacaran."


"MOMMY DADDY INGIN MEMILIKI PACAR!" Teriak Azralia tiba tiba sedangkan Agas melotot kaget.


"POTONG SAJA MASA DEPANNYA, AKU TIDAK PEDULI!" Balas Airin dengan teriakan.


Agas dengan seketika menumpangkan kakinya dengan gugup lalu menatap Azralia dengan tajam, "Maksud daddy bukan begitu, Daddy masih cocok berpacaran dengan mommy mu!" Tekan Agas.


"Ah, begitu. Bilang dong!"


Agas mengeram kesal lalu dengan terpaksa tersenyum tulus, "Terserah!"


Azralia tertawa melihat daddy nya itu ngambek seperti anak kecil sedangkan Azrel yang sedari tadi diam hanya menatap momen itu iri.


Hening kembali, Azralia akhirnya menatap Azrel yang duduk sedikit jauh di sampingnya, "Bagimana keadaanmu...Azrel?"


Deg.


Azrel menegang saat Azralia memanggil namanya begitu pula dengan Agas yang bisa bisanya melupkan bahwa ada Azrel di sini, dan bagaimana bisa Azralia terlihat tenang? bukannya dia memiliki ketakutan yang berlebihan saat bertemu dengan Azrel?


Azrel terlihat terdiam dengan kepala menunduk, "A-aku baik, bagaimana dengan kakak?" Cicitnya.


"Aku baik, sepertinya," Ucap Azralia dengan senyum tipisnya.

__ADS_1


Azralia menatap kearah Agas yang sedang memasang muka yang penuh tanda tanya, Azralia tersenyum tipis, "Aku tidak selemah itu Daddy."


"Tapi-" Ucap Agas terpotong.


"Kita tidak bisa terbelenggu oleh rasa takut yang berlebihan bukan? lagian itu sudah bertahun tahun yang lalu, aku pun sedang belajar menghapus memori kelam itu. Hidup ini terus berjalan kedepan, jangan melihat pada masa lalu yang nantinya akan membuatmu membatu. Hiduplah seperti air sungai, terus berjalan meski banyak rintangan menghadang ntah itu kisah masa lampau ataupun kisah sekarang."


Azralia tersenyum melihat Airin yang datang dengan membawa nampan serta beberapa gelas teh hangat di atasnya, "Lagian, aku dan Azrel adalah saudara. Kita tidak akan selamanya berjauhan seperti ini, terlihat seperti orang asing yang terikat hubungan darah."


"Melawan dan berdamai, itu kuncinya. Dan, itulah yang di katakan bidadari ku," Ucap Azralia sambil tersenyum menatap Airin.


Flashback


Tengah malam di kota Paris memang terlihat indah, suasana sunyi di lantai bertingkat ini sangat nyaman dengan bintang bintang dan kerlap kerlip lampu di malam hari.


Airin melihat ke arah kamar dengan tersenyum manis melihat sepasang ayah dan anak itu terlihat tidur nyenyak sambil berpelukan. Airin bahagia? tentu saja, siapa yang tidak bahagia mempunyai keluarga yang harmonis.


Itu adalah mimpi setiap orang, Airin kembali melihat ke arah depan dimana pemandangan kota yang terlihat indah.


"Hoam...mommy ngapain di sini?" Tanya Azralia yang berdiri di samping Airin dengan memegang gelas kosong.


Airin melirik ke sampingnya, "Kenapa kesini?"


"Mommy belum mengantuk, kamu tidur lagi gih besok kan mau ke Jerman," Titah Airin.


"Nanti deh, aku mau nemenin mommy dulu," Ucap Azralia.


Airin hanya mengangguk lalu kembali melihat pemandangan di depannya sementara Azralia hanya terdiam termenung, "Bagiamana kabar Azrel, mommy?"


Airin seketika menengok ke arah Azralia, sementara Azralia hanya berjalan mendekati pembatas balkon, tangannya bertumbu di pembatas, "Dulu, saat aku berumur delapan tahun. Itu adalah masa yang menakutkan, Dari situ aku selalu takut dengan Azrel. Bahkan, aku akan terlihat seperti orang gila yang berteriak, meracau tak jelas."


"Mommy tau kenapa?" Tanya Azralia tanpa mengalihkan pandangannya dari depan balkon, Airin hanya menggelengkan kepalanya.


"Azrel. Dia membunuh sahabatku," Airin terdiam kaku mendengar ucapan Azralia. Sementara Azralia terlihat mengepalkan tangannya dengan erat.


"Dia membunuhnya, di depan mataku sendiri. Dengan alasan yang sampai saat ini aku tidak tahu menahu, tapi katanya dia hanya ingin melindungi ku. Itu konyol, menurutku."


"Saat itu aku takut dengannya yang seakan berubah menjadi seseorang yang tak kukenal. Kekejaman nya, tatapan datarnya, nada tak bersahabat serta seringai licik yang terlihat menyeramkan."

__ADS_1


"Singkatnya, dari sana aku baru tahu bahwa adikku itu tidak normal. Ada seseorang didalam tubuhnya, seseorang yang sangat berbanding terbalik dengan perilaku pemilik aslinya."


"Dia kejam, tak punya hati. Dia menyiksaku, lewat batin. Tak ada kata maaf darinya saat membunuh sahabatku, hanya ada tatapan datar dan puas."


"Aku takut dengannya, dan hingga saat ini aku menjauhinya. Dan aku rasa itu cara terbaik untuk menghilangkan rasa takut berlebihanku padanya."


Hening, tidak ada percakapan lagi. Airin terlihat sedang berfikir dengan jidat yang mengerut dalam, "Kamu salah."


"Hah?" Azralia berbalik menghadap Airin, "Maksudnya?"


Airin tersenyum, "Menghindar bukan jalan yang tepat dalam sebuah permasalahan. Sebesar apapun lubang pasti ada cara untuk menutupinya. Jangan menghindar, Lawan dan berdamai. Itu kuncinya."


"Kamu tidak akan terus menghindar dari Azrel, kalian adalah saudara, kalian sedarah, jangan sampai kata asing masuk diatara kalian. Hidup itu terus berjalan maju layaknya Air sungai dan masa lalu itu adalah hambatannya layaknya batu yang menghambat lajunya air sungai."


"Tapi, sebesar apapun hambatan itu. Mereka akan terus melaju dan melaju. Jika tidak bisa dihancurkan, maka lewati dengan tenang," Jelas Airin.


"Saudara adalah hal yang berharga setelah orangtua. Memang jika mommy dan Daddy sudah tidak ada, kau akan terus seperti ini dengan Azrel. Tidak bukan? maka bertindaklah sebelum terlambat."


"Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan kedua," Ucapnya.


flashback off


"Makasih mommy," Ucap Azrel.


Kini mereka merdua berada di luar balkon kamar Agas dengan Azrel yang memeluk Airin erat, Agas saat ini sedang membereskan diri. Sementara Airin hanya tersenyum manis," Permintaan mu sudah terkabul?"


Azrel mengangguk antusias ketika mengingat dirinya yang meminta pada Airin agar mempertemukan dengan Azralia.


"Terima kasih mommy, aku semakin sayang sama mommy. Love you...cup,"


Airin tersenyum gemas melihat tingkah Azrel yang seperti balita itu, "Sama sama anak mommy yang lucu, apapun yang kamu mau. Mommy akan berusah untuk mengabulkan apa yang kamu inginkan."


Azrel hanya tersenyum manis lalu menatap Airin penuh binar, "Kalau begitu aku punya permintaan mommy."


"Apa?", Tanya Airin.


"Aku ingin baby twins!"

__ADS_1


Deg..


Airin mengerjap ngerjapkan matanya sementara Azrel menatap Airin dengan senyum sumringah. Airin hanya tersenyum dengan terpaksa, "BAPAK SAMA ANAK SAMA AJA!"


__ADS_2