
"APA! KENAPA BAPAK GAK KASIH TAU SAYA?"
Suara teriakan menggema di ruang kerja Arsen. Arsen memijat kepalanya pelan, ini memang salahnya yang tidak memberitahu Azila terlebih dahulu.
"Duduk dulu Azila," Titah Arsen yang berusaha menenangkan Azila.
Azila menggeleng tegas, tatapannya masih menatap Arsen dengan tajam. Ia kecewa dengan Arsen dan keluarganya, mereka merencanakan pernikahan dirinya tanpa memberi tahunya dan juga menyembunyikan sesuatu yang sedari dulu dia cari.
Azila tak percaya saat melihat Poto kecil dirinya dengan Arsen ada didalam gudang rumahnya serta beberapa album poto. Tapi setelah menanyakan kepada orangtuanya, dia kecewa. Orang yang selama ini berada disampingnya menyembunyikan sesuatu yang besar menurutnya.
"Kenapa bapak ngelakuin ini?" Tanya Azila dengan suara lirih.
"Karena saya cinta sama kamu Azila, saya sudah menunggu kamu bertahun tahun, saya gak mau buat kamu kecewa. Maafkan saya," Jawab Arsen.
Azila mengangkat kepalanya keatas mencoba membendung air mata yang hanya dalam satu kedipan pun akan luruh, "Hah, bapak gak tau gimana rasanya jadi saya yang mencoba mengingat ngingat memori masa kecil saya. Bapak gak tau gimana kosongnya hidup saya yang saya juga gak tau kemana hilangnya setengah kebahagiaan saya."
Azila menatap Arsen dengan tatapan kecewa, cairan bening yang sedari tadi ditahan pun keluar dari sudut matanya, "Kenapa bapak gak beritahu dari awal? saya gak akan seperti orang yang setengah gila semalaman jika saya tau orang yang saya cari ada didepan saya."
Arsen terdiam menunduk tak kuasa melihat Azila yang menangis, tangannya terkepal kuat seolah menyalurkan semua kemarahannya pada dirinya. Janjinya yang tidak akan membuat gadisnya menangis lebur begitu saja karena ulahnya sendiri.
"Maafkan saya," Azila menggigit bibir bawahnya menahan isakan yang akan keluar.
"Saya butuh waktu sendiri, jangan menemui saya sebelum saya yang datang sendiri pada bapak," Ucap Azila lalu berjalan keluar ruangan dengan tangan terkepal.
Azila terdiam sebentar didepan pintu, "Jangan terus meminta maaf, percuma. Keadaan tidak akan berubah."
Brak.
Pintu ditutup dengan kasar, Azila berjalan tergesa gesa sambil menghapus air matanya. Dia butuh sahabatnya sekarang.
"Akkh!" Teriak Arsen sambil menjambak rambutnya sendiri.
Tubuhnya luruh kelantai, tangannya terkepal erat sambil menonjok nonjok lantai. Bibirnya terus bergumam pelan, "Maafkan saya Azila, maafkan saya."
Azila duduk ditaman sendirian, tatapannya menatap kosong kedepan danau didepannya. Pikirannya kini campur aduk antara senang, sedih, khawatir dan juga kecewa.
"Kenapa malam malam begini nyuruh ketaman?" Tanya Airin yang baru saja datang, Airin tadi khawatir saat Azila meneleponnya dengan suara serak seperti habis menangis.
__ADS_1
Airin duduk disamping Azila lalu memeluk sahabatnya itu dengan lembut. Azila kembali mengeluarkan air matanya, menumpahkan segala rasa sesak yang ada didalam dadanya.
Airin menepuk nepuk punggung Azila pelan mencoba menenangkan, "Lo mau cerita?"
Azila melepaskan pelukannya lalu menatap kembali kedepan, "Lo tau semua tentang gue saat gue masih kecil kan?"
Airin mengangguk tau karena mereka bersahabat sedari kecil, Azila menyandarkan tubuhnya kekursi taman, "Gue pernah cerita sama lo dan juga Ayla kalo gue punya sahabat cowok sekaligus cinta pertama gue."
"Iya," Ucap Airin saat ingat jika waktu kecil Azila pernah bercerita mempunyai sahabat lelaki yang berbeda umur dengannya tetapi Airin tidak pernah bertemu dengannya.
"Lo tau disaat lo pindah sama keluarga lo, dan Ayla yang juga pindah kerumah kakek neneknya. Gue gak punya teman main, dan akhirnya ada tetangga baru disamping rumah gue. Mereka punya anak cowok yang lebih tua beberapa tahun dari gue," Ucap Azila lalu tertawa pelan saat ingatannya berangsur angsur kembali.
"Waktu itu gue terpesona, bagaimana bisa seorang anak kecil sudah memiliki aura yang memikat. Singkatnya gue jatuh cinta sama dia, meskipun waktu itu gue masih kecil tapi ntah kenapa dada gue selalu berdebar didekatnya."
Azila kembali tertawa saat mengingat dia yang selalu membuntuti cowok yang dia anggap sahabatnya itu, "Lama kelaman gue sama dia akrab, dia pernah berjanji sama gue. Katanya dia gak akan ninggalin gue, dia akan melindungi gue dari bahaya apapun, gak akan membuat gue nangis karena ulahnya dan akan terus mengingat gue dalam hidupnya."
"Gue hanya mengiyakan saja, karena itu hanya janji anak kecil yang menurut gue main main. Tapi gue salah, janji yang dikatakannya bukan cuman ucapan."
Azila menyeka air mata yang kembali mengalir, "Karena gue dia celaka, gue gak tau itu bakal terjadi. Karena gue juga dia harus memendam mimpi yang selalu dibangga banggakannya. Gue jahat kan?"
Azila menghela nafas pelan, "Gue sedih, gue selalu menyalahkan diri gue sendiri. Setelah kecelakaan itu, dia celaka lagi. Dan lagi lagi itu karena gue, dan dengan gak tau dirinya gue malah melupakan dia, melupakan semua pengorbanan dia."
"Lo tau dia siapa?" Tanya Azila, Airin hanya menggelengkan kepalanya.
"Dia Arsen, kepala sekolah yang selalu ada disisi gue. Kepala sekolah yang selalu bawel saat gue sakit," Airin menatapnya dengan muka tak percaya, ternyata orang yang selalu diceritakan Azila ada disekitarnya.
"Gue kecewa sama dia juga sama diri gue sendiri. Setiap malam gue selalu teringat bayangan bayangan gue sama anak cowok, Hati gue selalu sesak saat gue mencoba mengingat ingat memori itu."
"Dia jahat, kenapa dia gak ngasih tau gue dari awal ketemu kalau dia orang yang selama ini gue cari. Padahal gue pernah cerita sama dia," Airin menepuk nepuk punggung tangan Azila.
"Lo udah tanya alasannya?" Tanya Airin.
"Udah tapi gak memuaskan," Airin menghela nafas pelan, "Lo udah tanya baik baik kan?"
"Gue gak mau, gue masih kecewa."
"Lo rindu?" Tanya Airin pelan, Azila menatap Airin sekilas lalu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Gue rindu, tapi ada rasa kecewa dalam diri gue," Ucap Azila pelan.
Airin mengangguk paham akan perasaan Azila, "Hm yaudah, jadi lo maunya gimana?"
Azila terdiam sebentar, "Gue, perlu waktu."
"Jangan lama lama bukannya lo mau nikah sama dia 2 Minggu lagi?" Azila mengangguk mengerti.
"Halo, mau soto?" Tanya Ayla tiba tiba sambil membawa soto Jogja.
Airin dan Azila menatap kearah Ayla yang ada didepannya, "Mau!"
Ayla tersenyum manis, "Maaf ya, gue telat hehe. Gue beli soto dulu soalnya."
Azila tersenyum sumringah, mereka duduk lesehan didepan danau dengan cahaya handphone sebagai penerang.
"Makasih, lo berdua bikin mood gue kembali lagi," Ucap Azila diakhiri dengan tawa renyahnya.
"Yaelah kaya ke siapa aja. Gak usah sungkan kita hidup bersama dari jaman zigot," Celetuk Ayla.
Airin tertawa pelan, "Yoi, lo berdua buang hajat dikasur gue aja, gue santai."
"Astaghfirullah Airin lagi makan loh ini, lagian itukan waktu masih bayi Rin. Lo Inget aja itu diceritakan sama emak lo," Sinis Azila
...~o0o~...
Agas menatap Arsen yang dengan santainya tidur ah tidak lebih tepatnya tepar disofa ruangan kantornya. Agas menghela nafas saat tadi melihat Arsen yang mesuk tanpa salam dengan membawa botol tequila.
"Menyusahkan," Cibir Agas.
Karena Arsen, kerja lemburnya harus terhenti. Agas menggoyang goyangkan bahu Arsen, "Bangun."
"Emm, Azila maafkan saya," Agas menghela nafas kasar saat Arsen hanya menjawab dengan gumaman.
"Cih, minum begini saja kau sudah mabuk. Lemah sekali," Cibir Agas lagi saat melihat kadar alkohol pada botol yang dibawa Arsen.
"Bukannya menyelesaikan masalah malah bikin dosa, dasar Dajjal."
__ADS_1
Agas dengan terpaksa membopong Arsen keluar dari ruangan nya, "Harus saya buang kemana sampah masyarakat ini?"
Agas memasukan Arsen kedalam mobilnya lalu memasang sabuk pengaman dengan kasar, bibirnya menyunggingkan senyum miring, "Bagaimana jika aku menjualmu pada wanita malam? hm, seperti itu lebih baik daripada membawamu kerumahku."